Utuh

Utuh
MENGUNGKAPKAN II / PENOLAKAN


__ADS_3

Benar saja, mobil Ilham berhenti di area parkir café itu. tak banyak bertanya, Wiya mengikuti langkah Ilham masuk ke dalam dan duduk di tempat yang sudah Ilham tentukan, selanjutnya memesan makanan dan minuman.


Bangunan café semi permanen itu dibangun di atas laut. Ilham memilih meja di pojok paling pinggir agar bisa  melihat pantulan cahaya lampu di atas permukaan air yang kebetulan sedang pasang dalam. Angin yang sepertinya akan mengantarkan gerimis pun berhembus memberi kesejukan pada hati Ilham yang malam itu sedang panas karena gesekan perasaannya sendiri.


Kenapa Wiya sangat cantik malam ini?  membuat dia semakin susah memikirkan kalimat apa sebagai pembuka kata. Tidak pernah dia segugup ini sebelumnya saat Bersama Wiya. Ini sangat tidak asik!


“Gimana pekerjaan kamu belakangan ini ?” Kenapa jadi kalimat ini yang lolos? Ilham membuka dialog dengan pasrah. Bingung mau memulai topik apa. Menanyakan virus corona yang lagi viral? yang ada nanti Wiya malah jijik dan tak selera makan. Apakah kalian bisa merasakan? Bahkan topik seputar pekerjaan pun sangat garing di suasana seperti ini. Buktinya Wiya bukannya menjawab, malah menaikan kedua alisnya, ekspresi yang sulit terbaca oleh orang yang sedang ingin menyatakan cinta


“Kamu ngajakin saya kesini Cuma mau knanyain kerjaan? Sungguh ?


Tanya Wiya dengan sedikit penekanan. Bohong  kalau Wiya sama sekali tak mengerti ekspresi Ilham dari tadi. Sesungguhnya diamnya Wiya pun sedang memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi jika Ilham benar-benar menyatakan perasaanya malam ini.


“Tidak juga !“


“Yaudin sih, kenapa malah nanyain itu. Kita udah lama gak pergi gini. Kamu ngajakin saya main, tapi nanyain kerjaan. Nyebelin!”


Ilham bisa tersenyum sedikit, gadis dihadapannya memang si tukang pencair suasana. Dia masih Qawiya yang sama. Terlintas di benaknya jika kenyataan yang tak dia inginkan sungguh terjadi. Akankah dia akan tetap bisa memiliki kebersamaan dengan Wiya semenyenangkan ini?


“Iya iya sorry, kamu gak asik sih dari tadi, aku jadi bingung mau ngomongin apa.“


“Saya?“ Tunjuk Wiya pada dirinya sendiri “Helo Pak Ilham Gemilang, saya dong yang nanya. Itu muka dari sore tadi gabisa kontrol kenapa? Ada apa? Saya jadi takut litanya beneran Ham“

__ADS_1


Ilham jadi salah tingkah sendiri, dia memang tak seperti Wiya yang bisa selalu rapi menyimpan semua rasa. 2.5 tahun tanpa kemajuan. Wiya menutup rapat hatinya.


Malam ini, Ilham akan menerobos masuk bagaimana pun caranya, akan menjadi apapun dia di dalam hati gadis ini nanti. Setidaknya dia sudah berusaha.


Entah sudah lagu ke berapa yang dinyanyikan penyanyi akustik malam itu. indra pendengaran Ilham tak terlalu peka akan akan semuanya. Lagu romantis yang di cover akustik malah terdengar koplo remix di kupingnya saat ini.


Sejenak suasana kembali canggung saat Ilham berdehem.


“Ekhem,” Sejurus kemudian, mencari kemana pandangannya akan berhenti. Sorotan manik coklat dari balik kacamata yang memaksa orang di hadapannya ikut terpaku, mencoba membaca apa yang selanjutnya akan keluar dari lidahnya malam itu.


Mumpung malam belum terlalu larut, gelap belum menggelayut. Malam ini semua akan dia sebut. Tak peduli biarpun tak bersambut. Satu persatu kalimat yang dia susun terucap berlanjut. Tapi kenapa gadis dihadapanya malah merunduk takut.


“Wiya, duduklah bersamaku, mumpung malam belum berlalu,dengarlah kidungnya masih berlagu. Izinkan aku bertanya sesuatu, saat aku tak disamping mu, apakah kamu, merasakan rindu ? “


sebelumnya“ Lihat aku sebentar saja, Wiya“ Kepala itu terangkat, dan menatap hangat si pemilik manik coklat.


Tadinya dia beraharap akan semakin dekat, tapi tatapan itu? kenapa seolah membuat sekat-sekat. Sungguh malam yang masih terang justru tampak gelap pekat.


“Aku, Ilham gemilang. Sudah memendam rasa ini cukup lama. Tak tau persis sejak kapan dia tumbuh di dalam sini “ kali ini Ilham menggenggam tangan Wiya dan mengarahkan telapak tangan Wiya menyentuh dadanya seolah meminta Wiya ikut merasakan debaran yang tercipta apa adanya. Wiya dengan patuh menyentuh dada bidang itu, tapi sedikit pun tak bisa merasakan hal yang sama.


Jujur dia menerka-nerka dan menunggu untaian kalimat Ilham yang mana yang akan membuat mereka berada dalam satu frekuensi, tapi tidak ada, sungguh yang Wiya rasakan hanya perasaan Aneh yang tak ingin dia tunjukan sebelum Ilham mengakhiri kalimat-kalimat tersulit dalam hidupnya itu. Wiya berharap setelah ini Ilham tak pernah menyesal pernah menyatakannya.

__ADS_1


“Aku Mencintaimu, Ilma Qawiya dan menginginkan mu untuk berada di sisiku, menjadi teman hidupku. Selamanya“ Ungkapnya lugas. Jelas sekali sorot mata teduh itu berharap banyak atas pernyataan cintanya barusan. Namun


rasa lega dalam rongga dada nya sedikit memberi kelapangan, siap, sangat siap akan apa yang terjadi kemudian.


Wiya sangat payah dalam hal percintaan. Dia belum pernah terlibat sebuah hubungan semacam berpacaran dengan siapapun sebelumnya. Jelas dia tidak bisa mengidentifikasi jenis jenis perasaan apa yang hinggap di relungnya. Tapi saat ini dia bisa pastikan, dia tidak memiliki perasaan yang sama seperti yang Ilham ungkapkan.


Ohh… gini ya rasanya ditembak?


Setengah tak percaya dengan apa yang dialaminya barusan. Wiya tau Ilham menganggapnya lebih dari sekedar teman. Sikap Ilham padanya sangat manis dan penuh perhatian.


Apa daya dia tak pernah membuka hatinya untuk sekedar memberi harapan. Dia tak mau bermain main dengan perasaan. Dia belum siap harus memberi penghampaan.


Tapi malam ini akhirnya datang, Ilham menyatakan perasaan dibawah temaran. Ilham mungkin sekarang lega, tapi tidak dengan Wiya. Bagaimana susunan kalimatnya tadi ya? Ambyar sudah semua. sungguh dia tak ingin ilham


terluka karna lisannya.


****


PLISS TAP JEMPOLNYA YA TEMEN TEMEN


KALAU BERKENAN MOHON BERIKAN KOMENTAR UNTUK AUTHOR YA

__ADS_1


BIAR AUTHOR BISA BELAJAR LEBIH BAIK LAGI KEDEPAN


__ADS_2