
Sesaat setelah tiba di kamarnya dan membersihkan diri, Wiya langsung membuat panggilan ke keluarganya dirumah mengabarkan dirinya sudah sampai dan sedang beristirahat. Wiya meletakkan ponselnya dan merebahkan diri di atas kasur putih yang besar dan nyaman menghirup aroma therapy dari oil yang di difuse oleh petugas hotel sebagai layanan tambahan untuk tamu VIP.
Wiya sedang membayangkan makanan khas Kalimantan. Sudah terbayang kelezatan kue gegicak, nasi bekepor, sate payau dan aneka makanan lain kecuali durian tiga rasa yang sangat terkenal itu, membayangkan buah durian satu rasa saja membuat Wiya mual apalagi tiga rasa sekaligus.
Belum saja satu hari mendarat, dia sudah membayangkan akan berbelanja oleh-oleh yang banyak, apalagi Wiya begitu penasaran dengan salah satu kain khas Kalimantan, Kain Ulap Doyo kain tenun suku Dayak yang terbuat dari daun doyo. Tak lupa dia akan berburu magnet khas daerah itu. Mata Wiya berbinar-binar hanya dengan membayangkannya. Jiwa gemar belanjanya mulai tak terbendung lagi.
Matanya sudah berat digelayuti kelelahan perjalanan, rasanya dia ingin sekali tidur sebentar saja mengisi kembali energi untuk kembali bekerja esok hari. Namun ponsel yang sudah diletakan di atas nakas disampingnya berdering dengan kencang. Sebuah panggilan video masuk dari Zayn Dwika.
Malas bercampur kesal Wiya mengabaikan ponsel itu, setelah nada deringnya berhenti dia mematikan ponselnya. Jengah, dia sudah jengah dengan permainan yang tak berkesudah. Sekarang dia mulai lagi memejamkan matanya yang sudah sangat berat. Belum sampai 5 detik tiba-tiba terdengar dering bell dari depan kamar.
Rasanya tadi dia sudah menggantung tanda “Don’t Disturb” di gagang pintu depan. Walau kesal, Wiya tetap berjalan membukanya. Ternyata Ilham.
“Ilham?"
“Maaf Wiy mengganggu, Ini Pak Zayn menghubungiku minta disambungkan dengan mu” Ilham menyerahkan ponselnya kepada Wiya.
Ck! Dia benar-benar melaksanakan ancamannya.
Hey Brigitta, tolong dong jaga kekasihmu dengan baik! Agar tidak menyusahkan orang lain.
Masih dengan raut wajah yang amat kesal Wiya mengambil ponsel itu meletakan di kupingnya. Ilham masih mematung di depan pintu menunggu Wiya menyelesaikan panggilannya.
“Hallo Zayn! Ada Apa?“ Tanya Wiya ketus.
“Hei, Qawiya! kenapa kamu meletakan kamera ponsel di kuping mu?”
Wiya terperanjat, ternyata itu adalah sebuah panggilan video. Ilham tampak menahan tawanya.
“Kok kamu gak bilang sih Ham? uhh” Wiya memindahkan letak ponsel itu, kini kamera ponsel tepat menghadap wajahnya dan dia bisa melihat wajah menyebalkan Zayn di seberang sana.
“Nah, begitu dong” Cengir Zayn yang ternyata sudah memakai piyama kuning bermotif bulan dan bintang. “Aktifkan ponsel mu kalau kamu gak mau kita telponan pake ponsel Ilham”
“Zayn!” Wiya menahan geramnya.
Wiya sudah mengembalikan ponsel itu kepada Ilham. Dia begitu sungkan, khawatir Ilham berfikir yang bukan-bukan. Sebenarnya Ilham sudah tidak curiga dengan perasaan Wiya dan kedekatannya dengan Zayn. Namun Ilham juga sama herannya, kenapa Zayn begitu bodoh melewatkan ketulusan yang Wiya tunjukkan. Sebelum menyerahkan ponsel itu kepada Ilham, ekor mata Wiya sempat menangkap nama Brigitta di urutan teratas daftar chat di aplikasi hijau Ilham. mereka sedang bertukar kabar agaknya.
__ADS_1
Wiya masuk dan kembali menutup pintunya. Dia melupakan rencana tidurnya tadi dan membuat panggilan video dengan sangat terpaksa daripada Zayn kembali menerornya melalui Ilham.
“Hayyyyy Qawiya“ Cengirnya lagi.
“Zayn! Apa kata Ilham tentang diriku nanti? Aku akan dikira mengganggu calon tunangan orang. Aku gak mau Ilham memandang buruk tentang kita. Ini kan juga tentang reputasimu Zayn”
Zayn malah tertawa terpingkal-pingkal mendengar omelan Wiya.
“Kalimat mu seolah kita adalah pasangan yang sedang berselingkuh. Hahahaha”
Wajah Wiya memerah, dia marah sekarang. Tapi dia tetap tak ingin menanyakan atau menafsirkan sendiri sikap aneh Zayn ini. Dia murni menganggap Zayn sedang ngelantur dan psikologisnya sedang terganggu.
“Jangan marah Wiy! Kamu jangan pernah lagi mematikan ponsel mu jika tak ingin Ilham merasa terganggu karena aku akan menghubunginya”
“Sekarang katakan, ada apa?“
“Tidak ada, aku menghkawatirkanmu. Bagaimanapun kamu masih dibawah tugas dan masih menjadi tanggung jawab ku kan? Bagaimana kamu disana?”
“Aku baik-baik saja, kamu bisa lihat sendiri. lagipun ada Ilham disini. Dia bertanggung jawab penuh atas diriku sampai pulang nanti. Dan aku bukan anak sekolah menengah lagi. Aku bisa menjaga diri “
Wiya mengalihkan mode kamera mengaktifkan kamera belakangnya agar Zayn tidak melihat wajahnya yang memerah sudah mirip seperti kepiting rebus. Zayn berteriak protes.
“Qawiya….Qawiya….. balikkan kamera mu. Qawiyaaaa ….” Teriaknya.
Akhirnya Wiya mengembalikan mode front camera kembali.
“Zayn Dwika Haris, besok aku harus mendampingi Ilham meeting. Ini semua kami kerjakan untuk perusahaan mu Zayn. Kami sedang tidak berlibur disini. Ku mohon. Sekarang aku lelah dan harus beristirahat.”
“Hemmmm… Wiya, kamu jangan terlalu dekat dengan Ilham.”
Wiya menautkan alisnya mendengar bossnya yang semakin malam semakin tidak normal
“Dia atasanku! Aku asisstennya!“
“Iya ku harap hubungan kalian hanya sebatas profesionalisme saja.”
__ADS_1
“Dia teman ku Zayn, dia sahabat ku. Kamu tidak ada hak membatasi hal-hal pribadi kami”
Zayn terdiam, apa yang Wiya ucapkan benar adanya. Tapi Zayn malah berfikir bagaimana agar dia jadi memiliki hak untuk mengatur ranah pribadi kehidupan Wiya.
“Tidak ada pertemanan yang tulus antara laki-laki dan wanita. Ingat itu Wiya”
Zayn berkata demikian seolah menuduh Ilham menaruh rasa yang lebih dari sekedar teman kepada Wiya. Zayn tidak tau bahwa perasaan itu memang benar pernah ada tapi Ilham telah bijak mengkonversikannya menjadi hanya sebatas pertemanan. Sudah lunas, tak ada yang harus dibahas.
“Oh ya? Lantas pertemanan kita?"
Wiya memberi pertanyaan sekaligus pukulan telak yang berhasil membuat Zayn menyesali quote bijaknya barusan.
Lama, lama sekali Wiya hanya melihat Zayn terdiam dari balik layar persegi itu. Wiya sepenuhnya sadar dalam pertemanan ini dirinya lah yang tidak benar-benar tulus berteman dengan Zayn dan memang sudah sejak dulu tak puas hanya dengan menjadi teman.
“Yasudah. Kamu istirahatlah. Selamat bertugas Wiya. Sampai ketemu besok”
Wiya tidak menjawab, hanya melambaikan tangannya dan tersenyum. Lalu dengan senang hati mematikan sambungan itu terlebih dahulu. Dia sangat lega akhirnya bisa terlepas dari manusia labil itu. Setidaknya untuk malam ini.
***
Di sebrang lautan yang luas. Zayn benar-benar memikirkan kalimat retorika Wiya. Dia mulai menyadari ketidak tulusan dari pertemanan ini. Dia mencurigai perasaan Ilham, sedangkan dia kini tak bisa menyangkal perasaannya sendiri.
Apa dia begitu buta sehingga tak bisa membaca semua berita yang Wiya layangkan tentang perasaannya selama ini ? Tapi bukankah cinta juga berupa deretan aksara braile sehingga walau tak terbaca harusnya itu dapat teraba.
Selama mengenal Wiya, dia memang begitu penasaran dengan gadis itu. Karena tidak memiliki pengalaman yang cukup tentang menaklukan wanita, dia melakukan hal yang justru membuat Wiya merasa terganggu.
Zayn teringat, getar, debar, dan perasaan sejenisnya pernah menghampiri hidupnya. Namun dia terlalu takut, takut mengganggu ketenangan hidup Wiya. Tanpa dia tau sejak dia memutuskan untuk tidak mengganggu Wiya lagi, sejak itulah bayangan dirinya jadi pengganti, bermain-main di kepala Wiya.
Zayn bersembunyi di balik kata teman, terutama saat dia menggenggam tangan Wiya pertama kali di kolam renang, telapak tangan itu terlalu dingin, Zayn mengira Wiya sedang ketakutan sehingga dia hanya berani menawarkan sebatas pertemanan, tanpa berani mengharap lebih.
Malam ini, sejak Wiya tak ada disini, dia benar-benar mendambakan pertemuan-pertemuan yang dulu pernah Wiya kiaskan saat mereka pernah bersama melewati genangan air.
Zayn mengambil ponselnya dan membuka gallery, tidak banyak foto di dalam ponselnya sehingga dengan mudah dia menemukan potret dirinya bersama Wiya yang mengenakan baju kurung melayu berwarna merah hati, saat mereka berfoto di acara pernikahan Ridwan dan Mitty. Zayn tersenyum melihat foto dengan posisi melintang itu.
Dia mengikuti perintah nuraninya kali ini, membuka pengaturan mengganti wallpaper ponselnya dengan foto itu. Karna tampilan itu diambil landscape, Zayn mengubahnya menjadikan portrait di halaman depan. Posisi Ridwan dan Mitty di kiri dan kanan ter crop otomatis, dan tinggal pose dirinya yang sedang intens memegang pinggang Wiya terhias menjadi wallpaper barunya. Gadis berbaju merah hati di layar itu, malam ini mencuri hatinya. Tapi, bagaimana dengan Brigitta ??
__ADS_1