
Akhirnya dengan berat hati gadis dengan luka gores dihati itu beranjak bangun, membersihkan diri, mandi, mengganti baju dan melaksanakan kewajibannya. Baju kurung merah hati tadi tiba-tiba menjadi warna hitam pekat dimata Wiya. Kini Wiya sudah mengenakan pakaian yang senada warna dengan keluarga besarnya. Dia kembali memasang riasan di wajahnya orientalnya. Kali ini make up dengan look yang lebih flawless dari sebelumnya. Kemudian dia membuka salah satu channel tutorial hijab dan berhasil mengikutinya hingga selesai. Wiya malah lebih cantik dari model yang memeragakan. Dia bergegas menuju keluar kamar, Ilham pasti sudah menunggunya dibawah.
Bukan hanya Ilham, kontingen merah hati tadi ternyata belum semuanya pulang. Ketua rombongan mereka juga masih duduk dengan santainya di deretan meja VIP yang bundar. Wiya menghampiri Ilham yang sedang makan buah duduk sendirian.
“Qawiya! Aku hubungi dari tadi. Kamu dari mana sih? Hampir aku mau nyusul Rifa pulang” Ilham menggeser satu kursi yang kosong mempersilahkan Wiya duduk.
“Yah, Bu Rifa udah pulang ya. Hmm. Maaf ya Ham. Aku ketiduran tadi. Cape banget. Kamu makan apa? Bagi dong”
Ilham langsung saja menyuapkan potongan buah ke mulut Wiya. Wiya pun tak sungkan membuka mulutnya menerima suapan dari Ilham. Ekor matanya melirik pada meja di seberang meja dimana Zayn dan Brigitta juga sedang menikmati pesta.
“Kamu ngeliatin apa hey!” Ilham yang menyadari sejak tadi Wiya tak berhenti melirik ke arah itu.
“Enggak ngeliatin apa-apa,” elaknya.
“Brigitta?“ Tanya Ilham yang seolah sudah tau apa yang sedang Wiya fikirkan.
“Hu um, cakep ya dia Ham”
“Ah engga juga, relatif kali. Kamu lebih cantik kalau kata aku sih.”
Wiya menendang kaki kursi yang Ilham duduki membuat Ilham terkekeh sehabis mengakui kecantikan sahabatnya itu.
“Laki-laki mana coba yang ga mau sama dia Ham, udah tinggi semampai, putih, menyejukan pandangan.”
“Kalau cuma cantik, putih, menyejukkan, kipas angin jadi punya saingan dong.”
“Haha, iya juga ya, ih kok aku malah seneng sih kamu mirip-miripin Brigitta sama kipas angin berdiri"
__ADS_1
“Eh kalau aku ga salah ingat dia pernah ambil Pendidikan Master dikampus kita juga deh, Ham”
“Astaga Qawiya, kamu ngajakin gosip,” ucap Ilham menggeleng-geleng kepala “Sejak kapan kamu merasa punya saingan sebagai wanita? Dia itu teman seangkatan ku, belum sampai tesis dia berhenti karena mengejar karir nya. Eh udah dong. Kok aku jadi ikutan ibu-ibu menggibah gini”
“Ih sembarangan kamu ya siapa yang lagi gibah coba?“ Tangan Wiya begitu ringan memukul, mencubit, menampol, apa yang bisa dijangkaunya dari orang disampingnya. “Eh iya Ham, Ibu kamu?“
“Iya tadinya mau diajak kesini, tapi kasian juga Ibu cape baru aja sampe. Lagian kan kamu tau sendiri Ibu ku tidak terlalu lancar berbahasa Indonesia jadi dia tidak terlalu suka acara acara begini. Kamu ke rumah ku besok ketemu Ibu ya “
“Okedeh Iya. Bener ya. Awas kamu kalau lupa lagi.” Ucapnya dengan masih mengunyah buah di mulutnya, belum habis tertelan semua dia sudah memasukan potongan lainnya. Patah hati ternyata cukup menguras energi dan butuh banyak kesegaran biar tak dehidrasi.
Mereka masih asik menikmati potongan buah di atas meja, melihat Wiya yang begitu semangat Ilham malah mengambil satu porsi lagi di meja buffetnya. Tak sadar dua orang yang sedang diperhatikan tadi menghampiri meja mereka.
“Wiya, kamu disini? Aku nyariin dari tadi" Zayn menyapa Wiya sambil menarik satu kursi untuk Brigitta. Dia kini duduk persis di hadapan Wiya.
Nyariin? Mata mu! umpat Wiya dalam hati.
“Hay Qawiya, Brigitta” katanya mengulurkan tangan menyebut Namanya.
“Hay Brigitta senang bisa ketemu disini, Panggil Wiya aja. Terimakasih sudah menyempatkan hadir” Wiya menyambut tangan itu tak kalah anggunnya dan mencoba memberikan senyum sebaik mungkin.
Kemudian Zayn memperkenalkan Brigitta pada Ilham yang juga berada disitu. Brigitta menyapa dan terlibat obrolan hangat dengan Ilham dan Qawiya. Kendati seorang yang cukup terkenal, Brigitta ternyata bukan orang yang sombong. Dia gadis yang hangat, sopan dan sangat mudah bergaul. Makin bertambah saja nilai plus gadis ini.
Sepanjang obrolan mengalir. Wiya sama sekali tidak melihat ke arah Zayn. Dia hanya sibuk dengan Brigitta dan Ilham bergantian. Sebenarnya dia berusaha menemukan informasi atau sedikit clue tentang hubungan apa yang terjalin antara keduanya.
Tapi Brigitta sendiri malah lebih tertarik menanyakan hubungannya dengan Ilham sampai akhir pembicaraan. Sebelum pulang mereka sekali lagi mengambil foto dengan kedua mempelai. Ilham, Wiya, Brigita dan Zayn.
***
__ADS_1
Satu persatu tamu undangan datang dan pulang, acara resepsi yang cukup megah itu akhirnya selesai. Beberapa keluarga besar menginap di hotel itu. Tapi keluarga inti tetap memilih langsung pulang. Termasuk Ridwan dan Mitty. Mereka ikut pulang kerumah Ibu. Karena kamar pengantin mereka berdua sengaja dibuat dirumah itu. kehadiran Mitty untuk pertama kalinya sebagai menantu dirumah itu disambut hangat dan bertambah kebahagiaan keluarga itu mulai hari ini.
“Mitty, Ibu dan Ayah bersyukur kamu adalah anak kami mulai hari ini. Ibu tidak akan meminta kamu tinggal dirumah ini. Semua keputusan kalian bicarakan berdua. Tapi satu minggu ini saja Ibu pengen ngerasain tinggal bareng menantu Ibu.”
Mitty menghaburkan diri ke pelukan Ibu mertuanya. Dia begitu bahagia dan sangat bersyukur berada diantara keluarga yang selama ini memang sudah dia anggap keluarga keduanya. Dan hari ini benar-benar menjadi ikatan keluarga yang sebenarnya. Dia memeluk Ibu, Ayah dan juga Wiya sahabat yang sekarang menjadi saudara iparnya.
“Ya sudah kalian berdua pasti lelah. Sana naik ke kamar. Istirahatlah. Ridwan, bawa istrimu ke kamar” titah ayah.
Kini mereka sudah berada dalam kamar masing-masing, Ibu dan ayah di kamar bawah, Mitty untuk pertama kalinya masuk ke kamar Ridwan yang mulai hari ini adalah kamarnya dirumah itu.
Kamar pengantin bernuansa putih merah, di atas ranjang yang di lapisi kain putih terdapat taburan kelopak mawar yang menyebarkan keharuman yang romantis. Lilin-lilin aromaterapi di beberapa sudut membuat suasana kian hangat berada di dalamnya. Pencahayaan yang redup tak pelak membuat Mitty merasa semakin gugup.
Mitty duduk di depan meja riasnya. Melepas satu persatu jarum, jepitan dan peniti yang masih tersisa di kepalanya. Ridwan berdiri dari duduknya membantu istrinya melepaskan benda-benda itu dari kain hijabnya. Saat dipastikan semua telah terlepas sempurna. Kini tinggal melepas kain hijab yang masih menutup kepalanya. Ridwan tak sabar sekali ingin melihat istrinya dari balik kain yang selama ini jadi pembatas dirinya.
Ridwan kini berdiri dihadapan Mitty, mencoba melepaskan kaitan peniti dibagian leher hijabnya. Tiba-tiba tangan Mitty menahan telapak tangan suaminya itu dan mendongak ke atas menatap mata suaminya.
“Boleh abang buka? Sayang?“ Bisik Ridwan lirih di telinga istrinya. Membuat detak jantung Mitty semakin cepat berirama. Masih di posisi Ridwan yang berbisik, tiba-tiba terdengar suara seseorang menggedor pintu kamar dari arah luar.
Ternyata Mitty lupa menutup pintu kamarnya, Wiya yang baru saja dari dapur akan ke kamarnya melewati kamar pengantin baru dan pemandangan barusan telah mengotori matanya. Padahal baru hanya akan menanggalkan hijab saja.
“Pintu woy pintuuuuuu” teriaknya sembari berlalu dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
------------------------------
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE NYA YA..
__ADS_1