Utuh

Utuh
GONTAI


__ADS_3

Wiya turun ke lantai bawah sendirian. Belum terlalu malam, tapi rumah sakit sudah cukup sepi karena jam besuk sepertinya sudah berakhir. Dia hanya sendirian di dalam lift dari lantai 9. Bulu kuduknya meremang, lift terasa turun sangat lambat.


Kalau kondisi hatinya sedang normal dia pasti tidak akan berani. Tapi perasaan kecewa yang menghinggapi hatinya bisa menutupi semua ketakutan akan setan, jin dan sebangsanya.


Ting


Lift berhenti tepat di lantai 1 rumah sakit yang terhubung dengan pintu keluar. Seperti ada yang mengikutinya dari belakang. Wiya berhenti sebentar melihat sekeliling, hanya seorang perawat di meja informasi.


Dia mengikat rambutnya yang tadi tergerai, mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, rencananya akan memesan taksi, tapi ponsel itu mati, dia lupa mengisi daya sebelum pergi tadi. Lalu dia melanjutkan perjalanan melewati pintu yang tergeser otomatis saat dia berada di depannya dan keluar dari gedung rumah sakit.


Wiya berjalan kaki menyusuri koridor lingkungan rumah sakit, tas tangannya di ayun-ayunkannya ke lutut. Fikirannya kosong, entah dengan apa dia akan pulang ke rumah. Memikirkan kata-kata Bi Titin tentang Ibu Wulan tadi, Wiya tak percaya sama sekali.


Apa salah dirinya sampai Bu Wulan segitu tidak suka padanya, walau dia bukan dari golongan atas tapi dia berasal dari keluarga baik-baik dan berpendidikan.


Wiya bukan pelaku kriminalitas dan tidak punya rekam jejak yang menyeramkan sehingga bisa membuat Bu Wulan shock bahkan sampai pingsan. Jika memang bersalah, kesalahan Wiya paling masuk akal adalah menyembunyikan hubungannya dengan Zayn satu tahun ini.


Tapi itu juga bukan keinginannya. Wiya yakin Bi Titin tadi sedang mengarang cerita dan sayangnya keponakan yang kepalang panik itu percaya begitu saja.


Wiya jauh dengan angannya sehingga tak sadar seseorang dengan sepeda motor sedang mengikutinya perlahan dari belakang. Ini lebih menakutkan untuk Wiya dari pada hantu atau cenayang.


Dia merapal doa dalam hati tak ingin hal-hal buruk terjadi. Tapi suara deru motor besar itu semakin dekat dan malah memanggil namanya. Wiya mempercepat langkahnya dan hampir saja dia akan berlari.


"Wiya, Qawiya, berhenti!!!" Seseorang dengan Mogenya berhenti menghalangi jalan Wiya. Wiya masih terdiam, dia mengenal suara itu. Tapi dia masih menunggu pria itu membuka helm yang menutupi seluruh wajahnya.


"Ilham..." Seperti bertemu oase di gurun pasir. Rasanya ingin sekali Wiya memeluk Ilham dan menumpahkan tangisnya di pundak itu seperti yang sering dia lakukan dulu. Iya saat ini dia butuh Ilham. Tapi Ilham sekarang adalah suami orang. Wiya tak mungkin menggunakan alasan patah hatinya untuk bisa bermanja-manja dengan suami Brigitta sekarang.


"Kamu abis dari mana? Ngapain sendirian dijalanan malam-malam gini" Raut wajah Ilham benar-benar terlihat khawatir.


Ingin rasanya dia katakan yang sejujurnya bahwa dia baru pulang dari rumah sakit menjenguk calon mertua yang shock dan jatuh pingsan karena calon menantu seperti dirinya.


"Aku nungguin Zayn. Kamu?" Ucapnya berbohong. Ilham menautkan kedua alis dari balik kacamatanya.


"Zayn kemana? Kamu jangan bohong! Ayo aku antar kamu pulang aja. Aduh kamu tau gak sih ini tu bahaya buat kamu." Geramnya.


"Eh, ja-jangan. Zayn sebentar lagi sampai. Kamu mau kemana ?"

__ADS_1


"Aku mau cariin Moci buat Brigitta, dia lagi ngidam"


"Ha? Bukannya bayi kalian baru 3 bulan ya?"  Tanya Wiya heran.


"Heehehe. Iya. Alhamdulillah kami dikasih kepercayaan lagi." Ilham menggaruk tengkuknya antara bahagia dan malu membicarakan ini kepada Wiya.


"Wah, selamat kalau gitu, Ham!"


"Yaudah, aku tungguin kamu sampe Zayn datang ya."


"Eh, jangan. Kasihan Brigitta pasti nungguin kamu dan mocinya."


"Aku bisa telpon dia, kamu gimana Wiya?  Aku ga akan tinggalin kamu disini sendirian." Ilham  benar-benar tulus mengkhawatirkan Wiya.


"Zayn sebentar lagi beneran datang kok Ham, serius! Udah sana kamu buruan cariin mocinya."


"Wiya."


"Buruan Ham, nanti Brigitta keburu hilang moodnya loh"


Membayangkan mood istrinya seperti yang Wiya katakan Ilham benar-benar bergedik ngeri. Belum lama dia menjalani penyiksaan selama istrinya ngidam.


Dia terpaksa meninggalkan Wiya karena Wiya juga memastikan dirinya baik-baik saja.


"Kabari aku kalau kamu sudah sampai dirumah Wiy" Ilham sudah memasang kembali helmnya dan menyalakan mesin motornya. Wiya tidak menjawab lagi hanya melambai-lambaikan tangan sampai terlupa meminjam ponsel Ilham untuk memesan taksi.


Sambil kembali merutuki kebodohannya. Wiya kembali melanjutkan langkahnya yang entah mau dibawa kemana. Perasaan di intai dan diikuti belum hilang sejak dia turun lift tadi. Tiba-tiba terdengar deru motor mendekatinya kembali dari arah belakang semakin lama semakin dekat.


Wiya berhenti dia mengira Ilham berbalik arah menemuinya kembali. Wiya berhenti, berbalik menghadap ke belakang. Ternyata bukan Ilham, helm dan motonya berbeda.


"Bian" Ucap Wiya saat pengendara itu membuka pelindung kepalanya.


"Wiya, bener kamu Wiya. Aku perhatiin dari sana tadi"


Kenapa jadi banyak orang yang gue kenal gini.

__ADS_1


Bian menolak formal jika tidak sedang berada di perusahaan atau urusan pekerjaan. Lagipula mereka seumuran.


"Kamu ngapain kesini?" Tanya Wiya heran sekaligus malu, assistennya mendapatinya dalam keadaan begini.


"Kamu yang ngapain Wiy, disini malam-malam begini? Kamu abis dari mana?" Bian memperhatikan penampilan Wiya. Masih terlihat cantik walau rambutnya sudah sedikit berantakan tertiup angin malam sambil berjalan kaki.


"Bukan urusan kamu, Bian!" Wiya melanjutkan langkahnya. Tapi Bian dengan lancang menarik pergelangan tangannya. Wiya melirik tajam di sentuhan itu.


Tampak sekali dia tidak suka diperlakukan demikian. Padahal di kantor Bian ini tipe yang sangat profesional, tapi diluar pekerjaan, sifat aslinya dia sangat menyebalkan. Mencari perhatian Wiya dengan berbagai cara.


Bian melepaskan genggamannya.


"Oke oke, Maaf. Maaf Wiy. Tapi ini udah malam. Ayo aku antar kamu pulang. Sumpah Wiy, aku gak bermaksud memanfaatkan situasi. Ditepi jalan begini beneran bahaya untuk Wiya. Apa-apaan sih kamu jalan-jalan kaya, mohon maaf ni Wiy, tapi kaya orang hilang akal gitu"


Gak usah lo pertegas juga kali.


"Hemmmm" Wiya tampak sedang berfikir


"Ayo Wiy, naik" Bian sudah siap menyalakan mesin motor dan memakai kembali helmnya.


Wiya memperhatikan motor Bian yang tinggi dan kondisinya saat ini yang menggunakan long dress. Lagipula apa kata orang rumah nanti saat melihatnya pergi dengan Zayn tapi pulang dengan laki-laki lain. Tapi jika tidak menerima tawaran Bian dia harus kemana lagi sekarang.


"Terimakasih Bian. Saya tidak bisa menerima tawaran mu. Kalau kamu tulus mau menolong saya, boleh saya pinjam hp kamu? Buat pesan taksi"


Bian mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan membuat pesanan taksi ke titik dimana dia dan Wiya kini berada.


"Aku akan temenin kamu sampai taksi datang"


"Hemm, Terimakasih Bian. Saya berhutang budi"


"Kamu bisa membalasnya, jika mau"


Wiya reflek menatap Bian tajam.


"Hahaha, becanda Wiy. Eh itu taksinya udah datang"

__ADS_1


Setelah menutup kembali pintu mobil untuk Wiya. Bian dengan tenang segera pergi melanjutkan perjalanannya.


Seseorang yang mengekori Wiya sejak Wiya turun lift tadi, lega melihat Wiya sudah aman di dalam taksinya. Dia berbalik melangkah ke arah rumah sakit yang sudah cukup jauh ditinggalkannya dengan berjalan kaki. Dia akan kembali menemani Ibunya disana.


__ADS_2