
Wiya tersedu-sedu dari atas kasur, baru saja dokter menginformasikan kehamilannya, tiba-tiba hormon dalam tubuhnya berubah menjadi lebih drama.
Tapi rasa ingin menangis dari dalam hatinya tidak bisa ditahan. Dokter Anne sampai menggeleng-gelengkan kepala lucu melihat tingkah seorang calon ibu di depannya.
Mitty meraih kepala Wiya yang sudah duduk ditempat tidurnya. Dia juga sama terharunya seperti Wiya. Tidak ada kata yang dapat mewakili perasaannya saat ini, dapat melihat kebahagiaan yang dinanti akhirnya menghampiri sahabatnya. Sekilas terbayang wajah-wajah keluarga dirumah yang juga pasti akan sangat bahagia dengan kabar ini.
Mereka hanya berpelukan tanpa berbicara apapun. Dokter Anne mempersilahkan Wiya untuk ikut ke mejanya, mencetak foto kecil dari hasil USG dan memberikan kepada Wiya. Kemudian menjelaskan beberapa hal tentang kehamilan yang sudah masuk trimester kedua.
"Dokter, tapi kenapa perut saya masih sangat rata? Saya tidak merasakan perubahan fisik apapun,"
"Kondisi fisik pada setiap ibu hamil berbeda-beda, sebentar lagi juga keliatan kok. Yang penting bayi di dalam sehat-sehat saja. Ini saya resepkan vitamin yang harus diminum dan terapkan saja beberapa hal yang saya ucapkan tadi," nasehat dokter Anne.
"Dokter terimakasih banyak, kami permisi dulu," pamit Mitty.
***
Demam tinggi, lemas, lesu dan kepala yang berputar tadi hilang seketika kesehatan Wiya kembali dalam kondisi normal. Foto USG tadi sama sekali tidak Wiya masukkan ke dalma tasnya, masih dia genggam sepanjang jalan mengantarnya pulang. Berulang kali dia menatap gambar warna kuning itu sambil memegang perutnya yang masih rata.
"Cengar-cengir aja bunda Wiya!" Mitty mengagetkan Wiya. "Karena hari ini lo lagi bahagia, gimana kalau gue putarin sebuah lagu dari...." Mitty baru saja akan menekan tombol play pada alat pemutar musik di mobilnya.
"Eeee...eeet...eet...gak usah gak usah Mitt, udah jangan di putar lagunya," elak Wiya saat melihat yang tergantung di audio mobil itu adalah flashdisk milik Mitty. Tentu saja lagu-lagu yang ada di dalam benda itu adalah koleksi kesukaan Mitty seluruhnya.
"Ahahha, tau aja lo, selera musik gue belom berubah Wiy. Hihihi," cengirnya. "Dari zaman Lo masih di di timur dan Zayn di selatan,"
"Ha?"
"Iya, Lo di timur, Zayn di selatan karena perasaan kalian sama-sama belom diutarakan,"
"Ahahahha, apasih Lo!?" mendaratkan satu tepukan di pundak Mitty. "Eh tapi iya juga kalau difikir-fikir, dari dulu hubungan gue sama Mas Zayn ada aja ujiannya. Pas udah bisa sama-sama dalam pernikahan pun gak lepas dari masalah. Sebelum bisa setenang sekarang, rasanya dulu gue mau give away semua masalah yang ada di hidup gue, mau gue kasih-kasihin ke orang-orang ahahha..."
"Ya iyalah woy! namanya hidup pasti diselimuti masalah, kalau cuma mau diselimuti Wijen, mending aja jadi onde-onde," kekeh Mitty.
"Ahahaha. Ya gitu deh Mitt. Kalau kata pepatah klasik, jodoh itu seperti sekumpulan tempe, gak ada yang tahu!"
"Ahahahahha,"
Mereka sama-sama menikmat canda tawa yang ternyata sudah lama tidak dilepaskan bersama.
Assalamualaikum, baby
Batin Wiya dengan begitu bahagia. Sambil memikirkan cara manis untuk memberitahu suaminya tentang kabar ini.
"Eh Mitt, btw. Gue masih gak percaya deh," sambil memegang perutnya yang rata.
__ADS_1
"Bener kan tebakan gue, bisa-bisanya sih lo gak sadar udah 4 bulan lo gak datang bulan Wiy," omel Mitty.
"Gue memang udah gak pernah mikirin buat segera hamil Mitt, karena gue udah pasrahin semua dan gue minta dalam setiap do'a, gak berhenti. Kadang sambil gue kerja gue merapal do'a dari dalam hati. Kadang sambil gue masak gue minta 'Ya Allah, ridhailah Hamba suatu saat nanti bisa masak makanan bayi,' Sambil nyapu, sambil jalan, sampai gue rasanya ada yang kurang kalau ngapa-ngapain gak sambil minta. Dan lo tau? Gue ngerasain ketenangan, kenyamanan, keringanan dalam hidup gue beberapa bulan belakangan ini. Karena menurut gue, Allah itu Maha Kaya, gak suit bagi Allah buat ngasi apa yang gue pinta. Itu yang bikin hari-hari gue jauh lebih bisa dinikmati," urai Wiya panjang bagai kereta api.
Mitty tersenyum manis dan bahagia sambil mengusap-usap perut rata adik iparnya itu.
"Kakak Vinny pasti sangat girang kalau tau akan segera punya adik dari bunda," ucap Mitty penuh haru. "Nanti kalau udah lahir ke dunia, ceritakan ya pengalaman kamu selama berada di dalam sana," seloroh Mitty yang mendapat satu tepukan lagi dari Wiya.
"Eh, Mitt. Berhenti di toko bunga di depan ya, sebentar!" pinta Wiya.
Setelah mobil berhenti, Wiya turun membeli satu buket besar bunga mawar jingga. Menghirup sedikit wangi dari pucuknya.
Huuum, kita bikin kejutan kecil buat Ayah, yuuk!
Ajak Wiya sambil memegang perutnya yang masih rata.
Mitty mengantar Wiya pulang kerumah, dirinya kembali ke rumah Ibu dan mereka membuat rencana akan datang lagi nanti malam ke rumah Wiya bersama Ibu, ayah, Ridwan dan tentu saja Vinny yang sudah sangat Wiya rindukan.
***
Wiya sudah bersiap-siap dengan penampilan terbaiknya. Tapi bukannya menunggu dibawah, dia malah masuk ke dalam selimut saat langkah suaminya sudah terdengar semakin dekat ke arah kamar. Dia berpura-pura tertidur.
Zayn masuk mendapati istrinya di dalam selimut, dia begitu khawatir dan mengira Wiya masih demam seperti saat dia tinggal tadi pagi.
Zayn mengernyitkan alis tebalnya saat melihat istrinya malah berpenampilan cantik dan segar. Tiba-tiba saja Wiya membelalakkan mata dan mengagetkannya.
"Bhaaa!!!" kagetnya sambil terduduk. "Kok gak kaget sih?" cebiknya.
"Uh...kaget...kaget, aku kaget sayang," akting Zayn sambil mendekap tubuh istrinya dari samping. "Kamu udah gak demam? Aku seneng banget liat kamu seger gini," ucapnya.
"Eeeh...ehh mas hati-hati, itu ada sesuatu disitu," menghalangi suaminya menduduki sisi ranjang yang masih tertutup selimut. Zayn pun beringsut dan tak jadi mendudukan dirinya disana.
"Ada apa sih?" membuka selimut itu dan mendapati satu buket mawar jingga.
"Bunga?" tanyanya heran. Selama mereka bersama sejak dulu, baru kali ini Wiya memberikannya bunga.
"Huum, buat kamu..." mengalungkan lengan dengan manja ke leher suaminya.
Zayn memperhatikan bunga bergantian dengan istrinya. Dia masih bingung, sebenarnya ini dalam rangka apa? Kemudian matanya menangkap satu plastik ziplock kecil yang menggantung di salah satu batangnya. Zayn segera melepaskan rengkuhan Wiya dan membuka plastik itu dari tangkai bunga.
Can't wait to see you, Ayah Zayn
Zayn membaca tulisan singkat di kertas kecil itu dan membalikkan sisinya. Sebuah gambar kuning-hitam seperti semua klise foto yang belum bisa dia tebak. Kemudian dia melihat benda pipih yang ada di dalam plastik berperekat itu. Seperti sebuah alat pengukur suhu tubuh.
__ADS_1
Zayn tentu saja tidak asing dengan benda itu. Wiya membelinya sangat banyak dan terus menambah stoknya setiap bulan selama mereka menikah. Benda yang selalu Zayn temukan tergeletak di lantai saat istrinya menyudut di kamar mandi sendirian. Tapi yang dia lihat hari ini benda itu tidak hanya ada satu garis. Ya, dua garis merah melintang disana.
"Sayang?" semua benda itu dia lepaskan ke samping. Kini perhatiannya beralih ke wajah sang istri yang sudah menatapnya dengan senyum mengembang.
"Hu hum..."
"hu hum apa Wiya? Bicaralah jangan menggumam!" mengguncang bahu Wiya mendesak Wiya ntuk bicara.
"Aku...aku udah gak demam mas, aku hamil! Alhamdulillah. Kamu sebentar lagi akan jadi ayah," ucap Wiya tersekat-sekat. Dia masih saja haru menerima kenyataan ini. "Ini foto usg tadi, dia sudah ada di dalam sini mas, sudah hampir 4 bulan," menuntun tangan Zayn untuk menyentuh perutnya.
Tangan Zayn gemetar memegang perut Wiya. Sekelumit rasa datang serentak menghampiri. Yang paling mendominasi adalah rasa bangga dan apresiasi luar biasa atas kejantanannya sendiri.
Dan tiba-tiba juga ingin sekali dia membayangkan akan secantik atau setampan apa penerus generasinya nanti. Semakin membuncah perasaan cintanya saat kembali menatap senyum indah pada wanita yang sungguh akan menjadi Ibu dari anak-anaknya kelak. Ahh,memang mereka akan punya berapa anak?
"Tuk...tuk...tuk..Assalamualaikum sayang, kata Bunda kamu udah ada ya di dalam?" Zayn menempelkan telinga di permukaan perut Wiya.
"Kata dokter, dua atau tiga hari lagi dia akan mulai menendang-nendang mas," ungkap Wiya gemas.
"Adudududuh... jangan sakitin bunda ya sayang. Can't wait to see u too..." mengelus lembut dan menciumnya sekali lagi.
Kemudian Zayn menarik tubuh Wiya ke dalam pelukannya. Didekapnya lama sembari membenamkan cintanya lebih dalam lagi.
"Sayang, aku gak tau harus ngomong apa. Untuk mu dan anak-anak kita nanti, aku akan bekerja lebih keras lagi. Aku mencintai kalian berdua." mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepala Wiya.
"InsyaAllah Mas, kita doain semoga dimudahkan selama kehamilan ini sampai waktunya nanti,"
"Dokter Anne bilang apa tadi?"
Wiya menjelaskan apa saja yang dokter Anna sarankan dan larang.
"Bukan... bukan... bukan itu itu maksud ku, em apa menurut dokter Anne aku boleh menyapanya?" memain-mainkan naik turun alis matanya dengan tatapan usil.
"Kamu udah menyapanya dari tadi mas?" jawab Wiya tak mengerti.
"Menyapanya dari dalam sayang," mengeratkan rengkuhan dan menyibak rambut panjang istrinya agar dapat leluasa mencium leher Wiya dari belakang. Aura wanita hamil memang lebih menantang.
"Mas, sebentar lagi Ayah,Ibu,Bang Iwan,Mitty dan Vinny akan datang," elak Wiya perlahan.
"Gak akan lama sayang, Plisss...." godanya Zayn lagi.
Akhirnya terlewati satu babak melelahkan hanya untuk saling memadu kasih.
***
__ADS_1