
Wiya bangun lebih pagi daripada yang lain. Karena Nina sedang haidh,Wiya membangunkan Windy untuk sama-sama keluar menimba air di sumur samping rumah. Adzan subuh belum terdengar, langit masih gelap gulita. Tapi mereka tentu harus bersiap lebih pagi mengingat kamar mandi disini dipakai untuk bersama.
Derit katrol yang bergesekan dengan tali memecah kesunyian tatkala mereka berdua mengambil air dengan timba dari sumur yang cukup dalam. Setelah air dari timba disalin ke ember yang lebih besar, mereka berdua bergantian mengangkatnya masuk sampai penampungan terisi cukup untuk mereka mandi pagi.
Pagi ini mereka akan menuju ke kantor kecamatan untuk memastikan izin dan mendapatkan gambaran selama berapa di pulau C. Vela dan Nina memlih untuk tidak ikut dengan tim lain, karena mereka harus segera membuat rencana kegiatan untuk masing-masing kelompok.
"Vel,gue liat elo kok kesel banget sih sama Wiya? Bukannya dia itu istri dari atasan lo ya?" tanya Nina saat mereka berdua sama-sama sedang sibuk dengan komputer lipat masing-masing.
"Nah itu lo tau, karena dia bininya boss gue, makannya gue sebel sama dia," jawab Vela.
"Loh kok gitu sih? mereka udah baik banget sih sama lo. Ngenalin lo segala ke si Soleh. Jangan bilang elo belom move on ya Vel sama lakinya," tuduh Nina. Bukan tanpa alasan Nina mengatakan demikian.
"Lo tau lah, Soleh itu bukan tipe gue. Oke dia cakep mirip Varel Bramastya, tapi gue butuh yang soleh ya maksud gue yang dewasa, yang mapan, ya bukan yang namanya aja yang soleh," sungut Vela. "Lagian gue ga butuh dicariin sama mereka Nin, gue masih komunikasi sama Soleh sampai hari ini cuma karena si Udin itu gak ngadu yang macam-macam ke Pak Zayn. Lo tau kan gue masih butuh banget kerja disana,"
"Astaga Vel, Kenapa lo jadi gini sih? Ga nyangka gue," decak Nina.
"Lo tau gak Nin? dusun kunci itu kampung nyokap gue, ada keluarga bibi gue disana. Gue udah terlanjur gembar-gembor bilang ke mereka kalau gue mau nikah sama boss gue. Dan lo bayangin dong apa yang akan mereka bilang kalau liat gue datang kesana dengan status yang masih sama. Boro-boro kawin ama boss,huh,"
"Ya itu urusan lo, siapa suruh lo ngumbar berita yang belum tentu gitu kejelasannya. Aduh Vel, gue gak ikut campur deh ya. Tapi karena lo temen gue, ya gue ingetin aja. Jangan berbuat sesuatu yang akan merugikan diri dan komunitas. Kita ini bukan apa-apa dibanding dia donatur utama komunitas kita Vel. Dia mau gabung bareng kita disini itu udah sebuah anugrah dan keajaiban," urai Nina.
"Gak usah lebay Nin, dia ikut kesini karena dia kesepian. Udah lama nikah tapi belum punya anak, udah gitu suaminya sibuk dia stress dirumah, makannya dia ikut kesini. Gue juga heran kenapa bisa lolos seleksi, padahal dia gak bisa berenang," ejek Vela "Lo tenang Nin, gue gak bakal macem-macem kok, cuma satu macem aja nanti, dan itupun kadarnya cuma dikit aja kok, dikiiit aja," berbicara sambil menunjukan jempol dan telunjuknya yang digabung membentuk cubitan kecil. Seolah yang akan dia lakukan benar-benar hal yang sangat kecil.
"Serah lo dah ya, gue bener-bener gak ikut campur. Lo liat aja dokter Ditya dari kemarin ngawasi gerak-gerik lo. Dia terus-terusan deket sama Wiya seolah gak ngasi celah buat lo ngelakuin sesuatu,"
"Padahal Ditya gak tau, semakin dia nempel terus sama Wiya, semakin gue gampang berbuat sesuatu yang gue maksud, hihih," Vela tertawa sambil menutup mulutnya.
Nina menggelengkan kepalanya dan meninggalkan Vela sendiri, Vela hanya menatap kepergian Nina seraya mengangkat serentak kedua bahunya.
"Heuum?"
***
Hari yang Wiya tunggu sudah tiba. Jadwal piketnya untuk berangkat ke Dusun Tiung sebelum bertolak ke pulau C. Dia sudah bersiap dengan ransel yang diisi dengan perlengkapan seadanya. Ditya dan beberapa tim laki-laki yang lain sudah menunggunya di pelantar. Mereka akan diantar dengan kapal kecil yang biasa disebut pompong.
Sebelum kehilangan sinyal, Wiya menghubungi Zayn untuk mengabari keberangkatannya ke dusun itu.
__ADS_1
"Eh, Dit...bentar," teriak Vela setengah berlari dari kejauhan. "Huh..huhh...huft, eh gue boleh ikut kalian gak?" tanyanya dengan nafas tersengal.
"Ada apa Vel? hari ini kan bukan jadwal kamu." ucap Ditya.
"Eum, gak apa-apa. Aku pengen ketemu sama bibi ku yang tinggal disana, besok aku gak ikut ke pulau C, langsung balik kesini lagi, gimana? boleh ya Dit. Plis!" pintanya memelas.
"Tidak ada masalah Vel, asal kamu tidak ada tanggung jawab kegiatan disini hari ini,"
"Justru itu, karna hari ini aku masih free jadi aku ingin sekali mengunjungi bibi ku disana,"
"Oke, tidak masalah. Ingat pesan ku semalam kan?" Ditya menaikkan sebelah alisnya.
"Makasih Ditya," ucapnya tanpa memperhatikan peringatan Ditya. Vela dengan lincahnya melompat ke atas pompong dan duduk disamping pengemudi.
Jarak desa Kunci ke dusun tiung hanya sejauh pandangan mata, tidak sampai 15 menit pompong yang mereka tumpangi menepi ke dermaga kecil. Mereka semua naik ke atas dan disambut dengan pemandangan anak-anak yang sedang bergantian melompat bebas ke lautan. Sepertinya mereka terbiasa berenang disaat air sedang pasang dalam.
Baik desa Kunci dan dusun Tiung ini, sama-sama memiliki pemandangan laut yang luar biasa. Tidak perlu pergi ketengah. Dari tepi dermaga saja kita sudah bisa melihat kejernihan air laut yang transparan bagai permukaan kaca menampakkan kehidupan biota laut yang rukun dan tidak terusik aktivitas terlarang. Tak hanya ikan yang bermacam warna. Cumi-cum hingga kuda laut pun bisa kita lihat dari atas.
Inilah aquarium raksasa milik Sang Pencipta, Wiya tak ingin melewati setiap detiknya sia-sia. Hatinya benar-benar dialiri kesejukan dan kedamaian selama berada disana.
***
"Kebetulan bidan Rina sedang membawa pasien rujukan ke kota, Apa Mba Wiya tidak masalah tinggal sendiri disini?" tanya pak RT.
"Tidak masalah pak, kami juga hanya sebentar. Semoga saya tidak merepotkan selama berada dsini," ucap WIya sopan.
Wiya masuk dengan kunci yang diberikan kepadanya. Kamar yang akan dia tempati benar-benar berada satu gedung dengan pukesmas dusun. Sedangkan Vela sudah meninggalkan mereka, sepertinya dia benar-benar pegi ke rumah kerabatnya sesuai yang dia sampaikan tadi. Wiya membersihkan diri dan beristirahat menjelang sore.
Ditya bersama beberapa tim pria juga sibuk membersihkan lantai TPA yang akan menjadi tempat tidur mereka selama berada di dusun ini. Saat masuk waktu ashar dan mesin genset menyala, mereka tak lupa mengisi daya ponsel masing-masing. Sesekali kalau sinyal sedang baik, beberapa pesan masuk beruntun di telepon genggam masing-masing.
Bukannya tak ingin memberi tempat tinggal terbaik, sementara hanya itu yang bisa disediakan oleh desa untuk para relawan. Tapi mereka tidak pernah mengeluhkan hal-hal semacam itu.
***
Setelah selesai shalat ashar, mereka berkumpul di mushola kecil satu-satunya yang ada di dusun. Bercengkrama dengan anak-anak yang datang untuk mengaji, Wiya juga dengan senang hati membantu Ustadz mengajarkan tajwid.
__ADS_1
Setelah kegiatan mengaji sore selesai, ustadz Khadafi mengajak para relawan dan anak-anak untuk nai ke atas bukit dusun Tiung. Konon katanya dari atas bukit itu nanti dapat jelas terlihat pemandangan pulau C yang eksotis dan memukau. Terlebih pulau itu kini sedang dalam tahap pembangunan menjadi sebuah pulau pribadi.
Vela tak ketinggalan, dia juga sudah siap untuk ikut bersama yang lainnya. Sudah lama sekali tidak pernah pulang ke kampung halamannya ini. Vela tau benar seluk-beluk dan lekuk jalan menuju bukit tinggi itu.
Ramai tawa kanak-kanak mengiri langkah mereka dari belakang. Ada yang menggunakan sepeda, ada yang memutar dengan kayu sambil berlari sepanjang jalan. Jalan menuju ke bukit ternyata cukup jauh dan licin, pertama mereka melewati kebun yang mirip dengan hutan. Kiri-kanannya ditumbuhi pepohonan besar. Jambu air, mangga, rambutan sampai durian ada disana. Namun kebun ini tampak bersih dan terawat.
Setelah keluar dari hutan, tampaklah barisan pohon sawo rindang, semak-semak pohon kemunting dan tumbuhan lain yang hidup liar disana. Ditya yang berada di barisan depan tak henti-hentinya menoleh kebelakang, seperti sangat khawatir bila Vela berada di dekat Wiya. Padahal Wiya dan Vela sedang tertawa bersama kanak-kanak yang mengikuti mereka.
"Jadi apa hutan ini juga sudah bukan milik kita?" tanya Ditya pada ustadz Khadafi.
"Yang saya dengar begitu, hampir separuh tanah dari dusun ini sudah milik PT. Tahun lalu aktivitas pengerukan bauksit sudah mendapatkan izin operasi," ucap ustadz Khadafi prihatin. "Beda lagi dengan kasus pulau C. Heum, nanti kalian akan lihat sendiri," keluhnya sekali lagi.
Setelah melewati semak-semak liar yang membuat kain pakaian mereka dijangkiti rumput-rumput kecil, akhirnya mereka sampai ke ujung bukit yang menyerupai sebuah tebing.
Mata Wiya terbelalak menyaksikan keindahan yang ada di hadapannya. Ternyata pulau tempatnya tinggal juga menyimpan pesona yang tak kalah dengan negeri jauh yang pernah dia kunjungi. Mereka semua berdiri tepat di tepi bibir tebing yang curam. Seperti biasa, hati Wiya terasa berkali lipat lebih tentram saat berada di ketinggian.
"Itukah pulau C ustadz?" tanya Ditya menunjuk sebuah pemandangan luar biasa tepat di depan pandangan mereka.
"Ya, itulah pulau C," Ustadz Khadafi membenarkan.
*MasyaAllah *Puji Wiya dalam hatinya.
Pasir putih yang membentang sekeliling pulau C, dengan warna air laut yang biru transparant, ditambah bebatuan raksasa yang menjadi icon utama pulau ini, dari atas tebing pemandangan ini tak ubah sebuah lukisan. pepohonan disana tampak seperti selimut tebal berwarna hijau menutupi eksotisme sang pulau yang diperawani oleh keserakahan duniawi.
"Eh, foto dulu dong." ucap Vela membuyarkan lamunan Wiya.
Masih terbuai dan ikut tenggelam bersama birunya laut dibawah sana, Wiya tak sadar dia sedang berdiri cukup dekat disebelah Ditya saat Vela mengabadikan momen kebersamaan mereka.
"Hey, kalian. Ayo kita foto sama-sama," soraknya memanggil anak-anak tadi yang tengah asik berlarian.
Anak-anak itu seketika berlari bergabung bersama Vela dan orang dewasa lainnya. Membuka mulut mereka lebar-lebar saat kamera canggih menangkap gambar mereka.
***
Waaaa, udah tanggal segini. Semoga bisa capai target end akhir bulan ini ya teman-teman ^_^
__ADS_1
Alurnya memang agak cepat dan ringkas, dan mohon maaf cerita ini hanya fokus ke masalah rumah tangga Zayn dan Wiya.