
Entah apa yang Zayn rasakan. Yang jelas dia begitu sungkan berada di posisinya sekarang. Belum pernah sebelumnya dia begitu dekat dengan perempuan apalagi sampai berani membawa perempuan dalam pelukan. Tapi kondisi Brigitta yang seperti ini membuat naluri dalam dirinya memberi perintah pada kerja otaknya. Semua terjadi begitu saja. Brigitta yang merasakan sedikit kenyamanan mulai bisa menyusun kata-katanya.
“Apa yang terjadi Brigitta? Paman Setiawan kenapa?”
“Mobil …Mobil yang papi bawa bersama Om Haris mengalami kecelakaan saat perjalanan menuju kesini Zayn”
Terisak isak dan memberi penjelasan terburu-buru sehingga Zayn sulit menangkap maksudnya.
(Mohon maaf author tidak bisa menggambarkan kronologi kecelakaannya ya. Terlalu mengerikan untuk dibayangkan)
“Bii!!! bicaralah dengan jelas. Apa maksud kamu? Barusan papa mengirimkan pesan pada ku. Mana mungkin ini..ini…!“ Zayn mengangkat bahu Brigitta dari dadanya dan mengguncangnya pelan.
“Brigitta tolong! Tenangkan diri kamu, ucapkan dengan jelas, apa yang terjadi?”
Lalu terdengar pelan bunyi ponsel Zayn yang masih berada dalam ruangannya. Rifa masuk keruangan itu mengambil ponsel dan memberikan kepada Bossnya.
“Nona Nikki Pak” Memberikan ponsel itu pada Zayn.
Zayn menjawab panggilan itu dalam keadaan kalut, semakin kalut saat mendengar Nikki disebarang sana juga menangis meraung sama seperti Brigitta yang ada disampingnya.
__ADS_1
“Kak Zayn, Papa kak, papa!!“
“Hallo, Nikki! Tolong jangan bicara sambil menangis. Kakak tidak mengerti maksud mu”
“Papa udah gak ada kak Zayn. Kakak harus pulang sekarang! Mama pingsan setelah dapat telpon dari rumah sakit
Saat kalimat Nikki yang terakhir Zayn rasanya ingin sama berteriaknya seperti Brigitta tadi. Namun dia masih belum sepenuhnya menerima apa yang didengarnya. Dari Brigitta, dari Nikki. Dua perempuan ini sama-sama histeris dan menangis. Pasti ada fakta lain, fikirnya. Pasalnya baru setengah jam yang lalu Pak Haris mengirim pesan padanya.
Belum sempat dia berusaha mencari informasi, ponselnya berdering sekali lagi, sebuah panggilan dari pihak rumah sakit yang memintanya segera kesana untuk kepengurusan jenazah ayahnya. Zayn terpaku sama sekali belum percaya.
“Bii, sekarang jelaskan pada ku yang kamu ketahui!”
Pintanya pada Brigitta yang tangisnya sudah sedikit mereda.
Ketika dia sampai ternyata 3 orang korban kecelakaan sudah dibawa dengan ambulance dan yang membuat lututnya lemas adalah saat melihat plat mobil yang sudah dalam keadaan hancur adalah mobil papinya yang masih jelas tampak dibawah nomor plat terdapat nama Brigitta. Saat itu Brigitta reflek melepas high heels nya dan meninggalkannya disembarang tempat dan berfikir untuk mengejar ambulan itu karena sayup-sayup di pendengarannya ada yang mengatakan bahwa korban kecelakaan ada yang sudah tak tertolong lagi.
Namun usahanya sia-sia, tentu saja! Ambulan mana mungkin bisa dikejar dengan jalan kaki. Akhirnya dia memutuskan segera kembali ke outlet dan akan meminta Zayn memastikan hal ini dan mengunjungi rumah sakit tempat ambulan tadi membawa ketiga korban kecelakaan.
***
__ADS_1
Zayn, Brigitta dan Rifa sampai dirumah sakit untuk memastikan semuanya. Tanpa Zayn sadari badannya terkulai lemas di lantai, dia ternyata tak bisa menahan lutut nya untuk tetap tegak menopang badan manakala yang Ia lihat di balik kain putih itu adalah benar, Mukti Wijaya Haris, papanya tercinta.
Seketika sekelebat wajah, suara dan tingkah hangat sang papa bermain dan Zayn seperti melihat kilas balik semuanya di kepala. Dia benar-benar tak percaya semua terjadi secepat ini dan ketika dia mencoba merangkai semua kejadian ini dengan semua permintaan sang papa yang buru-buru memintanya mengambil segala keputusan penting dalam hidupnya.
Sedangkan Tuan Setiawan masih dalam penanganan khusus di ICU, meski dikabarkan selamat dari maut namun kondisinya saat ini masih kritis, tak sadarkan diri. Brigitta masih menangis walau tak lagi sehisteris tadi. Masih dengan kondisinya yang kacau dia menunggu papa tercinta di ruang ICU dengan sabar.
Rifa tak kalah terpukul dengan kejadian ini, baru saja dia bersemangat ingin memesankan ketoprak kesukaan boss besarnya. Walau larut dalam kesedihan Rifa berusaha tetap normal agar semua kekalutan bisa di netralisir. Ia menyarankan Brigitta untuk ikut Zayn pulang. Membersihkan diri dan bisa kembali lagi ke rumah sakit dalam keadaan segar untuk menjaga papinya. Dan sementara Brigitta pulang, Ia menghubungi Azmi, asisten pribadi papinya untuk menggantikannya dan memberi tau jika ada kabar perkembangan tuan Setiawan
Waktu terasa berhenti disana. Alam sadarnya mulai bisa menangkap semua kejadian yang terjadi begitu cepat ini. Setengah mati dia menahan tangisnya, demi tenangnya tangis orang-orang di sekelilingnya terutama mamanya tercinta yang sudah tak terhitung berapa kali tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri sangking terpukulnya. Nikki dan Vhieya sama hancurnya. Zayn harus bertahan demi mereka.
Rumah duka masih ramai orang berlalu lalang meski proses pemakaman sudah selesai. Banyak pelayat datang dan pergi, papan bunga berwarna hitam berjejer panjang hampir 1km menghiasi rumah duka. Namun sama sekali tak mengurangi luka yang ada. Untuk pertama kalinya, rumah megah itu terlihat redup tidak bercahaya.
Brigitta yang memutuskan untuk berada disana memberi dukungan untuk Bu Wulan, Nikki dan Vhieya, dia tampak sabar mendampingi Ibu Wulan yang kerap tumbang, belum bisa sepenuhnya menerima kepergian suaminya.
Sementara Qawiya juga sudah disana sejak kabar duka pertama kali dia terima di Grup Chat perusahaan. Dirinya bahkan sudah berada dirumah duka sebelum Zayn kembali dari rumah sakit. Sempat mengganti pakaiannya dengan baju serba putih dan memakai penutup kepala, Wiya duduk di lantai bersama kedua adik Zayn. Nikki dan Vhieya yang sejak tadi tidak melepaskan diri dari pelukan di lengan kiri dan kanan Wiya. Wiya tidak keberatan berbagi duka dengan mereka. Wiya bahkan ikut menangis merasakan apa yang mereka rasakan sekarang.
“Nikki,Vhieya. Sudah ya sayang. Papa gak akan suka liat kalian begini. Ikhlas dek. Cuma itu yang bisa kita lakukan akan mempermudah jalan papa disana.”
Bujuk Wiya saat melihat kedua wanita itu saling termenung dan menatap kosong ke sembarang arah. Kepergian orang yang kita cintai pastilah menjadi kesedihan yang hanya kita sendiri yang mampu menjabarkan. Perasaan kosong dan hampa yang rasanya tak mudah hilang walau dengan seribu kata “Sabar” yang berdatangan.
__ADS_1
Seperti yang tampak di mata Wiya saat ini, Zayn Dwika Haris anak sulung yang ditinggalkan. Sejak awal dia turut sibuk membantu segala keberlangsungan proses akhir pengantaran ayahnya. Kendati kelopak matanya merah membengkak namun Wiya belum melihat air mata jatuh dari sana.
--------------------------------------------------