
Sesekali suara gemercik air karena lompatan ikan-ikan kecil yang naik ke permukaan seolah tak ingin ketegangan makin lama lagi di atas lantai kayu ini.
Ilham Gemilang, tak ada yang kurang dari dirinya. Dia tampan , mapan, bersahaja, sangat perhatian dan berhasil menarik perhatian kedua orang tua Wiya.
Ada memang rasa nyaman saat berdekatan dengan Ilham, dia sangat mengerti segala hal tentang Wiya. Ilham sangat bijaksana menghadapi masalah pekerjaan yang Wiya keluhkan padanya. Tapi Wiya tak pernah membayangkan sebuah hubungan yang lebih dari sekedar teman. Itu masalahnya.
Wiya menarik telapak tangannya perlahan.
“Wiya, tadi adalah semua kata yang aku ingin kamu dengar. Sekarang berikan jawaban mu. Jawablah dengan sadar. Mumpung gelap belum memudar”
Gadis manis bermata bulat masih tercekat berusaha menyusun kalimat. Sementara langit sudah kian pucat. Apakah pagi sudah semakin dekat ?
“Sa-saya, saya “
Wiya mencoba mengeluarkan kalimat walau tersendat. Sejenak bicara kemudian diam selanjutnya
Hey lihatlah
Hanya tersisa sedikit gelap
Dan kita hanya saling menatap
Apakah juga akan menetap ?
Tidak Wiya, tidak aku tak akan mengharap
“HAAAAD..." Wiya membuang nafas berat Bersama ketakutannya. Hadapi !!! ya sekarang giliran Wiya berbicara.dia akan menyelesaikan kalimatnya.Malam ini tidak boleh ada lagi yang di pendam antara mereka berdua.
“Ilham , sepanjang apapun kalimat yang akan saya ungkapkan . Itu tak akan bisa menjadi jawaban yang kamu harapkan. Untuk itulah saya Cuma bisa bilang, maaf !“
Tidak pernah memilik pengalaman ditembak, otomatis tak punya pengalaman menolak. Entah apa yang Ilham rasakan setelah kalimat itu berhasil keluar dari dari mulut Wiya. Tatapan penuh pengharapan tadi sekarang sudah berganti senyuman manis yang tak pernah Wiya sangka sebelumnya, sedikit memberikan keberanian untuk mengungkapkan kalimat selanjutnya.
__ADS_1
“Ilham , tolong maafkan saya,saya bisa saja memaksakan hubungan kita lebih dari yang sekarang kita jalani. Tapi saya yakin kamu tak akan sabar menunggu saya bisa membuka hati”
Senyuman itu semakin terkembang, malah sekarang menampakan rahang-rahang yang membuat wajah Ilham semakin terlihat tampan.
“Ilham, jangan seperti itu saya mohon. Tadi kamu bilang tak akan ada yang berubah bukan ? saya tetap ingin kita berteman “
Bukankah seharusnya Ilham sakit mendengar penolakan ini ? tapi kenapa senyuman itu tak menyiratkan kecewa sedikitpun. Yang dia rasakan justru lega dan seperti beban yang selama ini dia tahan hilang menguap begitu
saja, Bersama angin malam yang semakin dingin.
Ilham mengusap rambut Wiya lembut. Wiya sampai memejamkan mata menikmati sentuhan di kepalanya itu .
“Kenapa kamu meminta maaf pada ku? Oh iya aku tau, kamu pasti sadar sudah membuat kesalahan kan?”
“haa? Saya, tidak, apa salah saya?”
“Kamu bersalah memenjarakan perasaanku sekian lama hanya untuk mengungkapkan ini. Dan malam ini akhirnya aku terbebas dari memikirkan mu. Aku tau perasaan mu. Aku sakit. Tapi lebih sakit lagi jika aku tak mengungkapkanya malam ini. Terimakasih Wiya, Terimakasih sudah menjawab tanya ku" Usapan di
“Ih… kamu udah mirip bang Iwan deh, seneng banget ngeberantakin rambut orang” sungut Wiya sambil melihat laya ponsel sebagai cermin untuk merapikan kembali rambutnya.
“Wiya“
“Ya?“ Jawab Wiya dengan nada paling lembut.
“ Mulai malam ini kita berteman?”
“Hey, kamu lupa kita sudah berteman sejak lama“
“Tidak ! kamu yang lupa, sejak dulu aku tak pernah menganggap mu sebagai teman”
“Hm, yasudah mulai malam ini anggap lah saya demikian, saya teman mu, kita berteman Ilham.”
__ADS_1
“Tapi, aku gak pernah dengar saya saya an begitu dalam pertemanan “ Ilham menyindir kebiasaan akut Wiya menyebut dirinya dengan “saya” .
“Hahahhaha, se penting itu panggilan panggilan begitu dalam hidupmu…”
“Bisakan ?”
“Iya Ilham Iya, aku bisa “
Kemudian Ilham hanya gemas melihat gadis mungil itu tertawa dan tak bisa menahan diri untuk tidak menarik hidungnya.
“Sakiit” teriak Wiya mendaratkan satu pukulan di lengan Ilham.
***
Kiranya gemintang malam itu enggan menyaksikan dua orang manusia saling mengungapkan perasaan yang ternyata lebih bahagia saat mereka hanya menjadi teman.
Ilham mengantarkan Wiya pulang. Suasana di perjalanan sangat menyenangkan tak lagi seperti tadi saat mereka pergi. Mereka berdua bahkan tak sungkan tertawa Bersama saat Ilham salah melafalkan lirik lagu barat yang diputarkan penyiar radio menemani perjalanan mereka.
Kalau di cafe tadi akustik terdengar koplo, sekarang musik klasik terdengar remix
mereka bernyanyi bersama bahkan dengan gerakan memukul-mukul lutut dengan tangan seolah mengikuti ketukan musik, kepala kekiri dan kekanan , mulut komat kamit mengikuti nada yang terdengar sumbang.
Malam ini pula, usai sudah kisah mereka. Hanya menjadi teman nyatanya tak seburuk yang Ilham bayangkan.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
CUNG YANG MAU JADI CALON ISTRI ILHAM. WKWKWKW..
JEMPOLNYA JAN KASI KENDORRR YAAAA
KOMENNYA JAN LUPAAA
__ADS_1