
Ruang keuangan
Mitty membantu Wiya mempersiapkan berkas yang akan dibawa ke Medan besok. Sedangkan Wiya sibuk menyelesaikan urusan akomodasi dan transportasi sesuai dengan yang tertera pada rencana perjalanan tugasnya. Sambil membuat check list satu persatu yang sudah fix.
Tiba-tiba Wiya mendapat pesan singkat dari Rifa yang mengabarkan bahwa dirinya ditunggu oleh Nyonya besar saat jam makan siang nanti. Bu Wulan sudah cukup akrab dengan Wiya apalagi Rifa. Bahkan beberapa kali menghabiskan waktu Bersama diluar kantor, atau saat family gathering perusahaan.
Tak lama setelah membalas pesan Rifa, Ilham melambaikan tangan dari depan pintu ruangan, Wiya pun membuka pintu untuk atasannya itu. Ini kenapa Pak Ilham makin rajin main kemari ya?
“Iya pak?” Tanya Wiya sebelum Ilham masuk
“Untuk besok sudah siap?” Tanya Ilham sambil nyelonong masuk dan duduk di bangku dihadapan meja Wiya.
Wiya yang masih memegang ganggang pintu reflek menghindar kesamping dan akhirnya menduduki kursinya.
“Sudah 90% pak, sesuai jadwal besok kita sudah di bandara jam 9 pagi ya pak. Saya akan hubungi bapak lagi jam 7 pagi besok.“
Jawab si asisten cekatan. Senyum Ilham melebar mendengar Wiya pasti akan menelponya besok pagi seperti biasanya setiap mereka akan melakukan perjalanan tugas.
“Iya Wiy, oh ya nanti siang, kita makan bareng yuk, makan dibawah aja, sama Mitty juga, Mitty mau kan?” ajak Ilham bersemangat dan terlalu percaya diri.
“Emmm, Terimakasih Pak Ilham , tapi maaf siang ini saya sudah ada janji pak.“ Tolak Wiya lembut.
“Wiya! apa saya harus ganti nama menjadi Rezeki, biar kamu gaboleh nolak saya lagi? Soalnya kan pamali kalau nolak rezeki!”
Nadanya terdengar prihatin tapi berhasil membuat Mitty terkekeh pelan.
“Pak Ilham, Ya ampun.”
lebay, tapi lucu sih.
“Ada nyonya besar pak, beliau mengajak saya makan siang. Sudah lama gak ketemu saya katanya.“ Terang Wiya sambil tetap fokos pada monitor nya.
“Oh gitu ya, iya salah kamu juga sih, siapa suruh ngangenin!“
“Hihihiih“ Mitty yang dari tadi tak tahan melihat dua manajer dan asisten ini beradu rayuan. Yang satu merayu yang dirayu, layu ! begitu seterusnya tanpa perkembangan yang berarti.
“Tuh kan Pak, Mitty ketawa. nanti dia mikir yang engga engga loh pak.“
Ilham menoleh ke arah Mitty yang masih sibuk memasukan berkas-berkas
“Kamu mikirnya gimana Mitty?”
“Ng..Nggak pak, Wiya yang dikasi recehan, kenapa jadi saya yang baperan?” celetuk Mitty.
__ADS_1
“Hahah. Ya itulah Mitt, apa aku terlalu peduli ya untuk si Wiya yang selalu bodo amat ini?”
“Terus aja terus, terus lah kalian curhat curhatan. Astaga.” Sanggah Wiya yang sudah jadi bahan sindirian.
“Hahahha. Yausudahlah, nanti siang saya ikut sekalian makan sama kamu, sama Bu Wulan. Ya begitu juga gak masalah, dari pada tidak sama sekali.”
Ilham mengakhiri pembicaraan di ruang keuangan siang itu .Ia pun kembali ke ruangannya
"Kenapa sih Wiy, lo ga coba buka hati buat pak Ilham?"
Tanya Mitty penasaran. Karena sudah jengah melihat pendekatan Ilham hanya jalan ditempat. Kalau jadi petugas paskibra udah encok dia.
"Buka hati? ntar dah kalau gue udah inget password nya!"
Jawab Wiya dengan malas, semalas dia melanjutkan perdebatan dengan sahabatnya itu.
***
1st floor di jam istirahat
Lalu lalang aktivitas outlet di siang hari sangat sibuk, karena jam makan siang biasanya memang selalu padat. Wiya dan Ilham sudah duduk di ruang VIP lantai 1 outlet, restaurant ini memang menyediakan fasilitas VIP room yang biasa di reservasi bagi tamu yang ingin melakukan pertemuan bisnis atau sekedar diskusi.
Risa, kepala pelayan mengantarkan dua gelas minuman yang dipesan Wiya dan Ilham. Tak lama kemudian Bu Wulan pun datang Bersama Rifa dan juga Zayn tentunya. Wiya dan Ilham berdiri menyambutnya. Seperti biasa Bu Wulan menyapa hangat, bersalaman dan mencium pipi kanan-kiri.
“Tidak juga bu, belum ada 15 menit. ” Jawab Wiya.
Zayn duduk bersebelahan dengan Rifa, Ilham yang duduk disebelah Wiya sedangkan bu Wulan duduk di satu kursi tengah di antara keduanya.
“Tadinya saya mau bawa masakan kesini Wiy, tapi Zayn melarang nya, jadi kita pesan saja ya.”
“Yah mama lagian ada-ada aja ma.“ Jawab Zayn membela diri
Mereka berlima pun memesan menu makanan dan di catat oleh Risa. Tak sampai 15 menit makanan datang dan mereka menikmati makan siang itu diselingi obrolan santai .
“Ilham, bagaimana menurut kamu setelah Bapak digantikan Zayn?" tanya bu Wulan kepada Ilham mempertanyakan pendapat Ilham tentang kepemimpinan anaknya.
“Pak Haris tidak akan tergantikan Bu, tapi tentu Pak Zayn membawa warna baru pada perusahaan” Jawab Ilham bijaksana.
Pak Ilham ngarang, warna baru apaan
Cat ruangannya aja masih yang lama
Wiya terkekeh dalam hati.
__ADS_1
“Kalau menurut kamu bagaimana, nona Qawiya?“ Tanya Zayn saat Wiya sedang asik mengunyah makanannya. Wiya dengan susah payah menelan makanannya karena ingin menjawab pertanyaan Zayn.
“Em..eng..uhuuuk.” Wiya jadi tersedak, sepertinya Zayn sengaja melakukan itu karena melihat Wiya sesenyuman sendiri. Ilham segera menyodorkan gelas minuman Wiya.
“Wiya? kamu oke?” Bu Wulan sedikit cemas.
“Ehm,khem… iya bu maaf…maaf. Saya hanya kaget.“
lihat itu dia menahan tawanya ngeliat gue tersiksa begini.
“Jadi gimana menurut kamu Wiya, Apa Zayn ini terlalu galak ya?" Ibu Wulan malah meminta Wiya menjawab pertanyaan tak penting ini.
“Emmm, saya tidak bisa menilai secara detail bu, tapi sebagai karyawan biasa saya lihat Pak Zayn sangat mudah belajar dan beradaptasi.“ Pujinya sedikit terpaksa.
Maaf Bu Wulan saya terpaksa melakukan pencitraan ini!
Basa basi selanjutnya mengalir sampai jam makan siang berakhir, dan Ibu Wulan pun pamit pulang diantar oleh Zayn. Rifa, Ilham dan Wiya kembali ke ruangan masing-masing. ibu Wulan sudah menganggap Rifa dan Wiya juga seperti Pak Haris menganggapnya. Sangat terasa kekeluargaan disana.
Hari Rabu berlalu cepat di Gedung itu. Wiya pulang kerumah dan bersiap siap untuk packing beberapa keperluan selama di luar kota nanti. Selain list kebutuhan pribadinya juga tentunya list kebutuhan manejernya. Yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi Ilhan, Wiya hanya mengirimkan pesan saja dan Ilham akan mempersiapkannya sendiri kemudian mengirimkan foto kepada Wiya jika sudah sesuai list yang Wiya kirim.
Baik pak. Saya akan menghubungi Bapak Kembali, besok jam 07.00 pagi
Dua centang biru
Terimakasih Wiya, sangat saya tunggu, hehe
Dua centang biru
Hanya centang biru
Tak usah ditunggu
Tak akan ada yang lebih dari itu.
Ilham meremas rambutnya sendiri.
Cepat lah datang, wahai pagi
Tiba-tiba terdengar bunyi notification pesan lagi, buru-buru Ilham membuka aplikasi pesan berwarna hijau itu. ternyata pesan dari seseorang yang sedang test contact yang aktif
-Tc
Begitu.
__ADS_1
***