
Mitty pun berlalu menuju kamar Wiya mendapati sahabatnya yang ternyata tertidur dengan posisi ponsel tepat di atas batang hidungnya. Perlahan Mitty ikut naik ke atas ranjang yang empuk ikut berbaring disebelah Wiya tanpa berniat membangunkan sahabatnya. Mitty menatap langit-langit kamar Wiya yang putih memikirkan semua yang tadi Ridwan katakan. Dia baru teringat saat tadi main tebak-tebakan soal, Seharusnya dia punya 3 pilihan bantuan, dia bisa minta bantuan penonton, fifty-fifty atau menelpon seseorang tapi tak satupun terpikir untuk digunakan, hingga kelelahan menggelayut di kelopak mata dan membuatnya terlelap disamping Wiya.
Wiya lebih dulu tersadar saat dering suara ponsel yang masih terletak di atas batang hidungnya. Satu panggilan dari nomor tak dikenal, Wiya tak langsung menjawabnya karena kaget mendapati Mitty yang entah sejak kapan sudah tidur disampingnya. Seingatnya tadi malam Mitty tidak nginap disini. Setelah kesadarannya kembali penuh dia baru teringat sudah ada janji dengan sahabatnya itu dan Mitty pasti menunggunya sejak tadi sampai ketiduran. Wiya membangunkan Mitty dengan hati-hati dan saat Wiya bertanya
“Kok tumben gak langsung bangunin gue"
Mitty hanya menjawab,
“Semua yang terjadi selalu ada hikmahnya Wiy"
Siang ba’da shalat jumat ternyata hujan lebat. Mereka membatalkan rencana nonton film tadi. Setelah makan siang bersama, Ibu meminta Wiya dan Mitty membantu Ibu menginput belanjaan member dan mendaftarkan puluhan line down baru yang di bawahi langsung oleh Ibu. Mumpung ada dua tenaga keuangan professional yang hari ini cukup dibayar dengan makan siang.
Saat hujan mulai reda, Ibu meminta Wiya dan Mitty mengantarkan beberapa pesanan yang katanya emergency. Mulanya Wiya enggan, tapi Bang Ridwan sejak pergi shalat jum’at tidak juga pulang. Dan saat melihat alamat yang akan diantarkan salah satunya atas nama Wulan Santi dan alamat Itu kan….
__ADS_1
Wiya yang tadinya masih punya beberapa alasan, sekarang tidak lagi. Dia dengan semangat mengganti bajunya, mengambil beberapa paper bag dan langsung pergi dengan sepeda motornya. Mitty ikut duduk di belakang. Mereka bercanda ria sepanjang perjalanan, berbagi suka-duka selama menjadi admin sekaligus kurir dadakan.
Wiya antusias sekali saat tinggal tersisa satu alamat lagi, sempat-sempatnya dia memoleskan sedikit lipbalm, dan meminta Mitty yang mengendari motornya. Mitty sempat mengernyit heran. Udah kaya abang Ojol yang mau nganterin makanan kerumah gebetan. Hingga sampailah di depan rumah Ibu Wulan Santi disambut satpam yang sudah tak asing lagi dengan wajah Wiya dan tentu saja langsung dipersilahkan masuk. Mitty yang belum pernah datang kesini mulai menerka-nerka rumah siapa kah gerangan?
Semakin mendekati pintu rumah yang tertutup, hati Wiya justru semakin terbuka. Bersiap-siap menerima seseroang yang akan menyambut dari baliknya. Inikan hari libur mungkin dia juga menghabiskan waktu dirumah bersama keluarganya, begitu fikir Wiya.
Akhirnya sampai juga di ambang pintu utama. Seseorang datang dari dalam karena mendengar suara bel yang di tekan. Pintu itu terbuka perlahan. Laki-laki hanya dengan kaos putih tipis yang kekecilan dan boxer kuning bermotif kelelawar terbang (baca: Batman). Double kaget untuk Mitty, pertama kaget karena yang sedang berdiri di depannya adalah bossnya sendiri.
Itu berarti, tadi Wiya yang semangat, Wiya yang pake lip balm dan Wiya yang nyuruh-nyuruh Mitty membawa motornya, adalah Wiya yang tak sabar bertemu dengan Pak Zayn? Sejak Kapan Wiya Jadi kecentilan?
“ No-Na Qawiya?“ Tercengang. Saat dia bersusah payah menghindar dari jangkauan gadis ini kenapa dia malah datang sendiri? apa besok di kantor dia akan menyalahkan Zayn? karena tidak pindah keluar negeri sekalian.
__ADS_1
“Pak Zayn, tapi di alamat ini atas nama Wulan Santi” Ucap Mitty melihat kembali alamat yang tertera di paper bag besar itu.
“Iya Mitty, ini rumah saya. Wulan Santi tentu saja nama Orang tua saya, apa kamu lupa dengan nama Istri dan Pak Haris? Ada apa kalian kemari ? ayo silahkan masuk“ Zayn mempersilahkan keduanya.
Mitty menepuk jidat karena ketidak tahuannya. Wiya yang dari tadi hanya memasang muka manis buru-buru akan melangkah masuk ke dalam tapi dihadang oleh tangan Mitty membuat Wiya dan Zayn serentak melihat heran ke arahnya.
“ Ma-maf pak, kami hanya ingin mengantarkan pesanan Ibu Wulan"
“Oh Begitu, Mama baru saja berangkat ke Singapore bersama papa, di dalam ada Nikki dan Vhieya kalian tidak mau masuk dulu?”
“Ma-u…!” Ucap Wiya terputus
“Tidak Pak, terimakasih, masih banyak yang harus kami antar. Permisi Pak Zayn.”
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari boss yang hari itu adalah customer mereka, Mitty menarik tangan Wiya dan melangkah pergi ke tempat sepeda motor mereka terparkir tadi. Mitty buru-buru memberikan helm kepada Wiya dan melaju dengan kecepatan 60KM/s membelah jalanan menuju rumah Wiya yang memang tidak terlalu jauh.