Utuh

Utuh
FINAL EPISODE OF (B)UTUH


__ADS_3

Kabar kehamilan Wiya didengar oleh seluruh anggota keluara. Semua turut merasakan kebahagiaan yang Wiya rasakan. Selama hamil Wiya tetap tinggal dirumah mereka. Setiap bulan dia selalu memeriksakan kandungannya.


Semakin hari perutnya semakin membesar, namun tidak ada hal-hal aneh yang dialaminya selama masa mengidam. Hanya sesekali mengingingkan sesuatu yang segar dan memiliki rasa asam. Pola makannnya juga seperti biasa, tidak ada drama yang terlalu menyita perhatian. Hingga kini sudah masuk minggu ke 38 usia kehamilan.


Dokter sudah menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan Wiya tidak memungkinkan untuknya dapat melakukan persalinan normal. Tidak masalah bagi Wiya. Dia meyakini hal itu adalah takdir terbaik untuknya. Begitupula dengan suaminya, Zayn bahkan lega karena Wiya setuju untuk melahirkan dengan proses sectio.


Selain karena dia tidak sanggup menyaksikan istrinya merenggang nyawa di meja tindakan. Keuntungan lainnya juga adalah tidak akan ada jahitan di bagian itu dan akan sempit seperti sedia kala.


"Kamu udah siap, sayang?" Zayn mengusap lembut dahi istrinya yang tampak berkeringat. Ya, tentu saja Wiya begitu gugup, mengingat ini adalah pengalaman pertamanya.


"InsyaAllah mas, sepertinya mas gak usah ikut ke dalam,"


"Kenapa sayang? Aku akan menemani mu melewati semuanya. Ini anak ku, aku yang berperan aktif menghadirkannya didalam sini, aku juga akan bertanggung jawab sampai titik darah penghabisan," ucap Zayn penuh kesungguhan.


"Lebay kamu mas, sepertinya dokter tidak mengizinkan mas,"


"Dokter siapa? Aku baru saja dari ruangan dokter Anne dan dia mengizinkannya," ucap Zayn keras kepala.


Seluruh anggota keluarga sudah berada di rumah sakit, baik dari keluarga Wiya maupun keluarga Zayn. Kecuali Nikki, karena bayinya masih terlalu kecil untuk dibawa ke rumah sakit. Jadi hanya Bian, suaminya yang datang membantu segala keperluan kakak iparnya selama disana.


Saat Wiya berada di depan ruang operasi, anggota keluarga memberikannya semangat secara bergantian. Terutama ayah dan Bang Ridwan.


"Kuat ya dek, kuat!" ucap Bang Ridwan sambil mencium kening adiknya. Seketika dia teringat masa-masa menemani persalinan istrinya.


***


Wiya sudah berada di ruang operasi. Zayn membantu Wiya melepaskan hijabnya dan mengganti dengan cap pasien berwarna hijau tua. Bajunya juga sudah diganti. Rasanya dia seperti baru dimasukkan ke dalam kulkas. Ya, ruang operasi ternyata suhunya sangat dingin.


Ada tiga dokter spesialis, satu dokter umum dan beberapa perawat disana. Dokter Anne sendiri yang memimpin jalannya operasi besar ini. Dokter Anne mengajak semua timnya untuk berdoa sebelum memulai pekerjaan mereka.


Tak jelas entah perasaan apa yang ada dalam hati Wiya saat ini, rasa tak sabar menanti pertemuan dengan yang telah lama dinantikan, rasa takut karena belum pernah berada di dalam ruangan semacam ini sebelumnya, pun rasa khawatir akan kemungkinan terburuk yang akna terjadi selama operasi berlangsung. Walau suami tercinta tak pernah berhenti berdoa sambil memegang tangannya.


Awalnya Zayn memang takut dan tidak sanggup untuk menemani Wiya, tapi dia telah berjanji tak akan pernah meninggalkan istrinya sendirian. Dia harus mendampingi Wiya dan mengesampingkan perasaan lainnya. Saat ini dia hanya bisa terus membasahi lisannya dengan ungkapan-ungkapan doa sambil tetap menggenggam erat tangan perempuan yang sebentar lagi akan resmi menjadi ibu dari anak-anaknya.


"Kita mulai ya bu," ucap perawat membimbing Wiya untuk duduk sebentar karena dokter Anastesi akan mulai memebrikan suntikan.


Obat bius itu mulai dimasukkan melalui ruas-ruas tulang belakang. Dengan cepatnya bekerja di dalam aliran darah Wiya dan membuat sebagian tubuhnya mati rasa. Perihnya kateter yang sejak tadi malam Wiya rasakan sudah hilang. Dokter menguji kerja obat tersebut dengan menepuk-nepuk  dan meminta Wiya mengangkat kakinya.


"Sudah gak terasa dokt," tukas Wiya.


"Oke, ayo berbaring lagi," Perawat kembali membantu Wiya merebahkan tubuhnya senyaman mungkin.


Tangannya di rentangkan, beberapa alat mulai dipasangkan. Termasuk selang O2 dihidungnya, tak lupa para perawat menaik-turunkan kecepatan oksigen sesuai kenyamanan Wiya. Sebuah kain yang cukup lebar digantungkan sebagai tirai pemisah antara pandangannya dengan aktvitas tim medis pada tubuh bagian bawah. Tapi di atas ada sebuah lampu besar yang cembung, semua yang dokter lakukan pada tubuhnya bisa terlihat di atas sana walau tidak jelas.

__ADS_1


"Jangan dilihat sayang, lihat mas aja!" Zayn mengalihkan pandangan Wiya yang mulai gusar.


Seketika terdengar bunyi alat-alat besi dan wadah alumunium itu beradu, Zayn memicingkan matanya karna rasa ngilu. Alat-alat itu sebentar lagi akan digunakan untuk mulai membelah rahim Wiya, ya membelah bukan hanya menoreh atau menggores yang hanya membuat luka kecil.


Walau badan bagian bawahnya mati rasa, pergesekan alat-alat itu pada kulit Wiya masih cukup teraba. Dokter Anne melakukannya dengan sangat santai dan hati.


Entah untuk mengusir ketegangan pada pasiennya, atau memang karena sudah terbiasa dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Tim medis yang berada di dalam ruangan itu saling melempar candaan dan topik pembicaraan seperti sedang tidak ada kejadian. Tapi benar saja, Wiya jadi tidak merasa kalau dirinya sedang dibelah.


Walau dia ingin sekali menyambar topik yang dilemparkan salah satu perawat disana. Tapi lidahnya kaku, selain berdoa dalam hati dirinya tak bisa berkata apa-apa lagi. Dilihatnya Zayn yang tak pernah sedetikpun berhenti berdoa menguatkannya, seolah tak mendengar obrolan mereka.


Entah pada menit keberapa, Wiya merasakan begah, sesak dan tak tau rasa apa lagi yang bergerombolan menghantamnya. Dia sulit bernafas bahkan hampir gagal bernafas, lemas tak berdaya. Sekelebat ingatan tentang kejadian di dalam air menyeruak ke kepalanya, ada sesuatu yang ingin dia keluarkan dari mulutnya tapi entah apa.


"Ibu Wiya...Ibu kenapa? Ada apa bu?" seorang perawat panik melihat ekspresi Wiya yang menggelepar.


"Sayang...Wiy, hey. Bicaralah, kamu kenapa?" Zayn terkejut melepas genggamannya dan begitu panik tak tau harus berbuat apa. Kejadian itu membuat perhatian teralih ke kondisi Wiya.


"See...sesak, aku sesak..a..aku gak kuat, hiiiiiiiiiiik," terdengar suara tarikan nafas Wiya yang sangat berat. Salah satu perawat terlihat melakukan sesuatu pada tombol-tombol yang ada di dekat tabung O2, menaikkan tekanannya dan kembali menyesuaikanya dengan kebutuhan Wiya.


Saat udara berhasil maluh melalui hidungnya, Wiya malah terlihat seperti sedang menahan sesuatu. Perawat dengan sigap mengambil satu bekas plastik dan meletakkan disamping mulut Wiya. Seketika seluruh isi perutnya dimuntahkan saat itu juga. Ternyata Wiya merasa ususnya seperti sedang ditekan-tekan dari bawah sana.


"Oh...ini karena ibu tadi tidak dikasi instruksi untuk puasa kan?" ucap dokter Anne. "Tidak apa-apa ya bu, respon tubuh ibu normal kok," sambungya.


Zayn tampak menghembus nafas lega dan kembali mengalirkan kekuatan melalui genggaman tangannya. Sekiranya hampir 45 menit waktu berjalan sejak langkah pertama tindakan.


Hooeeek...hoeeek...hoeek...


Zayn mematung sedangkan Wiya menangis. Suara itu bagai syair-syair Indah dalam lantunan lagu terbaik yang pernah mereka dengar di dunia.


Telah lahir kedunia seorang malaikat kecil yang merepresentasikan arti dari kata Cinta sesungguhnya. Dia telah menjadi yang dicintai sejak perjumpaan pertama mereka hari ini.


"Selamat Bapak dan Ibu, puteri anda telah lahir ke dunia dengan sehat dan sempurna, dia sangat cantik sekali," ucap dokter Rosaline, spesialis anak yang yang langsung menangani bayi perempuan itu.


Zayn berdiri disamping dokter Rosaline yang masih memegang anaknya, dengan nada lirih dan air mata yang tak terasa mengaliri pipi dia mulai melafalkan iqomah di Indra pendengaran buah hatinya.


Kemudian bayi langsung didiberikan Inisiasi menyusui dini. Sementara tim medis menjahit kembali rahim hingga kulit perut Wiya.


Wiya hanya bisa menangis dan menangis saat merasakan sentuhan kulit suci di atas dada. Dia memberanikan diri untuk menyentuh bayi itu dengan tangannya.


Seolah sudah pernah mendapat pelajaran saat di dalam rahim, bayi itu dengan sigap mencari sumber makanannya saat berada di atas tubuh sang bunda.


Zayn menghujani Wiya dengan kecupan bertubi-tubi. Di kening, di tangan, di pipi. Pemandangan yang ada di depan matanya saat ini jauh lebih indah dari belahan dunia manapun yang pernah dia kunjungi.


"Selamat ya sayang, sekarang di kaki mu sudah ada surga,"

__ADS_1


"Mas, siapa nama untuk puteri kita? "


"Zeliya.. namanya Zeliya Haris!" ucap Zayn bangga.


"Assalamualaikum Zeliy, ini bunda dan ayah yang sudah lama menanti kehadiranmu di dunia. Selamat datang sayang, semoga kamu tumbuh taat, cantik dan bermartabat, begitulah doa kami," ucap Wiya.


***


Baby Zeliy dibersihkan oleh tim dokter anak dan di bawa terlebih dahulu ke ruang observasi sebelum dipindahkan ke ruang rawat inap.


Sedangkan Zayn menemani Wiya yang terlebih dahulu dibawa ke recovery room.


Barulah satu jam kemudian mereka sama-sama dibawa ke ruang perawatan yang sudah dinantikan oleh seluruh anggota keluarga.


Saru persatu dari mereka memperkenalkan diri seolah sedang masa orientasi. Mereka mulai menerka-nerka wajah Baby Zeliy cenderung mirip dengan siapa.


Oma Wulan, Nenek dan Kakek, Daddy Iwan, Mommy Mitty, Kakak Vinyy, Bibi Vhieya dan Uncle Bian. Aunty Nikki dan Baby Billy menunggu Zeliy pulang kerumah.


Zeliy tertidur di dalam boxnya seolah sudah terbiasa Dengan suara gaduh sejak di dalam rahimnya. Sesekali dia mengeluarkan lidahnya dan mengerjap-ngerjapkan matanya pelan.


Sekilas garis wajahnya amat mirip dengan Zayn, tapi hidung minimalis dan sepasang lesung pipi membuat gen Wiya terlihat dominan disana.


Satu persatu keluarga mulai meninggalkan rumah sakit, hanya tinggal Zayn dan Ibu Ria yang masih disana menemani Wiya.


Zayn belajar menggendong Zeliy dan naluri seorang ayah muncul begitu saja saat istrinya belum bisa banyak bergerak pasca operasi. Zayn sendiri yang menggendong puterinya dari box bayi jika tiba-tiba Zeliy menangis minta disusui.


Dan kehadiran seorang puteri bernama Zeliya adalah jawaban atas doa-doa mereka untuk memiliki keturunan yang melanjutkan rajut-rajut kebaikan dan menjadikan mereka sebuah keluarga yang utuh dan saling membutuhkan.


The End


***


Usai sudah rangkaian panjang cerita ini, semoga seluruh ekspektasi pembaca dapat terwakili dan terjawab dengan baik.


kalau ada yang mau dibikin part QnA silahkan tinggalkan pertanyaan di kolom komentar.


Gak ada kata yang dapat author haturkan


selain seulas senyum mewakili sebuah ucapan terimakasih yang tulus atas kesediaan reader semua membaca cerita ini dari lembar pertama.


Salam sayang dari Tanjungpinang


eNKa

__ADS_1


__ADS_2