
Hasil rapat seluruh divisi memutuskan Ilma Qawiya adalah Manajer Divisi Keuangan yang baru menggantikan Ilham Gemilang yang sudah resmi keluar satu pekan yang lalu. Tim HRD juga sudah menyelesaikan tahap seleksi pencarian Assisten Manajer keuangan yang menggantikan posisi Wiya. Wiya tidak tertarik mengetahui siapa yang akan menjadi asistennya, sama tak tertarik dengan jabatan barunya. Pasalnya belum selesai Wiya bersedih karena kepergian Ilham, kini Mitty juga mengundurkan diri dari perusahaan karena dia akan memulai belajar menangani perusahaan ayahnya di Batam.
Wiya baru selesai melaksanakan shalat Dzuhur di ruangan barunya, Dia meletakan kembali alat shalat di tempatnya, wajahnya terasa segar karena hawa dingin diruangan terkena bekas air wudhu yang belum kering. Dia menatap nanar sekeliling ruangan Manajer keuangan yang luas dan lengkap dengan segala fasilitas.
Betapa dia rindu sosok yang sering datang hanya sekedar mengajaknya makan. Ingin sekali dia mengirim pesan mengajak Ilham makan siang, tapi pasti akan sungkan sekali rasanya sekarang.
"Ahh ternyata bukan hanya jarak yang menciptakan rindu, tapi kesibukan juga. Buktinya Ilham tidak pernah menanyakan kabarnya sejak sibuk mempersiapkan pernikahan dengan Brigitta"
Terdengar suara ketukan dari pintu depan, Wiya mempersilahkan tamu itu masuk keruangan. Seorang laki-laki muda seumuran dengannya. Laki-laki itu masuk dan duduk di hadapan sesuai perintah Wiya. Kepalanya sedikit menunduk dan tersenyum memperkenalkan diri.
Manis, mungkin itu yang bisa digambarkan dari laki-laki ini. Senyumnya menampakan gigi sungil dan dua lesung pipi yang dalam. Alis matanya tebal sedikit berantakan. Kulitnya putih bersih terawat dan hidungnya mancung mencuat. Rambutnya hitam lebat tertata rapi.
"Perkenalkan Bu, Saya Bian. Assisten Manajer Keuangan yang baru" Bian mengulurkan tangannya. Wiya menyambut hangat uluran itu. Bian sedikit takjub dengan atasannya yang baru. selama ini dia hanya mengamati Wiya dari jauh saat WIya selalu berada di belakang Ilham sebagai asistennya.
Bian sebelumnya adalah anggota tim Humas di salah satu outlet cabang.
"Qawiya! kamu boleh panggil saya Wiya. Ibu Wiya karena saya atasan kamu. Ruangan kamu di sebelah ya, bersama tim akunting yang lain. Nanti saya akan kirimkan e-modul SOP dan Job desk mu, kamu bisa pelajari dulu. Jika ada yang tidak kamu mengerti baru tanyakan pada saya" Terang Wiya panjang lebar.
Bian menikmati kalimat panjang atasan barunya. Selain cantik dan menarik cara Wiya berbicara juga menampilkan kecerdasan dan profesionalismenya dalam bekerja. Bian senang bisa bekerja di dekatnya, eh maksudnya di bawah arahannya.
"I-Iya Bu, Baik. Akan sesuai arahan Ibu Wiya"
Mereka terlibat beberapa pembahasan sampai akhirnya Zayn datang, melihat pintu ruangan Qawiya yang tidak dikunci Zayn langsung masuk ke dalam.
Ekspresinya seketika keruh melihat Wiya sedang tersenyum dengan seorang laki-laki dan hanya berdua di ruangan ini. Zayn belum pernah melihat laki-laki itu sebelumnya.
Wiya terkejut melihat Zayn yang sudah berdiri di belakang kursi Bian. Bian ikut melihat ke arah pandang mata Wiya dan seketika berdiri dan menundukan kepala setelah tau yang datang adalah Direktur Utama.
"Kamu keruangan saya, sekarang!" Ketus Zayn pada Wiya.
Wiya gelagapan merasa terciduk sedang berduaan, Padahal mereka sama sekali tidak melakukan apapun.
"Bian, sekarang kamu boleh istirahat makan siang dan silahkan lanjutkan pekerjaan diruangan mu"
"Saya bu!"
Bian berjalan keluar dari ruangan. Setelah Bian hilang dari pandangan, Wiya pun keluar dari ruangan itu menuju ruangan Zayn. Zayn ternyata sudah menunggunya di sofa dengan tatapan menyalahkan.
"Kenapa lama sekali?" Tanyanya ketus
Wiya tidak menjawab dan langsung duduk disebelahnya. Wiya mengalungkan lengan Zayn ke bahunya lalu menyilangkan kakinya.
"Kamu udah makan?" Tanyanya lagi sambil melihat ke mata Zayn yang dipenuhi prasangka.
"Aku mau memakan mu! Jawab pertanyaan ku! Kenapa kamu begitu lama?"
"Apa Zayn? Apa yang lama? Aku hanya memberi arahan tugas-tugas utamanya"
"Siapa dia?"
"Dia? Bian?"
__ADS_1
"Oh kalian sudah kenalan?"
Wiya berdiri, enggan sekali meladeni sikap Zayn yang selalu cemburu pada semua hal. Masih wajar jika cemburu pada Bian. Kemarin Ilham, lalu tukang parkir, Bapak satpam sampai unicorn yang selalu Wiya peluk tiap malam. Memang sih dia selalu bilang setiap hal yang dia rasakan. Tapi selama hubungan mereka berjalan sebagian besar isinya hanya kecemburuan yang tidak masuk akal.
"Lebih baik kita sekarang makan siang, cemburu akan membuat mu makin lesu" Wiya terkekeh melihat tingkah Zayn.
"Kita makan siang disini saja! Aku tak mau kamu bertemu dengannya lagi diluar sana"
Zayn kini berpindah ke meja kerjanya akan meminta Rifa memesankan makan siang untuk mereka.
"Pak Zayn Dwika Haris, Bian itu asisten manajer keuangan yang baru. Aku akan bertemu dengannya dengan setiap hari"
Zayn menatap Wiya tajam. Dia baru tau pria itu yang lulus seleksi rekruitmen perusahaan melalui tim divisi kepegawaian.
"Seorang Pria?" Tanya Zayn tak percaya
Wiya mengangkat kedua bahunya bersamaan.
"Hem , Mana aku tau, itu yang HRD kirim ke ruangan ku"
"Aku akan menghubungi HRD untuk menggantinya dengan asisten perempuan"
Wiya menahan tangan Zayn dari gagang intercom.
"Zayn! Cukup! Tim HRD pasti sudah bekerja keras dan tidak sembarangan melakukan seleksi. Bian pasti yang terbaik diantara yang lain. Bian tidak melakukan kesalahan apapun "
"Baiklah, hanya untuk hari ini ! Jangan sampai kamu melakukan hal yang membuat si Bian Bian itu menerima akibatnya, Wiya."
"Ketimbang rasa cemburu yang kamu besar-besarkan, mending hubungan kita diusahakan gitu, biar ada kemajuan"
Hening. Zayn tak bergeming mendengar kalimat Wiya. Ya, hubungan mereka memang belum ada kemajuan sampai hari ini. Hanya Rifa, Ilham, Mitty dan keluarga Wiya yang lain yang mengetahuinya. Tiba-tiba saja Wiya meminta sebuah kemajuan. Di luar sana akan banyak lagi orang yang akan memberinya kepastian kalau Zayn masih betah jalan ditempat.
"Kamu mau makan apa? Aku minta Rifa pesankan" Zayn mengalihkan pembicaraan.
"Gak usah, aku udah pesan. Sebentar lagi Risa akan naik mengantar makan siang kita" Wiya mendudukan diri di atas sofa dan menyalakan TV yang ada di ruangan itu. Zayn ikut duduk disebelahnya merapatkan posisinya. Wiya menoleh sekejap ke arah kekasih manjanya dan kembali menatap TV.
"Risa siapa? Laki-laki?" Tanya Zayn putus asa.
"Astaga Zayn!!! Risa itu kepala waitress dibawah." Tukas Wiya sedikit kesal
"Ya dia laki-laki atau perempuan? Aku tidak hafal semua karyawan disini Wiya" Zayn masih kekeh bertanya.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu dari Rifa yang mengantarkan makanan dari Risa. Wiya seketika berdiri menjauh dari Zayn yang bersandar di lengannya. Wiya menghampiri Rifa dan mengambil makanan yang dia pesan tadi.
"Rifa tunggu" Cegat Zayn saat Rifa akan menutup pintu. Rifa otomatis berhenti di tempatnya
"Risa tadi, laki-laki atau perempuan?" Rifa mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan bodoh itu.
"Risa...Risa...hmm, Itu Risa masih berdiri disitu pak"
__ADS_1
Zayn berjalan ke depan , rasanya belum tenang kalau belum memastikan dengan siapa Wiya berkirim pesan. Dari depan pintu ruangannya dia melihat Risa berdiri menghadap ke meja Rifa. Rambutnya memang panjang, ah tapi kan laki-laki mungkin saja berambut panjang. Zayn memilih untuk memastikannya sendiri.
"Risa!"
Risa terkejut menoleh. Selama bertahun-tahun dia bekerja baru kali ini Direktur menyebut memanggilnya dan hanya menyebut namanya. Kaget bercampur takut Risa menoleh menjawab panggilan itu tak lupa sedikit menundukan kepala.
"Sa-saya Tuan"
Zayn menghembuskan nafasnya lega sekaligus mengutuk kebodohannya.
"Tidak apa-apa, silahkan kembali bekerja!"
Rifa dan Wiya menutup mulut mereka dengan tangan menahan tawa. Zayn melangkah masuk mengabaikan Rifa .
Wiya mempersiapkan makan siang mereka, menata yang tadi Risa bawakan di atas meja. Tiga Porsi iga bakar, dua capcai komplit dan tiga Ice lemon tea.
"Aku panggil Bu Rifa ya, biar kita makan bareng"
"Aku maunya makan berdua kamu" Protes Zayn
"Tapi ini porsi tiga orang, Sayang!"
"Eh, Apa????"
"Ng.Nggak Enggak!! Udah ah aku mau panggil Bu Rifa" Wiya beranjak dari duduknya. Secepat mungkin Zayn menarik tangan itu membuat Wiya duduk kembali disampingnya.
"Panggil aku dengan sebutan tadi" Zayn mengunci tangan dan tatapannya di mata Wiya.
"Enggak enggak, tadi aku keceplosan" Elak Wiya
"Yasudah kita akan tetap begini"
"Ehh Zayn lepasin!" Wiya berusaha melepaskan tangannya "Iya iya iya! Lepasin dong, sayang!"
Zayn tersenyum puas penuh kemenangan. Dia melepaskan tangan Wiya dan membiarkan Wiya berdiri.
"Rifa mau makan siang sama Azmi, jangan ganggu jadwalnya!" Ucap Zayn asal.
"Az-mi? Asistennya Brigitta?" Tanya Wiya tak menyangka
"Hemmm" Jawab Zayn tanpa melihat ke arah Wiya
"Kenapa kamu gak bilang dari tadi sih Zayn!! Lalu ngapain aku bilang sayang sayang sayang kalau akhirnya begini" Rutuk Wiya kesal.
"Iya, iya maaf sayang. Sini" Zayn menepuk nepuk posisi disebelahnya "Ayo temanin aku makan" pintanya.
Pipi Wiya bersemu merah mendengar panggilan yang baru pertama kali Zayn sebutkan untuk dirinya.
Baru dipanggil sayang doang
ruh gue bisa melayang layang
__ADS_1
jiwa gue selemah itu memang!