
Kejadian kemarin yang tidak membawakan dampak baik bagi jiwa kepo Zayn yang memberontak, terlebih setelah kejadian itu sikap Wiya kepadanya bagai air di daun keladi, sungguh tak berbekas. untuk hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan, Wiya seolah tak peduli, sama sekali tak peduli walau itu menyangkut dirinya sendiri.
Hey nona, kamu habis dikerjain loh
kesal sedikit saja, boleh kok
Zayn ternyata belum puas mengerjai Wiya dengan drama bau durian. Pagi menjelang siang, ini hari terakhir mereka di kota itu, mereka sudah bersiap siap akan keliling kota berbelanja oleh oleh khas kota ini. Tapi ternyata Ilham diundang jamuan makan siang dengan franchisornya. Tentu dia tidak mau mengganggu jadwal Zayn dan Wiya, jadi Ilham menyarakan mereka berdua untuk pergi terlebih dahulu dan Ilham akan menyusul kelak setelah selesai urusan terakhirnya .
Dengan berat hati Wiya pun setuju karena Ilham berjanji tidak akan lama. Tentu dia sangat canggung jika hanya berdua dengan Zayn saja.
Karena Zayn tentu saja tidak familiar dengan kota ini jadi dia menolak untuk membawa mobil yang difasilitasi kepada mereka selama disana. Dia memutuskan untuk menggunakan taxi online saja biar Ilham nanti yang datang membawa mobil.
“Saya akan naik taksi online ! ”
Tukas Zayn ketus, kepada Wiya yang sudah berdiri di lobby hotel dengan t-shirt o neck berwarna mustard yang dilapisi dengan blazer navy berbahan kaos. Rambutnya di kuncir satu tinggi menampakan leher jenjangnya, tak lupa kacamata bertengger seperti posisi bandana di atas kepala. Lalu kamera kecil dia kalungkan di lehernya menjuntai sampai kebawah dada.
“Oh, baik pak, sebentar saya pesankan.” Katanya tegas, sambil mengeluarkan ponsel dari sling bag hitamnya.
“Saya sudah pesan !” Jawab Zayn sekenanya
“Ooo” Wiya membulatkan mulutnya tanpa bersuara.
“Kamu bisa pesan untuk kamu sendiri, jika tak mau pergi dengan saya.” Ucap Zayn lagi.
Kapan gue ngomong gitu ?
Wiya bergumam menggaruk kepala nya yang sama sekali tidak gatal.
“ Saya akan ikut dengan taksi pak Zayn saja pak, akan menyusahkan Pak Zayn dan Pak Ilham jika saya pergi sendiri.” Jawaban Wiya selalu terdengar santai .
Walau dia sangat merasa kesal dan tak mengerti bagaimana menghadapi boss nya yang sangat labil ini. Wiya selalu berhasil tampak “baik-baik saja” di hadapan siapa saja, itu membuat orang selalu tak bisa memprediksi apa apa dari ekspresi dan intonasinya.
“Terserah kamu.” Zayn tidak santai.
“Terimakasih Pak Zayn, itu mungkin taksi nya sudah sampai ”
Kata Wiya melihat ke arah ponsel Zayn yang berdering. Yang biasanya panggilan dari driver yang sudah sampai di titik penjemputan.
Mereka pun keluar Bersama menuju taksi yang ternyata menggunakan mobil Toyota Fortuner putih keluaran terbaru, tidak semewah mobil Zayn, tapi kan sangat keren untuk hitungan taksi online, Wiya bingung kok mau maunya si driver yang ternyata juga ganteng ini ambil bagian jadi driver taksi .
Hmmm. Belum selesai tertegun dengan armada yg digunakan, dia kembali tercengang dengan sang driver yang membukakan pintu untuk mereka.
__ADS_1
Ebuset ini beneran di Medan kan? bukan Korea kan?? Kok abang taksi nya mirip Choi Jin Hyuk sih?
“Silahkan pak" Wiya membukakan pintu mempersilahkan Bossnya masuk di bangku penumpang. Dirinya sendiri mengambil posisi disamping Abang driver tampan, karena dia khawatir kalau duduk bersebelahan dengan bosnya akan mengakibatkan infeksi kantung kemih akibat menahan pipis sangking merindingnya.
“Silahkan seat beltnya, Tuan dan nona.” Ucap Oppa driver menyalakan mesin Sambil tersenyum ke arah Wiya dan menanyakan titik pasti tujuan mereka.
Mereka akan menuju ke sebuah pusat perbelanjaan yang menjual oleh oleh khas kota Medan, mulai dari makanan, kaos, kain ulos, dan berbagai macam merchandise khas Sumatera Utara. Mobil menyusuri jalanan kota Medan yang sedikit padat di akhir pekan.
Kondisi jalan raya kota Medan selalu padat dan riuh, truk besar yang melintas membuat jalanan kian sesak , semua pengemudi seolah sama buru-burunya, membawa kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata, tentu saja bunyi suara klakson kendaraan bersahut sahutan dengan bising dan egois. Belum lagi jika sopir angkot mengeluarkan kepalanya melalui jendela dan berteriak “Oyyy santai lah kau!” Intonasi yang mungkin akan terdengar agak kasar di telinga namun tak bisa di elakan. Tak ada yang rela mengalah walau dengan para pejalan kaki . Semerawut. Begitulah faktanya.
“Selamat datang di kota Medan lah kalau begitu kak .“
Ucap sopir itu dengan sedikit aksen khas Batak yang masih terdengar, setelah dia tau bahwa penumpangnya bukan penduduk asli .
“Hahaha, iya bang terimakasih. Aku sudah beberapa kali sih kesini tapi tetap gak pernah hafal arah nya walau pakai map juga.” Timpal Wiya asik. Begitulah sosok aslinya, sangat humble,komunikatif dengan siapapun.
“Ah iyakah ? Tak susahnya kak sebenarnya. Tapi tak aman lah kalau keliling kota sendirian. Sebaiknya selalu
di temani si abang.”
Sambil sedikit melirik ke arah kursi belakang melalu spion dalam.
“Dia pimpinan saya bang.“
“Bah boss mu kiranya “ ucapnya sopan “ Maafnya ku kira ......”
“Ekhem!” Zayn berdehem yang membuat kalimat si driver terputus.
Mobil melaju membelah kemacetan siang itu. Wiya selalu tampak antusias dan ingin tau hal hal baru, sehingga driver itu sudah merangkap jadi tourguide dadakan karena menjelaskan dengan sabar, apa apa yang Wiya tanyakan.
Sesekali Wiya tertawa karena merasa lucu. Entah karena ceritanya, atau karena yang menceritakannya. Zayn memutuskan untuk mengabaikan keduanya dan sibuk fokus ke layar ponsel di tangannya, namun dia tak tahan untuk tidak mencuri pandang ke arah gadis unik (baca : aneh bagi Zayn) itu. selama 6 hari mereka berada cukup dekat di kota yang cukup jauh dari kota asal mereka, tapi belum pernah melihat Wiya tidak bersikap formal. Jangankan dengannya yang memang berkepribadian kaku sejak dini, dengan Ilham yang udah caper maksimal sekalipun dia sangat betah berada pada radius jarak tertentu.
Hingga mobil berhenti di depan sebuah Gedung pusat perbelanjaan yang tadi mereka ceritakan. Dengan tak sabar Wiya melepas seat belt itu, kemudian turun dari pintu sebelah kanan. Begitu pula dengan Zayn yang turun saat pintu penumpang dibuka oleh driver.
Driver tampan itu tersenyum sedikit menundukan kepala kepada kedua penumpangnya hari itu dan tidak lupa mengingatkan meminta bintang dari penumpangnya
“Terimakasih kakak, abang jangan lupa bintangnya ya! “ Ucapan khas pengemudi online.
Mobil melaju dan hilang dari pandangan, mereka berdua masuk ke Gedung itu bersamaan.
Wiya antusias sekali menyusuri setiap Lorong yang isinya berbagai macam makanan, kerajinan dan merchandise khas Sumatera Utara. Yang pertama kali menjadi sasaranya adalah stand magnet kulkas kota Medan. Baik ketika bepergian keluar negeri maupun keluar daerah, magnet ini adalah selalu jadi incarannya dan Ilham, mereka selalu berburu magnet. Kali ini dia sudah membeli 5 magnet kulkas.
__ADS_1
“Untuk apa magnet sebanyak itu ?”
Tanya Zayn yang hanya memperhatikan Wiya asik memilih sendiri.
Wiya hanya menoleh kemudian tersenyum sedikit dan menjelaskan
“Eh iya pak, ini untuk saya, umm satu untuk Mitty, untuk Bu Rifa dan rasanya
satu ini emm saya ingin memberikannya untuk Bu Wulan pak.” katanya menunjukan
satu magnet miniatur danau Toba “Nah kalau yang ini untuk Pak Ilham, takutnya
nanti dia datang pas kita udah selesai belanja biar gak bolak balik pak.” Sambungnya menjelaskan satu magnet berwarna biru muda bertulisan Kuala Namu Airpot yang tersisa di tangan kanannya.
“Saya gak nanya.” Zayn menjawab dengan begitu kesalnya. Bisa bisanya anak buah si Ilham ini membelikan semua orang tapi tidak menawarkan dirinya sama sekali.
“Ma..maaf pak. Apa bapak tidak ingin membeli magnet ini?”
Wiya sedikit berbasa basi dan tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Zayn. Yang malah berlalu meninggalkan Wiya menuju stand lain. Wiya pun setengah berlari mengikutinya dari belakang setelah membayar belanjaannya.
Sebenarnya yang semacam ini cukup banyak di Bandara,hanya saja mereka pasti sangat terburu-buru dan tak bisa
menikmati jika sudah tiba di bandara nanti.
Zayn berhenti di barisan menu pancake durian khas medan yang enak dan legitnya terkenal sudah se Indonesia. Dengan santainya Wiya pun memasukan beberapa varian ke dalam keranjangnya. Zayn mengernyit aneh. Siapa kemarin yang muntah-muntah karena bau durian? siapa yang pinsan dan membuatnya juga panik tak karuan ? kenapa sekarang malah begitu antusias.
“Kamu bukannya gak bisa mencium aroma durian ?”
Tanya Zayn melihat gadis yang sedang asik memilih kemasan pancake di hadapannya
“He, sebenarnya tidak masalah jika olahan durian pak, saya hanya tak bisa makan buah durian segar. Entahlah.”
Jawab Wiya setelah selesai mengambil beberapa kotak berukuran sedang.
Astaga apa bedanya?
“Hmmm, kamu belanja terlalu banyak, kita belum ke stand lain. Nanti akan repot membawanya.”
Kata Zayn mengingatkan
Wiya pun memperhatikan dirinya sendiri saat ini sudah ada dua kantong penuh belanjaan. Sementara Zayn belum memegang satu kantong pun.
__ADS_1
Ah biarlah, mumpung disini ini kok .
Gumam Wiya dengan tidak mengindahkan ucapan Zayn.