Utuh

Utuh
MENGHABISKAN WAKTU


__ADS_3

Sudah hampir pukul 5 sore. Sesuai kesepakatan tadi, Ilham yang akan mengantar Wiya pulang hari ini. Wiya mengajak Mitty untuk ikut Bersama dengan mobil Ilham, tapi Mitty ternyata juga membawa mobil dan tidak lansung pulang, jadi Wiya hari ini tetap akan diantarkan Ilham.


Mereka  berjalan memasuki parkiran kantor yang terletak di lantai dasar. Tentu saja Wiya duduk di bangku depan karena Ilham selalu protes jika duduk mengemudi sendirian dia merasa dirinya seperti sopir taksi.


Mobil melaju keluar dari area outlet, hari senin di Omelate sudah berlalu. Belum ada yang memulai percakapan disana, ini kali kedua Ilham mengantar Wiya pulang . dulu saat Wiya sedang sakit diantar oleh Ilham Bersama beberapa rekan kerja yang lain.


Tapi ini bukan kali pertama mereka berdua di dalam mobil , setiap perjalanan tugas mereka selalu pergi berdua dan tentu saja dengan alasan “jam kerja” Wiya memang hanya bersikap layaknya asisten Ilham saja. Sore ini sedikit berbeda.


Wiya mengeluarkan ponsel dari dalam tas kerjanya, mulai memainkan jari disana , naik turun,sesekali tampak sedang mengetik sesuatu, lalu tersenyum sendiri dengan benda persegi itu, semakin lama Wiya tidak dapat menahan dirinya , entah sedang melihat pertunjukan apa Wiya tertawa terbahak bahak dengan tangan kanan menutup rahangnya yang terbuka.


Wiya lupa ada Ilham disampingnya yang kini sedang kesal memperhatikan dia yang asik sendiri dengan ponselnya.


lagi mainin apa sih anak ini ? Apa se seru itu sampai gue ga dianggep gini !


“Liatin apa sih, seru bener hey!” Sindir Ilham


Sedikit terkejut Wiya menoleh ke arah Ilham. Dia benar benar jadi sungkan sekarang.


“Eh…ini pak…emmm”


“Ilham , Wiya ! kita sedang tidak di jam kerja, sedang tidak membahas pekerjaan dan sedang tidak ada Mitty atau orang kantor yang lain, bisakah kamu memanggilku Ilham , cukup Ilham saja.” Ucap Ilham sedikit


menurunkan laju kecepatan mobilnya dan menatap ke arah Wiya.


“Atau kamu mau bikin alasan karena kita masih pakai seragam kerja, jika iya, akan ku buka baju ku sekarang” Ancamnya yang sudah melonggarkan dasi dengan sebelah tangan.


“Eehh..ehh…ehh apa apaan sih kamu. Hahhaa. Iya iya. segitunya ah,iya Ilham, maafin saya ya”


Balas Wiya terkekeh, gemash juga dia melihat usaha Ilham .


Padahal apalah arti sebuah panggilan mau Ilham kek, pak Ilham kek toh itu juga orangnya. Haha


“Kamu liatin apa di ponsel kamu? seru banget sampai gak sadar disebelah ada sopir dicuekin.”


“Haha iya maaf maaf, Cuma liatin wasap grup. Jadi ini tuh di aplikasi novel online yang aku baca, Author nya bikin wasap grup buat pembaca setianya, aku iseng kemarin aku klik link nya. Gokil sih, grupnya asik banget, pada gesrek semua.” Cerita Wiya dengan antusias


“Oh ya? sampai bisa bikin kamu tertawa lepas gitu. Mana link nya bagi dong, aku mau join juga”


“Apaan sih, ini isinya mayoritas emak-emak semua tau, kalau ada yang join terus cowo nih ya, habis sudah. di godain, di bully, di jadiin stiker fotonya, hahahhahaha”


“oh ya? Aku jadi penasaran kaya apa rasanya digodain.”


Kemudian Wiya melototkan matanya kepada Ilham. Ilham tertawa gemas melihat gadis manis disebelahnya itu.


Ilham parkir di depan sebuah swalayan, tadi dia sudah bilang ke Wiya bahwa akan mampir sebentar membeli beberapa keperluan dapur. Di Tanjungpinang Ilham tinggal sendiri. Kedua orang tuanya tinggal diluar kota .


“Saya ikut ya?” Pinta Wiya. Dia merasa enggan kalau harus nungguin Ilham di dalam mobil sendirian


“Yuk!” Jawab Ilham.


Mereka berdua masuk ke dalam swalayan dan lansung menuju counter detergen,sabun dan kebutuhan lain. Wiya yang tidak ada keperluan hanya mengekor di belakang Ilham yang membawa keranjang merah ditangannya.


Ilham berhenti lama di depan sebuah rak berisi sabun cuci piring, dia memegang satu pouch sabun berwarna hijau, menatap benda itu dengan ekspresi kebingungan.


“Ilham, kamu kenapa?” Tanya Wiya penasaran

__ADS_1


“Aku bingung wiy.”


“Iya kenapa? Tanya aja sama embak disana kalau kamu bingung.”


“He,bukan bukan gitu, aku mau beli sabun ini.”


“lalu?”


“Tapi ini ada perintah, sobek disini padahal aku  mau nyucinya nanti dirumah, apa gak tumpah?"


Jawab Ilham dengan ekspresi datar.


“Kamu ngereceh? hahaha, udah ah cepetan!” Tukas Wiya sambil berlalu di depan Ilham yang di tatap Ilham dengan senyuman paling syahdu.


Ngerecehin sabun cuci piring aja bikin kamu ketawa, Tapi apa daya, kamu ibarat lemon


sedangkan aku charcoal semata.


Gumamnya sambil memasukan satu pouch besar sabun cuci piring variant “lime and charcoal” ke dalam keranjang merah.


***


Selesai menemani Ilham berbelanja kebutuhan dapurnya, ternyata hari sudah hampir magrib, gurat senja mulai


terbentang di langit. Gelap hampir sempurna menyelimuti. Mereka memutuskan untuk shalat terlebih dahulu di masjid terdekat.


Seusai shalat, Wiya mengajak Ilham untuk mampir ke toko roti kesukaanya, tadinya mau take away tapi entah bagaimana Wiya malah lebih berselera jika makan roti hangat dengan segelas milo dingin disana. Ilham tidak keberatan untuk itu.


“kamu pesan apa Ham?" Tanya Wiya setelah dia selesai menyebutkan pesananya kepada sang pramusaji.


“Em, saya milo panas aja mba!"


Sesekali terselip canda, bahkan saling foto makanan dan minuman masing masing untuk di masukan ke sosial media dengan sedikit dibubuhi caption yang kadang tidak ada hubungan dengan gambar.


Tidak ada formalitas, tidak ada kekakuan, tapi tentu saja ini belum bisa disebut kemajuan. Wiya saja masih senang menyebut dirinya “saya” untuk kata ganti orang pertama.


“Bytheway, makasih ya Ham, udah mau ngantarin saya. Sebenarnya saya takut berhutang budi. Jadi ini saya yang traktir aja ya biar impas.”


“heumm. Jangan mulai deh Qawiya. Bukannya mau gombal nih ya Wiy, Kalau boleh aku bilang, buat kamu, lautan api pun ku sebrangi."


Ucapnya meloloskan satu lagi recehan yang tadi sempat dia lihat di twitter, sambil meniup milo panas sebelum menyeruputnya.


“Cih lautan api?  minum milo panas aja masih ditiup begitu.”


Hahahahhahahaha


Tawa mereka terdengar lagi memecah belah perasaan keduanya. Yang satu takut memberi harapan walau hanya dari candaan. Satunya lagi juga takut terperangkap rasa nyaman. Karna ianya akan sulit pergi.


***


20.00 WIB


“Aku perlu turun Wiy ? Pamitan sama Ibu dan Ayah mu.” Pinta Ilham setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Wiya. Pagar rumah belum tertutup berarti ayah belum pulang biasanya dari shalat Isya di masjid.


“Em tidak perlu ham, lain kali saja ya. Lagipun ayah sepertinya masih di masjid. Nanti saya sampaikan saja pada ayah dan Ibu.” Ucap Wiya sambil melepaskan seatbeltnya.

__ADS_1


“Oke, kalau gitu aku langsung ya, see you,  Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Balas Wiya sedikit menundukan kepalanya melihat ke arah kaca mobil Ilham yang semakin melaju menjauh. Wiya  masuk ke dalam rumahnya, langsung menuju dapur mencari Ibu yang biasanya jam segini sedang mempersiapkan makan malam sembari menunggu ayah pulang.


“Assalamualaikum Ibu sayaaang.”


Sapa Wiya manja, memeluk leher ibunya dari belakang.


“Waalaikumsalam.“ Jawab ibu sambil melihat ke arah pintu seperti mencari sesuatu.


“Ibu nyariin siapa ?”


“Mana Nak Ilham Wiy? kok ga masuk dulu?”


“Iya bu, tadi dia nitip salam aja, kasian udah malam kalau harus mampir dulu.”


Mendengar suara Wiya yang heboh, Ridwan keluar dari kamarnya dan menghampiri ibu dan adiknya di dapur


“Udah pulang kamu dek?”


“Eh abaaaaang.” Ucap Wiya berhamburan hendak  memeluk abangnya yang sudah 3 hari tidak dirumah dan baru kembali.


“Kebiasaan deh Wiy, asem tau kamu belom mandi.”


“Yaaah bang Iwaaan, Wiyaa kan kangen bang.”


“Udah sana mandi, ganti pakaian, terus kita makan malam.” Timpal Ibu menengahi.


***


Keluarga sederhana ini memang kerap sarapan dan makan malam Bersama, sambil bercengkrama, bercerita tentang kejadian yang masing masing mereka alami seharian tadi.  


Ayah tentang aktivitasnya dikampus, bang Ridwan tentang pekerjaanya melayani masyarakat sebagai ASN, dan Ibu yang biasanya antusias kalau hari itu berhasil memprospek member baru.


“Dek Wiy, besok besok kalau diantar lagi sama Ilham, ajakin mampir sesekali makan malam disini”


Kata Ayah yang baru menyelesaikan minumnya.


“Iya dek, bener kata ayah. Kapan lagi wasaap grup keluarga kita tambah anggota kan.” Ridwan menimpali


Wiya yang  masih mengunyah, seketika berhenti , mencoba mencerna permintaan ayah dan ocehan abangnya itu.


Tunggu tunggu Kalian mau  bahas apa ini sebenarnya.


“Iya kalau orangnya mau ya yah, beliau itu kan boss Wiya yah. Wiya sungkan kalau ngajakin gitu.”


“Kalau mau nambah anggota keluarga, ya Abang yang serius dong cari istri.”


Balas Wiya pada abangnya


“Ah sudah sudah, kalian berdua sama saja, usia kalian sudah sama sama matang. Ayo dong mulai fikirkan cari pasangan masing masing.”


Dua kakak beradik tadi kini saling pandang atas ucapan ibunya barusan. Kalau dipikir pikir mereka berdua sudah terlalu nyaman dan mendapat segala nya dari ibu dan ayah mereka, jadi belum pernah berfikir untuk cari kebahagiaan lain. Bagaimanapun juga manusa butuh berkembang biak untuk kelangsungan hidup generasi yang akan datang.

__ADS_1


Dan mereka harus mempertimbangkan ucapan ibunya tadi. Malam  berlalu syahdu, gelap mulai hinggap membawa lelap menanti pagi yang baru.


-------------------------------------------------------------


__ADS_2