
Zayn tersenyum puas, menurunkan Wiya perlahan dan kini membawa Wiya ke dalam pelukan tanpa mengucapkan apa-apa. Wiya masih malu untuk membalas pelukan itu, Ia memilih menikmati aroma maskulin itu diam diam.
"Dimana mereka semua?"
"siapa?"
"Keluarga ku"
"Kemarikan kunci mobilnya" Pinta Zayn
"Untuk apa ?"
"Kau mau menemui keluarga mu kan?"
Wiya menyerahkan kunci mobil itu dan membiarkan Zayn mengendarai mobil miliknya. Sesekali Zayn melirik ke arah Wiya yang sedang berusaha melepas jarum-jarum yang tersemat di hijabnya karena menahan toga wisuda agar tidak jatuh. Zayn mencuri satu cubitan kecil di hidung Wiya.
"Makasih ya Wiy" Ucap Zayn pelan "Makasih kamu udah ngasi aku kesempatan ini. Aku bahagia, dan sangat bersyukur "
"Selama kita jatuh hati masih sama manusia, selama itu pula kita pasti akan menemui kelemahan dan kekurangan. Aku juga minta maaf. Kamu berhak atas kesempatan ini." Wiya meletakan jarum-jarum itu di tempatnya dan melepas toganya.
"Kamu bahagia gak sih?"
"Ya, walau aku kehilangan sesi photoshoot bersama keluarga ku dengan pakaian wisuda."
"Wiya, kamu sudah punya dua foto wisuda ekslusif terpampang di ruang tamu rumah mu."
"Dan harusnya ada tiga. Kamu menggagalkannya."
"Aku akan menggantinya nanti, dengan foto pernikahan kita." Zayn menggenggam dan mengusap-usap punggun tangan Wiya.
Mobil melaju menyusuri jalanan yang tidak terlalu ramai. Wiya memperhatikan jalan yang sudah tak asing lagi karena setiap hari dia lewati.
"Kita mau kemana ? Kamu tau dari alamat ini ? " Tanya Wiya saat mobil yang Zayn bawa berhenti tepat di halaman parkir tempat tinggal Wiya. "Apa keluargaku ada di atas? Tapi, tak ada yang tau passwordnya"
Zayn tidak menggubris pertanyaan Wiya, dirinya fokus mengeratkan genggaman tangan Wiya menuju lift. Wiya mengikuti langkah Zayn dengan patuh, dirinya memilih untuk melihat sendiri apa yang akan terjadi. Wiya menekan angka 2 dan 1 pada tombol di lift itu.
"Kamu tinggal di lantai 21 ? " Tanya Zayn takjub. Wiya benar-benar sangat menyukai ketinggian sehingga memilih lantai 21 sebagai tempatnya bersemedi.
"Aku nyaman menatap wajah kota dari ketinggian."
"Oh ya ? Kenapa tidak tinggal di rooftoop sekalian?" Zayn terkekeh
"Kamu aja sana tinggal di atas genteng, kalau gabut kan tinggal lompat !" Balas Wiya ketus.
"Becanda sayang, begitu saja marah."
Beberapa menit kemudian, Lift berhenti di lantai yang mereka pilih tadi, Wiya segera berjalan di depan mendahuli Zayn menuju tempat tinggalnya. Diapun segera memasukan beberapa digit angka sebagai password.
"Tanggal jadian kita ? " Ternyata Zayn memperhatikan Wiya menekan tombol-tombol angka itu
Wiya yang merasa terpergok kaget sekaligus malu. Tidak mengiyakan tidak pula mengelak. Dengan acuh dia berlalu masuk ke dalam ruangan bernuansa girly . Ruangannya sepi, hampir tidak mungkin keluarganya ada disini. Zayn mengikutinya.
"Dimana Keluarga ku Zayn ? Tadi kamu bilang kita mau bertemu keluarga ku" Tanya Wiya saat mereka sudah berada di ruang tamu tempat tinggalnya.
Zayn langsung menyapu seluruh bagian ruangan itu dan berhenti di bagian jendela ruangan. Menikmati Pemandangan kota dari ketinggian ternyata memang menyenangkan. Pantas saja Wiya sangat suka ketinggian.
__ADS_1
"Zayn, aku sedang bertanya." Ulang Wiya lagi.
"Aku memang mengajak mu menemui keluarga mu, tapi aku gak bilang kalau keluarga mu ada disini."
"Jadi kita ngapain kesini? Jangan bilang kamu mau ngambil kesempatan ya ! Kamu mau macem-macem ya?"
Zayn menghampiri Wiya yang sedang duduk di kursi tamu, berjalan perlahan sambil menatap dan mengunci tatapan mata Wiya. Wiya dengan susah payah menggeser duduknya hingga terpentok di sudut kursi dan tidak bisa bergerak lagi saat Zayn sudah mendudukkan diri di sampingnya, di dekatnya.
Zayn sengaja memperlambat gerakannya yang menimbulkan efek menggoda membuat jantung Wiya semakin tidak karuan. Dia menyesal telah mengucapkan tuduhan tadi. Sekarang Wiya hanya bisa merunduk dan pasrah memejamkan matanya saat dirinya dan Zayn semakin tak berjarak , sekuat tenaga menahan gemuruh di dada yang bergejolak.
"Kesempatan apa sayang ? Tiga tahun kuliah disini, apa saja isi kepala mu ini, ha?" Zayn mencubit keras hidung Wiya yang reflek membuka matanya karena merasa nafas Zayn sudah sedikit menjauh dari wajahnya.
"Sakit Zayn ! " Pekiknya.
"Aduh, hufff hufff, Maaf sayang, aku terlalu gemas mendengar tuduhan mu tadi. Hufff hufff" Zayn mengusap sambil meniup-niup hidung Wiya. "Sayang, tadi aku hanya mencubit hidung mu, kenapa sekarang pipi mu yang merah?" goda Zayn lagi.
Wiya segera berdiri meninggalkan Zayn di tempat duduknya. Zayn tertawa usil melihat Wiya yang salah tingkah.
"Kemasi barang mu sekarang ! Kita akan pulang ke Indonesia,bertemu keluarga mu !" Ucap Zayn lembut.
"Sekarang?" Tanya Wiya sambil melihat jam tangan di pergelangan tangannya.
"Besok pagi boleh juga, asal kamu mengizinkan ku menginap disini" Seringai jahil tampak di wajah Zayn "Bergegaslah, kamu mau nyobain naik Ferry terakhir kan ? Nanti kita makan siang di kapal saja ya. "
Saat berangkat 3 hari yang lalu Wiya tidak jadi naik Ferry terakhir karena Bian tidak bisa menunggu sore untuk mengantarkannya.
Dia bahkan tau kemarin aku gak jadi ikut last ferry. hmmm
"Oh ya, kita gak cuma mau ketemu keluarga mu, tapi juga keluarga ku. Mereka semua sudah nungguin kita"
Karena hanya membawa beberapa barang saat berangkat kemarin, jadi tidak telalu banyak barang yang akan dia bawa kembali. Wiya bahkan tidak membawa koper toska kesayangannya. Hanya sebuah tas tangan berukuran sedang yang berisi pakaian dan dokumen penting milik Wiya. Baju wisudanya dia lepaskan, Tanpa mengganti kebaya yang tadi dipakainya, Wiya sudah kembali menemui Zayn di ruang tamu.
"Sudah siap Nona cantik ?" Berdiri dan meraih barang yang Wiya bawa.
"Hemm" Jawab Wiya.
Mereka bertolak dari tempat tiggal Wiya ke pelabuhan yang terletak di Johor-Malaysia menuju Kepualauan Riau-Indonesia dengan Ferry terakhir di hari itu.
***
Hari sudah hampir gelap saat Zayn dan Wiya berlabuh di dermaga International Sri Bintan Pura kota Tanjungpinang. Tanpa membuang waktu lagi, Mereka langsung menuju ke kediaman Wiya. Seperti biaasa, Wiya memilih untuk tidak banyak bertanya.
Walau sudah pernah membayangkan ini isebelumnya. Namun rasanya masih saja belum percaya, saat mereka tiba di halaman rumah, bukan hanya keluarganya dan keluarga Zayn, tapi kediaman itu ramai dan sesak dengan para pekerja yang berlalu-lalang.
"Zayn ? "
"Aku tidak tau semua ini sayang, sungguh. Ini pasti kejutan dari keluarga kita." Mengangkat serentak kedua telapak tangannya.
Ternyata keluarga Wiya tengah mempersiapkan pesta pertunangan Wiya dan Zayn yang akan diselenggarakan malam ini juga. Saat Wiya menuju ruang tamu alangkah terkejutnya Ia melihat ruangan besar itu telah di sulap menjadi ruang utama pesta dengan dekor bertema rustic yang luar biasa indah.
Wiya langsung menuju ke dalam mencari keberadaan siapapun yang bisa dia peluk dan dimintai penjelasan atas semua yang dia saksikan sekarang. Dan orang yang pertama dia temui adalah, Mama Wulan.
Canggung, itu yang pertama kali Wiya rasakan. Namun tidak dengan mama Wulan, ini pertemuan pertamannya dengan Wiya setelah sekian lama. Ketulusan yang terpancar dari hati melalui matanya tak bisa dia sembunyikan. Rasa sayang dan rindu juga coba ditampakkannya dari tatapan yang terjadi beberapa detik itu. Pada detik berikutnya, Wiya sudah berada di pelukan calon mertua.
"Bu Wu-lan" Ucap Wiya perlahan
__ADS_1
"Mama untuk kamu, mulai sekarang kamu harus membiasakan diri memanggil Mama"
Wiya melihat ke arah Mama Wulan tanpa melepaskan pelukannya.
"Terimakasih Ma."
"Terimakasih apa sayang ? Maafkan kesalahan anak Mama yang bodoh itu ya."
Melihat Mama dan Calon istrinya sedekat itu, aliran darah Zayn menghangat. Ini adalah pemandangan yang paling ingin dia lihat sejak lama.
Ibu dan Mitty tampak turun dari lantai dua diikuti oleh Mba Asih yang sedang menggendong Vinny di belakang.
"Bundaaa..." Teriak Vinny nyaring dan bisa terdengar sampai RT Sebelah.
Wiya melepas pelukan dari calon mertuanya dan beralih memeluk keponakannya. Dia memeluk Vinny erat seolah sudah tidak bertemu lama. Wiya bahkan menangis ketika mengingat dia sangat panik saat mencari Vinny dan anggota keluarga lainnya sebelum Zayn datang tadi.
"Vinny, biarin bunda ganti baju dulu sekarang. Setelah shalat isya nanti acaranya akan dimulai" Mitty mengambil Vinny dari pangkuan Wiya
Wiya tidak perlu bertanya atau menunggu penjelasan dari siapapun lagi. Sudah jelas keluarganya berkomplotan dengan Zayn malam ini.
Dan ini adalah pesta pertunangannya. Buncahan perasaan bahagia Wiya malam ini, terpancar dari aura wajahnya yang cerah dan bersinar saat mengenakan baju kurung melayu berbahan satin glitter dengan warna silver dipadankan dengan hijab segi empat berbahan twiscone ringan berwarna peach semakin memukau saat menerima cincin yang dipasangkan oleh Mama Wulan calon mertuanya, sebagai tanda mereka resmi bertunangan.
Wiya memeluk satu persatu anggota keluarganya penuh haru. Ayah, Ibu, Bang Ridwan dan Mitty. Anggota keluarga itu tak bisa menahan air mata kebahagiaan mereka. Saat menjadi saksi akhir dari penantian Wiya. 3 tahun lamanya Wiya selalu menolak dengan halus setiap laki-laki yang mendekatinya. Keluarganya sempat khawatir Wiya tidak mau menikah meningat usianya yang hampir kepala 3 sedangkan Wiya masih fokus mengejar pendidikan dan karir bisnisnya.
Hingga akhrinya malam itu Zayn datang dan bertemu dengan kedua orang tua Wiya. Karna tau persis bagaimana hati Wiya yang sebenarnya. Ibu menyarankan Zayn untuk langsung mempersiapkan semuanya sambil menunggu momen kelulusan Wiya yang hanya tinggal satu bulan.
Ibu menyarankan Zayn mengambil kesempatan membuat kejutan lamaran disaat suasana hati Wiya sedang di puncak kebahagiaan. Namun ayah tetap mengingatkan kemungkinan ditolak yang juga sama besarnya sehingga Zayn harus tetap berjuang sendiri memikirkan cara meminimalisir resiko yang mungkin ada.
Bermodalkan keyakinan akan perasaan yang masih sama. Zayn berhasil menaklukan kembali hati Wiya.
Zayn ternyata belum cukup puas memberinya kejutan. Saat keluarga dan para tamu sedang menimati jamuan makan malam Zayn berdiri di atas pentas kecil dan memberi pengumuman dengan pengeras suara. Dia mengumumkan bahwa mereka akan menikah pekan depan, sekaligus mengundang semua tamu yang hadir hari itu untuk datang ke pesta pernikahan mereka.
Mata Wiya terbalalak mendengarnya. Pekan depan ? Hampir mustahil mempersiapkan pesta dalam waktu satu pekan. Saat Zayn kembali duduk bersebelahan dengannya di meja makan mereka, Wiya berbisik khawatir.
"Zayn, Pekan depan itu tidak cukup walau kita hanya membuat pesta kecil-kecilan"
"Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku sudah mempersiapkan ini sejak sebulan yang lalu"
"Kamu gak masuk akal Zayn, bagaimana kalau tadi aku menolak mu?"
"Kenyataanya adalah kamu menerima ku ! Aku bahkan tidak memikirkan kemungkinan lain. Karna aku tau selama satu bulan sejak aku datang kesini malam itu, kamu menunggu ku datang kembali kan?" Goda Zayn.
"Maaf sudah membuat mu menunggu selama satu bulan. Sekarang kita hanya perlu menunggu sampai pekan depan. Tapi kalau kamu sudah tidak sabar, kita bisa menikah besok. Bagaimana?" Ucap Zayn sangat serius.
Wiya memukul keras bahu Zayn dengan kepalan tangannya. Sejak dikampus tadi, Zayn tidak henti-hentinya membuat Wiya malu dan hatinya kini ditaburi kebahagiaan.
"Aww, sakit sayang." Zayn mengusap-usap bahunya.
"Berhenti menggoda ku."
"Pelit sekali, aku kan hanya menggoda calon istri ku."
Wiya sudah mengangkat tangannya akan memukul bahu Zayn yang sebelahnya, tapi Zayn menyadari dan segera menangkap pukulan itu lalu menggenggam tangan Wiya ke pangkuannya.
__ADS_1
"Ampun sayang, sakit" Zayn mengecup lembut punggung tangan Wiya yang berhasil membuat Wiya kembali tersipu.