Utuh

Utuh
SEASON II : EPS 9


__ADS_3

Wiya bergegas menuju ke mushola. Hatinya terasa berpasir saat dilihatnya sang suami tidur dalam keadaan bersandar dengan wajah lelah dan kemeja yang sudah dilonggarkan, dasinya entah kemana, jas hitamnya diletakkan persis disamping tempatnya duduk. Tampak pula bungkusan yang pasti berisi makanan yang Zayn bawa untuk Wiya.


Wiya memilih untuk langsung mendirikan shalat tanpa membangunkan Zayn, mengingat dia sudah sangat terlambat dan sebentar lagi akan masuk waktu ashar.


Wiya tidak langsung menanggalkan mukena yang dipakai. Dia memunguti jas hitam yang berserak di lantai dan mulai membangunkan suaminya pelan. Sebentar lagi adzah ashar, pasti akan banyak karyawan yang masuk ke mushola.


"Mas..." panggilnya pelan menyentuh pipi Zayn. Sebenarnya Wiya sedang ketakutan membayangkan kemarahan suaminya. "Mas, bangun."


Zayn mengerjapkan matanya, mulanya dia tersenyum saat menangkap bayangan cantik istri tercinta di depan matanya. Selang beberapa detik saat kesadarannya pulih, Zayn melirik jam di pergelangan tangannya.


"Kamu baru shalat dzuhur jam segini?" tanyanya ketus.


"liputannya baru selesai," jawab Wiya pelan. Dia tidak berani menatap mata suaminya.


"Oh iya liputan, kita akan bicara tentang liputan ba'da ashar nanti"


***


Setelah selesai shalat ashar, hati Wiya semakin tidak karuan. Dia takut sekali menghadapi sikap suaminya. Kali ini dia yang bersalah. Andai ada cara menebus kesalahannya, pasti akan dia lakukan. Zayn memang bukan tipe laki-laki yang kasar dan emosional. Tapi dibalik wajah dan rambut yang segar dan basah usai shalat, terbaca kekecewaan yang sulit ditebak.


"Mas," panggil Wiya saat mereka baru saja akan keluar dari mushola.


"Kita makan dulu, aku udah lapar. Kamu juga belum makan siang kan?"


Wiya hanya menganggukkan kepala. Mereka kembali ke ruangan Wiya dan menikmati makan siang yang terlambat. Wiya menghidangkan ikan bakar dan tumis sayuran yang sudah dingin, lalu ikut makan bersama suaminya dengan perasaan tak karuan.


"Hati-hati duri ikannya, bisa gak? sini aku ambilin," Zayn memisahkan duri dari daging ikan dengan tangannya dan meletakkan di piring Wiya.


Wiya benar-benar semakin takut dengan sikap Zayn yang seperti ini. Entah apa yang sedang suaminya rencanakan. Wiya bertekad akan menerima apapun konsekuensi dari kesalahannya ini asal suaminya mau memaafkannya.


"Mas," panggil Wiya lagi saat mereka sudah selesai makan.


"Mana kunci mobil? ayo pulang sekarang, kita bicara dirumah!"


Wiya menyerahkan kunci itu kepada suaminya. Zayn langsung melangkah keluar tanpa menunggu istrinya bersiap-siap. Wiya pun segera bangkit mengambil tasnya, juga mengambil jas suaminya yang ditinggalkan begitu saja di atas sofa.

__ADS_1


Risma menelan berat salivanya, antara takut dan juga kagum yang tak bisa dibohongi, saat melihat suami dari pimpinannya itu keluar ruangan hanya dengan kemeja putih sudah tidak berdasi, kancing kerah yang terbuka dan ujung lengan yang sengaja di lipat sampai ke siku. Zayn melangkah cepat tanpa memperdulikan keberadaan siapapun disana. Baru kemudian tampak sang istri menyusulnya tergesa-gesa.


"Risma, kamu pulang sendiri aja ya." ucap Wiya terburu-buru. Risma sudah faham benar, pemandangan semacam ini bukan yang pertama kalinya terjadi. Tapi kepanikan Wiya seperti naik satu tingkat lebih tinggi.


"I...iya bu, hati-hati."


Wiya berlalu meninggalkan Risma dan menyusul langkah suaminya. Tak terkejar, Zayn ternyata sudah sampai di mobil dan menyalakan mesin. Wiya langsung masuk dan duduk disebelah suaminya tanpa banyak bertanya. Zayn pun melajukan mobil milik Wiya menuju kediaman mereka yang tidak terlalu jauh dari sana.


***


Sesampainya di rumah. Mereka tak langsung masuk ke kamar. Zayn mengajak Wiya untuk duduk di ruang tamu. Wiya langsung ke dapur mengambilkan segelas minuman untuk suaminya. Barangkali hal kecil itu bisa sedikit membantu meredamkan amarah suaminya.


"Minumnya mas," meletakkan gelas di atas meja, dan duduk berhadapan dengan suaminya seperti orang yang sudah siap disidang.


Zayn meneguk kesegaran dan semoga keberkahan dari segelas air putih yang istrinya sajikan. Saat gelas kembali diletakkan di atas meja, ponsel di sakunya bergetar. Panggilan masuk dari Mama Wulan. Zayn berdiri keluar menjawab panggilan itu.


Samar dapat Wiya dengar percakapan itu dari dalam. Zayn mengatakan akan pergi kerumah mama sekarang. Entah Wiya harus lega atau sebaliknya, karena sama saja artinya masalah belum selesai.


"Aku harus ke rumah mama sekarang, tunggu aku pulang. Jangan kemana-mana lagi!" titahnya pada sang istri yang masih merunduk ketakutan.


Zayn menghampiri istrinya dan mengangkat dagu itu, membuat pandangan mereka bersobok sekilas dan saling mengunci.


"Jangan nangis, gih ke kamar, bersih-bersih dan istirahat. Kamu pasti cape banget. Mas gak akan lama.Tunggu ya." Ucapnya dengan nada pelan dan mesra, membuat Wiya jadi berharap ada adegan selanjutnya.


"Aku pergi Wiy, kunci pintunya!" ucap Zayn melepaskan wajah Wiya dan berlalu meninggalkan istrinya yang terlanjur berharap lebih.


"Hati-hati mas," jawab Wiya yang ikut berdiri melepas kepergian suaminya dan mengunci pintu sesuai yang suaminya perintahkan.


Wiya segera masuk ke kamar mereka, membersihkan diri. Menyalakan shower air hangat dengan tekanan tinggi sedikit membantu mengendorkan urat-urat saraf yang tegang seharian. Tak cukup dengan itu, dia beralih ke bathup yang sebelumnya sudah diisi dengan bath bomb, berharap dapat membantunya meneteralkan suasana hati untuk menghadapi suaminya nanti.


___________________________________________


Di Kediaman keluarga Haris


Mama Wulan antusias menyambut kedatangan Zayn. Seperti biasa saat mendenar deru mobil yang masuk ke halaman parkir, Mama Wulan akan langsung membuka pintu dan menunggu anak dan menantunya di depan. Raut kekecewaan tampak diwajahnya tatkala dia melihat Zayn turun sendiri dari mobil itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum ma," ucap Zayn mencium kening Mama Wulan dan lansung masuk ke dalam.


"Kok sendirian sih? istri mu mana?" mama menyusul langkah Zayn, ternyata anaknya langsung menuju meja makan.


"Mama masak apa hari ini? Zayn kangen pengen makan masakan mama,"


"Mama lagi bertanya, Zayn!"


"Oh, Wiya? Wiya ada, dirumah ma," memasukkan makanan ke piringnya. "Dia baru pulang tadi, capek banget kayaknya. Jadi Zayn sendiri aja yang kesini. Vhieya dan Nikki mana ma?"


"Masih di atas. Zayn, kalau kalian berdua masih sama-sama sibuk luar biasa seperti ini, kapan kalian mau punya keturunan?"


Zayn berhenti menyuapkan makanan ke mulutnya. Hampir satu tahun pernikahan mereka, ini baru pertama kalinya mama Wulan menanyakan hal ini.


"Mama..."


"Maaf Zayn, tapi mama lihat kalian gak ada yang memikirkan mau punya anak. Dua-duanya sibuk gak ada habisnya. Suami kemana, Istri kemana, pusing liatnya. Bulan depan kalian nikah udah setahun, tapi belum ada tanda-tanda mama bakalan nimang cucu Zayn,hmm"


"Mama, mama salah kalau ngira kita gak pengen punya anak. Apalagi Wiya, dia selalu cari cara dan usaha buat bisa hamil. Dia berapa kali ngajakin Zayn buat program kehamilan, Zayn aja yang belum mau ma. Pernikahan kami baru satu tahun, Zayn ingin semua terjadi secara natural aja, tidak dipaksakan."


"Iya, mama ngerti. Tapi kalau kondisinya masih begini gak ada yang mau mengalah, gimana bisa fokus buat punya bayi? Brigitta aja udah 4 anaknya Zayn, Mama juga pengen nimang cucu darah daging sendiri."


"Mama, kehamilan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan ma. Zayn harap mama tidak membicarkan ini di depan Wiya ya ma, kasihan dia nanti kepikiran."


"Iya, maafin mama. Mama sayang sama Wiya, mama sayang sama kalian, mama harap kalian sama-sama semangat terus dan berusaha."


"InsyaAllah mama, mama doakan aja. Tadi mama minta Zayn pulang buat ngomongin rencana pertunangan Nikki kan?"


"Iya, kamu selesaikan aja dulu makannya. Mama minta Mba Sari panggilkan Nikki ke atas."


Usai membicarakan rencana pertunangan Nikki dan Bian, Zayn langsung pamit pulang, sudah dia susun rapi rentetan kalimat yang akan dia tanyakan dan dia sampaikan kepada istrinya nanti.


_________________________________________


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2