Utuh

Utuh
BUNGA TIDUR (Part Intermezo)


__ADS_3

Wiya baru selesai mandi sore, dia membuat mi kuah dan secangkir teh hangat lalu membawanya ke ruangan keluarga menghadap layar TV yang tidak menyala. Di atas meja sudah ada satu kotak kue coklat, bolu yang sempat dia beli di bandara, dan beberapa bungkus chiky. Cuaca diluar gelap sekali. Dia hanya tinggal sendiri dirumah. Ibu dan Ayah menghabiskan akhir pekan bersama Mitty dan Ridwan di Batam, mereka tidak tau kalau jadwal kepulangan Wiya dimajukan.


Mendung tak selalu jadi tanda datangnya hujan, Rindu juga tak harus berujung pertemuan. Sejak Ilham memerintahkan untuk mengubah jadwal keberangkatan dan mereka akan segera pulang, Wiya kembali memblokir panggilan dan pesan dari Zayn. Akhirnya dia sudah terlepas dari semua omong kosong dan tidak perlu takut akan ancaman Zayn lagi karena mereka sudah akan kembali.


Sejak mengetahui cintanya bertepuk sebelah tangan, baru hari ini dia berada di puncak rasa tercampakan, kalah, tak berharga segalanya jadi kesatuan yang begitu menyakitkan.  Hari yang paling dia hindari kini tengah dia jalani. Wiya mengangkat kedua kakinya ke atas sofa menekuk dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Ini pengalaman jatuh cinta sekaligus patah hati pertama kali untuknya.


“Bodoh banget sih gue, hikh hikh, gue nangisin orang yang sekarang jelas sedang bersiap-siap menjemput kebahagiaan dan gak peduli sama keadaan gue., hikhh hikhhh”


Ratapnya seorang diri membayangkan Brigitta yang sedang bersiap-siap dengan dress dan hair style terbaik, Zayn yang gagah dengan setelan jassnya akan menuju Brigitta, menggenggam tangan dan menyarungkan cincin pertunangannya di jari manis calon istrinya. Disaksikan oleh banyak mata. Membayangkan sebentar lagi para media pemburu berita akan berlomba-lomba mengisi headline mereka dengan berita pertunangan ini. Wiya menganggap Brigitta sedang memamerkan kemenangannya dengan kesombongan yang elegan.


“Qawiya…Qawiya..” Wiya memanggil dirinya sendiri dengan lirih “Malu dong sama nama lo, mana katanya lo kuat! Gak guna banget sih Lo Wiy!!! Kenapa sih kebodohan lo itu sagat natural. Lo harusnya tau luka ini ada karena lo terlalu sembarangan jatuh cinta, huaaa hikh huhuhuhu"


Entah sudah berapa banyak tisu yang bertebaran di lantai bekas mengeringkan air mata dan ingus yang keluar. Wiya ingin menghabiskan segala kesedihannya malam ini, tak mau menyisakannya walau sedikit lagi.


Hujan memang selalu datang lagi tak peduli sudah jatuh ribuan kali, namun bagaimanapun derasnya, pasti hanya akan selalu reda. Ini air mata terakhir untuk menangisi laki-laki. Begitu tekadnya.

__ADS_1


Dia kembalikan semua cahaya yang pernah Zayn titipkan. Karena untuk sementara gelap lebih membuatnya tenang.


Hikh hikh hikh, suara isaknya tersedu-sedu hingga tak sadar dia meringkuk di sofa dan tertidur.


Dalam tidurnya dia melihat Zayn sedang menunggu membelakanginya di bukit indah penuh bunga. Saat menyadari Wiya datang, Zayn tidak bicara, langsung merapikan rambut Wiya yang berantakan dan menyeka air mata yang masih tersisa di pipinya.


Kemudian Zayn di mimpi Wiya memetik sekuntum mawar berwarna ungu muda diantara sekebun daffodil disana. Lalu bunga cantik itu diselipkannya di kuping kanan Wiya. Zayn hanya tersenyum lalu menggenggam tangan dan menuntun Wiya melewati lereng-lereng bukit hijau. Itu terasa hangat dan sangat nyata.


Saat Wiya tak sengaja melepaskan tangannya karena ingin mengejar kupu-kupu yang mengitari penglihatannya, Zayn panik dan segera meraih tangan Wiya semula. Sosok Zayn dalam mimpi menuntun Wiya semakin jauh, Wiya mengikuti dengan patuh hingga mereka tiba di hamparan padang rumput yang luas dan indah. Hanya ada beberapa bukit-bukit yang sedikit lebih tinggi dari hamparan lainnya. Dalam mimpinya pun Wiya masih sempat berimajinasi, apakah akan ada Tinkywinky, Dipsy dan kawan-kawannya keluar dari salah satu bukit disana?


Tiba-tiba Wiya mendengar suara ketukan, padahal tenda itu terbuat dari kain parasut tebal. Mengapa ketukannya terdengar nyaring sekali? Semakin lama semakin kencang hingga Wiya tersadar ada tamu yang mengetuk pintu dari depan.


Wiya reflek membuka mata, berlari ke ruang tamu mengikuti prasangka yang masih dibawah pengaruh alam bawah sadarnya tentang mimpi tadi. Dia buru-buru memutar anak kunci dan menarik gagang pintu.


“Zayn!!!“

__ADS_1


Ucapnya sambil mengumpulkan kesadaran saat melihat tamu yang seorang lelaki yang sedang berbalik badan. Hampir saja Wiya ingin berhamburan memeluknya.


“Maaf Nona, Tagihan TV kabelnya!”


Ucap seorang lelaki dengan jas hujan menyodorkan sebuah nota merah TV kabel berlangganan. Wiya meraih kertas itu dan membaca nama serta alamat yang tertera diatasnya. Sambil mengira-ngira sejak kapan ayah, ibu atau bang Ridwan memasangnya?


“Astaga Bapak salah alamat, lihat dong disini tagihan rumah nomor 75 pak. Rumah kami kan nomor 74.”


Ucap Wiya sambil menunjuki plat nomor rumah yang terpampang besar disamping pintu rumahnya. Lelaki itu meraih nota di tangan Wiya dan memastikan kembali letak kesalahannya


“Ya ampun. Iya saya salah. Maafkan saya Nona, diluar hujan deras, saya hanya mengendarai motor, jadi bacanya gak terlalu jelas. Sekali lagi mohon maaf sudah mengganggu istirahat anda”


“Iya Pak, tidak apa-apa, hati-hati”


Wiya menutup kembali pintunya. Dan melirik ke arah jam dinding di ruang tamu, sudah menunjukan pukul tujuh, ternyata dia tadi tertidur menjelang magrib.

__ADS_1


Entah bagaimana cara kerja mimpi, tega sekali merusak lamunan orang yang sedang patah hati.


__ADS_2