
Gerimis masih merintik di bumi, belum ingin berhenti. Cerah tak ingin hadir karena mendung belum juga mangkir. Senin yang basah untuk jiwa yang resah. Gadis manis yang tengah bersusah payah membentuk pertahanan diri, kenyataannya saat ini dalam satu mobil menuju kantornya. Berdua dengan Zayn sedekat ini, untuk pertama kali. Jaga hati? mungkin besok saja akan dicobanya kembali.
Beberapa detik dalam keheningan. Diluar sana lampu-lampu jalan masih menyala dan tampak terang, ditambah dengan lampu utama kendaraan. Banyak pejalan kaki yang berteduh di atap-atap pertokoan, pengendara motor banyak pula yang menerjang gerimis dengan jas hujan seadanya.
Kendaraan padat berlalu lalang sedikit berdesakan. Mungkin karena masih hujan. Wiya menatap kearah luar jendela, fikirannya melayang entah kemana.
“Qawiya!“
Panggil Zayn perlahan menyadarkan lamunannya.
“Hemmm”
Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan.
“Sepertinya kita akan telat sampai ke kantor.Gak apa-apa?”
Tanya Zayn sambil tetap fokus dengan kemudinya
“Gajiku pasti di potong dan bulan ini aku kehilangan bonus kedisiplinan. Kamu harus ganti semuanya diluar slip gaji!"
Jawab Wiya melirik jam tangan di pergelangan tangan kanannya.
“Kamu ternyata perhitungan sekali ya“
Zayn tersenyum simpul mendengar jawaban Wiya.
“Yasudah kalau begitu sekalian saja kita menepi. Mungkin bisa pesan secangkir kopi?”
“Tidak Bisa Zayn, aku tau kamu bossnya, tapi kita ga bisa seenaknya. Kita sama aja gak menghargai yang lain. Dan pula kerjaan ku banyak sekali. Kamu kan tau Mitty baru aja cuti.”
Jawab Wiya melihat ke arah Zayn. Tentu saja dia sama sekali tak ingin ada pembicaraan tidak menyenangkan tentang dirinya nanti. Dia tak ingin melanggar prinsip yang dia buat sendiri.
__ADS_1
“Iya, iya oke. Kamu tau aku boss nya. Dan sekarang kamu menggurui boss mu sendiri”
Wiya hanya tersenyum menanggapi jawaban Zayn. Kemudian keheningan kembali hinggap sampai traffic light berikutnya. Kali ini kemacetan cukup panjang dan lebih parah dari sebelumnya. Tiba-tiba Zayn teringat sesuatu yang mengganggu pikirannya beberapa pekan belakangan ini.
Dia sebenarnya ingin menanyakannya nanti pada Rifa. Tapi toh Rifa atau Wiya sama saja, mereka berdua perempuan. Dan punya pemikiran yang biasanya selalu bisa jadi pertimbangan.
“Oh ya Wiy, aku mau nanya sesuatu hal yang serius?”
Padahal Wiya sudah pernah kecewa sebelumnya dengan pertanyaan pembuka semacam ini, tapi jantung dan hatinya yang tak tau diri ini sama bergetar tak menentu seperti kemarin. Beruntung dia punya lisan yang mampu menetralisir.
“Apa ?“ Dengan nafas berat.
“Menurut kamu, apakah sebuah pernikahan butuh cinta, didalamnya?”
Semoga ini hanya pertanyaan basa-basi biasa.
“Meski banyak pernikahan yang berlangsung tanpa cinta. Tapi tentu saja kehadiran cinta akan menjadikan utuhnya sebuah rumah tangga“ Jawab Wiya dengan nada biasa saja. “Cinta biasanya hadir seiring kebersamaan yang terjalin,“ Sambungnya lagi “Sejauh yang aku tau, menikah adalah pembuktian dari cinta yang sesungguhnya, jadi
“Dan sebaliknya, tanpa pernikahan. Cinta kadang kala hanya seperti gerimis yang menghadirkan alur sebuah rasa. Deras, rintik lalu reda“ Dia membuang nafas beratnya sekali lagi.
“Menikah dengan orang yang kamu cintai?“ Tanya Zayn penasaran.
“Hu.um” Wiya mengangguk mantap mengiyakan seolah dia sedang membayangkan pangeran yang dia maksud.
“Bagaimana kamu bisa mengidentifikasi rasa cinta? Maksud saya bagaimana kamu bisa tau kamu telah mencintai seseorang?“
Wiya menjadi bingung bagaimana menarasikan semuanya. Dia belum tau jelas bagaimana deskripsi cinta itu sebenarnya. Seketika hatinya juga bertanya-tanya mengapa para penyair begitu mudah menggambarkan cinta yang seketika tampak indah dengan pembendaharaan kata yang mereka punya?
Tapi bermodalkan nilai ujian Bahasa Indonesia yang pas pasan, dia nekat bermajas memberikan jawaban atas pertanyaan Zayn barusan.
“Gimana ya? Humm, mungkin seperti bulir air pada hujan itu. Dia tak tau kemana dia akan jatuh. Begitu pula cinta yang tak tau pada hati siapa dia akan luluh” Ungkapnya dengan majas personifikasi.
__ADS_1
“Oh ya ? Kemampuan berbahasamu boleh juga. Seperti orang yang sedang jatuh cinta.”
Puji Zayn dengan menyentuh ujung hidung Wiya. Sejak tadi benda itu terlihat sangat menggemaskan dimatanya.
“Lalu, lalu, Biasanya rasa yang kita bisa rasakan secara nyata tu yang kaya gimana?”
Lanjut Zayn sejurus memiringkan kepalanya untuk melihat mata bening gadis disebelahnya.
“Entahlah, tapi bisa jadi nih ya, hadirnya cinta di awali debar-debar kecil yang mendamba pertemuan-pertemuan tak disengaja. Emmm, biasanya hati tak pernah bisa menyembunyikan getarnya saat berdekatan dengan orang yang dia suka.”
Kiasan klasik yang keluar begitu saja dari lisannya membuat dia malu sendiri mendengar kalimatnya.
“Aaaaaaah, udah ah, gak tau gak tau gak tau gak tauuuuu! Nanti kalau udah jatuh cinta kamu juga bisa rasa kok. Ngapain nanya aku sih Zayn?“
Wiya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Zayn mengamati Wiya, dirinya masih tediam dengan barisan kalimat yang terdengar sangat lugas di pendengarannya.
Dia kemudian mengambil kedua tangan yang Wiya pakai menutupi wajahnya yang kemerahan. Tangan sebelah kanan Wiya diletakan di dada bidangnya sebelah kiri, posisi mereka kini berhadapan. Wiya patuh mengikuti instruksinya. Namun yang terdengar kencang malah detak jantungnya sendiri.
“Aku belum pernah merasakan hal semacam yang kamu sebutkan tadi. Aku tak tau apakah aku pernah melewatinya, tapi dada ini, dan jantung di dalamnya. Belum pernah berdebar untuk siapapun. Aku belum pernah jatuh cinta. Aku fikir itu hampir tidak mungkin dalam hidupku. Tapi aku ingin kamu membantuku jika nanti aku bingung apakah aku sedang jatuh cinta atau sebaliknya.”
Urai Zayn Panjang lebar sambil tetap menggenggam tangan Wiya di dadanya.
Gadis yang kini tertawan dalam pandangannya bingung harus berbuat apa dia semakin terjebak dalam labirin perasaanya. Zayn tidak pernah jatuh cinta? Itu artinya perasaan Wiya hadir di waktu yang tidak tepat. Tapi apa dia bisa sedikit lega? Karena itu artinya sebuah titik terang atas pertanyaannya antara Zayn dan Brigitta. Entah hubungan apa yang mungkin terjalin, yang jelas tak ada cinta diantara mereka yang sedang tumbuh. Setidaknya untuk saat ini, entahlah besok jika hujan sudah teduh.
Dan bunyi klakson kendaraan di belakang menyadarkan mereka bahwa lampu lalu lintas telah berubah hijau. Dua orang di dalam mobil itu terkejut namun saling melempar senyuman. Membiarkan memori mereka merekam semua diskusi canggung yang berlangsung hangat dibawah mendung. Dan demikianlah sejatinya hujan, rintiknya yang berjatuhan di bumi membentuk genangan, di hati meninggalkan kenangan.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
JEMPOLNYA JANGAN DILEWATKAN
COMMENTNYA JUGA YA MESKI CUMA BILANG NEXT AJA.HEHEHE.
__ADS_1
BERILAH VOTE HANYA JIKA KALIAN RASA AUTHOR LAYAK MENDAPATKAN POIN KALIAN YANG SANGAT BERHARGA. 😍😍😍 KARENA SEJUJURNYA KALIAN UDAH BACA AJA AKU UDAH BAHAGYAAAA BANGET KOK.