Utuh

Utuh
WIYA SAKIT


__ADS_3

Dengan panik Zayn mengangkat tubuh Wiya menuju sofa yang ada di lobby lantai itu, menelpon Rifa dan meminta untuk disiapkan mobil. Kemudian Zayn menggendong tubuh Wiya seolah tidak sedang mengangkat sesuatu yang berat. Dia melewati lift khusus yang terhubung langsung dengan lantai dasar parkiran, membawa Wiya menuju ke rumah sakit. Rifa juga ikut serta dengan mereka.


Sesampainya di salah satu Rumah Sakit milik pemerintah, Wiya langsung di tangani oleh dokter jaga di IGD. Setelah dilakukan beberapa pemeriksaan dan diambil sampel darahnya, Wiya yang belum sadarkan diri dipindahkan keruang rawat inap VVIP. Sebuah ruangan ekslusif yang hampir semewah president suite di hotel. Dokter menjelaskan dari pemeriksaan awal tidak ada yang serius Wiya akan segera siuman.


Rifa sudah kembali ke perusahaan setelah menghubungi keluarga Wiya yang masih di berada di luar kota. Zayn sendiri yang berada dirumah sakit menemani Wiya dengan sabarnya. Setelah melaksanakan shalat ashar Zayn duduk di kursi yang ada disebelah tempat tidur pasien, dia menatap iba wajah manis gadis yang kini tangannya sudah terpasang selang infus, jauh fikirannya menjangkau kemungkinan hingga tak sadar Zayn juga dihinggap kelelahan sampai tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya bersandar di tempat tidur itu.


 


Tidak terlalu lama setelah Zayn terlelap, Wiya mulai mengerjap-ngerjapkan mata nya menyesuaikan dengan bias cahaya yang masuk dari ventilasi jendela kamar rawatnya.  Lama dia menatap sekeliling sehingga tersadar dia sedang berada dirumah sakit. Hari sudah hampir senja, saat dia melihat angka pada jam dinding yang jarumnya tepat menunjukan pukul lima.


Dan pandangannya berhenti pada seseorang yang tertidur dengan posisi duduk disebelahnya. Wiya dapat melihat wajah tampan itu meski posisinya sedang telungkup. Wiya tersenyum sedikit, hati kecilnya merasa senang walau dia kini sedang sakit. Ini agak gila, dia benar-benar mendamba ketampanan wajah bossnya.


Dia mulai ingat saat tadi dia jatuh tepat di hadapan Zayn. Sekali lagi semesta mengajaknya bercanda dengan kebetulan-kebetulan yang selalu mempermainkan perasaannya. Wiya mulai tak suka.


Perlahan dia menarik sebelah tangannya yang sejak tadi berada dibawah kepala Zayn. Zayn begitu terkejut dan langsung sadar dari tidurnya.


“Qawiya? Kamu sudah bangun? Apa Kamu butuh sesuatu? Biar aku ambilkan“


Tanya Zayn beruntun dengan wajah lelah dan bekas tidur. Dasinya sudah tak bergantung di kemeja kerja yang kancingnya sudah dia lepas dua yang di atas.


Wiya menggelengkan kepalanya.


“Kamu sudah shalat ashar?" Tanya Wiya mengingat hari sudah jam  5 sore.


“Aku sudah tadi, apa kamu mau ku bantu berwudhu?”


“Tidak, aku sedang dalam periode”nZayn mengangguk seperti sudah mengerti.

__ADS_1


“Apa masih pusing? Bagian mana yang masih sakit?"


“Sudah tidak sesakit tadi, maaf sudah membuat mu susah sampai membawaku kesini”


“Kamu bicara apa? Kamu sakit di saat jam kerja dan jatuh tepat di hadapan ku. Apa Ilham tidak mengawasi mu bekerja sehingga aku dapat laporan kamu mengerjakan semua pekerjaan dalam satu waktu bahkan yang bukan pekerjaan mu?“


Oke, jadi hanya atas asas profesionalisme, catat itu Wiya!


POV Qawiya


Aku terdiam. Andai Zayn tau aku melakukan semua itu sebagai bentuk usaha membunuh rasa yang tumbuh terlalu subur di hati ku. Aku tak tahu persis sejak kapan dan bermula dari titik yang mana. Satu pekan dirumah sendirian ternyata rentan untuk kondisi hati ku saat ini.


Kesendirian telah memupuk benih harapan hari demi hari. Mitty sedang pergi, tak ada tempat yang menjadi pelepasan kesedihan. Aku si wanita yang paling bisa mengendalikan perasaan, tapi kenapa hanya karena Zayn Dwika Haris, Hati rapuh ini begitu manja dan tak terbiasa sendiri.


Ilham sudah mencegah aku melakukan semuanya, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena aku mengerjakan semuanya dirumah pada malam hari. Aku benar-benar mencari pelarian agar bayangan tentang mengharapkan Zayn segera hilang. Jatuh hati dengan Zayn membuat ku jatuh sakit. Aku terluka, terlebih saat Zayn sama sekali tidak menyadarinya.


Zayn pernah menghindariku hanya karena takut aku semakin terganggu. Dan sekarang ada Brigitta di sisinya. Meski aku belum tau seperti apa hubungan mereka, tapi aku cukup sadar diri untuk bersaing dengan gadis sesempurna "Bee" nya.


Aku selalu berusaha berhenti memanjakan perasaanku sendiri demi menghargai keberadaan Brigitta, namun Zayn juga selalu bersikap baik dan tidak menghindari ku sejauh ini. Hari ini, saat keluarga ku belum datang, dia membawaku dan menjagaku di rumah sakit. Hingga kelelahan dan ketiduran dengan memeluk sebelah tangan ku. Karena aku sakit disaat jam kerja dan tepat dihadapannya? Biarkan aku menilainya dan menurutku ini berlebihan untuk dijadikan alasan.


POV Author


Obrolan singkat mereka terjeda oleh ketukan pintu dari dua orang perawat dan satu orang dokter yang akan melakukan visitase ke ruangan itu. Dokter itu memperkenalkan dirinya kepada Zayn dan Qawiya lalu mengajukan beberapa pertanyaan.


“Selamat sore Nona, anda sudah bangun? Perkenalkan saya dokter Ivan, spesialis Onkologi”


Deg! Kenapa spesialis onkologi?

__ADS_1


“Bagaimana keadaan anda sekarang? Apa yang anda rasakan?”


“Sudah tidak sesakit tadi, tapi leher saya..”  Wiya menunjuk pada bagian tenggorokannya


“Rasanya seperti tercekik sesuatu dan tersendat saat menelan dok” Keluh Wiya sambil membuat gerakan menelan.


Dokter Ivan tersenyum seolah berkas yang dia baca sesuai dengan keluhan pasiennya.


“Maaf Pak, dengan siapa saya bisa menjelaskannya. Apa Bapak keluarganya?”


“Saya Pimpinannya, dia karyawan saya. Keluarganya sedang tidak berada di kota ini dokter. Anda bisa jelaskan pada saya”


Karyawan macam apa yang dapat perlakuan istimewa seperti ini? -  Sisi kepo dari hati dokter Ivan.


 


Dokter Ivan menjelaskan dengan rinci hasil pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi ditangannya yang menunjukan hasil positif bahwa Wiya mengalami gangguan hormon Thyroid yang disebabkan kelenjar tiroid yang tidak dapat memproduksi hormon dalam jumlah yang cukup bagi tubuh Wiya. Ditambah fikiran dan tubuh yang terlalu dipaksa bekerja dan memikirkan banyak hal, Wiya mengalami kelelahan, detak jantung yang melemah dan ada sedikit benjolan di bagian lehernya.


“Sementara anda harus minum obat ini dengan teratur” Menunjukan satu plastik kecil obat “ Pekan depan nona Wiya harus kembali kerumah sakit untuk pemantauan lebih lanjut. Jangan sampai dilewatkan ya Nona, karena sebagian besar kasus hipotiroidisme bersifat kronis. Semoga Nona Wiya tidak harus mengkonsumsi obat seumur hidup!”


Wiya menelan ludahnya berat mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama dan mengingat dengan jelas di dalam fikirannya seolah dia baru saja mendapat kuliah dengan materi yang baru dia dapat pertama kalinya. Ternyata ini alasan kenapa dokter onkologi yang melakukan visitase ke kamarnya.


 


----------------------------------------------


Jadi Hypothyroid ini gak sama dengan gondongan ya temen-temen. Ini termasuk salah satu gangguan hormon yang berhubungan dengan imunitas tubuh. Selengkapnya silahkan tany Oom Gugel masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2