Utuh

Utuh
JOMBLO SENGKETA


__ADS_3

Langit hari itu masih malu-malu menampakan birunya, namun tanah dan dedaunan telah basah. Ternyata tak hanya embun yang menggelayut seperti biasanya, senin pagi ini datang juga bersama gerimis dengan kesejukan yang tanggung. Ketukan-ketukan kecil pada genteng dapur masih terdengar jelas.


Sesekali sayup suara hewan-hewan rumput dan serangga memulai kehidupan mereka. Pagi-pagi sekali Mitty sudah ada di dapur. Dengan handuk yang masih terlilit di kepala membungkus rambutnya yang basah usai mandi wajib,  dia mencuci sprei yang terimbas bercak merah segar tadi malam yang ternyata berlanjut satu putaran setelah subuh tadi. Mesin cuci standby sambil Mitty memotong sayuran dan sosis, rencananya ia akan membuat nasi goreng untuk sarapan pagi keluarga barunya.


Wiya yang seperti biasa membantu Ibu di dapur kini sedang berjalan dari kamarnya menuju ruang belakang dan mendapati kakak iparnya sudah sibuk dengan penggorengan dan wajan. Dia tersenyum sedikit. Bang Ridwan memang tidak salah pilih. Walau berasal dari keluarga yang kaya, Mitty bukan gadis manja. Dia sangat mandiri. Menjadi wanita yang berkarir, dia ternyata juga terbiasa mengerjakan segala pekerjaan rumah dan dapur. Dan disini sahabatnya itu sekarang, Menjalankan rutinitasnya sebagai menantu baru dirumah mereka.


“Aelah, udah basah aja nih rambut. Aduh otak gue otak gue tolong dong jangan mikir yang aneh aneh" Wiya menggoda Mitty dengan memperhatikan lilitan handuk di kepalanya.


“Pikirin aja, apa salahnya? Minimal bisa menstimulasi jiwa untuk menyudahi kesendirian” balas Mitty sambil tetap berkonsentrasi dengan nasi di wajan.


“Aih, belum aja 1 x 24 jam lo jadi pengantin gue udah mencium bau-bau intimidasi di rumah ini”


“Itu bau nasi goreng gue kali. Eh nih bantuin iris timunnya buruan Wiy,“ Mitty menyodorkan sebuah mentimun yang sudah di cuci bersih tadi.


Mereka berdua larut dalam aktivitas masing-masing menyiapkan sarapan untuk anggota keluarga yang pagi ini akan memulai aktivitas seperti biasanya. Kecuali Mitty dan Ridwan pastinya yang masih menikmati masa cuti.


“Mit, lu ngelakuin semua ini bukan karena pencitraan kan? soalnya jadi menantu Ibu gue tu gak perlu ideal Mitt. Percayalah Ibu bukan mertua seperti dalam drama TV Azab. Ga bakalan ada adegan saling sindir-sindiran sampe bikin menantunya meninggal” Wiya memastikan Mitty melakukan semuanya dengan senang hati.


“Astaghfirullah. Istighfar aja deh gue daripada pagi-pagi nampol orang. Gue udah biasa ngelakuin semua ini Wiya. Ya cari perhatian dikit biasalah biar Ibu makin sayang sama kita”


“Hm, syukurlah Mitt. Bukannya gue sok tau sih, tapi yang pasti nih, yang namanya pernikahan itu pasti banyak cobaannya”  Kata Wiya yang memang sok tau.


“Iya Wiya, yang namanya cobaan itu pasti banyak, kalau sedikit itu cobain namanya. Nih cobain nasi goreng chef Mitty Arsylla“ Ucap Mitty menyuapkan seujung sendok nasi goreng itu untuk Wiya cicipi rasanya yang ternyata sedikit hambar, Mitty menambahkan sedikit lagi garam ke dalamnya.


“Eh Wiy, gimana perkembangan hubungan lo sama Pak Zayn?“


Mitty mengkonfirmasi. Wiya pernah menceritakan perihal perasaannya kepada Mitty beberapa pekan yang lalu. Mitty tidak terlalu memberi tanggapan yang serius karena fikirannya sedang fokus mempersiapkan pernikahan. Tapi dia sempat meminta Zayn menjadi saksi pernikahan agar setidaknya ada kemungkinan Zayn hadir dan bertemu dengan Wiya karena dari yang Wiya ceritakan sepertinya dirinya sudah teridentifikasi memiliki sebuah perasaan yang tak biasa terhadap Zayn.


Dan kemarin di gedung itu, Mitty melihat sebuah perkembangan yang cukup signifikan sebelum akhirnya ada pemandangan OOTD Batik couple ala Zayn dan Brigitta yang membuat hati Wiya sudah seperti pasukan paskibraka setelah aba-aba balik kanan. Yap, bubar jalan.


“Hey Jadi hubungan kalian sudah sampai mana?“ Mitty menanyakannya sekali lagi karna pertanyaan pertamanya diabaikan.


“Sampai mana ya. Hm, sampai bingung gue mau jelasinnya. Ya orang ga nyampe mana-mana sih gimana mau cerita.”

__ADS_1


Jawab Wiya asal, tak bersemangat. Sebenarnya Wiya adalah orang yang sangat tertutup. Namun dia tak bisa diam sendiri dalam kesedihan dan berlarut. Wiya selalu menceritakan sesuatu kepada orang yang dia percaya, jika dia rasa hal itu bisa mengurangi sedikit bebannya. Dan menceritakan apapun kepada Mitty memang selalu membuatnya nyaman. Mitty selalu memberikan sebuah saran penyelesaian yang efektif.


“Padahal sebelum sejauh matahari ke bumi, kalian pernah sedekat hujan dan semangkuk Indomie.” Kenang Mitty dengan begitu dramatis dan dibuat buat.


“Lalu apa sekarang gue harus jadi merkurius?


“Deket sih, tapi bisa hangus”


“Iya makannya waktu itu gue milih jadi pluto aja, keluar dari garis edar. Sekarang gue bukan siapa-siapa lagi di galaksi bima sakti”


“Wah wah gombalan ala anak astronomi? hahah.  Wajar sih lo panik gitu melihat Pak Zayn kondangan bareng Brigitta. Tapi pake baju kembaran kan belum tentu pacaran. Emm mungkin baru jadi gebetan."


“Yahhh  sama aja dong Demit, hiks.“ Memelas sekali.


“Haha, becanda Wiy. Ga ada bukti yang kuat yang menandakan mereka adalah pasangan. Baju samaan doang mah biasa. Misal aja pas akad nikah semalam, orang-orang yang datang liat lo sama Pak Zayn sama-sama pake baju kurung merah hati,  pasti ngiranya pacaran. Padahal itu seragaman satu perusahaan. Cuma kebetulan aja yang serombongan lagi datangnya siang.” Kali ini Mitty tak tau kalau perihal itu Wiya sudah GR berat. Dia sungguh sangat menutupi malunya saat ini jika mengingat hal itu kembali.  “Nah mungkin aja itu seragam komunitas mereka, ah atau Brigitta lagi dapat endorsan batik kondangan kali dan meminta Pak Zayn memakainya demi kebutuhan feed instagram."


Lagi-lagi kalimat Mitty selalu jadi penangkal kesedihan walau tak masuk akal dan kadang berlebihan. Tapi Wiya merasakan ada sedikit beban yang keluar dari rongga rongga dadanya. Wiya tak menjawab rangkaian kalimat itu dan menyelesaikan tugasnya menata meja makan dengan menu sarapan yang baru selesai dimasak.


“Kalaupun nih ya, kalaupun emang iya Brigitta itu gebetannya. Yauda terus kenapa. Selagi hak dan kewajiban masih ditanggung masing-masing, lu masih punya kesempatan. Kalian bisa rebutan. Ah iya rebutan aja rebutan. Hahahahah” Mitty melepas handuk dikepalanya dan menjemurnya.


“hahaha, Lo gak sadar aja sih Wiy, sebenarnya Lo itu berkompeten merebut perhatian . Semalam aja jantung Lo jelas udah remuk redam, tapi Wajah Lo dong masih bisa pasang senyum chubby-chubby menggemaskan padahal hati lagi berantakan”


“Orang cantik mah bebas aja mau pake emoticon apa di wajahnya! Inget dong nama gue Qawiya, kuat gue kuat. Walau sekarang status gue adalah jomblo sengketa.“


“Apaan tuh? Jomblo yang belum jelas ya status kepemilikannya?”


Lalu terdengar gurihnya tawa lepas keduanya tak kalah meriah dari rintik suara gerimis yang belum juga reda. Sarapan sudah tersaji di atas meja.


Anggota keluarga sudah berkumpul semua di meja makan akan menikmati sarapan pagi mereka. Ibu merasa kelelahan setelah acara semalam dan ketiduran setelah subuh dan ternyata sekarang sudah ada dua anak perempuan yang kompak di dapur. Ridwan yang ternyata baru selesai mandi juga sudah turun sebelum istrinya sempat menyusul.


Ridwan mencium pipi istrinya yang tersenyum menyambutnya turun dari tangga, lalu memeluk pinggang Mitty dan mereka berjalan menuju meja makan. Mitty langsung mengambilkan piring dan gelas untuk suaminya.


“Jadi hari ini kalian ada rencana apa?" Tanya Ibu pada menantunya.

__ADS_1


“Rencananya mau ngantarin ayah dan keluarga yang lain pulang ke Batam bu” Jawab Mitty sambil melayani suaminya mengambilkan nasi goreng ke dalam piring.


“Oh begitu, besok ayah ada seminar diluar kota. Mungkin akan pergi sekitar 7 hari. Ibu katanya ingin ikut ayah. Kalian berdua jangan terlalu lama ya di Batam. Kasian Wiya tinggal sendiri" Ucap ayah pada Mitty dan Ridwan.


“Gak kok yah, paling cuma 2 hari. Kamu gak apa apa kan dek?” Tanya Ridwan pada adiknya yang sedang menenggak segelas susu dingin.


“Emmm, lanjut aja sih. Kalau aku kangen ya tinggal nyebrang ke Batam” Wiya menjilat habis sisa susu di bibirnya dengan lidah kemudian tersenyum menampakan barisan giginya yang rapi.


“Ayo dek habiskan nasi gorengnya, cepat ganti seragam. Kamu berangkat kerja sama ayah kan?" Ayah yang sudah selesai sarapan, memakai jas yang Ibu berikan dan mengambil tas kerjanya.


Wiya mengangguk dan akan menuju ke kamarnya. Karena Mitty sedang cuti otomatis semua pekerjaan Mitty harus ditanganinya sementara, karena tak mungkin dilimpahkan ke bagian lain karena pekerjaan mereka sama banyaknya.


Baru saja Wiya berdiri, tiba-tiba terdengar suara mesin mobil di halaman depan rumahnya. Siapa yang bertamu sepagi ini ? Wiya segera memeriksanya dengan menyingkap kain jendela.


“Itu… ituu kan mobil Pak Zayn!" Ucapnya terbata dari dalam hati.


Benar saja, tak lama kemudian Zayn Dwika Haris turun dari mobil putih itu menuju pintu dan baru akan mengetuknya. Wiya masih mengamatinya dari balik vitrase jendela.


 


Mimpi apa dia semalam. Apa mimpiin gue ya? Rasain! Siapa suruh tidur ga baca do’a.


Kamu mau ngapain sih bertamu sepagi ini ?


Duh ekspresimu dong,tolong.


Arrgh. Karena senyuman segaris, bisa rusak pertahanan seribu lapis


 


 


---------------------------------------

__ADS_1


AUTHOR MENERIMA SUMBANGAN LIKE,KOMEN DAN VOTE SEBANYAK BANYAKNYA


__ADS_2