
Sudah satu bulan Wiya melakukan penyesuaian terhadap jadwal barunya. Tiga hari ke perusahaan, 4 hari dirumah. Tidak bisa dibilang mudah, tapi nyatanya sudah 4 pekan tidak ada kesulitan yang berarti. Sampai nanti ZA menemukan pimpinan baru, Wiya akan tetap seperti ini.
Sudah ada asisten baru dirumah mereka. Mbak Wiwin namanya. Mbak Wiwin ditugaskan Zayn datang ketika Zayn sudah berangkat kerja dan pulang sebelum Zayn kembali ke rumah. Zayn tak ingin ada orang lain saat dia sedang berdua dengan Wiya di rumah.
Sejak lulus sekolah, Wiya sudah terbiasa dengan aktivitas diluar rumah. Kuliah, bekerja, pergi menonton bersama Mitty atau sekedar makan es krim bersama Ilham. Wiya tidak pernah berdiam dirumah dalam waktu yang lama.
Walau dia tetap mengerjakan beberapa pekerjaan dari rumah, tentu bekerja di ruangan kerjanya di perusahaan punya suasana yang berbeda. Bisa berinteraksi sosial dengan banyak orang, walau hanya sekedar bertukar cerita dengan Risma. Berada dirumah merupakan hal baru bagi Wiya.
Tapi Wiya bahagia. Setidaknya bisa menyambut suami pulang bekerja, mempersiapkan segala kebutuhan suaminya dengan maksimal. Sudah satu bulan ini Wiya ikut kelas masak berbayar untuk bisa mengisi daftar kegiatannya dirumah. Sesekali dia pergi berbelanja sayur saat tukang sayur lewat di lingkungan komplek perumahan mereka.
Di sisi Zayn, walau dia sangat bahagia dan bersyukur karena Wiya tidak pernah melayangkan protes atas keputusannya meminta Wiya mengurangi aktivitas, namun dia juga bisa merasakan kejenuhan yang tak bisa dielakkan. Dia berusaha memenuhi segala kebutuhan dan permintaan istrinya.
Tiba-tiba dia sangat ingin mengirimi istrinya sebuah pesan romantis, tapi apa? dia bukan Laki-laki yang punya kelebihan berkata-kata.
"Sayang, lagi apa? aku rindu rumah. Eum, maksudnya rindu kamu." ,- Zayn Dwika
"I miss you too, Mas ku 😘" ,- Ilma Qawiya
"Gak percaya! coba kirim pesan suara bilang kamu kangen sama aku!" ,- Zayn Dwika
Zayn menatap layar ponselnya menunggu pesan suara masuk dari istrinya. Tapi sudah berlalu 5 detik, Wiya belum juga terlihat sedang merekam atau mengetik layar ponsel itu. Zayn langsung membuat panggilan video karena tak sabar menunggu selama itu.
"Mas," tampak wajah Wiya tersenyum pada suaminya dengan masih menggunakan apron di badannya. "Aku lagi bantuin Mba Wiwin di dapur. "
"Tadi aku suruh apa?"
"Iya aku malu, ada Mba Wiwin Mas!"
"Yaudah bilang sekarang!"
"Ya sama aja dong mas, Malu mas ih."
"Malu atau emang gak rindu?"
"Yaampun, rindu mas rindu. Aku rindu kamu, kamu cepat pulang ya mas. Aku rindu berat ini," ucap Wiya dengan sedikit di buat-buat.
Zayn tampak tersenyum sangat lebar walau dia tau istrinya sedikit tertekan mengucapkan hal itu di depan orang.
__ADS_1
"Baiklah sayang, sesuai permintaan mu. Izinkan Mba Win pulang sekarang . Sebentar lagi aku pulang ya sayang," seringainya.
"Eeh... eeh Mas. Ya pulangnya sesuai jam kerja aja mas. Ya iya sih aku kangen, tapi gak harus pulang sekarang kok mas. Masih bisa ditahan sampe malam kok," cegah Wiya.
"Aku yang gak tahan sayang," goda Zayn.
Wiya berusaha mengecilkan volume ponselnya dan memastikan Mba Win tidak mendengarkan dialog mesum suaminya.
"Mas udah ya? Aku lanjutin masak dulu, " elak Wiya.
"Oke sayang, give me your virtual kiss,"
"Mas! Aku gak lagi sendirian disini,"
"Oke... oke.. aku aja yang cium kalau gitu, deketin ke hp pipi kamu."
Walau berulang kali protes dengan kekonyolan suaminya, Wiya tetap mengikuti instruksi itu. Dia mendekatkan pipinya ke arah suaminya yang sudah memajukan bibir seolah sedang memberikan sebuah kecupan.
"Muahh, Ehehehe. Take care sayang. Tunggu aku pulang ya!" Zayn semakin gemas melihat istrinya yang merengut manja karena aksinya.
"Mas hati-hati, aku akhiri ya telponnya. Assalamualaikum." Wiya mengakhiri sambungan panggilan mereka.
"Permisi pak," sapa Vela hangat, saat masuk ke ruangan bossnya. Hari ini penampilan Vela sangat berbeda dari biasanya.
Hari ini dia memilih busana kerja yang sedikit terbuka, menampakkan dengan jelas lekuk tubuhnya. Rambut panjangnya disanggul ala French twist seperti pramugari, sehingga leher jenjang yang putih itu begitu ketara.
Bibir tipisnya di lapisi dengan lipmatte berwarna merah cerah yang memberi kesan bold pada wajahnya yang memang sangat cantik.
Bak finalis kontes kecantikan, pesona Vela memang tidak terelakkan. Pintar dan cekatan, kompeten dan sangat teliti. Itulah yang menyebabkan Vela berhasil lulus seleksi sekretaris direktur di IQ Media, menyingkirkan kompetitornya yang lain.
Selain itu, Vela juga komunikatif. Tata bahasanya sangat mumpuni. Bertahun-tahun dia mampu menghadapi boss yang hanya bicara lembut padanya sesekali. Dia tetap tersenyum dan ceria walau sering dimarahi karena kesalahan kecil.
Tapi sayangnya, semua kelebihan yang dimiliki Vela itu sama sekali tidak tampak di mata Zayn. Sekeras apapun usaha Vela tampil prima dan hampir sempurna.
Bossnya itu tetap menganggap dirinya hanya sebatas pekerja seperti karyawan lainnya. Tidak pernah lebih. Tentu saja, dia sudah mengatakan bahwa hanya Wiya istrinya yang bisa membuat hatinya berdebar sejak pertama jatuh cinta, sampai bertahun-tahun kebersamaan mereka.
Mulanya, Vela memang biasa saja menghadapi sikap dingin atasannya itu, Vela mengira Zayn memang seperti itu adanya. Tapi sejak menyaksikan interaksi antara Zayn dan Wiya, Vela seperti melihat sisi lain dari sosok pimpinannya. Yaitu, sosok laki-laki lembut, perhatian, penyayang, setia dan kriteria lain yang membuat Vela tidak ragu memberi label "Perfect husband" pada pimpinannya itu.
__ADS_1
Perlahan Vela mulai mengagumi sisi lain dari pimpinannya itu, walau sisi lembut dan senyum manis milik Zayn hanya terlihat saat sedang bersama Wiya. Vela tidak putus asa, hingga kini perasaan kagum itu terkonversi otomatis menjadi rasa "suka".
Tapi apa yang bisa dilakukannya. Zayn adalah pria bersistri. Hanya Menggunakan potensi kecantikannya untuk merebut milik Wiya, bukan hal yang mudah. Lagipula Vela adalah aktivis sosial, dia tak ingin citranya tercemar dengan ungkapan "perebut laki orang" jika dia merebut Zayn dengan curang.
Zayn juga tidak mungkin diajak berskandal. Jadi sementara waktu Vela memutuskan untuk masuk melalui celah-celah kecil dengan sedikit intrik yang mungkin tidak banyak difikirkan oleh wanita lain. Lihatlah, siang ini saat dia masuk ke ruangan Zayn, pimpinanya itu untuk pertama kali mulai memberikannya senyum tipis. Walau sangat tipis sekali.
"Saya mau pulang sebentar lagi. Kalau kamu udah gak ada kerjaan, kamu juga boleh langsung pulang." tukasnya
"Baik pak, saya pulang sesuai jam kerja saja, jadwal Bapak sore ini saya geser ke besok pagi ya pak."
"Terserah, kamu boleh pergi!" Zayn mengambil kunci mobil dan tas kerjanya.
Vela berbalik badan dan dan melangkah keluar.
"Nona Vela," Zayn menahan langkah Vela. Vela tersenyum penuh kemenangan dari balik arah.
"Iya pak?" jawabnya sambil berjalan mendekat.
"Itu, itu wajah kamu kenapa?"
Kenapa gimana pak? cantik kan?
"Ken..kenapa bagaimana pak?" memperhatikan penampilannya sendiri dari ujung sepatu yang lancip sampai bagian yang terjangkau matanya.
"Itu pipi kamu memar di kanan dan kiri, seperti korban kekerasan. Kalau sedang sakit sebaiknya kamu pulang saja!"
Memar katanya? ini blush on dan shimer terbaru dari merk ternama. Kamu bilang ini memar?
"Ini...ini kan hanya make up, pak." memegang kedua pipinya bergantian.
"Oh," Zayn membulatkan mulutnya tanpa suara. "Besok tidak perlu semerah itu, kamu cuma sekretaris bukan sales kosmetik,"
Astaga, jadi tadi itu sedang menyindir?
Sabar Vela...Sabar, setidaknya hari ini pipi merah mu berhasil mencuri perhatiannya.
______________________________________
__ADS_1
Bersambung...
Sebenarnya udah bikin jadwal update 2 episode setiap harinya. Tapi level karya ku malah turun sejak up 2 eps per hari padahal yang baca lebih dari 1000 viewer, mungkin pembaca lupa memberi like dan komentarnya. Hiks. Makannya semangat update jadi ikutan kendor juga. 😞