
Wiya merasa menjadi gadis paling beruntung pagi ini saat menatap pantulan bayangan wajahnya di cermin. Gaun pengantin berwarna Gold Navy dengan riasan wajah yang sangat soft bahkan dia tidak menggunakan bulu mata palsu karena bulu mata aslinya yang sudah cukup panjang dan lentik.
Hijabnya berwarna biru muda dengan veil berbahan tile warna senada, menjuntai panjang dibelakang. Tanpa menggunakan hiasan kepala yang berlebihan, Hanya sebuah mahkota kecil yang menghiasi kepala tuan puteri pengantin pagi ini. Inai merah di kuku, ukiran henna memenuhi tangan dan jari, membuatnya semakin tampak berseri.
Deburan ombak memecah ke tepian dapat terdengar jelas, kamar tempatnya berhias berada persis di pinggir pantai. Zayn yang memilih pantai sebagai tempat mereka akan mengikat janji suci.
Aku tau kamu suka ketinggian. Tapi sesekali kamu harus melihat sesuatu dari arah berlawanan. Begitu kata Zayn saat Wiya bertanya kenapa dia memilih pesta pantai.
Zayn menyewa satu kawasan pantai yang luas dan lengkap fasilitasnya. Jaraknya hanya 2 jam dari tempat tinggal mereka.
Di tengah hamparan pasir putih, tampak semakin indah dan eksotis dengan dekorasi rustic yang romantis. sekurangnya ada 50 kursi tamu di sebelah kiri dan 50 lagi di sisi kanan. 100 kursi tamu di setting menghadap ke lautan.
Kursi berbahan besi itu belakangnya diberi kain tile besar yang dibentuk pita berwarna navy. Diantara kedua sisi itu terbentang permadani berwarna kuning keemasan yang ditaburi kelopak mawar putih.
Di sepanjang hamparan permadani itu pula berdiri pilar-pilar kecil yang di atasnya dihiasi tumpukan bunga asli yang memancarkan aroma segar dan wangi. Di ujung jalannya berdiri hiasan berbentuk pintu gerbang yang lapisi kain yang juga berwarna navy. Tak lupa ornamen akar dan dedaunan kering di bagian atasnya.
Disana diletakan sebuah meja persegi panjang dengan enam kursi. Dua kursi yang menghadap ke para tamu untuk kedua mempelai, kursi yang menghadap ke laut untuk penghulu dan wali, dua kursi di kiri dan kananya pula akan diisi oleh saksi dari kedua belah pihak.
***
Semua sudah siap dengan dirinya masing-masing pagi ini. Wiya masih berdiri mematung di depan cermin. Ridwan mengetuk pintu kamar ganti dan Wiya membukakan pintu mempersilahkan abangnya masuk.
Ridwan menatap adik bungsunya penuh haru. Tak terasa air matanya menetes menyaksikan keanggunan adik kecilnya dibalik baju pengantin. Wiya ikutan menangis dan memeluk erat abang tercinta.
"Kamu beneran mau nikah dek hari ini?" Memegang pipi Wiya dengan kedua tangannya.
"Wiya mohon do'a dari abang." Mengenggam kedua tangan abangnya.
"Zayn beruntung memiliki mu, Jadikan dia selalu merasakan keberuntungan itu. Jadi istri yang baik." Nasehatnya untuk sang adik.
Tak lama kemudian Ibu Ria dan Mitty masuk menghampiri dua kakak beradik itu.
"Iwan, kamu disuruh manggilin adik mu malah adiknya diajakin ngobrol gimana sih?" Kemudian Ibu ikut terharu melihat kemolekan anak gadisnya "MasyaAllah...ini beneran anak Ibu?" Memegang kedua bahu sang puteri. "Kamu udah siap Nak?" Tanyanya sambil menangis.
"Ibu, kok malah nangis sih?" Wiya memeluk Ibunya yang sesegukan. Ibu Adalah orang yang paling tak pernah memperlihatkan kesedihan. Ini pertama kalinya Wiya,Ridwan dan Mitty melihat air mata Ibu mereka.
"Udah bu udah, nanti luntur maskaranya loh." Pujuk Mitty
"Eh iya ya, ah kalian sih." Menyapu air matanya dengan tisu.
Kemudian Wiya memeluk Mitty tak kalah haru. Mitty adalah saksi perjuangannya selama ini, yang menyaksikan jatuh bangun hubungan Wiya dan Zayn. Bahkan Mitty adalah yang secara tak sengaja menyumpahi hubungan Wiya dan Zayn pertama kalinya. Mitty adalah kakak ipar sekaligus sahabat terbaik.
"Selamat ya Wiy." Ucapnya tertahan.
"Lo juga nangis Mitt?" Melepaskan pelukan dan melihat wajah sembab Mitty.
"Eh, sudah sudah ayo kita ke depan nak. Penghulunya udah nungguin dari tadi."
***
__ADS_1
Seluruh keluarga sudah duduk di kursi barisan depan. Tamu undangan sudah hadir memenuhi kursi yang ada, tidak kurang dan tidak lebih. Mereka hanya mengundang teman dan kerabat dekat membuat suasana terasa sangat sakral dan privat.
Zayn dengan baju kurung berwarna biru muda, memakai songket warna senada dengan gaun Wiya. Peci hitam di kepala membuat penampilannya kian mantap. Wajah gugupnya semakin terlihat saat melihat calon pengantinnya berjalan dengan anggun sepanjang permadani menuju dirinya.
Ridwan sendiri yang mengantarkan adiknya menemui pengantin pria, tamu undangan berdiri saat pengantin wanita dengan anggunnya berjalan melewati permadani. Mutiara pada mahkota yang Wiya kenakan berkilauan terkena cahaya matahari, ekor gaunnya yang terseret rapi menambah nilai pesona sang ratu sehari.
Wiya mendudukkan diri disebelah calon suaminya. Saat dirasa semua sudah lengkap adanya, penghulu memberi arahan kepada Zayn untuk menjabat tangan ayah Ilyas yang langsung berlaku sebagai wali. Kedua laki-laki itu sama gugupnya. Yang satu gugup karena akan melepaskan puteri kesayangannya, yang satu tak kalah gugup menyambut ratu dalam hidupnya.
"Saya terima, Nikah dan kawinnya Ilma Qawiya anak kandung bapak dengan mahar seuntai kalung dibayar tunai!" Zayn mengucap Ijab Qabul dengan satu kali tarikan nafas.
Terucap sudah perjanjian hebat yang mengguncang Arsy. Kalimat suci yang sesaat merubah status mereka kini resmi menjadi suami-istri. Saat saksi menyatakan sah atas akad yang terjadi, semua orang mengadahkan tangan ke langit mengaminkan dengan serius segala doa untuk keberhakan sepasang kekasih halal pagi ini.
Untuk pertama kalinya, Wiya mencium telapak tangan Zayn sebagai suami. Air mata itu mengalir begitu saja membasahi pipi. Zayn memegang kepala Wiya dan membacakan doa untuk isteri tercinta. Kemudian mengecup hangat kening perempuan pujaan hatinya.
Lalu Zayn memasangkan seuntai kalung mutiara yang menjadi mahar pernikahan yang dilangsungkan secara tertutup dan sederhana.
Ayah Ilyas akhirnya tak kuasa menahan tangis. Melepaskan puteri tercinta, rasanya baru kemarin Wiya masih merengek di gendongannya saat kecil, baru kemarin Ayah mengangkat tubuh Wiya dan memindahkan ke kamarnya saat Wiya tertidur di ruang TV, menjaga dan memastikan tak kurang satu apapun dalam hidup puterinya, kini tugas itu dia pindahkan kepada lelaki yang mencintai anaknya dan dicintai anaknya pula.
Usai sudah tugas panjang itu. Dia berharap Zayn dapat membahagiakan Wiya lebih dari apa yang mampu dia lakukan. Bukan hanya di dunia tapi sampai ke syurga.
Ayah dan Ibu memeluk Wiya dan Zayn bergantian. Tak henti-hentinya mereka mengucapkan segala macam nasehat dan doa untuk anak dan menantunya sekarang.
"Selamat ya sayang, kini syurgamu ada pada suami. Baktimu adalah ladang pahala. Taatlah pada dia selama dia mengajakmu taat pada Tuhannya." Ayah mencium kening Wiya lama.
"Ayah, maafkan Wiya selama menjadi anak ayah Wiya banyak dosa, menyusahkan dan merepotkan ayah. Terimakasih atas segala-gala yang telah ayah berikan untuk hidup Wiya."
Mama Wulan, Vhieya dan Nikki juga tak kalah bahagianya. Tak ada kata yang dapat mewakili kebahagiaan mereka hari itu menyambut anggota keluarga baru yang akan membersamai hari-hari dirumah mereka nantinya.
Semilir angin laut menyapu wajah-wajah tamu yang hadir, walau matahari mulai naik tinggi, namun sekawanan awan membentuk gumpalan pelindung membuat mereka yang hadir tetap berada dibawah teduh nan syahdu. Alunan musik lembut mulai terdengar mengiringi.
Para tamu bergantian menghampiri pengantin memberi ucapan dan doa.
"Selamat ya kalian." Ilham memeluk dan menepuk-nepuk pundak Zayn.
"Makasih Ham, doain ya kita bisa cepet punya kaya lo gini, baru mau 5 tahun nikah udah 3 aja dong jagoannya."
"Iya, nih otw yang ke empat." Mengelus perut Istri tercinta yang masih tampak rata.
"Ya ampun, secepat itu?" Teriak Wiya histeris "Selamat Ya Bii.." Memeluk Brigitta.
"Apaan sih Pa, malu kan sama mereka. Eh malah Wiya lagi yang ngasih selamat ke kita, kan mereka yang kawinan Papa ah." Tersipu malu sambil menggendong anak bungsunya.
Walau sudah melahirkan tiga orang putera dan sedang hamil anak ke empatnya. Kecantikan dan keanggunan Brigitta senja tidak berkurang sedikitpun. Ilham juga tampak semakin bersinar karena berada disampingnya.
"Gak usah malu ma, biar mereka juga semangat kaya kita." Goda Ilham.
"Hahahaha. Tenang...tenang... kami akan berusaha keras mulai nanti malam." Kelakar Zayn yang mendapat cubitan keras di perutnya dari sang istri.
"Jangan di dengerin, eh foto dong ayoo."
__ADS_1
Mereka berpose mengambil sebuah foto, Zayn,Wiya, Brgitta, Ilham dan ketiga putera tampan titisan Ilham Gemilang.
Dibelakang Ilham dan Brigitta, tampak Rifa dan Azmi yang tak kalah mesranya. Mereka hadir bersama seorang puteri yang usianya hampir seumuran dengan Vinny.
"Bu Rifa....Ahh kangen. Terimakasih udah datang."
"Wiya...aku kangen banget. Selamat ya sayang. Harap banyak bersabar mendampingi mantan boss ku yang kadang suka gak masuk akal"
"Hey apa kabar kamu, sekretaris ku yang dinikahi sama laki-laki yang paling sering kamu ajak berkelahi" Balas Zayn.
"Hehe.Selamat Tuan" Cengir Azmi tanpa basa basi berlebihan "Kami mendoakan kebahagiaan untuk kalian berdua dunia dan akhirat"
"Thanks Bro!"
Tak mau terlewatkan , keduanya juga mengabadikan momen berfoto dengan pengantin.
Tampak juga Bian yang sangat akrab dengan Nikki, rekan-rekan terdekat dari IQ Media dan Software Zahira bergantian memberikan selamat.
Para tamu yang hadir tampak sangat berbahagia menikmati pesta dan jamuan acara ini.
Saat satu persatu mereka meninggalkan lokasi acara, tak lupa petugas souvenir memberikan sebuah paper bag kecil yang berisikan emas batangan sebagai cenderamata di acara pernikahan Zayn Dwika Haris dan Ilma Qawiya.
Saat Adzan ashar berkumandang. Lokasi acara sudah tampak sepi. Yang masih tinggal disana hanya keluarga dan kerabat terdekat serta petugas dari Wedding Organizer yang masih harus melakukan pengambilan beberapa sesi foto.
Keluarga dan kerabat terdekat sudah menuju kamarnya masing-masing untuk membersihkan diri dan beristirahat sebelum jamuan makan malam. Sementara Wiya dan Zayn melakukan beberapa sesi foto hingga menjelang magrib.
Tidak pernah ada yang menduga, mereka akan sampai di bagian ini. Semesta selalu punya caranya sendiri menggiring manusia merasakan naik turunnya permainan takdir.
Pernikahan sejatinya bukan akhir sebuah penantian, melainkan pintu baru, sebuah gerbang kehidupan. Tak peduli berapa banyak luka yang pernah kamu rasakan sebelumnya, ujian setelah pernikahan umumnya akan lebih dahsyat dan mengguncang.
Namun disanalah cinta memainkan perannya. Hendaknya apa yang telah susah payah diperjuangkan harus dengan susah payah pula dipertahankan.
Menikah bukan hanya tentang memahami hak dan kewajiban. Tak hanya tentang memilah mana yang jadi keinginan dan mana yang merupakan kebutuhan. Menikah adalah menemukan teman bersama mewujudkan visi sakinah dan rumah tangga rasa Jannah.
Puzzle hati itu, kini UTUH sudah.
********************************************
Huaaaaaaaaaaaaaa, Alhamdulillahirabbil'Alamiin.
Finally kita berada di ujung cerita.
Terimakasih teramat sangat aku ucapkan untuk temen-temen pembaca yang sudah mengikuti coretan halusinasi ku dengan setia.
Maaf ya pada gak kebagian undangannya. Karna kuotanya cuma muat buat 100 orang beibs. hihi..
Ini adalah akhir dari kisah utama novel ini. pada outline asli ku sebenarnya akan ada kisah selanjutnya. tapi aku belum cukup PD untuk mengatakan karya ini ada sequelnya. hehehehe.
Silahkan tarik kesimpulan sendiri ya dari seluruh episode yang sudah dibaca.
__ADS_1
Mungkin ada beberapa bonus chapter dan rangkuman QnA di part berikutnya.
Sampai jumpa di karya selanjutnya.