Utuh

Utuh
MENJELANG HARI H


__ADS_3

Hari pertunangan sudah semakin dekat, Arifa dan Azmi semakin sibuk memeriksa segala sesuatunya agar berjalan sempurna dan tidak ada kekurangan satu apapun. Intensitas pertemuan mereka lebih banyak daripada ketemunya dua boss mereka. Brigitta sibuk merawat dirinya karena bagaimanapun suasana hatinya, dia harus tampil sempurna di hadapan banyak mata, banyak lensa.


Kehebohan persiapan juga terasa dikediaman Zayn, anggota keluarganya turut repot mempersiapkan diri mereka masing-masing, seolah pada malam itu nanti mereka harus tampil prima. Untuk menunjang penampilannya tak tanggung-tanggung Nikki dan Vhieya merancang gaun dari designer negara tetangga. Karena bisa dipastikan berita tentang pertunangan calon kakak ipar mereka ini satu pekan kedepan akan menghiasai headline media, sedikit banyak mereka berdua sebagai adik ipar dari Brigitta Senja pasti tak lepas dari sorotan kamera.


Nikki memilih midi dress bernuansa dark grey lengan panjang sebagai outfitnya, berbahan brukat dengan aksen kancing hidup di bagian dada dan sabuk hitam polos menonjolkan kerampingan tubuhnya. Potongan dressnya sedikit dibawah lutut.


Sedangkan Vhieya memilih gaun yang mewakili karakter dirinya yang lebih simple namun tak kalah manisnya. Midi dress tanpa lengan bernuansa peachy. Kalau kakaknya Nikki tampak lebih formal dengan memilih bahan brukat, Vhieya punya look casual andalan dengan memilih bahan sutera polos dengan sedikit aksen berupa payet susunan mutiara di bagian pinggangnya.


Titin Suherman juga tak mau kalah dari kedua keponakannya itu. Titin memesan design gaun mewah berwarna merah menyala dengan potongan mermaid dan a line di bagian kakinya. Dia memilih brukat dengan tile berat di atasnya dan aksen tumpukan mawar artifical sebagai ekor gaun yang mengembang.


“Bibi, apa ini tidak terlalu heboh? Nanti tamu pada bingung bi siapa yang tunangan.”


Komentar Vhieya saat mereka sedang fitting gaun mereka masing-masing. Alih-alih menarik perhatian, gaun yang bibinya pakai justru merusak pemandangan baginya.


“Aahahaha. Kak Brigitta juga pasti kalah pesona nya kalau Bi Titin beneran mau pakai gaun ini” Timpal Nikki yang melihat Bibinya saat mengenakan gaun pilihannya.


“Hey kalian anak kecil, tau apa soal mode. Sudah diamlah! Bibi Terecia Syabinaurus akan pakai gaun ini. Semua mata akan tertuju pada Bibi”


Ucapnya bangga memutar mutar badannya di depan cermin. Nikki dan Vhieya tertawa saling berhadapan. Melihat bibinya memakai gaun itu dan menyebutkan namanya, mereka seketika merasa kembali  di zaman pra sejarah.


 


“Iyadeh Bi iya, terserah Bibi aja. Udah mirip Marimar kok Bi. Tinggal cari fergusonya aja nih” Seloroh Vhieya.


“Emang Marimar pasangannya Ferguso Vhie?“


“Mana gue tau Nikk” Vhieya terkekeh


“Ahh sudah-sudah daripada kalian memperdebatkan kecantikan bibi mendingan kalian tolong fotoin nih.”


Titin Suherman memberikan ponselnya pada Nikki.


“Ayo Nikk, yang bagus ya, biar nanti banyak yang mau endorse ke Bibi, semua bagian dari gaun ini harus keliatan.  Bibi bergaya ala ala candid gitu ya Nikk” Titin memberi komando.


“Gausah Bi, pose biasa aja, nanti senyuman bibi yang mempesona malah ga tertangkap kamera. Kan sayang”


“Ahhh iya, kamu benar Nikk! Oke oke. Gini aja."


Mereka masing-masing mengambil beberapa foto dengan gaun yang mereka coba hari itu.


Mama Wulan sendiri memilih untuk memakai gaun yang sudah ada. Gaun putih pemberian papa Haris. Walaupun usianya sudah tak muda lagi dia selalu tampil anggun dan elegan dengan pilihan potongan gaun apapun.

__ADS_1


Disela-sela kesibukan persiapan itu, Titin Suherman mencuri waktu mengajak kakak iparnya berbicara seolah-olah yang dia bicarakan sangatlah penting dan harus di dengarkan.


“Ada Apa Tres?“ Mama Wulan penasaran karena Titin menariknya ketempat sepi.


“Mbak, inget omongan ku baik-baik ya. Setelah Zayn menikah nanti. Mbak jangan sepenuhnya melepaskan dia untuk Brigitta. Biar gimanapun juga anak lelaki harus dibawah kendali kita”


Kalimatnya terdengar seperti sebuah sugesti negatif. Namun Mama Wulan selalu berbaik sangka kepada Titin. Dia menganggap sikap Titin yang begitu hanya karena dia kurang beruntung di masa lalu.


“Kenapa kamu bicara begitu Tress?“


“Duhh Mbak pokoknya aku Cuma ngingatin ya. Di dunia ini semua orang punya hak untuk jadi munafik. Brigitta juga tak terlepas dari peluang itu”


Mama Wulan semakin tak mengerti kenapa Titin bisa berburuk sangka terhadap calon menantu dikeluarganya. Setelah kemarin dia berkomentar julid habis-habisan tentang anak gadis tetangga sebelah rumah yang mengadakan pesta pernikahan sederhana. Sekarang dia berburuk sangka dengan Brigitta.


Padahal di hadapan Brigitta dia sangat luar biasa dan menjunjung tinggi gadis itu. Siapa sebenarnya yang sedang mengambil porsi munafik itu?


Ditempat lain, Brigitta juga sudah cocok dengan gaun putih bersih yang dia pilih menutupi tubuhnya. Walau tidak banyak detail, namun tetap terlihat luar biasa karena dia yang mengenakannya. Dia mengambil potret dirinya sedang berdiri dengan gaun pilihannya dan mengirimkannya kepada seseorang.


 


***


Alih-alih sibuk dengan persiapan hari besarnya. Zayn malah sibuk mengganggu Wiya setiap waktu. Tanjungpinang-Kalimantan, dia baru sadar. Laut memisahkan daratan tapi jarak malah membantunya menyusun ingatan. Dia menjadi maniak menunggu pesan-pesan singkat dari Wiya.


 


Gadis mungil dengan wajah oriental itu, benar-benar merongsok masuk memenuhi kesadaran di salah satu bilik hatinya. Cukup memberi tanda bahwa nama Brigitta memang tidak pernah ada disana sebelumnya. Dia sampai lupa memikirkan urusan besarnya. Urusannya dengan Brigitta, urusannya dengan Mama Wulan dan keluarga besarnya.


Perasaan yang sekarang ada di hatinya, tidak mungkin membuatnya mengambil keputusan membatalkan pertunangan yang tinggal di langsungkan. Karena semua persiapan dan kabar tentang perhelatan besar itu sudah hampir sempurna seluruhnya.


Walau dia tau cinta yang dipaksakan jelas akan menjadi bom waktu untuk rumah tangganya kelak.


 


***


Di pulau yang berbeda, Ilham membuka pesan gambar yang dikirimkan seseorang ke ponselnya di sela-sela dia menyelesaikan jadwal demi jadwal yang dibuat Wiya. Ilham bekerja dengan sangat baik, fokus, cekatan dan terbilang cepat. Jadwal yang seharusnya dikerjakan esok hari bahkan bisa dia selesaikan hari ini. Tapi Wiya sedikit khawatir karena tak seperti biasanya, Ilham tidak terlalu banyak bicara. Hanya membicarakan hal-hal penting saja terkait pekerjaan mereka.


Ilham juga membatalkan jadwal mereka berkunjung ke Kutai Kartanegara. Walau berkecil hati, namun Wiya tidak membantah ataupun bertanya sebabnya.


“Never matter Ham, Tapi beneran gak ada apa-apa kan?“

__ADS_1


“Lucu aja Wiy, dunia mempersilahkanku jatuh cinta sekaligus menyiapkan luka diwaktu yang sama. Saat hati ku udah jatuh setulusnya untuk dia, untuk ku dia hanya ada seperlunya!"


Wiya ber oohh membulatkan mulutnya tanpa suara. Wiya menunggu bait selanjutnya. Biasanya pujangga gak cukup satu baris kalau sudah berkata-kata. Tapi ternyata Ilham diam.


Ah, pujanggaku benar-benar sedang terluka


Tapi aku benar-benar gak berani bertanya siapa yang membuatnya bucin begini


Waktu aku dulu tak membalas cinta mu, kamu malah tersenyum lega,


sedalam apa cinta mu saat ini ? oh poor of you.


Wiya terenyuh. Membayangkan hidupnya yang sama menyedihkannya. Wiya heran dari sekian banyak jenis korban, dari korban banjir, korban bencana sampai korban virus berbahaya. Hanya korban janji manis sepertinya yang paling sulit di evakuasi.


“Haha, I feel u Ilham Gemilang. Sakit memang, Padahal ya kita tuh tertawa bersama, bercanda bersama, ehh yang jatuh cinta cuma kita, dianya B aja“


Wiya sedang mengungkit lukanya sendiri. Bahkan sampai hari ini Zayn masih sering menghubunginya berkata yang tak jelas seolah mereka akan selamanya. Padahal bukan hanya mereka berdua, semesta juga tau kemana semua akan bermuara. Ada air berjatuhan, tapi bukan hujan.


“Eh, kok kamu nangis Wiy, Qawiya!!"


Ilham merasakan air mata Wiya yang hangat menetes satu ke telapak tangannya. Namun Wiya buru-buru menyapunya dengan lengan baju Ilham. Ilham tersenyum mengegelengkan kepala. Dia senang Wiya senyaman itu bersamanya.


“Yasudah lah Ham, kalau gak bisa ambil hatinya. ambil hikmahnya aja.“


Dengan tangan kecilnya dia menepuk-nepuk pundak Ilham yang jauh lebih besar sambil memecah tawa yang sengaja dibuat-buat.


“Wiy, kita pulang besok. Reschedule penerbangan kita sekarang juga!”


*************************************************************


Makin kesini kok aku ngerasa alurku makin membosankan ya ? apa kalian juga ngerasa demikian ? haha


jangan aneh ya, di sinopsisnya udah aku ingatkan untuk tak berekspektasi apa-apa dari roman biasa dan sangat apa adanya ini. wkwkw


Ikutin terus ya, ramein dong komennya biar tembus 500 komen ksan udah 50 episodenya. hahah ngarep amat gue**.**


Di konflik konflik kedepannya sebenarnya ada nilai-nilai postifi yang ingin aku sampaikan ke pembaca. tapi


kok makin ku tulis makin lama nyampe kesananya. hahhahaha


Reader : Gak nanya Thor**  !!**

__ADS_1


Author : Kejamnya duniaaaaa


__ADS_2