Utuh

Utuh
BOS SETENGAH MATANG


__ADS_3

Sepekan berlalu sejak kepemimpinan baru, Zayn seorang Master design grafis, bertahun tahun dia menekuni bidang itu, menggambar, membuat sketsa mengasah kinerja otak kanannya, tidak lah mudah bagi bagi Zayn menempatkan diri sebagai pimpinan perusahaan dan membuat rencana serta perhitungan yang matang.


Posisinya sekarang sebenarnya dia dapatkan tidak semudah membalikan telapak tangan. Ayahnya punya batas khusus yang harus dilewati Zayn sebelum akhirnya diberi kesempatan  melanjutkan kepemimpinan ayahnya di Indonesia.


Sejak pertemuan pekan lalu, Zayn tidak pernah bertemu langsung dengan Wiya, ada sewaktu tak sengaja ber pas pasan saat Zayn keluar dari lift yang akan di masuki Wiya.


Setengah terkejut namun sempat mengalihkan pandangan, sehingga terlihat jelas gelagat kekhawatiran Wiya, yang membuat Zayn malah memutar otaknya mengingat-ingat dimana dia pernah mengenal gadis dengan rambut coklat sebahu itu.


Hari itu diruangan Zayn, Rifa mengantarkan laporan yang harus Zayn tanda tangani. Rifa masuk ke ruangan setelah melihat Zayn datang.


“Pak Zayn, ini semua laporan pekanan kita” meletakan tumpukan berkas ke atas meja lalu mengambil sebagian kecilnya “ Oh iya pak, ini yang statusnya segera ya pak.” Memisahkan beberapa bundle file yang harus di tanda tangani segera oleh atasannya.


“Terimakasih, oh ya Rifa, apa kamu mengenal asistenya Ilham itu?“ tanya Zayn penasaran.


“Qawiya pak? kenal dong pak, kan sudah lama bekerja disini.“ Jawab Rifa santai


“Rasanya saya pernah melihat dia, saya lupa dimana. Orangnya cukup aneh ya!” Sambil membuka file yang Rifa pisahkan tadi. Membuka lembaran demi lembarannya . Rifa pun masih berdiri menunggu hasilnya.


“Apa diluar negeri ada yang mirip dengannya pak? haha. Bapak belum kenal saja. Dia anak


yang baik pak . Tidak aneh aneh orangnya.”


“Oh ya?“


Kemudian aktivitasnya terjeda membaca satu rencana perjalanan tugas dengan seksama.


“Rifa, ini apa ?” tunjuknya pada sebuaah rencana Anggaran perjalanan tugas.


"Itu rencana anggaran perjalanan tugas pak, untuk tim keuangan yang akan berangkat ke Medan hari Kamis nanti. Biasanya hanya auditor yang akan berangkat, tapi karena ini outlet baru jadi Pak Ilham yang akan lansung handle disana pak, biasanya Pak Ilham berangkat Bersama Qawiya.” Rifa menjelaskan Panjang lebar


“Apa mereka punya hubungan khusus Rifa? kenapa harus keluar kota berdua? bukan apa-apa, saya hanya ingin mereka mengedepankan profesionalisme dalam bekerja.“


“Sejauh ini yang saya lihat mereka sangat professional, pak Ilham tidak mungkin mengurus segala sesuatunya sendiri pak, tentu dia butuh asisten untuk membersamainya selama disana.” Terang Rifa.


“Apakah saya bisa ikut kesana Rifa? ini pertama kalinya untuk saya, saya ingin memantau langsung.”


“Tentu saja bisa pak, tapi maaf saya tidak bisa keluar kota dalam pekan ini pak, karena..."


“Oh tidak,tidak apa-apa, saya kesana hanya ingin memantau kan? jadi sudah pasti tidak ada agenda, kamu hanya perlu ke kantor memastikan semua berjalan dengan baik, mungkin saya hanya satu hari saja. Bisa Rifa?“

__ADS_1


“Tentu saja pak, sebentar saya akan meminta Wiya mengganti ini segera dan memasukan data Bapak.” Ucap Rifa akan mengambil file itu.


“Itu tidak perlu Rifa, ini saja saya tanda tangani nanti saya berangkat sendiri saja . Kamu boleh kembali.”


Rifa permisi keluar ruangan, Zayn memegang keningnya yang mengkerut dan ia seperti ingat sesuatu dan langsung menghubungi Rifa melalui intercom.


“Rifa, panggilkan Qawiya keruangan saya!”


Berselang lima menit, Rifa pun  masuk mengantarkan Wiya. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan Zayn tapi tidak Bersama Ilham.


Apa yang ingin Pak Zayn sampaikan


Jelas aku tidak ada urusan langsung dengannya


DEG !! bunyi detak jantung Wiya,


“Duduk, tapi tolong jangan merunduk.” Perintah Zayn.


Imposible !!! dia tau posisi favrorit gue


Wiya tidak bicara sepatah katapun, hanya menatap ke arah Zayn sambil sekuat tenaga menenangkan detak jantungnya, dia sekarang benar benar yakin Zayn akan mengingat dan mengenali dirinya.


“Ilma Qawiya,” ucap Zayn sedikit mengeja. Yang membuat jantung Wiya semakin bergidik ngeri.


Pak Zayn tolong intonasi mu


jangan dibuat buat begitu


“Saya pak!” Berhasil lolos dari  mulut wiya tanpa jeda.


Tatapan itu semakin tajam, sedikit lagi saja bisa menghujam lawannya. Kemudian berucap penuh keyakinan.


“Ternyata kamu gadis yang menabrak saya   tempo hari di pelataran gedung SMA 4.” Zayn menatap Wiya lekat dengan senyum menyeringai .


Yang di tatap tampak tidak merubah ekspresinya dan terkesan biasa saja. Tapi hanya dirinya dan Tuhan yang tau bagaimana konspirasi saluran pernafasannya nya detik itu.


O2 terasa menyesak berebut masuk ke rongga hidungnya. tapi wajahnya sungguh pandai menyembunyikan kebat-kebit di dalam sana.


“Saya beri kamu kesempatan untuk  meminta maaf sekarang ?”

__ADS_1


“Ha? minta maaf untuk apa pak?”


Zayn mengernyitkan dahi mendengar jawaban Wiya.


“Minta maaf karena kamu sudah menabrak saya, apa perlu saya ingatkan kembali kalau kamu lupa?” Ucapnya sambil menyilangkan tangan di dada nya dan bersandar di sandaran kursinya


Nah loh dia ingat !


“Maaf pak, tapi jelas Bapak yang menabrak saya karena tidak memperhatikan sekeliling saat berjalan.”


“Kamu menyalahkan saya? kalau saya tidak memperhatikan mana mungkin saya ingat wajah kamu. Kamu saja gugup setengah mati saat kita bertemu.”


“Kalau bapak memang melihat saya, kenapa tidak menghindar saat tau saya akan menabrak bapak? dan yang terjatuh adalah saya pak, kenapa saya harus minta maaf?” Ucapnya semakin kekeh.


“Kamu...Kamu berani sekali berbicara begitu. Apa begitu cara mu berbicara dengan atasan mu? Jelas kamu yang jatuh artinya kamu yang tidak bisa menjaga keseimbangan, huh bagaimana papa bisa memberikan mu posisi ini!”


Memang apa susahnya meminta maaf sih?


“Pak Zayn, saya bisa bekerja disini dengan posisi ini atau posisi apapun, saya bisa pastikan itu bukan karena rasa kasihan atau hal lain yang subjektif," ucap Wiya sedikit tegas, rasanya dia perlu membanggakanya sekarang. "Saya hanya membela diri di hadapan bapak. Baiklah, saya sekarang meminta maaf! jika hal itu bisa membuat Bapak senang.“ Jelas Wiya sedikit ketus. Rasanya sudah sangat malas menyambung perdebatan yang tidak akan ada gunanya ini.


“Nah begitu dong, mengakui kesalahan. Jadi saya tidak perlu cape mencari pengganti mu kalau terpaksa saya beri SP dadakan!“ ucapnya dengan senyum penuh kemenangan.


Mata wiya melotot menatap Zayn, kaget bagaiaman kalimat itu bisa lolos dari mulutnya. 


Membawa masalah pribadi dalam pekerjaan. Memalukan sekali.


“Ini, pengajuan anggaran kamu kan? sudah saya tanda tangani sekalian saja kamu bawa dan persiapkan semuanya.” Zayn menyodorkan map coklat itu, Wiya pun langsung mengambil map itu segera berdiri


tak sabar ingin berlalu.


“Terimakasih pak, saya permisi.“


Wiya berlalu ke luar, melewati meja Rifa dan sedikit berbicara menyampaikan bahwa file itu sudah Wiya bawa dan akan menyerahkan langsung pada Ilham.


Kasihan  Bu Rifa pasti sulit sekali menyesuaikan diri dengan bos setengah mateng begitu.


***************


__ADS_1


makasih ya buat yang sudah sudi membaca ^_^ Jangan lupa, like, komen dan vote nya ya.


__ADS_2