
Mereka melanjutkan perjalanan, hampir tak ada satu sudutpun yang terlewatkan dari perhatian mereka berdua, dan hampir disetiap sudut pula Wiya pasti membawa pulang satu kantong belanja. Tanpa memikirkan akan sebanyak apa tentengannya.
Namun tidak sekalipun Wiya bersikap berlebihan, semacam curi pandang, bahkan dia hanya berbicara seperlunya saja, kekakuan yang dia khawatirkan ternyata mampu di atasinya sendiri, dengan menyibukkan diri berbelanja. Wiya bahkan lupa, Ilham kenapa belum juga tiba?
Wiya mulai merasa berat dan sesaat sadar belum satu kalipun mengambil poto dengan kamera yang masih bergantung cantik di lehernya. Sementara tangan kanan dan kiri telah penuh dengan box maupun shoping bag oleh-oleh.
Bika ambon dan bolu meranti saja sudah dua box sedang belum lagi beberapa kaos dan satu kain ulos yang dia belikan untuk ibunya. Disini harganya jauh lebih murah bila dibandingkan dia harus berbelanja di bandara.
Sungguh pemandangan baru bagi Zayn melihat seorang gadis belanja dengan kalap, karena dia belum pernah sekalipun menemani Ibu atau kedua adiknya pergi berbelanja.
Tapi dikarenakan rasa penasaranya pada gadis ini belum terpuaskan, dia memilih untuk mengerjainya sekali lagi. Sebenarnya apa yang dia cari? Zayn hanya ingin melihat Wiya sedikit kesal dan marah.
Wiya sejak tadi asik dengan dunia nya sendiri, Tidak terlalu memperhatikan keberadaan Zayn,menganggap Zayn sebagai atasannya pun dia mendadak lupa. Dia kemudian menolak dengan bijak saat Zayn akan membayar semua belanjaan Wiya.
"Em,tidak perlu pak, uang saku saya dari perusahaan masih sangat cukup membayarnya, saya sungkan sekali jika harus dibayarkan Bapak lagi." Tolaknya lembut.
Zayn sebenarnya panas sekali, belum pernah ada yang berani menolaknya terang terangan begini. Namun dia juga heran kenapa dia tak bisa sedikit memaksa Wiya untuk menerimanya.
Zayn tetap ingin membalas Wiya dengan sedikit keusilan, dia bertekad tidak akan membantu Wiya membawakan belanjaan
seabrek itu jika Wiya tidak mengatakan “Minta tolong” kepadanya. Lagipun tadi Zayn sudah mengingatkan untuk tidak berlebihan. Lihat saja itu badan mungilnya mulai kerepotan tidak seimbang.
Ya Tuhan, gue bener bener udah belanja sebanyak ini????
Gimana gue mbawanya, ini berat banget sumpah. Si Boss gak ada inisiatifnya apa ya ? liat perempuan ngangkat berat begini.
Wiya terdiam sejenak berdiri , mencekak tangan di kedua pinggang dan meletakan barang-barang itu ke lantai. Zayn yang sudah berjalan di depan berhenti dan menoleh ke arah Wiya yang tampak sangat kelelahan.
“Kenapa?” Tanyanya singkat.
Gimana ini ya Tuhan, ap ague minta tolong aja ya ? Tidak ! tidak jangan dulu deh,
ehtapi...
__ADS_1
Duh pintu keluar kan masih jauh.
Mati aja gue ngangkat belanjaan segini banyak.
Ilham kunyuk ! Lama amat sih dia makan siang doang. Kalau ada dia kan gue tak terlalu
sungkan minta tolong. Lagian dia pasti inisiatif bantuin gue.
Benar ternyata, kalau sudah tiada baru terasa
Bahwa kehadirannya sungguh berharga.
Ebuset kenapa gue jadi nyanyi
lagu bang Roma, huh
Wiya masih bersungut dalam hati, tapi masih jauh dari keputusan untuk meminta tolong, masih berharap ada keajaiban boss nya dirasuki jiwa ibu peri baik dan langsung membantunya.
“Tidak ada apa-apa pak, em,mari pak, si-silahkan, ayo kita tunggu Pak Ilham di depan.”
Zayn kembali berlalu meninggalkannya sambil berhitung mundur dalam hati
3…2….1
“Pak Zayn !!, maaf.“ Ucapnya tertunduk,
Bodo amat mau bilang apa dari pada belanjaan ini gue tinggal.
Zayn menarik satu sudut bibir nya ke atas, ada yang tersungging miring, menang !!! soraknya dalam hati, entah dia abis ikut lomba apa. Tanpa berkata-kata dia kembali menoleh ke arah suara.
“Ada apa Nona Qawiya ?”
Ucapnya penuh penekanan seolah memberi rasa pada gadis yang tadi ngeyel dan abis kalap belanja. Satu lagi, untuk gadis yang sok menolak penawarannya. Tentu dia tidak langsung menghampiri dan membantu Wiya karena poinnya belum Zayn dengar langsung dari mulut gadis itu.
__ADS_1
“Maaf Pak, bisakah Bapak menolong
saya membawakan ini? dan ini?”
Pintanya sedikit memelas, namun tetap sangat manis, mungkin karena mata bulat itu seolah berkaca kaca seperti upin ipin ketika meminta sesuatu pada kakak mereka.
“Hm…” Gumam Zayn sambil lalu melewati Wiya menuju satu Lorong dibelakangnya. Kemudian datang kembali membawa sebuah trolley dan menghampiri Wiya yang masih bengong dan rasanya ingin sekali duduk di ubin saat itu juga.
Zayn memasukan semua belanjaan itu ke Trolley dengan santainya tanpa menoleh ke arah Wiya, dalam hatinya dia sekuat tenaga menahan tawa.
Mau dibilang bodoh tapi kamu cukup pintar, mau ku akui pintar tapi kenapa dari tadi gak kepikiran buat ngambil ini doang dan malah petatang teteng sendirain, hahahaha.
Tanpa sadar Zayn sudah dirasuki
mak lampir, cekakak kikik dalam hatinya sendiri.
“Bapak!!! ” Ucap Wiya dengan intonasi penuh penyesalan.
“hmm?” jawab Zayn sambil tetap
berjalan mendorong trolley itu dan diikuti Wiya dari belakang dengan tergopoh-gopoh.
“Kenapa dari tadi bapak gak ngasi tau saya buat ngambil trolley aja sih pak ?” Protesnya yang sebenarnya juga merutuk dirinya sendiri yang sama sekali tidak kepikiran untuk mengambil benda itu.
Trolley bedebah
Wiya mengumpat kesal dalam hati sambil menghentakan satu kaki.
What The…huh !!!
Hari ini kamu sangat keterlaluan Pak Zayn.
Zayn tetap berjalan tanpa menjawab
__ADS_1
kata-kata Wiya. Walau Wiya tetap stabil mengontrol emosi untuk tidak mengungkapkan kekesalannya, tapi rasanya hari ini dia puas sekali melihat Wiya kesal begini.