Utuh

Utuh
BUKU CATATAN DOSA


__ADS_3

Wiya masuk kerumah, menuju ke kamarnya di lantai atas, dia melewati kamar Mitty masih terbuka dan lampunya masih menyala terang. Dia melihat Mitty dan Ridwan sedang membuka kado-kado hadiah pernikahan mereka. Ridwan yang menyadari Wiya lewat menyapa adiknya.


“Baru pulang dek?“ Bertanya dari dalam kamar.


“Iya bang. Maaf ya Wiya telat“ Ucap Wiya dari depan pintu.


“Kelamaan di mobil itu sih” Saut Mitty dengan tertawa kecil, ternyata dia mengamati mobil Zayn yang cukup lama parkir di depan rumah mereka. Mitty melihat dari jendela kamarnya.


“Hehehe. Tau aja, eh banyak amat sih kadonya. Mau dibuka semua tuh malam ini” Mata Wiya menyapu semua kotak kado yang memenuhi kamar mereka.


“Iya sini kalau mau bantuin” Ajak Mitty sambil membuka kertas warna-warni itu dengan hati-hati.


“Enggak ya makasih. Itu isinya astaga hampir semua saringan kelapa. Beda warna doang”


Wiya melihat miring pada isi isi kado yang Mitty letakan di atas tempat tidur yang sebagian besarnya adalah gaun tidur yang kekurangan bahan dan yang terbuat dari bahan tile lembut seperti saringan kelapa.


“Apasih, mana saringan kelapa?”


“Tuuuuuuuuu” Memajukan bibirnya menunjuk ke arah pakaian yang terserak disana.


“Heyyy Wiyaaaa ! Udah lo sana ah sana” Dengan cepat Mitty menutupi baju-baju itu dengan tumpukan barang lain.


Ridwan geleng-geleng kepala melihat tingkah dua orang sahabat itu.


“Kamu buka kertas kado aja rapi begitu,ngapain yang?“ Tanya Ridwan yang aneh  dengan tingkah istrinya.

__ADS_1


“Ya kan masih bisa dipake nanti-nanti bang. Simpan aja dulu. Ada gunanya kok ini.”


“Ya Allah istri abang!  Kamu bahkan bisa beli kertas kado satu toko, Nyonya Ridwan!”


“Iya tau bisa beli, ini bukan masalah boros atau enggaknya. Tapi ya tetap aja meminimalisir sampah itu lebih baik. Bumi kita udah kebanyakan sampah yang tak terurai.” Urai Mitty Panjang.


“Tuh bang dengerin kalau istri lagi orasi“ Wiya terkekeh dan berlalu pergi ke kamarnya.


Dikamarnya dia membersihkan diri, mengganti pakaian dan menghempaskan tubuhnya ke atas Kasurnya yang sangat empuk. Hawa segar dari pendingin ruangan menyentuh kulitnya yang masih lembab setelah selesai mandi. Menimbulkan rasa nyaman dan kantuk. Namun baru saja akan memejamkan mata, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Mitty masuk dan duduk bersila kaki di atas tempat tidur.


“Wiy, lo besok beneran gak apa-apa nih gue tinggal ke Batam sama abang? Kalau lo ragu gue bisa tunda kok sampe Ibu pulang. Gue khawatir lo dirumah sendirian” Mitty memperhatikan Wiya yang masih berbaring menatap


langit-langit kamarnya, matanya hampir terpejam sedikit-sedikit.


“Iya Mitt, gue gak apa-apa. Lo pergi aja besok. Ya jangan lama-lama juga. Gue kesepian” Wiya seketika duduk saat mengatakan kata kesepian “Eh Mit, udah terjadi pembuahan belum sih disini” Menempelkan kupingnya di perut datar Mitty. Mitty reflek menjauhkan diri dan menarik kuping Wiya.


“Hahahaha. Ya siapa tau aja kan. Lo jangan lama-lama dong kasi gue ponakan. Gue udah ga sabar Mitt sungguh”


“Lebay lo! Ibu sama ayah aja gak segitunya”


“Mitt, cepetan gih sana bikin. Kalau udah ada anak kecil dirumah kita kan gue jadi bisa fokus bantuin lo jaga anak dan bisa mengalihkan perhatian gue dari memikirkan yang gak pasti” Wiya menatap nanar mata sahabatnya.


“Ulululuhh, Tante Wiya lagi curhat ini. Syinih peluk mommy Mitty “ Mitty menghibur Wiya yang sengaja dibuat-buat. Wiya tidak merespon gurauan sahabatnya itu. “Kelamaan kalau nungguin gue punya anak Wiy. Dengerin gue ya ! Lo akan menemukan seseorang yang tepat. Ga musti Pak Zayn kan? Doanya kencengin! gue juga berharap kok lo bisa secepatnya menikah, terus kita hamil sama-sama, shopping kebutuhan baby, pergi ke kelas yoga dan menyusui. Aamiin “


Mitty selalu berhasil mengurai kalimat panjang yang menenangkan hati.

__ADS_1


“Sama-sama ke seminar parenting, belajar cara jadi Ibu yang baik. Iya kan Mitt ?”


Mitty mengangguk dan merengkuh tubuh Wiya erat. Erat sekali sehingga bisa merasakan beban fikiran Wiya saat ini.


“Emang tadi di mobil ngomongin apa aja, sampe galau begini adik ipar gue”


Wiya menggeleng gelengkan kepalanya.


“Enggak ngomong apa-apa Mitt. Mereka kan lagi berduka.”


“Iyasih, terus galaunya kenapa?”


“Gue baru tau ternyata keluarga Zayn dan Brigitta sudah sedekat itu”


“Almarhum Pak Haris bersahabat dekat dengan Tuan Setiawan Wiy. Wajar kalau mereka sudah seperti keluarga sendiri.”


“Oh iya juga ya, anda benar Mitty!! Oke deh sampai nanti gue dapat fakta yang baru. Gue akan pake statement lo ini” Wiya sudah kembali optimis.


“Eh tapi gue gak tanggung jawab lo kalau ternyata gak gitu. Hahaha. Yaudah sih Wiy, dari pada galau. Mending baca tu  novel kesukaan kita udah update dong tadi. Seru Wiy. Gue spoiler ya dikit”


“Gak ah Mitt, gausah! gue lagi males baca novel. Pengen bacaan yang berat dikit”


“Bacaan yang berat? Emmm, baca aja buku catatan dosa.“


“Astaghfirullah. Baru halaman pembuka juga udah gak bergerak gue Mitt sangking beratnya. Udah sana lo ah balik ke kamar. Gue mau solat.”

__ADS_1


Mitty berlalu dari kama Wiya mematikan sakelar lampu dan menutup pintu lalu kembali ke kamarnya dan mendapati suaminya yang ternyata sudah menantinya untuk melaksanakan ritual malam kedua.


__ADS_2