
DEAR READERS, MOHON TAP DULU TOMBOL LIKE SEBELUM LANJUT BACA YA. PLISSSS. GA VOTE GA APA-APA. TAPI MASA NGE LIKE AJA HITUNG HITUNGAN SIH? 😔
**********************************************
Hari semakin senja, mereka semua kembali lagi ke dusun. Setelah shalat magrib berjamaah di masjid, Wiya memanfaatkan listrik yang baru menyala dengan mengisi daya ponselnya. Karena jam Sembilan malam nanti listrik akan kembali padam.
Setelah itu mereka berkumpul sebentar untuk briefing terkait keberangkatan besok pagi. Baru setelahnya menghadiri undangan jamuan makan malam oleh salah satu ketua RT disana.
Setelah makan malam dan shalat isya di mushola, mereka kembali ke tempat tinggal masing-masing. Wiya berbasa-basi mengajak Vela untuk menginap bersama di rumah bidan Rina, tapi Vela menolaknya. Dia juga tidak berbasa-basi mengajak Wiya untuk ikut bersamanya menginap dirumah kerabatnya dengan alasan besok subuh dia akan kembali ke Desa Kunci.
Tepat pukul Sembilan malam, sumber listrik dusun kembali padam. Wiya mencari lampu lampu cangkok kecil dengan bantuan cahaya dari ponselnya. Setelah api menyala di sumbu pelita, dia menggantungkannya di sisi dinding yang memang sudah ada cantolannya.
Malam semakin sunyi, dapat terdengar jelas suara rintik gerimis jatuh ke bumi. Berada sendirian dikamar yang temaram, suara hewan-hewan di hutan begitu mendominasi. Auman anjing, kukukan burung hantu hingga suara jangkrik dan serangga malam yang lain. Sesekali terdengar suara ombak memecah dinding pelabuhan jika ada kapal besar yang melintasi pulau.
Wiya memeriksa sinyal di ponselnya, berharap bisa membunuh sepi dengan sekedar menghubungi suami atau ibunya. Tapi hanya ada tanda silang di sudut ponsel itu. Tidak ada jaringan apapun yang dapat ditangkap dari dusun ini. Sepi, sangat sepi sekali.
Sudah hampir jam 10 malam, matanya tak juga dapat terpejam. Fikirannya masih kemana-mana. Akhirnya dia memutuskan bangun, meraih kerudung dan keluar dengan penerangan ponselnya. Berharap ada warga yang menawarinya untuk menginap dirumah mereka, setidaknya Wiya tidak kesepian untuk malam ini.
Wiya berjalan mondar-mandir di teras puskesmas, sesekali dia duduk di kursi Panjang yang berwarna putih. Tak ada satu orangpun yang melintas di sana. Anak-anak kecil yang tadi berlarian semua sudah masuk ke dalam rumah mereka, tak ada lagi yang berkeliaran diluar. Ah tentu saja, ini sudah hampir jam 10 malam. Wiya memutuskan untuk kembali masuk.
“Wiya?” panggil seseorang yang melintas dari arah mushola.
“Dokter Ditya?” Wiya menyorot lampu senter ke arah wajah Ditya yang membuat Ditya silau.
“Kamu ngapain?” menghampiri Wiya.
“Saya…”
“Kamu takut ya sendirian di dalam?”
Iya saya takut, kenapa emang?
“Saya gak takut,” elak Wiya.
“Sebentar ya,” Ditya pergi meninggalkan Wiya.
Tak lama kemudian, dia datang lagi bersama 4 temannya yang lain dari arah TPA. Jarak dari TPA ke puskesmas hanya berjarak satu rumah warga.
Walau masih heran dengan maksud kedatangan mereka, ada sedikit rasa lega dalam hatinya karena untuk sementara dia tidak sendirian disana.
“Kalau takut, kamu masuk aja ke dalam. Kita akan disini sampai pagi,” ucap Ditya tulus.
“Iya bu, kami bisa tidur di kursi-kursi Panjang ini,” timpal salah seorang tim yang beranama Endri.
“Tidak…tidak.. tidak perlu seperti itu,” cegah Wiya. “Saya, saya tadi hanya ingin melihat-lihat keluar sebentar,” imbuhnya lagi.
Suara perbincangan dari teras puskesmas terdengar sampai ke kamar Vela, yang memang rumahnya berhadapan langsung dengan Gedung kecil itu. dari jendela kamarnya dia melihat Ditya dan teman-temannya sedang berbincang. Vela pun ikut keluar bergabung bersama mereka.
Sebelum Wiya dan Vela kembali masuk, mereka sempat mengobrol ringan dan saling melempar candaan. Setelah itu kelima pemuda tersebut benar-benar hanya tidur di bangku Panjang puskesmas sampai subuh menjelang
***
__ADS_1
Sesuai jadwal yang ada, usai shalat subuh mereka semua segera bergegas ke pelabuhan untuk menunggu kapal kayu yang akan membawa mereka ke pulau C. Wiya sempat mencari Vela kerumah kerabatnya, ternyata Vela sudah pulang bahkan sebelum adzan subuh, diantar oleh sepupunya dengan perahu kecil.
Vela udah pulang sepagi ini? hmm
Sinar bulan yang masih terang bagaikan lampu raksasa yang terpantul pada riak air laut. Di atas permukaan air terlihat pula suluh cahaya para nelayan yang baru pulang. Kapal yang akan mereka tumpangi untuk ke pulau C sudah menepi.
“Speed boat?”
“Iya, pakai baju pengaman mu Wiy,” ucap Ditya.
Wiya turun ke kapal kecil itu dan mengambil bangkunya sendiri di belakang. Ditya duduk di depan bersama Endri dan temannya yang lain. Kalau tidak ada Vela bersama mereka, Ditya bisa menjaga jarak untuk tidak berdekatan dengan Wiya.
50 menit berada di atas laut, sepertinya mereka sudah akan sampai. Hijaunya nyiur yang melambai dari tepi pantai, bebatuan besar dan jembatan Panjang yang sepertinya menjadi pelabuhan pulau C sudah tampak di depan mata. Mereka semakin bersemangat, terutama Wiya.
Dia membuka ransel, lalu memeriksa sakunya untuk mengambil ponsel dan mengabadikan pemandangan langka ini. Tapi benda itu tidak ditemukan dimanapun.
“Kenapa Wiy?”
“Ponsel saya gak ada,”
“Aku tidak melihat mu mengeluarkan ponsel sejak kita sampai di dusun, tinggal di desa?”
“Tidak, saya membawanya. Saya sengaja tidak mengeluarkannya karena tidak ada jaringan sama sekali. Tapi saya yakin membawanya, karena tadi malam saya mencari lampu cangkok dan korek api menggunakan cahaya dari ponsel itu, waktu kita duduk diluar juga sih sepertinya,” urai Wiya.
“Kamu mau kita kembali mengambilnya?”
“Ha, yang benar saja. Gak perlu dokt, Saya hanya ingin mengambil gambar.”
“Terimaksih,” menerima pinjaman itu dengan senang hati. Wiya mulai menyalakan kamera itu dan mengambil beberapa gambar saat kapal sudah merapat di pelabuhan.
Mereka belum diizinkan naik ke atas. Petugas desa yang membawa kapal ini tampak berbincang dengan penjaga pulau C yang sejak tadi berdiri saat melihat ada kapal yang mendekat ke pulau. Sejurus kemudian petugas itu menyampaikan berita yang kurang menyenangkan. Kapal pun menjauh dari pelabuhan.
“Maaf mas, kita diizinkan masuk ke pulau. Tapi tidak boleh dari pelabuhan ini,” ucap petugas itu.
“Loh pak, jadi kita mau naik dari mana?”
“Dari sana,” menunjuk ke arah bibir pantai.
“Maksud bapak? Bapak sudah bilang kita ini relawan dan sudah mendapatkan izin?” tanya Wiya.
“Iya Mba, mas. Tapi sepertinya penjaga itu takut dengan pemilik pulau dan tetap tidak mengizinkannya. Speed ini tidak boleh masuk ke Kawasan pantai. Hanya boleh berhenti di jarak 20 m dari pantai. Tapi kita diizinkan membentang jangkar kesana, agar lebih mudah.”
“Pak, yang benar saja. Itu artinya kita terjun ke laut?” tanya Wiya.
“Iya mba, tapi tidak terlalu dalam kok. Mungkin hanya sebatas pinggang. Jadi tidak perlu berenang. Kita cukup berjalan mengarungi air untuk sampai ke darat,” ujar petugas itu.
“Pak, coba kita kembali lagi ke pelabuhan. Biar saya yang bicara dengan penjaga pulau itu. Kita gak mungkin turun dari sini,”
“Maaf mas, tapi penjaganya sudah tidak ada di pelabuhan itu. Sudah pergi,”
“Lebih bagus kalau udah pergi, kita naik aja dah. Toh gak akan tau juga mereka. Kan mereka gak ada disana,” timpal Endri kesal. “Eh, gilak ya. Kita masih di Indonesia kan ini? pulau ini masih milik kita kan? Tapi kita gak bisa masuk sembarangan cuy, apalagi nanti kalau pulau ini udah benar-benar jadi milik asing,” decaknya tak terima.
__ADS_1
“Ya pake paspor kali kita kalau mau kesini,” timpal salah satu temannya.
Begitulah adanya, pulau C memang salah satu pulau yang sebentar lagi akan disulap menjadi sebuah privat island. Pulau ini sedang dalam sengketa kepemilikannya. Tapi yang jelas, untuk saat ini pembangunan besar-besaran di pulau ini adalah Grand proyek perusahaan asing dari negeri kangguru. Masyarakat lokal masih diizinkan masuk asal tidak dari pintu pelabuhan.
Seluruh pekerja di pulau ini adalah masyarakat lokal dan perantau yang sudah sejak lama terisolasi disini tanpa bisa kemana-mana. Mereka sudah menandatangani kontrak yang mempersulit mereka untuk pergi.
Tidak banyak yang tau, atau tepatnya tidak mau tau. Banyak anak-anak dari para pekerja yang terpaksa hidup di pulau ini, jauh dari fasilitas kesehatan dan Pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan. Mereka biasanya ke dusun Tiung untuk mendapat fasilitas kesehatan di puskesmas seadanya. Itupun hanya diizinkan kalau kondisinya sudah sangat darurat.
Untuk bersekolah, beberapa diantara mereka ada yang menyekolahkan anak-anaknya ke Desa Kunci. Karena jarak yang cukup jauh ditambah transportasi yang langka, membuat mereka putus asa dengan rutinitas yang kian sulit hingga akhirnya satu persatu anak mereka hanya mampu bersekolah sampai kelas tiga sekolah dasar.
Kondisi ini yang menggerakkan hati komunitas Putera Bangsa untuk melakukan observasi langsung kesini. Melakukan kegiatan yang berkesinambungan untuk dapat melakukan sesuatu yang menghungkan dengan pemerintah setempat, agar anak-anak disini bisa mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan.
Dan disinilah mereka sekarang, bukan untuk memperkarakan izin pendirian, atau birokrasi apapun di tentang keberadaan pulau ini. Melainkan datang untuk berkunjung, mengamati, bermain bersama agar ikut memahami arti dari gelak tawa anak-anak disini.
Dan mengupayakan adanya kebijakan untuk memperbaiki roda nasib mereka yang terpaksa berada di pulau asing ini. Hanya itu. Tapi lihatlah, mereka tetap dipersulit untuk dapat menjangkau pulau di tanah airnya sendiri.
“Jangan sembarangan En, itu malah akan mempersulit kita, ingat tujuan utama kita kesini kan?” ucap Ditya. “Wiy, sebaiknya kamu kembali ke dusun saja, tunggu kami disana. Kamu tidak perlu ikut ke pulau. Ini terlalu berbahaya. Biar kami saja yang turun,” ujarnya pada Wiya.
“Saya ikut menjalankan visi ini memang karena saya ingin ke pulau ini dokter, jangan terlalu mengkhawatirkan yang tidak perlu,” ucapnya yakin membuat lawan bicara tidak bisa mendebatnya lagi.
Karena tidak ada cara lain untuk dapat memasuki pulau itu, mereka akhirnya turun perlahan ke laut. Ditya yang pertama melakukannya. Batas air hanya sedikit diatas lututnya. Ternyata memang tidak terlalu dalam. Karena masih cukup pagi, arus juga tidak terlalu deras sehingga tidak ada gelombang besar yang akan menghantam mereka.
Wiya tertawa melihat tingkah ke lima temannya yang turun dengan berbagai macam gaya. Saat tiba gilirannya, ternyata tidak terlalu mudah. Ditya mengambil beberapa barang yang akan dibawa dan diletakkan di atas kepalanya agar tidak ikut terendam air laut, termasuk ransel milik Wiya.
"Bismillah," ucapnya lirih.
Wiya mulai dengan duduk di bagian depan badan boat dan mencelupkan kakinya ke air,sepatunya sudah dibuka hanya tersisa kaos kaki yang melapisi bagian dari auratnya. Dia membalikkan badannya dan berpegangan dengan badan kapal sampai tubuhnya mendarat sempurna di tanah.
Huuup
Byuurr
Akhirnya kaki Wiya menjejak ke pasir, hampir separuh tubuhnya masuk ke air, matanya terpicing karena percikan air asin. ternyata air naik sebatas pahanya. Jelas saja, postur tubuh Wiya memang lebih kecil dibanding Ditya dan yang lain.
"Yeah! I did it! Ahahaha " pekiknya.
Mereka berjalan beriringan dengan langkah yang sangat berat karena terhalang arus kecil. Obrolan ringan dan gelak tawa penuh semangat diantara mereka pecah begitu saja bersama angin yang berhembus dengan damai.
***
Setibanya di tepi pantai, mereka tidak langsung naik ke atas. Ditya mengambil daun kelapa yang berjatuhan untuk dijadikan alas duduk mereka sambil mengeringkan bagian tubuh yang basah.
Sekiranya sudah setengah kering, mereka mulai masuk ke pulau mengikuti jalan setapak menuju camp karyawan.
******************
.
.
.
__ADS_1
AYO YANG JEMPOLNYA BELOM DIMERAHIN, AKU INGETIN SEKALI LAGI BIAR GAK PADA LUPA YA ZHEYEEEENKS.