
Wiya sudah selesai dengan daftar kebutuhan Ilham dan kebutuhannya pribadi. Semua sudah dimasukan jadi satu ke dalam koper toska kesayangan yang selalu menemani Wiya bertugas kemanapun. Pakaian untuk dia kenakan besok pun sudah diletakkan di atas meja riasnya. Dia tengah mencoba memejamkan mata. Besok harus benar-benar jadi awal dari keberhasilannya meninggalkan dan menanggalkan segala luka. Tak harus segera, namun cinta yang seringkali jadi sebuah zat yang tak teraba, sama sekali tak boleh menjadi esensi yang mempengaruhi hatinya lagi.
Pagi harinya semua sudah selesai menikmati sarapan pagi. Seperti biasanya satu keluarga itu akan mengantarkan Wiya ke pelabuhan, karena penerbangannya kali ini via kota Batam jadi Wiya harus menyebrang terlebih dahulu dengan kapal. Mereka sekeluarga menuju Pelabuhan kenamaan di Tanjungpinang, Dermaga Sri Bintan Pura.
Sesaat setelah berpamitan dengan semua anggota keluarga Wiya, Ilham dan Wiya masuk ke gate keberangkatan menuju kapal laut yang akan membawa mereka ke kota Batam.
Ilham sejak tadi hanya menunjukkan senyum saat berpamitan dengan anggota keluarga Wiya saja. Setelah itu senyuman dan tatapan teduh dari manik mata coklatnya kembali sirna. Ilham mempersilahkan Wiya masuk untuk duduk disamping jendela, biasanya Ilham akan duduk disebelah Wiya, tapi kali ini dia seperti ingin pergi menghindari Wiya.
“Kamu mau kemana?"
“Ni disini” Menunjuk satu seat tepat di depan bangku Wiya.
“Kalau ada apa-apa dorong aja bangkunya.”
Ilham langsung duduk tepat di bangku yang dia tunjuk. Wiya bangkit dari duduknya dan mengekori Ilham lalu duduk di seat sebelahnya.
“Enak aja kamu suruh aku duduk sendirian,” Berpindah duduk disamping Ilham “Kamu kenapa sih Ham? Sejak kemarin aku liat kamu gusar. Aku kira kamu sedih karna aku lagi sedih. Tapi kayanya kamu punya kesedihan sendiri” Wiya menggunakan kepalan tangannya meninju bahu Ilham. Ilham tersenyum dan mengusap-usap bahunya. Gadis kecil ini tenaganya lumayan.
Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut
Sirine kapal berbunyi keras tanda kapal akan mulai berlabuh meninggalkan dermaga. Tanpa menceritakan apa-apa pada Wiya, Ilham sudah cukup terhibur melihat Wiya yang peduli dengannya. Wiya mengerti dan tidak memaksa Ilham menceritakan masalahnya. Mereka mencari topik-topik hangat yang lain menemani perjalanan menempuh lautan.
Saat kapal sudah semakin jauh ke tengah lautan, ponsel Wiya berdering dan menjeda obrolan mereka. Zayn Dwika, begitu nama kontak yang tertera di halaman layar depan ponselnya. Ilham menaikan sebelah alisnya, memberi isyarat pada Wiya untuk segera menjawab panggilan itu.
“Halo, Iya Pak"
“Kamu dimana Wiy? Aku udah di depan pintu keberangkatan“
“Keberangkatan? Keberangkatan mana pak?”
“Di bandara Wiy, kamu belum check in kan? Pesawat kalian masih dua jam. Aku tunggu disini ya.“
“Pak Zayn, saya dan Ilham sudah di dalam kapal menuju Batam”
__ADS_1
“Batam? Kenapa kalian ke Batam?” Suara mulai panik.
“Saya terlambat memesan tiket kemarin, jadi tidak dapat yang langsung dari Tanjungpinang Pak. Kami terbang melalui Batam”
Lah Kamu ke Bandara mau ngapain? BAMBHAAANG?
“Kenapa kamu baru bilang sekarang Qawiya?“
“Bapak baru menanyakannya sekarang kan? Pak Zayn jangan bikin saya tambah tidak mengerti, Ada apa sebenarnya pak?"
“Sekali lagi kamu panggil saya bapak saya akan panggil kamu Ibuk!”
Wiya menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar keluar. Ilham mengernyitkan matanya memberi isyarat bertanya “Ada apa?”
Wiya menggeleng-gelengkan kepalanya, dan Ilham langsung mengalihkan perhatiannya ke layar TV di kapal yang memutar film laga.
“Jadi kamu ada perlu apa mencariku Zayn?” Wiya memelankan suaranya.
Zayn terdiam. Sesungguhnya dia belum tau pasti kenapa dia mencari Wiya dan ingin mengantarkan Wiya ke bandara pagi ini. Sesaat dia bertanya pada hatinya dengan pertanyaan yang sama dengan yang Wiya ajukan, namun jawaban bukanlah obat bagi suatu kepuasan.
“Mana bisa Zayn, kami sedang di kapal” Otak Wiya berfikir mencari alasan “Oh ya aku lapar sekali. tadi hanya sarapan sedikit, dan sekarang aku rasanya ingin pesan pop mi dulu. Iya iya pop mi aku mau beli pop mi”
Menikmati satu cup pop mie panas di kapal memang ada sensasi tersendiri. Buat kalian yang selalu bepergian dengan Fast Ferry pasti aktivitas ini sudah tak asing lagi.
“Yasudah pesan saja sana, biarkan panggilannya tetap terhubung”
“Astaga, kamu akan mengganggu kenyamanan makan ku”
“Hmmm. Berjanjilah kamu akan mengabariku setelah selesai makan. Apa 3 menit cukup?”
“Kamu yang masuk akal sedikit dong! Aku akan mengabarimu ketika kami sudah sampai di Kalimantan”
“Tidak bisa! Coba saja kalau berani! Aku akan menghubungi Ilham kalau kamu terlambat sedikit saja mengabariku saat kalian sudah tiba di kota Batam.” Ancaman yang sementara ini bisa membuat Wiya meng “iya” kan kemauannya.
__ADS_1
Akhirnya Wiya memutuskan sambungan telpon itu. Dia tak ingin memikirkan apa-apa lagi tentang Zayn dan semua yang dilakukannya. Dia akan menjalaninya senatural mungkin. Dia tak ingin lagi menjadikan perasaan yang dia punya hanya berakhir seperti buih yang disapu ombak, banyak namun tak ada gunanya. Dirinya tetap bukanlah dermaga tempat Zayn akan melabuhkan hatinya nanti. Dia tak ingin lagi mencari-cari kalimat penawar yang hanya mampu dibaca oleh hatinya sendiri.
Tanpa sadar Wiya tertidur bersandar di bahu kokoh Ilham yang sejak tadi memperhatikan raut kegusaran diwajah sahabatnya. Ilham membenarkan posisi kepalanya agar semakin nyaman. Rencana membeli pop mie tadi ternyata hanya fiktif belaka.
***
Zayn diruangannya sudah dihadapkan setumpuk dokumen pekerjaan yang tak satupun disentuhnya. Dia hanya melihat-lihat ponselnya dan jam di pergelangan tangannya. Menerka-nerka sudah dimana Wiya seharusnya. Lalu dia mendownload sebuah aplikasi sistem navigasi berbayar untuk mendeteksi keberadaan kapal laut dan kapal terbang dengan memasukkan kode kapal atau nomor penerbangan. Namun dia lupa menanyakan mereka pergi dengan kapal apa sehingga usahanya sia-sia. Namun seulas senyum terkembang saat masuk sebuah pesan dari aplikasi hijau nya.
“Kami sudah sampai di Batam” -Qawiya
“Pakai headseatmu, aku telpon sekarang!” -Zayn Dwika
Wiya tidak menjawab panggilan itu karena mereka terburu-buru harus melakukan x-ray dan check in di bandara.
Zayn pun hanya satu kali membuat panggilan itu karena mengerti pesawat mereka akan berangkat sebentar lagi. Sebelum berangkat Wiya sempat mengirimkan foto passboarding mereka sesuai seperti yang Zayn minta.
“Jaga dirimu, jangan terlalu lama disana, kabari aku segera” -Zayn Dwika
Wiya hampir saja menjatuhkan ponselnya saat membaca balasan dari foto yang dikirimkannya. Dia mengira Zayn sedang demam dan gugup berlebihan karena sebentar lagi akan resmi bertunangan. Wiya memilih untuk mengacuhkan pesan itu.
***
Selamat datang di Bandar udara Melalan Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur.
“Alhamdulillah” Ucap syukur mereka dalam hati tak lupa merapal doa memasuki daerah baru yang baru pertama mereka kunjungi.
Tidak menunggu lama Wiya dan Ilham langsung dijemput utusan rekanan yang akan membawa mereka ke hotel yang biasanya tak jauh dari outlet cabang daerah ini.
Perjalanan menuju hotel sebenarnya tidak terlalu jauh namun Ilham dan Wiya sengaja mengajak sopir mereka untuk melewati jalan yang agak berputar agar sekejap bisa menikmati jalan di Kabupaten Kutai ini.
Mereka melewati tugu jam Sendawar dan menuju ke arah pelabuhan Melak yang merupakan kota tua sekaligus pusat distribusi barang di daerah pedalaman. Tak sampai 30 menit mereka tiba di pelabuhan kecil yang merupakan terminal kapal ke Samarinda atau ke arah hulu Mahakam yang dekat dengan perbatasan Malaysia.
Pelabuhannya tidak terlalu besar, namun di sepanjang tepian sungai berdiri rumah-rumah terapung yang menjadi tempat tinggal penduduk setempat. Agak mengherankan karena rumah-rumah tersebut dialiri listrik PLN, bukan generator seperti kapal terapung lain yang mobil (bergerak), artinya rumah terapung tersebut bersifat statis alias menetap,tidak dinamis atau berpindah tempat mengikuti arus sungai.
__ADS_1
Ilham sangat menikmati pemandangan perjalanan itu sampai mobil melanjutkan perjalanan mengantar mereka ke hotel tempat mereka beristirahat. Sedangkan Wiya sibuk membalas pesan dari Zayn yang tak bisa satu menitpun terlambat mendapatkan jawaban. Hari ini Wiya merasa atasannya itu benar-benar mengerikan.