
Beberapa bulan setelah kejadian itu. Semua kembali normal. Beberapa orang yang mengetahui kekonyolan yang disengaja itu tidak lagi pernah membahasnya. Hanya menyisakan kecanggungan diantara Zayn dan Wiya. Setiap kali tak sengaja bertatap muka, salah satu diantara mereka selalu berusaha menghindar terlebih dahulu.
Sesuai janjinya, Zayn tidak lagi pernah mengganggu kehidupan Wiya. Kendati berada dalam satu struktur organisasi yang selalu berhubungan. Zayn selalu punya cara agar tidak melibatkan Wiya secara langsung. Bahkan beberapa perjalanan tugas yang mengharuskan Zayn berangkat keluar kota sama sekali tidak mengikut sertakan Wiya seperti biasanya. Dengan begitu dia merasa bisa menebus segala kesalahan yang pernah dia lakukan. Zayn benar-benar mewujudkan hari-hari yang tenang untuk Wiya. Dia sungguh-sungguh berusaha hilang dari peredaran mata gadis itu.
Wiya menjalankan hidup sebagaimana sebelumnya, sebelum pertemuan pertama dengan atasannya itu. Tak pernah lagi ada tugas tugas dadakan dan lembur-lembur yang menyita waktu. Dan sudah hampir 3 bulan pula dia tidak pernah datang lagi ke rumah Bu Wulan. Tenang dan lenggang. Sepi yang harusnya membuat dia bisa memutar roda kehidupan lebih laju, nyatanya di sisi Wiya waktu terasa enggan berlalu.
Wiya mengambil jam pasir dari atas nakas disamping tempat tidurnya dan membolak balikan benda itu.
Kenapa Gue jadi merasa ada yang beda ya
Seperti ada yang kurang, padahal hidup gue sekarang udah tenang
Dia berdialog sendiri dengan hatinya. Kini pasir yang tadinya berada di bagian atas telah jatuh semua ke tabung bawahnya. Ruang itu kosong sudah. Wiya meletakan kembali ke tempatnya. Kemudian mengambil ponsel dan membuka gallery foto, entah kenapa dia memilih untuk melihat beberapa foto yang diambil bersama Vhieya dan Nikki saat Wiya masih sering datang kerumah itu. Tapi tak kunjung membunuh rasa jenuh. Seperti bukan itu yang ingin dia cari.
Sejurus kemudian Wiya membuka platform biru di ponselnya, aplikasi novel online, berharap ada jajaran novel favorit yang sudah update episode hari itu. Tapi nihil, bahkan dia sudah bolak balik memeriksa notifikasi.
Tiba-tiba dia berharap hadirnya kebetulan-kebetulan yang direkayasa oleh semesta untuk sekedar bertemu dengan sekelebat bayang yang bermain main di kepalanya. Semakin dihindari malah terasa semakin menghampiri. Lalu ponselnya berdering memberi notifikasi sebuah pesan singkat. Hati Wiya jadi senang sekali buru-buru dia memeriksa pesan itu entah kenapa dia jadi halu, berharap pesan itu dari bossnya yang sudah lama tidak mengganggu hari-harinya. Setelah dibaca ternyata hanya sebuah pesan singkat penipuan.
Selamat anda mendapatkan undian hadiah 100 juta rupiah.
Wiya reflek membanting ponselnya ke atas tempat tidur. Dia baru ingat buah dari sebuah pengharapan adalah kekecewaan. Tapi belum bisa dipastikan kenapa dia jadi sering berharap.
STOP IT WIYA!
Kalau kamu merasa ada yang hilang
Mungkin gaji mu yang biasanya ada hitungan lembur
Sekarang sudah berkurang. Iya iya hanya itu yang kurang. Tidak ada lagi.
Hari jumat, masih pukul 9 pagi. Kebetulan hari ini adalah hari libur nasional. Keluarga itu menghabiskan waktu libur dirumah. Pagi-pagi sekali Mitty berkunjung kerumah Wiya, mereka sudah membuat janji akan pergi menonton siang itu.
Setelah memberi salam dan membuka sepatunya. Mitty langsung masuk ke dalam namun tidak mendapati siapapun. Mitty menuju ke belakang karena biasanya Wiya dan Ibunya sering menghabiskan waktu di dapur jika sedang libur. Ternyata ruang belakang itu pun kosong. Mitty melangkah keluar dari pintu belakang dan mendapati Bang Ridwan yang hanya sedang memakai kaos oblong dan celana boxer motif doraemon, dia tampak sedang menjemur kasur.
Waduh, bener udah namanya Ridwan
Gue liat dari sini aja sejuk berasa lagi di depan pintu sorga
“Bismillah” lirihnya dengan khidmat saat memberanikan diri melangkah keluar.
“Eh, Mitty” Kaget, Ridwan meletakkan sabuk yang dia gunakan untuk memukul-mukul kasur.
“He, iya bang. Em, anu… Wiya ada bang?” ucap Mitty sambil menggulung-gulung ujung hijabnya tanpa melihat ke arah Ridwan. Walau motif celana itu sangat kekanak kanakan tapi kan tidak mengurangi nilai keseksiannya bila dikenakan oleh orang dewasa.
“Tadi ke kamar sih katanya, eh Mit bentar ya. Bentar aja. Kamu tunggu sini aja”
“eh, Abang mau kemana ?”
“Ini ganti celana, kamu aja gak mau liat abang gitu. Haha. Bentar bentar, jangan kemana mana”
Ridwan berlalu masuk ke kamarnya mengganti boxernya dengan celana panjang sambil mengutuk kebiasaannya memakai boxer kartun dirumah. Mana dia tau ada tamu sepagi ini. Cewek cantik pula. Lalu dia kembali ke belakang menghampiri Mitty yang duduk manis di atas rerumputan.
“Sorry ya” ucapnya ikut duduk di sebelah Mitty.
Aduh bang, bisa agak geseran dikit gak
__ADS_1
Kan masih luas itu hamparan rerumputan
kenapa jadi duduk deketan udah
kayak korsi tamu kondangan
“He. Gak apa-apa bang. Bang Iwan, menjemur kasur ?”
“Iya bantuin ibu mumpung libur, tuh cucian juga banyak yang mau di jemur. Tadi Wiya yang nyuci abang kebagian njemur“ ucapnya menunjuk pada sebaskom kain cucian.
“Emmm, Yaudah yuk bang Mitty bantuin“ paling tidak ini satu satunya cara agar Mitty bisa pindah posisi.
“ Eh gak usah, masa tamu datang malah disuruh jemur kain”
“Gak apa-apa bang. Biar cepat selesai. Yuk lah“ Mitty bangun mulai mengambil helai-demi helai kain yang sudah di cuci sebelumnya, memasukan ke dalam gantungan baju dan menggantungnya di tiang jemuran. Ridwan yang sempat tertegun melihat gadis itu menjemur dengan sangat cekatan menjadi bangun ikut melakukan hal yang sama.
“Bang, kok abang mau sih ngerjain kerjaan perempuan gini?“ tanya Mitty sambil tetap melakukan aktivitasnya. Sebenarnya dia tertegun melihat masih ada laki-laki yang ingin mengerjakan salah satu pekerjaan rumah yang lazimnya dilakukan wanita.
“Eh, kata siapa ini kerjaan perempuan Mitt. Ini sebenarnya juga kerjaan laki-laki dong Mitt. Ibu udah ngerjain semuanya setiap hari. Abang Cuma bantuin di hari-hari libur aja masa gak mau Mitt"
Jawabnya sedikit berbangga. Walau kenyataanya adalah dia sedang menjalankan kekalahan saat bermain ular tangga tadi dengan adiknya.
“Mitty”
Panggilnya lirih sambil mendekat kini jarak diantara mereka hanya 5cm dan bagian atas tubuh mereka sudah tertutup kain yang sudah penuh di jemuran
“Eh, iya bang” Mitty menjawab dengan kikuk dan sedikit berdebar.
“Kamu , sudah punya pacar? “
“Ha ? abang kok to the point banget sih. Bikin deg deg an dulu kek bang” Elak Mitty . Cukup cuaca hari itu saja yang panas. Hatinya jangan.
“Ya Allah bang Iwan!!!“ Mitty panik sambil memegang dada kirinya. Apa benar sampai terdengar keluar? Rasanya dia tidak pernah memasang tambahan pengeras suara pada organ itu.
“Yaudah sih jawab aja, udah punya pacar belum?"
“Ah, Abang pasti udah tau. Abang mau nge bully kan. Iya bang Mitty akui Mitty jomblo bang”
“Alhamdulillah bagus deh. Em, kalau mantan punya?“
Mitty tak menyangka Ridwan ini sama gesreknya dengan Wiya. Ibu Ria ngidam apa ya pas hamil mereka berdua. Kok doyan bener bikin hati orang berbunga bunga.
“Bang, duduk situ yuk, sini udah mulai panas"
Kini mereka duduk dibawah kanopi jendela belakang.
“Punya gak Mit?" tanya Ridwan yang masih penasaran.
“Dulu pas sekolah pernah pacaran bang, sama anak guru BP, Cuma sepekan sih. Soalnya abis itu dia ikut bapaknya pindah tugas, karena disekolah Mitty gak ada anak yang bermasalah, Jadi dipindahkan. Itu bisa dibilang mantan gak sih bang?" urai Mitty penuh drama.
“Ahahahahahaha, yaudah gak usah masuk hitungan”
“Ih abang kok ketawa sih. Kalau abang sendiri gimana? Mitty sih ngeri ya denger cerita Wiya tentang jejeran mantan bang Ridwan" Mitty mengingat-ingat cerita Wiya tentang mantan abangnya yang lintas profesi, mulai dari model iklan obat kutu air, sampai pramugari. Semua ada. “Mungkin bisa kali dibikin grup alumni, mantan Bang Ridwan”
“Biar bisa pada reuni ya, haha. tapi udah lama berlalu Mitt. Abang udah gak mau pacaran-pacaran lagi"
__ADS_1
“Aih, pasti masih terkenang dong ya bang”
“Gak lah, ngapain di kenang. Emangnya mereka pahlawan?"
Tiba-tiba Mitty ingin sekali menyanyikan lagu gugur bunga karya Ismail Marzuki.
"Jadi Fix ya Mitty jomblo sekarang, yaudah yuk kita main jawab soal ya sekarang"
“Aih ayo, siapa takut"
“Soal pertama” Ucap Ridwan dengan intonasi seolah-olah dirinya adalah Tantowi Yahya, pembawa acara salah satu kuis lawas.
“Jeng jreng jeeng jeeeng“ Sambung Mitty menirukan music effect menegangkan.
Ridwan sedikit menggeser posisi duduknya, kini dia lebih leluasa menatap mata Mitty dan senyum yang membentuk dua lubang kecil di kedua belah pipinya. Manis sekali.
“Jika hari ini, Ridwan ngajak Mitty untuk Menikah. Apakah Kira-kira jawaban Mitty Arsyla?” ucapnya tanpa ada beban sedikitpun seolah sudah pro dalam hal menyatakan perasaan. Kemudian memberikan sambungan opsi jawaban.
A. Yes I do
B. Iya, Saya bersedia
C. Keduanya benar"
Mitty yang tadi sumringah seketika berubah gundah. Dia malah tidak mengerti arti dari soal yang Tanto Wiyahya KW itu berikan. Apakah menyatakan perasaan harus sebercanda itu biar gak terlalu sakit kalau ternyata di abaikan? Mitty malah bengong mengartikan tatapan Ridwan yang malah sungguh-sungguh dan juga sangat serius dengan pertanyaan yang lebih mirip pernyataan itu. Beberapa saat mereka bersitatap sehingga tersadar karena suara panggilan dari dalam,
“Iwaaaaaaaaan, kamu belum siap-siap mau shalat jum’at ?“ teriak ayah dari pintu tempat tadi Mitty keluar.
“Iya yah, ini juga udah selesai. Oke dek. Abang siap-siap dulu dengerin khutbah, minggu depan Mitty siap-siap ya abang khitbah”
Ridwan berdiri setelah sebelumnya sempat menggusal-gusal kepala Mitty yang masih berdiam diri. Mau di tanggapi serius takutnya emang hanya bercanda. Gak ditanggapi kalau ternyata dia serius kan jadi mumbazir perasaan Bang Ridwan terbiar begitu saja.
“Eh, Ada Mitty. Kok duduk disitu Mitt?" sapa ayah hangat.
Ridwan mengulurkan tangan niat hati membantu Mitty bangun dari tempat duduknya. Tapi Mitty hanya membalas dengan senyuman dan bangun sendiri. Ridwan menatap nanar telapak tangan yang baru saja diangguri.
“Eh iya yah, abis bantuin bang Iwan jemur pakaian”
“Hemm, jangan mau digombalin Ridwan Mitt, dia orangnya pelit. Orang udah ngopi sturbuck dia masih doyang kopi sasetan, ketengan pula"
“Sejak Kapan Iwan Minum kopi yah, hmm. Ayah doain kek. Iwan lagi usaha loh ini"
"Hahaha. Ayah biasa aja. Mitty masuk dulu ya yah ke kamar Wiya"
Mitty pun berlalu menuju kamar Wiya mendapati sahabatnya yang ternyata tertidur dengan posisi ponsel tepat diatas batang hidung.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
JEMPOLNYA MINTA DI MERAHIN TOLONG
__ADS_1
KOMENNYA JAN KASI LEWAT DONG
THANKYOU EVERYONE