
Zayn baru akan mengetuk pintu, namun sebelum jari telunjuk itu berhasil mendarat disana, pintu ternyata sudah terbuka, jari itu tertahan melengkung, melihat seorang gadis cantik dengan hidung yang tidak terlalu mancung berada tepat di hadapannya, dia meneruskan ketukan itu, bukan lagi mengetuk pintunya tapi mengetuk ngetuk kecil ujung hidung minimalis itu.
“Tuk…tuk…tuk” Mulutnya meniru suara ketukan “Assalamualaikum” Disambung dengan memberi senyum menyeringai. Senyum yang katanya jarang sekali dia tampakan. Bahkan menurut cerita Nikki dan Vhieya kakaknya ini jarang sekali tersenyum dan bercanda dirumah mereka.
Wiya memejamkan matanya dan mengerucutkan bibir tipisnya mendapat perlakuan begitu. Tak lupa menjawab salam yang tadi Zayn berikan.
“Wa’alaikumsalam!"
“Maaf ya gangguin pagi-pagi”
“Ada apa?”
Tanya Wiya datar padahal kakinya menahan getar. Entah kenapa dia harus gemetar seperti gadis yang akan dilamar.
“Aku mau masuk dulu, boleh?“
“Iya silahkan, yang lain sedang sarapan di belakang.”
Wiya membuka pintu itu semakin lebar mempersilahkan Zayn masuk.
“Wah, ayo kebetulan aku lapar!” Ajak Zayn dengan santai menarik pergelangan tangan Wiya berjalan setengah menggeret gadis itu, meminta diantarkan ke tempat yang Wiya maksud.
Wiya menatap pergelangan tangannya yang ditarik paksa karna dirinya berusaha memberatkan langkahnya, selain karena dia masih bingung dengan tujuan Zayn datang sepagi itu, dia juga pasti malu jika keluarganya melihat ada tamu berkelakuan seperti ini. Apalagi tamu ini adalah atasannya.
__ADS_1
“Lepasin dulu Zayn, Zayn lepasin, apaan sih!”
Wiya berhasil menarik tangannya dari genggaman Zayn.
Akhirnya mereka berjalan menuju dapur, berjalan seperti biasa dan seperti seharusnya. Mitty yang pertama kali terkejut melihat kedatangan orang yang tadi baru saja jadi bahan perbincangan di dapur ini.
“Pp-pak Zayn. Panjang umur! baru aja tadi di omongin.“
Ucap Mitty yang mendapat pelototan mata dari Wiya. Zayn hanya tersenyum gugup, sejujurnya dia masih bingung karena semua orang saat ini memandang ke arahnya.
“Pak Zayn, duduk dulu duduk Pak!”
Ucap Ayah sambil menarik satu lagi kursi dari meja makan itu mempersilahkan Zayn duduk. Karena mengetahui Zayn adalah direktur perusahaan tempat anaknya bekerja, jadi Pak Ilyas memanggil dengan sebutan Pak Zayn untuk menghargai tamunya.
Zayn tidak menyangka akan disambut hangat oleh keluarga Wiya, padahal dia belum lagi menyampaikan maksud kedatangannya.
“Bapak,Ibu, terima kasih. Tolong jangan panggil saya dengan panggilan formal begitu. Panggil saja saya Zayn. Di perusahaan, saya memang atasan anak Bapak dan Ibu, tapi diluar jam kerja, kami adalah teman. Jadi panggil Zayn saja.“
Iya iya cuma teman, ga usah diperjelas!
Wiya yang masih berdiri ditempatnya menunggu nunggu Zayn mengutarakan maksudnya bertamu sepagi ini. Tapi Zayn malah duduk manis dan menikmati nasi goreng yang dihidangkan untuknya tadi dengan lahapnya, membuat Wiya menggaruk tengkuknya sendiri.
Seperti udah dua hari gak ketemu nasi
__ADS_1
Wiya kini ikut duduk kembali, posisi kursinya kini bersebelahan dengan Zayn dan berhadapan dengan Mitty. Sedangkan kursi Zayn berhadapan dengan bang Ridwan. Zayn tampak sangat menikmati sepiring nasi goreng yang sudah tandas, habis tak bersisa kemudian dia meminum air putih yang dituangkan Wiya ke gelasnya. tampak begitu lahap namun tidak sedikitpun mengurangi ketampanannya. Lalu Zayn mengeluarkan sesuatu dari saku celana safarinya.
“Alhamdulillah, hmm… Enak banget nasi gorengnya bu. Sangking enaknya saya hampir lupa, ini Bu“ Zayn mengulurkan secarik kertas kepada Ibu Ria.
“Itu pesanan mama bu, yang kemarin sudah habis. Dan minta segera saya bawakan”
Kertas itu berisi daftar pesanan herbal Ibu Wulan yang biasa dipesannya, ibu Wulan biasa meminta Mba Sari yang memesankannya langsung, tapi kemarin setelah tau dimana Ibunya memesan obat-obatan itu karena Wiya dan Mitty pernah menjadi kurir sang Ibu. Jadi Zayn menawarkan bantuan kepada Ibunya untuk memesankannya sendiri kerumah Ibu Ria. Bonus bertemu dengan anak gadis dirumah ini pastinya.
“Ya ampun nak Zayn, pesanan bu Wulan??, kan biasanya juga Mba Sari yang memesankannya. Kenapa jadi repot repot kemari. Nanti bisa diantar kurir.” Ucap Ibu mengambil secarik kertas tadi dan bersiap akan mengambil pesanannya.
Ridwan dan Mitty berhadap-hadapan dan tersenyum menahan tawa menutup mulut mereka dengan telapak tangan, setelah tau kedatangan Zayn hanyalah untuk memesan obat. Betapa adik mereka di sebrang meja sana sudah kebat kebit ke GR an.
Wiya yang tampak kesal menggeser kursinya sedikit kasar, kemudian berdiri dan hendak melanjutkan mengganti pakaian menuju ke kamarnya.
“Dek, nanti kamu pergi sama Nak Zayn saja boleh? Ayah sudah hampir telat nih.“
Ucap Ayah sambil menyeruput sisa teh manis di cangkirnya dan sudah berdiri akan meninggalkan meja makan.
“Iya pak tidak apa-apa. Wiya sekalian biar ikut mobil saya saja. Diluar sepertinya gerimis lagi. Bapak hati-hati” Ucap Zayn yang ikut menyalami Pak Ilyas seperti Ibu, Mitty dan Ridwan.
Wiya hanya terdiam pasrah ikut mencium punggung tangan ayahnya tanpa bisa berkata apa apa lagi. Dia harus tetap berangkat kerja hari ini.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA YA