Utuh

Utuh
SEASON II : EPS 28


__ADS_3

Setelah mendapatkan balasan dari pesan yang dia kirimkan kepada istrinya. Zayn langsung bisa menebak apa yang telah terjadi. Bukan Wiya yang membalas pesan itu. Dan ponsel Wiya sedang berada di tangan seorang penghkhianat.


Orang yang sering Wiya bela, orang yang masih bekerja di IQ Media karena Wiya melarang Zayn untuk memecatnya. Juga orang yang sudah Wiya rekomendasikan untuk melakukan pendekatan dengan laki-laki bernama Soleh yang memang soleh, sesuai keinginan gadis itu.


Zayn mengirimkan kalimat-kalimat ancaman dan memang akan dia lakukan. Mengetahui istrinya sedang berdekatan dengan bahaya. Zayn akan menyusul Wiya besok ke pulau dan menjemputnya pulang.


Semua akan selesai sebagaimana mestinya, kamu tenang saja.


Itu adalah pesan terakhir yang Zayn kirimkan sebelum melakukan sesuatu untuk memberi efek jera pada orang yang sudah terlanjur masuk ke pusaran yang membahayan dirinya sendiri.


Malam itu hati Zayn sangat tidak tenang. Tiba-tiba ada secarik kertas bertuliskan kata 'penyesalan' tergeletak di pusat fikiran. Saat dia mulai mencoba memejamkan mata, Zayn bermimpi melihat kupu-kupu beterbangan di dalam air dengan indah, mengitari sebuah wajah.


"Kupu-kupu air?" tanya Zayn saat seekor kupu-kupu menggoda, menghinggapi telapak tangannya. "Aku baru kali ini melihat ada kupu-kupu yang hidup di air,"


Kemudian meraih bahu perempuan itu, Zayn ingin sekali dapat beradu tatap dengannya. Wanita dalam mimpi itu menuruti sentuhan tangan Zayn dengan sukarela. Tidak hanya menatap Zayn, dia juga mempersembahkan senyuman manis yang mengiasi wajah cantik yang penuh parut luka.


"Qawiya? Sayang, kamu kenapa?" Zayn menyentuh wajah pucat itu dengan begitu panik.


Bukannya menjawab, jelmaan Wiya di dalam mimpi Zayn masih tersenyum menatapnya dan menggeleng-gelengkan kepala dengan manja.


"Wajah mu? sayang wajah mu banyak luka," ujar Zayn semakin ketakutan memegangi bahu Wiya. "Sayang, ayo  kita pulang. Aku obati luka mu. Tempat mu bukan di dalam air, tinggalkan kupu-kupu aneh ini," Zayn menarik tangan Wiya menjauh dari sekelompok kupu-kupu yang semakin lama semakin banyak dan berhasil mengangkat tubuh Wiya.


"Qawiya!" Teriak Zayn kencang saat ruhnya kembali ke alam sadar.  "Audzubillahimnasyaithanirajim," ucapnya bertaawudz sambil mengusap kedua wajah dengan telapak tangan saat menyadari dia baru saja bermimi buruk.


Perasaannya semakin tak menentu, diraihnya ponsel yang berada di nakas, ada satu panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal. Biasanya Zayn akan mengabaikan panggilan seperti itul, tapi kali ini dia menghubungi kembali dengan harapan dapat mendengar suara istri tercinta dari sebrang sana yang amat dia rindukan.


"Selamat malam," suara berat seorang laki-laki.


"Oh maaf saya fikir istri saya, ternyata bukan. Maaf." mematikan sambungan panggilan itu. Sesaat kemudian masuk kembali panggilan dari nomor yang sama. Otak Zayn ingin mengabaikannya, tapi hatinya berkata lain.

__ADS_1


"Pak Zayn, saya Ditya. Dokter Ditya,"


Deg


Pada intonasi yang dia dengar dari mulut Ditya. Sudah dapat diterka, sesuatu telah terjadi pada istrinya yang menyebabkan Ditya menghubunginya.


"Pak Zayn, sebelumnya saya minta maaf dan mohon untuk tetap tenang setelah saya sampaikan kabar tentang istri anda," urai Ditya hati-hati.


Saat panggilan itu berakhir, Zayn segera meminta Pak Taufik untuk menyewa sebuah kapal atau apa saja yang bisa mengantarkan mereka ke tempat dimana Wiya berada. Dalam panggilan tadi, Ditya sudah mengatakan akan segera membawa Wiya ke Kota.


Tapi Zayn tidak peduli dengan apa yang Ditya ucapkan, dia tetap akan kesana. Menjemput istrinya, sekaligus membuat perhitungan pada Ravela.


***


Sampailah berita kecelakaan kapal muatan itu ke telinga penduduk Desa maupun dusun di sekitar perairan itu. Untuk masyarakat disana, itu adalah hal yang lumrah. Sepanjang sejarah, tidak pernah ada korban nyawa karena biasanya awak kapal bisa membaca situasi dan selalu berhasil menyelamatkan diri.


Namun tidak untuk sekarang, terutama untuk Ditya dan teman-teman komunitas Putera Bangsa yang sedang bertugas di daerah ini.


Ditya yang saat itu mendengar kesaksian sang Bapak segera berlari menuju puskesmas, jantungnya serasa hampir saja berhenti berdetak. Walau dia seorang dokter, bukan tidak mungkin dia mengalami gagal jantung. Bidan Rina yang ternyata sudah sampai dirumah membukakan pintu untuk Ditya.


"Bidan Rina sudah kembali? Apa Wiya ada di dalam?"


"Wiya? Maksud dokter relawan perempuan yang kemaren katanya menginap disini?"


"Iya,"  panik, Ditya sangat panik.


"Lah, kata Ibu sebelah dia udah pulang. Ini kuncinya saya ambil dari Bu Tinah di sebelah dokt," ucap bidan muda yang belum tau apa yang terjadi.


"Pulang?" tanya Ditya penuh penekanan. "Bagaimana bisa kamu senekat itu,Wiya???" mengusap wajahnya putus asa. Tidak salah lagi, wanita yang dimaksud Bapak tua tadi adalah Ilma Qawiya, orang yang paling dia jaga selama berada dalam perjalanan ini.

__ADS_1


Tidak membuang waktu lagi, Ditya, Endri dan ketiga temannya memakai alat keamanan standar ganda untuk melakukan pencarian bersama tim dari kabupaten yang dihubungi untuk dimintai bantuan, Ditya juga mengajak Bidan Rina untuk ikut bersama kapal mereka.


Berbekal data ilmiah, dengan menghitung kecepatan angin, debit arus dan perkiraan berat badan korban yang tercatat dalam data keberangkatan. Tidak butuh waktu lama, mereka berhasil menemukan membawa Wiya kembali ke darat. Ditya yang terjun langsung mengangkat tubuh Wiya ke atas kapal dan melakukan prosedur pertolongan pertama.


(Mohon maaf author tidak sanggup menarasikan detail penemuannya secara ilmiah, sungguh author ga bisa dan gak tega membayangkannya)


Tubuh Wiya ditelentangkan, Ditya berusaha untuk tetap tenang. Dia mulai mendekatkan pipinya ke arah saluran pernafasan. Berharap dapat merasakan sedikit hembusan dari sana. Saat tak dapat dirasakan apa-apa dengan sigap dia akan melakukan resusitasi jantung paru.


"Bidan Rina, lakukan CPR pada Wiya sekarang juga!" perintahnya.


Untuk inilah bidan Rina diajak ikut bersama. Ditya adalah seorang dokter, sudah kewajibannya melakukan pertolongan pertama pada siapa saja korban yang ada di depan mata. Tapi dia tak ingin mengambil kesemaptan secuil pun. Demi apapun juga dia sangat menghormati Wiya walau dalam keadaan yang tidak diketahui seperti sekarang ini.


Tanpa banyak bicara, bidan Rina mulai menekan telapak tangan di bagian tengah dada, Ditya memperhatikan dengan seksama dan tetap tenang sementara boat tetap terus melaju ke arah Desa.


"Gunakan kedua tangan!" Ditya memberikan instruksi karena tidak melihat reaksi apa-apa dari tubuh Wiya. Sesekali Ditya memalingkan wajahnya karena tak sanggup melihat bekas luka di wajah Wiya yang terkena air asin.


Bidan Rina kemudian menekan dengan menggunakan dua tangan yang saling tumpang tindih sedalam kurang lebih 5 cm dengan hati-hati. Dia melakukan itu sebanyak 30 kali dengan rata kecepatan sekitar 100 kali tekanan per menit. Dengan kata lain, menekan sebanyak 30 kali dalam waktu sekitar 20 detik.


Ditya memastikan dada kembali ke posisi semula sebelum ditekan kembali. Kemudian dia memeriksa apakah Wiya sudah bernapas.


"Buka jalan pernafasannya Rin!" perintah Ditya lagi.


"Baik dokt," angguk Rina sambil menengadahkan kepala Wiya dengan mengangkat dagu, memencet hidung dan meniupkan udara ke arah mulut.


Ditya dengan hati-hati memegang leher Wiya karena takut akan kemungkinan cedera leher belakang.


Setelah itu, mereka kembali  memperhatikan apakah dada Wiya mengembang saat udara ditiup. Kemudian kembali ke prosedur menekan dada 30 kali. Bidan Rina melakukan itu  secara bergantian sampai mereka sampai ke darat dan membawa Wiya ke puskesmas desa untuk diberi pertolongan lebih lanjut.


 

__ADS_1


______________________________________


Prosedur pertolongan pertama pada korban tenggelam sumber by : Aplikasi Alo dokter ^_^


__ADS_2