
Mitty dan Wiya sedang menikmati makan siang mereka di lantai dua. Pelayan sudah mengantarkan pesanan mereka, bukan hanya dessert yang tadi terbayangkan oleh Wiya, tapi juga ada lakse, roti kirai, mi tarempa dan lupis lengkap dengan saos gula arennya. Wiya benar-benar akan menghabiskan semua makanan khas itu. Berpura-pura bahagia akan menghabiskan banyak energi. Jadi segala sumber karbohidrat itu sangat cocok untuknya saat ini. Begitu yang ada di kepala Wiya.
Mereka sengaja memilih meja paling sudut belakang agar tak mudah terlihat dari arah depan kerena Wiya sedang menghindari bertemu dengan sang pemilik outlet itu. Namun malang tak berbau, niat hati menghindari Zayn dirinya malah bersebelahan meja dengan calon nyonya Zayn. Brigitta yang tampak sedang makan siang bersama seseorang wanita yang penampilannya tampak sangat mencolok, entah mungkin karena duduk berhadapan dengan Brigitta yang cantik dan anggunnya setara puteri Indonesia.
Saat Brigitta dan seseorang yang bersamanya tampak sudah selesai dengan makan siang mereka. Mereka sepertinya akan langsung menuju ke ruangan Zayn, namun Brigitta yang baru sadar ada Wiya dan Mitty disudut sebelah mejanya, seketika langsung menghampiri mereka berdua dan tak lupa memperkenalkan wanita yang sedang bersamanya.
Brigitta juga menyampaikan pada Wiya bahwa besok sore Zayn akan mentraktirnya teh tarik dan Brigitta mengajak Wiya secara khusus. Awalnya juga mengajak Mitty, namun entah kenapa tatapan Mitty seolah menyiratkan ketidak sukaan terhadap Brigitta dan Mitty dengan sedikit acuh menolak tawarannya.
“Iya Brigitta, tentu, tentu saja akan aku usahakan” Wiya menjawab terbata-bata. Sebenarnya dia menyesal kenapa tidak mencari alasan untuk menolak ajakan itu. Wiya merutuki kebodohannya.
Usai makan Wiya dan Mitty kembali ke ruangan dan mengerjakan pekerjaan yang tertunda tadi.
“Wiy, yang tadi itu beneran Bibinya pak Zayn ?”
“Gak tau gue Mitt. Kayanya iya deh. Gue pernah denger tuh waktu Zayn nelpon mamanya dia nanyain Bi Titin gitu, eh tapi tadi dia bilang Namanya Terecia, bukan Titin kan?”
“Hahaha. Bibi yang lain mungkin ya? Gak ada mirip miripnya sama Alm. Pak Haris atau Pak Zayn atau keluarga mereka lah pokoknya”
“Masa Sih Mitt, cantik kok dia. Tirus. Face n body goals banget!”
“Iya sih, tirus banget, dikit lagi mirip ujung sedotan ale ale"
“Itu lancip Mitt bukan tirus lagi, Mitty Julid ih”
Mereka melanjutkan pekerjaan sambil melempar obrolan-obrolan yang tak terlalu berfaedah.
Brigitta dan Bi Titin yang tadi keruangan Zayn ternyata sedang menunggu Zayn menyelesaikan pekerjaannya dan diminta mama untuk pulang kerumah karena akan ada designer perhiasan yang akan mendesign cincin pertunangan mereka. Walau Zayn sudah bilang dia menyerahkan semua pada Rifa, namun mama memaksa dengan cara mengirimkan Bi Titin untuk mengajak Zayn ikut pulang bersama mereka.
__ADS_1
“Aduh Bi Titin kenapa pake kesini segala sih, Bi”
Keluh Zayn pada bibinya yang dari tadi asik memutar mutarkan badan melihat sekeliling ruangan Zayn. Dia begitu takjub seolah tak pernah melihat kemewahan interior semacam itu sebelumnya.
“Bibi Terecia Zayn, bukan Bi Titin. Aduuuuuh Zayn, ribuan kali udah Bibi ingatkan jangan panggil tatan titin tatan titin lagi Zayn, bisa gak sih?” Ucapnya sambil mendudukan diri di sofa empuk diruangan itu. Kedua tangannya mengusap usap sofa bernuansa krem yang memang terasa sangat lembut.
“Titin juga bagus Bi, kenapa harus diganti Terecia segala. Gak masuk akal!”
Brigitta hanya tersenyum geli melihat tingkah Bi Titin dan keponakannya. Bi Titin adalah adik angkat Papa Haris saat beliau sedang dalam masa pengabdian Pendidikan di pulau terpencil di Kepulauan Riau. Jaraknya cukup jauh dari Kota Tanjungpinang karena harus ditempuh dengan kapal kayu. Papa Haris muda sangat terbantu saat berada di desa selama penelitian dan tinggal dirumah orang tua Bi Titin. Sehingga Bi Titin yang merupakan anak satu-satunya keluarga itu dianggap adik oleh Papa Haris.
Sejak papa Haris meninggalkan daerah itu, dia tak pernah melupakan budi baik orang tua angkatnya sampai kedua orang tua Bi Titin meninggal dunia, dan Bi Titin diberi kehidupan layak oleh Papa Haris dan dianggap sebagai adik. Mama Wulan pun sampai sekarang menerima Bi Titin sebagaimana papa Haris memperlakukannya.
Usianya hampir 40 tahun tapi Bi Titin belum pernah menikah. Banyak lelaki baik dan sederhana yang pernah ingin meminangnya tapi katanya dia mencari lelaki tampan dan kalau bisa kekayaannya menyaingi milik kakak angkatnya. Sejak dulu sebenarnya Bi Titin melirik Tuan Setiawan, namun jangankan jatuh ke pelukan, melihat sedikit sajapun tidak pernah sampai dia meninggal dunia.
Secara fisik dia tidak buruk. Namun perombakan di banyak titik di wajah dan tubuhnya membuat kealamiannya memudar. Tak terhitung entah sudah berapa kali dia merombak wajahnya terutama di bagian rahang agar nampak semakin tirus. Bukan hanya merombak fisiknya dia juga secara resmi telah mengganti nama pemberian orang tuanya. Titin Suherman menjadi Terecia Syabinaurus. Sekilas mirip macam-macam nama dinosaurus. Tapi Zayn dan kedua adiknya tetap senang memanggil dengan nama bawaan lahirnya. Titin.
Setelah mencium tangan Mama Wulan, Zayn langsung duduk disebelah kiri mama Wulan dan Brigitta di sebelah kanan Mama, sedangkan Bi Titin duduk berhadapan dengan mereka. Mulai membuka-buka buku katalog perhiasan itu mencari design yang sesuai selera.
Entah apa pengaruhnya namun Bi Titin juga ikut-ikutan membolak-balik buku itu dan kalap sekali melihat semua perhiasan yang indah dan tak akan mampu dia beli sendiri. Biaya perawatan wajah, dan tubuhnya saja selama ini saja kalau bukan karena tabungan yang Papa Haris berikan dia mungkin sudah tampak keriput dan menyedihkan.
“Eh, ini bagus ya Bii“ Tunjuknya pada gambar sebuah cincin dengan permata yang besar dan berkilau.
Brigitta dan mama Wulan melihat ke arah gambar yang dimaksud sedangkan Zayn tidak memperdulikannya sama sekali.
“Em, apa gak terlalu tua Tres, designnya ? permatanya itu loh mencolok sekali untuk Brigitta” Mama Wulan merespon dengan sopan menjaga perasaannya agar tak tersinggung.
“Hehe. Maksudnya bagus untuk ku Mba, bukan buat Bii.. heheheheh.” Cengirnya dengan percaya diri.
“Bi Titin gimana sih, katanya tadi nyariin buat Brigitta, kok malah milih buat diri sendiri” Ketus Zayn yang mendapat cubitan kecil dari mama Wulan di pahanya.
__ADS_1
“Hehehe. Iya Mba. Aku kan Cuma berkhayal saja. Mana mungkin aku mampu membelinya Mba. Mba kan tau sendiri aku ini sebatang kara, penghasilanku hanya yaa begitulah” Mengeluarkan kalimat andalannya yang sejauh ini mampu membuat mama Wulan sering Iba padanya.
“Jangan lagi bicara begitu Tres, kamu boleh ambil yang itu kalau kamu suka” Mama Wulan tersenyum tak enak.
“Ah, tidak Mbak Yu, aku mana punya uang sebanyak itu” Ucapnya seolah-olah menolak.
“Sudah ambilah, nanti sekalian Mba bayarkan sama punya Brigitta”
Bi Titin tersenyum dan menyeringai dalam hati dan menunjukan gambar yang dia pilih tadi kepada petugasnya. Namun tetap saja hati kecilnya merasa tidak puas. Andai dia tau triknya akan berhasil, ingin rasanya dia memilih yang lebih mahal dari ini.
“Astaga, kenapa jadi milihin cincin Bi Titin sih ini?“ Tukas Zayn yang sudah mulai buruk moodnya.
“Zayn!“ Tegur sang mama tegas.
Tidak butuh waktu lama akhirnya Brigitta mendapatkan pilihannya. Sebuah cincin emas putih tanpa permata dan hanya bertuliskan nama Zayn dan Brigitta di dalamnya. Tadinya toko cincin itu akan memberikan dua cincin gratis untuk Brigitta dan Zayn agar masuk ke dalam daftar sponsor di feed Instagram Brigitta. Namun Mama Wulan tidak mengizinkannya.
Pada akhirnya hari itu mama Wulan melakukan pembayaran untuk tiga cincin. Sepasang untuk Zayn dan Brigitta. Satu lagi untuk Bibi Tereciya.
Usai memilih cincin pertunangan, Brigitta langsung pulang kerumah bersama asistenya dan tak lupa mengingatkan Zayn tentang janji traktirannya besok sore. Brigitta juga mengatakan bahwa dia mengajak Wiya serta, sebenarnya tujuan Brigitta hanya agar mereka tidak pergi berdua. Zayn dengan senang hati menyetujuinya, karena sudah lumayan lama Zayn tidak bertemu Wiya dan sulit sekali menghubunginya.
Sementara di dalam kamarnya, Wiya sedang berjalan bolak-balik seperti setrikaan laundry sambil menekan keningnya berusaha mencari alasan apa yang tepat untuk tidak menghadiri ajakan Brigitta.
*************
AKU INGIN BANGET NGUCAPIN TERIMAKASIH BANYAK UNTUK SEMUA TEMAN-TEMEN YANG UDAH SUDI MELUANGKAN WAKTUNYA MEMBACA KARYA INI. UNTUK KESEDIAAN MENEKAN TOMBOL SUKA DAN APALAGI YANG UDAH DENGAN IKHLAS MEMBERIKAN KOMENTAR YANG JUJUR AJA BIKIN AKU LULUH DAN SEMANGAT. WALAU AKU SADAR DIRI DENGAN KUALITAS NOVEL INI, HEHEHEH.
PERNAH PAS LAGI ADA MASALAH YANG BERAT BANGET. WAKTU BACA KOLOM KOMENTAR TUH AUTO ADEM DAN TERLUPAKAN SEMUA YANG BURUK-BURUKNYA. TERIMAKASIH BANYAK TERUS BUAT YANG UDAH SUDI MEMBERIKAN VOTE NYA KESINI
MAAF YA JADI CURHAT. SEMANGAT DAN STAY SAFE BUAT KITA SEMUA DIMANAPUN BERADA
__ADS_1