
Semakin hari, Wiya sudah semakin terbiasa dengan aktivitasnya. Kejenuhan itu sedikit demi sedikit mampu diatasinya.
Sekarang, walau pergi ke kantor Wiya akan kembali ke rumah sebelum suaminya pulang. Risma sangat bisa diandalkan. Wiya kadang hanya memeriksa laporan kegiatan sosial yang dikirim oleh komunitas yang mendapat donasi dari ZA.
Siang ini Wiya sudah kembali dari kantor sebelum waktunya. Karena suaminya sedang kurang sehat. Wiya mampir ke outlet untuk membeli sup iga sapi untuk Zayn yang sedang demam.
Setibanya dirumah, Wiya langsung menyajikan sup yang dia bawa di atas meja makan. Dia segera naik ke atas dan memanggil suaminya untuk makan siang. Mba Wiwin hari ini diminta untuk tidak masuk kerja karena Zayn ada dirumah.
"Mas," Wiya membuka selimut tebal yang menutupi badan Zayn. Demamnya sudah tidak setinggi tadi pagi saat Wiya berangkat bekerja. "Sudah enakkan?" tanya Wiya.
"Sayang, kamu udah pulang?" Zayn duduk bersandar pada sandaran dipan. "Sini peluk sebentar," merantangkan tangannya dengan manja.
"Aku belum mandi mas, baru selesai siapin makan siang. Kamu mau aku bawa kesini makanannya? Atau kita makan sama-sama dibawah?"
"Kamu mandi aja dulu, kita makan di bawah aja," ucap Zayn.
"Oke, sebentar ya."
Lima belas menit kemudian, Wiya sudah selesai membersihkan diri. Dia tidak melihat suaminya di tempat tidur karena Zayn sudah menunggunya di ruang makan. Mereka menikmati makan siang berdua.
Tiba-tiba ponsel Wiya berdering, sebuah panggilan dari Risma. Wiya meminta izin pada Zayn untuk menjawab panggilan itu, dan Zayn mengizinkannya. Ternyata Risma mengabarkan kedatangan Vela ke kantor ZA.
"Ravela Gisha?" tanya Wiya pada Risma.
"Iya bu benar, dia bilang mau mengantar laporan kegiatan bulan lalu dan sekaligus membicarakan rencana kegiatan bulan depan Bu,"
"Oh, kasi alamat ku, minta Nona Vela bawakan kesini saja kalau dia mau,"
"Baik bu, sepertinya ada hal yang sangat penting yang ingin dia bicarakan bu,"
"Oh ya? Yasudah, aku tunggu di rumah."
Saat pimpinannya tidak datang ke kantor, Vela memiliki waktu luang yang lebih banyak. Dia berniat menggunakan waktu itu untuk menemui Wiya. Tapi saat dia sampai di kantor ZA, ternyata Wiya baru saja pulang kerumah.
Dengan senang hati, Vela setuju untuk menemui Wiya dirumah. Dia membawa sebuah laporan dan rencana kegiatan sebagai sebuah alasan kedatangannya.
"Kok kamu suruh Vela kesini sih?" protes Zayn.
"Sepertinya ada yang mau dia bicarakan mas, penting kata Risma. Lagian aku memang udah lama pengen ngobrol sama dia tentang kegiatan sosial kemarin. Itu keren banget mas kalau aku liat dari e-repport mereka."
__ADS_1
"Tuh kayanya udah nyampe, sana kamu pake kerudung! biar aku yang bukain pintu," ujar Zayn sambil berdiri menuju ruang tamu. Wiya juga beranjak mengambil kerudungnya di kamar.
***
Di ruang tamu
"Bapak?" ucap Vela terkejut. Dia memang diizinkan pulang saat Zayn tidak berada di kantor. Tapi dia belum pernah izin bahwa akan datang ke rumah Zayn seperti saat ini.
"Ya iyalah saya, ini kan rumah saya. Kenapa kamu yang kaget?" ucap Zayn cuek.
"Ma...maaf pak, bagaimana keadaan Bapak sekarang? Apa masih sakit?"
Zayn tidak menjawab, hanya menautkan kedua alis tebalnya seolah memberi tanya, "Urusan mu apa?"
"Syukurlah kalau Bapak sudah sehat, saya mau ketemu sama Ibu Wiya,"
"Masuk! dan ingat, jangan berlama-lama," ancamnya membuat Vela sedikit bergedik.
Wiya turun dari lantai dua dan segera menuju ruang tamu. Dia mempersilahkan Vela duduk dan mengambilkan minuman untuk Vela. Sedangkan suaminya berkata akan kembali beristirahat di kamar.
"Silahkan diminum dulu Nona Vela," ucap Wiya sedikit berbasa-basi. "Ini sirup jeruk kasturi, produk asli UKM sini. Ini seger banget,"
"Aku juga lebih senang dipanggil Wiya, biar lebih akrab kan?" tukas Wiya.
Aku juga berharap kita lebih akrab dari hanya sekedar teman. Ucap Vela dalam hatinya.
"Jadi, apa hal penting yang ingin kamu sampaikan, Vel?" tanya Wiya.
Vela berbasa-basi menyerahkan dua jilid dokumen kepada Wiya. Wiya dengan antusias membuka isi dari dokumen tersebut. Menjadi kesenangan tersendiri bagi Wiya saat perusahaan yang dia pimpin bisa menjadi manfaat yang besar untuk orang banyak. Terutama di dunia pendidikan anak.
Disamping itu, laporan kegiatan itu juga melampirkan dokumentasi kebersamaan para relawan dengan anak-anak di pulau terpencil. Tergambar jelas keindahan alam yang eksotis walau jauh dari teknologi. Belum lagi senyum yang terkembang dari mereka yang merasakan manfaat langsung dari bantuan yang para relawan lakukan disana. Paling banyak adalah potret wajah Ditya, mungkin karena hanya wajah itu yang Wiya kenali.
"Ahh, ini sih keren banget Vel. Kamu pernah ikut pergi ke daerah-daerah terpencil seperti ini?" tanya Wiya antusias.
"Setiap cuti, aku pasti bergabung sama relawan lain." jawab Vela.
"Oh ya, itu pasti seru banget!"
"Begitulah, tahun ini jadwal cuti ku akan ku ambil untuk kegiatan bulan depan. Ini proposal rencana kegiatannya Wiy. Mungkin kamu bisa pelajari dulu," urai Vela mengajukan satu jilid lain dari dokumen yang dia bawa. "Jadi kalau terlaksana, kegiatan ini cukup beresiko Wiy. Kali ini Dokter Ditya langsung yang memimpin tim,"
__ADS_1
"Oh, jadi Pak Ditya itu dokter?"
"Iya, Ditya itu salah satu tim dokter yang jadi influencer dalam beberapa kegiatan ini. Dan untuk kegiatan bulan depan dia yang akan memimpin langsung," jelas Vela. "Jadi pulau yang akan jadi titik fokus kita adalah pulau C. Memang pulau ini gak jauh, masih di kabupaten Bintan. Tapi cukup ekstrim karena pulau ini katanya secara perlahan akan jatuh ke tangan pihak asing, dan disana sudah mulai dibangun peradaban baru. Ktia gak bahas masalah izin atau birokrasinya kok Wiy. Kita fokus ke anak-anak dari pekerja disana yang harus tersiolasi dari pendidikan dan kesehatan yang layak," jelas Vela panjang lebar.
"Oke Vel, nanti aku pelajari dulu ya proposalnya. Semoga banyak pihak yang mau bekerja sama dan berdonasi dengan kita. Ini tentu butuh biaya yang tidak sedikit. Aku akan bantu sebisanya," Wiya menutup lembaran terakhir dari dokumen di tangannya.
"Semoga saja, sekarang kita lagi recruitmen relawan yang bisa ikut dalam perjalanan ini,"
"Aku do'akan semoga semua berjalan lancar. Kamu keren Vel, mengisi masa sebelum menikah dengan kegiatan sosial seperti ini, gak banyak loh yang berfikir demikian," puji Wiya tulus.
"Tapi aku ingin sekali menikah dan punya keluarga seperti kamu Wiy," tukas Vela dengan nada rendah.
"Lah itu apa? Ayo Vel! tunggu apa lagi? Calon suami mu itu pastilah orang yang beruntung karena bisa mendapatkan istri seperti mu,"
Vela merasa mendapat angin segar karena arah pembicaraan mereka sudah tepat menganai sasaran tanpa Vela mengarahkannya. Memang ini momen yang Vela nantikan.
"Tapi tidak semulus itu, karena aku terjebak pada perasaan ku sendiri," ungkapnya.
"Kalau kamu sudah yakin dengan pilihan mu, kenapa harus merasa terjebak? Laki-laki itu akan sangat rugi bila melepaskan mu begitu saja," ucap Wiya dengan semangat empat lima. Dia begitu antusias ingin mendengar cerita Vela.
"Bagaimana kalau aku menginginkan milik orang lain?" tanyanya dengan tidak tau malu.
"Astaga, udah punya gebetan?"
"Dia beristri!"
Wiya mengernyitkan kening tak percaya. Hatinya sedikit bergedik. Dia ingin menyudari perbincangan ini, karena dia tidak akan setuju jika Vela mengajaknya bekerja sama tentang merebut suami orang lain. Tapi lisannya begitu memberontak untuk tau lebih dalam lagi.
"Maksud kamu Vel?" akhirnya Wiya menanyakannya. "Kamu mencintai suami orang?"
"Iya, suami mu" Ucapnya dengan berani. ya, memberanikan diri. Karena raut wajahnya jelas tampak gugup dan takut. Vela menunggu-nunggu ekspresi apa yang pertama akan terlihat dari seorang istri yang tau bahwa dia menaruh hati pada suaminya.
Bukan lagi tersambar petir, hati Wiya terasa diterpa badai tornado dahsyat dan menyingkirkan semua sisi baik yang ada di dalam sana. Ingin rasanya Wiya mencokol kedua biji mata indah milik wanita tidak tau malu yang ada di hadapannya. Dan mulut manis nan menggoda itu, tampak sangat menantang untuk dimasukkan satu kilo cabe rawit segar. Seketika hilang segala keanggunan yang tadi Wiya kagumi dari wanita ini.
Tapi Bukan Wiya namanya kalau terpancing begitu saja dengan kalimat lawan bicaranya. Dia sempat berburuk sangka dengan suaminya. Benar, cinta mereka sudah pernah melalui ujian kesetiaan 4 tahun lamanya, tapi siapa yang bisa menjamin keteguhan hati seorang laki-laki?
"Suami ku? Pimpinan mu?" tanya Wiya seolah tak terjadi apa-apa dengan hatinya.
Vela menganggguk sedikit menunjukkan raut penyesalannya.
__ADS_1