Utuh

Utuh
SEASON II : EPS 7


__ADS_3

Risma tampak membereskan beberapa perlengkapan yang masih berada di atas meja narasumber di dalam aula. Sebuah universitas negeri tempat Vhieya berkerja. Wiya baru saja menyelesaikan satu setengah jam kuliah umum pagi ini. Usai berpamitan dengan rektor dan dosen-dosen lain, Sekarang dia tampak berbincang dengan adik iparnya.


"Kak Wiya keren deh, kuliah umum rasa seminar nasional ini sih. Jangankan mahasiswanya, dosennya aja pada kagum sama cara penyampaian kakak," tutur Vhieya sembari berjalan mengantarkan kakaknya ke luar gedung.


"Masak sih Dek? Padahal kakak gugup banget loh," jawab Wiya.


"Wah gugupnya aja begitu, tenangnya gimana ya?" puji Vhieya lagi. "Kakak, masih ada kegiatan setelah ini? Kita makan dulu yuk di kantin? atau mau ke outlet kak, biar sekalian makan bareng kak Nikki. Mumpung aku gak ada kelas sampai siang nanti."


"Duh kayaknya seru deh. Tapi kakak buru-buru banget hari ini, Maaf ya sayang," sesal Wiya.


"Gitu ya? yah sayang banget. Tapi lain kali usahain dong kak, kita udah jarang banget ngobrol," rengek Vhieya menarik-narik lengan Wiya. "Dan satu lagi, Kak Wiya walau sibuk begitu jangan sampai lupa makan loh kak," Vhieya mengingatkan kebiasaan kakak iparnya.


"InsyaAllah sayang," menggusal rambut Vhieya "Kamu kerja yang bener ya Bu Dosen, hehe. Kakak duluan ya dek."


"Bu Vhieya, terimakasih banyak. Kami permisi," pamit Risma pada Vhieya sambil sedikit menundukkan kepalanya, lalu menyusul dan menyamai langkah pimpinannya.


Walau hanya sekali dalam satu semester, Wiya tak pernah menolak untuk mengisi kuliah umum. Karena bagaimanapun juga, Wiya adalah seorang akademisi. Untuk itulah dia harus punya sumbangsih di dunia pendidikan terutama perguruan tinggi.


____________________________________


Wiya mengendarai mobil dengan tenang, sembari mengunyah beberapa potong kue yang tadi Risma bawa dari kampus, Risma terpaksa membawa pulang jatah Snacknya karena dia tau Wiya pasti akan melewatkan sarapan jika tidak diingatkan.


"Saya yang nyetir aja bu," Risma menawarkan diri agar Wiya bsia sarapan dengan leluasa.


"Euum, tidak perlu Risma. Kita hampir sampai. Oh ya setelah ini apa ada pertemuan lagi?"


Risma membuka tablet dari dalam tasnya, memastikan bahwa tidak ada jadwal setelah ini agar bossnya bisa beristirahar sejenak.


"Tidak ada sampai menjelang makan siang nanti bu, ada liputan dan wawancara dari Tnj TV  bu. Presentasi dari mitra kerja sudah saya geser waktunya dan mereka bersedia jika diganti besok pagi"

__ADS_1


"Yaampun Risma, kamu gimana sih? aku bukan artis. Katanya hanya media cetak? kok syuting TV sih?" semakin hari memang semakin banyak media yang tertarik untuk bekerja sama dengan ZA, tapi Wiya tak terlalu banyak memberi porsi untuk media, hanya sekedar untuk sebuah citra baik perusahaanya. Dan pula Zayn tidak mengizinkan Wiya sering tampil di layar kaca."Kan tadi saya udah bilang siang ini mau makan siang sama suami saya di kantornya." sungut Wiya lagi.


"Maaf bu, saya akan membatalkannya jika ibu tidak bersedia," Risma sudah mengeluarkan ponselnya untuk membuat pembatalan.


"Eeh....ehh.. Risma, untuk kali ini lanjutkan saja. Lain kali saya rasa ktia tidak perlu lagi terima liputan dari TV ya. Cukup media cetak saja!"


"Tapi Pak Zayn bu?"


"Nanti saya coba hubungi beliau lagi,"


__________________________________________


Setelah kembali ke ruangannya, Wiya mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi suaminya. Panggilan itu tidak dijawab. Wiya melihat ke arah jam dinding, sudah hampir pukul sepuluh. Harusnya Zayn sudah ada di IQ Media. Wiya mencobanya beberapa kali, namun hasilnya tetap sama.


Wiya berfikir untuk menghubungi Vela, tapi dia belum pernah menyimpan kontak sekretaris suaminya itu. Akhirnya Wiya menghubunginya melalui Nomor telpon kantor IQ Media. Saat terhubung ke bagian informasi, Wiya segera meminta untuk dihubungi ke ruangan Zayn. Tidak menunggu lama, panggilan itu langsung dijawab oleh Vela.


"Selamat siang, Ibu Wiya." sapa Vela ramah. Dia tidak perlu bertanya, karena pusat informasi sudah memberitahunya.


"Maaf bu, Bapak lagi ada jadwal presentari pagi, udah setengah jam sih. Tadi Pak Zayn pesan, kalau Ibu datang disuruh menunggu sebentar kalau misalnya bapak belum selesai," terang Vela.


"Oh gitu? Em, kalau gitu saya boleh minta tolong sama kamu gak?"


"Tentu bu, apa yang bisa saya bantu?"


"Em, begini Nona Vela," Wiya menjelaskan perihal dirinya yang tak bisa memenuhi permintaan Zayn untuk datang ke IQ media siang nanti, dan meminta Vela menyampaikan hal itu pada Zayn. "Oh ya, tadi saya sudah pesankan iga bakar dan sayur kailan dari Omelate Food, bisa nanti tolong kamu sajikan untuknya?"


"Iya bu, baik. Akan sesuai permintaan Ibu." Jawab Vela bersemangat.


"Baik, itu saja. Terimakasih. Oh ya, boleh saya minta kontak wasap mu?"

__ADS_1


"Saya yang akan menghubungi Ibu Wiya nanti, kontak ibu sudah saya simpan."


"Oh gitu? Baiklah. Saya akhiri dulu ya. Sekali lagi makasih loh."


"Tidak perlu sungkan bu, saya senang melakukannya"


Wiya memutuskan sambungan panggilan tampa mencerna lebih lanjut kalimat Vela yang terakhir.


____________________________________________


Sesuai jadwal yang sudah disepakati. Tim media yang akan melakukan peliputan dan wawancara dengan Chief exceutive officer of Zahira Akuntansi. Pengambilan gambar diambil langsung dari ruangan Wiya sebelum ke beberapa divisi lain.


Risma sedane membaca script yang diberikan salah satu petugas sebelum liputan dimulai. Dia memastikan semua yang akan ditayangkan sesuai dengan kesepakatan. Wiya sendiri sedang memperbaiki penampilan dan menambah riasan di wajahnya sesuai kebutuhan lensa.


Semua peralatan sudah terpasang. Juru kamera sudah berada di beberapa sudut ruangan. Salah satu pewawancara sudah duduk bersama Wiya di sofa tamu ruangan. Peliputan akan segera dimulai.


__________________________________________


Sementara di gedung IQ Media, Zayn baru selesai dengan pertemuan yang sengaja dia majukan. Agar istrinya tidak menunggunya lama untuk makan siang. Dia begitu bersemangat, sampai meninggalkan ruang rapat tanpa berbasa-basi yang panjang seperti biasanya.


Zayn memasuki ruangan kerja bergaya klasik persis seperti seleranya. Sebuah ruangan besar di lantai 6 yang terletak di sudut gedung itu, hanya dibatasi oleh dinding kaca di sekelilingnya. Dengan posisi kursi yang menghadap langsung ke barisan atap-atap gedung kota diluar sana, inspirasi membuat garis dan sketsa dari langit bisa langsung turun ke otaknya.


Zayn mengernyitkan sebelah alisnya, saat tidak melihat Vela di meja sekretaris. Zayn memang jarang bahkan hampir tidak pernah melibatkan langsung sekretarisnya di dalam rapat penting maupun presentasi. Zayn memiliki notulis tersendiri. Jadi Vela hanya bertugas menyiapkan ruang rapat dan perlengkapannya, kemudian biasanya dia langsung akan kembali ke ruangan. Tapi sekarang gadis itu tidak ada di mejanya.


Tidak terlalu peduli, Zayn melangkah masuk. Dia takut membuat istrinya menunggu terlalu lama, dia tak ingin mengingat tragedi mi instan tadi pagi. Zayn berhenti di depan pintu saat melihat sosok Vela yang ada disana. Bukanlah Wiya yang sangat dia tunggu.


"Kamu ngapain disitu?" tanya Zayn dengan nada terkejut, seolah Vela adalah penyelinap yang masuk ke ruangannya tanpa permisi. Padahal seorang sekretaris punya akses masuk ke ruangan pimpinan tanpa harus izin khusus.


Vela yang sedang mengeluarkan pesanan dari kemasannya itu sontak terkejut dengan nada bicara Zayn.

__ADS_1


___________________________________________


Bersambung...


__ADS_2