Utuh

Utuh
PERTEMUAN PERTAMA


__ADS_3

Waktu tetap berjalan sesuai porosnya. Tidak ada yang sedetikpun bisa menahan apalagi menggesa gerakannya .Kehidupan terus berlanjut tidak peduli seberapa menyakitkan. Ada yang rusak bersama waktu, ada pula yang sembuh.


Tapi bukankah waktu selalu memberi kesempatan untuk menuliskan cerita baru?  Dan beberapa rindu masih harus menjadi rahasia, bukan karena tak ingin menyampaikan, melainkan mereka sadar, tak semua pertanyaan harus dijawab saat itu juga.


3 Tahun sudah mereka tak saling bertemu. Waktu yang berputar tidak jua menghilangkan sebuah rasa yang masih sering membentuk debar.


Zayn Dwika Haris dan Ilma Qawiya hari ini adalah dua pribadi yang berbeda dengan perasaan yang masih seutuhnya sama.


Wiya adalah kandidat doktor yang sedikit terlambat dari jadwal seharusnya. Itu semua karena Wiya tengah sibuk membangun bisnisnya.


Kini dia adalah pimpinan sebuah perusahaan software akuntansi miliknya sendiri yang sudah di beli dan digunakan di berbagai macam bidang perusahaan di Indonesia,Singappura dan Malaysia.


Kini Wiya sedikit merubah penampilannya. Hidup mandiri di negeri yang asing membuatnya harus lebih pandai menjaga batas. Dia memantapkan hati untuk menggunakan hijab sebagai benteng perlindungan diri dari luar.


Zayn pula , seorang pengembang perusahaan design grafis yang daftarnya mulai masuk 10 besar perusahaan design grafis terbesar di Asia .


Semua proses menuju pencapaian yang membuat mereka semakin dewasa dan banyak belajar dari kesalahan yang pernah ada.


3 tahun mereka benar-benar tak saling memberi kabar, Selain usia yang semakin tua. Apakah staus kejombloan masing-masing diri mereka masih sama ? Apakah mereka sedang bertanding siapa yang lebih kuat bertahan dan setia ?


***


Wiya baru selesai memberesi beberapa barang yang akan dia cicil untuk dibawa pulang ke Indonesia besok. Sebenarnya beberapa tahun selama dia kuliah, Wiya termasuk sering pulang, karena jarak Malaysia-Tanjungpinang tidak sampai 3 jam dengan kapal laut. Dan kepulangan dan kepergiannya kembali selalu rapi tidak ada yang tau kecuali keluarganya dan Bian.


"Ibu, Wiya mau pulang." Ucapnya saat menghubungi Ibu Ria ketika sudah selesai mengemasi beberapa barang yang akan dia bawa.


"Iya sayang, Kamu baru saja pulang pekan lalu, dan  jadwal wisuda mu hanya satu bulan lagi. Apa gak mau nanti aja sekalian?"


"Revisi Wiya sudah selesai bu, Menjelang wisuda sudah tidak ada kegiatan penelitian lagi. Lagian Wiya gak bisa lama-lama gak ketemu sama Vinny. Mana dia Bu?"


"Jam segini ya sudah ditidurkan sama Nanny. Apa besok Bian yang akan jemput kamu lagi?"


"Tidak Bu, besok dia ada perjalanan tugas. Wiya sama taksi aja."


"Gak dijemput ayah aja, Nak?"


"Tidak usah bu, biar surprize juga. Ssst. Ibu diam-diam aja ya"


"Halah, Wiy.  Kamu pulangnya hampir dua pekan sekali kok, surprize segala"


"Hahahahaha. Ibu ih, yasudah Bu, Wiya lanjut beres-beres yang lain dulu. Sampai ketemu dirumah. Assalamualaikum."


"Kamu hati-hati ya Nak, Waalaikumsalam"


Semua berjalan sesuai rencananya. Wiya pulang ke Tanjungpinang dengan taksi dan memberi kejutan kecil untuk keluarganya. Di kediamannya yang sekarang sudah lebih besar dan megah. Lengkap dengan taman kecil dan kolam renang mini di halaman belakang.

__ADS_1


***


Akhir pekan yang cerah. Setelah shalat subuh, Wiya dan keluarga sudah berada di mobil untuk pergi berburu matahari terbit dari tepi pantai. Mereka akan menuju salah satu kawasan pantai yang ada di pulau Bintan, namanya Pantai Pesona.


Sudah lama sekali mereka tidak pergi berlibur sekeluarga di Tanjungpinang. Apalagi kalau bukan karena Wiya tak mau banyak orang mengetahui aktivitas yang susah payah dia sembunyikan.


Hari ini ia bersama keluarganya menikmatinya lagi, selama perjalanan, seperti biasa mobil tak pernah sepi dari riuh canda tawa meski kiri-kanan masih gelap gulita.


Akhirnya sampai di kawasan pantai yang memang sesuai namanya. Pantai Pesona yang mempesona. Walau sedikit terlambat, tapi sisa garis fajar yang jingga itu masih terpantul mengkilat dari atas air, hamparan pasir putih yang panjang juga masih tampak berwarna keemasan.


Embun pagi yang menggelayuti ujung daun nyiur yang condong ke tanah seolah pamit pada manusia yang datang kesiangan. Ternyata ada rombongan yang sudah datang lebih pagi , mungkin juga ada tamu yang memang sengaja menginap disana.


Wiya dan keluarganya langsung menuju pondok panggung kecil yang sudah disewa dan meletakkan barang-barang disana. Ibu,Wiya dan Mitty mengeluarkan beberapa makanan dan peralatan baberque dan menyiapkan sarapan pagi  Sebelum mereka turun menyapa riak air laut yang sedari tadi sudah menyambut minta di sahut.


Usai mengisi perut, tanpa menunggu lebih lama lagi semua langsung turun dan menuju ke area laut, kecuali Ibu yang memilih berselonjoran di kursi santai yang berada di dekat pondok.


Wiya memilih berjalan menyusuri bibir pantai, angin laut di pagi hari benar-benar sangat dia rindukan. Dengan membiarkan ujung celananya basah terkena deburan kecil ombak, Wiya melangkah menghanyutkan segala ketakutan. Tanpa dia sadar sepasang mata dari sebuah penginapan memperhatikannya dengan penuh rasa penasaran dan datang menghampirinya.


"Permisi" Kata Wanita itu dari belakang.


Wiya menoleh ke arah suara yang memanggilnya di belakang. Entah kenapa dia sudah tidak terkejut apalagi menghindar.


"Iya?" Jawabnya dengan santai.Semakin anggun saat ujung hijabnya menutup sebagian wajahnya karena di terpa angin-angin kecil.


Gadis yang tadi memanggilnya malah terdiam. Tercekat seperti menahan sesuatu di kerongkongannya.


"Nikki, Apa kabar?" Sama sekali tidak tampak seperti ingin menghindar.


Tanpa menjawabnya, Nikki langsung memeluk perempuan dihadapannya. Terlepas dari bagaimana hubungan kakaknya dengan gadis ini. Nikki memang sangat merindukan Wiya. Karena dirinya termasuk orang yang terdampak mendapat pemblokiran Wiya. Wiya banyak tau cerita tentang Zayn dan keluarganya dari Bian yang masih bekerja di Omelate Food. Sehingga Wiya sama sekali tidak menampakan ekspresi seperti orang yang sudah tidak bertemu lama. Semua tampak biasa saja.


"Kak Wiya, Huaaaa. Kamu benar-benar kak Qawiya. Kami semua sangat merindukan mu kak. Kak, bagaimana kakak bisa ada disini" Nikki benar-benar menangis dan memeluk Wiya erat.


Wiya tak sungkan membalas pelukan Nikki dan mengusap rambut gadis itu.


"Kamu bicara apa ? Bagaimana aku disini ? Memangnya rumah ku dimana ?" Wiya memegang kedua pipi Nikki yang basah.


"Hiks,hiks, Kak Wiya. Ayo kita ke sana " Nikki menunjuk pada salah satu penginapan yang tak jauh dari bibir pantai "Mama pasti bahagia bertemu dengan kakak, Ayo kak" Nikki menyeret tangan Wiya untuk ikut dengannya .


"Nikki, jangan sekarang. Mama kamu pasti sedang menikmati liburan.Kakak gak mau merusak suasana" Tolak Wiya pelan.


"Ya ampun kakak ini bicara apa, Atau kakak tunggu disini, aku akan bilang pada semuanya kalau kak Wiya juga sedang berada disini, kakak disini ya kak, jangan kemana-mana" Rengek Nikki.


"Nikki tunggu ! Bisakah kamu tidak mengatakan pada siapapun tentang pertemuan kita disini? Keadaanya sekarang sudah berbeda, Bisakah kamu mengerti ? "


Nikki sekarang sudah cukup dewasa untuk menangkap maksud dari kalimat Wiya. Tapi apa yang Wiya maksud dengan keadaan yang berbeda ? Apa sekarang dia sudah memiliki kekasih ? Atau, atau, atau sudah bersuami ? Nikki membungkam mulutnya karena termakan prasangkanya sendiri. Setelah berbasa-basi dan bertukar kontak, Nikki berlalu dari hadapan Wiya.

__ADS_1


Tidak melanjutkan langkahnya, Wiya berbalik arah menuju pondok panggung keluarganya tadi, kini dia memilih berjalan di hamparan pasir agar langkahnya lebih cepat dan tidak tertahan riak air. Dari arah yang berlawanan, Wiya bisa melihat seorang lelaki tergesa-gesa berjalan menuju ke arahnya.


Nikki, kamu tenrnyata tak tepat janji !


Ada yang dhantam gelombang, tapi bukan batu karang. Dengan jarak yang hampir dekat, wajahnya hampir dikenali dan Wiya tak bisa dan juga tak ada niat menghindarinya lagi hari ini. Dua bagian dari semesta mulai menyatu sempurna, yaitu debur ombak dan debar hatinya.


Zayn memicingkan mata karena Wiya berdiri tepat di arah matahari pagi mulai menampakkan diri. Zayn memastikan apa yang tadi Nikki katakan . Selama 3 tahun Zayn dianggap manusia patah hati dan kerap jadi objek bual-bualan kedua adiknya.


"Ka-kamu ? " Ucap Zayn mentap gadis di hadapannya. Wiya yang bukan gadis mungil lagi. Wiya merawat diri dengan baik, kini dia adalah wanita dewasa yang cantik dan sedikit berisi, kulitnya wajahnya putih halus alami, Dan kemolekan parasnya itu kini makin sempurna dengan kain yang menjulur ke dada dan menutupi kepalanya. Karena tidak melakukan operasi pelastik, hidung itu, hidung favorite Zayn yang masih tampak minimalis. Dan lesung pipi itu,


Ahh kenapa kamu malah tersenyum manis begitu ?


"Hay, Apa kabar ? " Wiya tak ingin ikut terpaku walau dia sedang mengutuk diri yang mempersilahkan kerinduan menyeruak ke permukaan detik ini.  Walau tak se klimis saat pertama kali mereka bertemu. Tapi sedikitpun tak mengurangi ketampanan dan karisma yang tampak dari garis kaku wajahnya itu. *Apakah kamu masih tetap Zayn ku? * lirih hati kecilnya yang tidak tau diri, tapi suara itu sangat dalam, dalam sekali sampai dia sendiri tak menyadari.


"Hay, Hello, Pak Zayn ... " Wiya melambai-lambaikan tangan di hadapan wajah Zayn yang masih mematung memandang dirinya.


Zayn terkejut bukan karena panggilan Wiya, melainkan dari tangan gadis kecil yang sempat menabrak betisnya, gadis kecil itu berlari merentangkan tangan menuju ke arah Wiya sambil berteriak memanggil.


"Bundaaaa...."


Wiya berlutut menyesuaikan ukuran badan gadis kecil itu agar dapat langsung dipeluknya. Zayn semakin terpaku kehilangan kata-kata. Tak sampai 10 detik lamunan kebahagiaannya berganti dengan kebingungan.


Bunda ???


Zayn memperhatikan gadis kecil itu seperti miniatur diri Wiya. Begitu mirip terutama di bagian hidungnya. Angin yang semula teduh, seketika bergemuruh menuntut jawaban.


"Sayang, ada apa ?" Tanya Wiya membelai rambut panjang gadis kecilnya.


"Tadi Vinny melambung bola telalu tinggi jadinya bola Vinny telbang ke laut dan dibawa syama ombak-ombak itu" celoteh gadis polos itu.


"Oh ya? Hahahaa. Berarti sekarang Vinny hebat dong sudah bisa melambung bola setinggi itu. Biarkan saja bolanya dibawa air laut. Berarti sudah bukan rezeki Vinny"


Gadis mungil itu turun dari pangkuan bundanya dan tampak memikirkan sesuatu.


"Kamu mikirin apa anak manis ? Ayo kita kembali ke Daddy" Wiya kembali akan menggendong Vinny.


"Wiya tunggu !"


"Iya Pak?"


Setelah tiga tahun membiarkan aku frustasi mencari jejak mu. Hari ini kamu bisa menghadapi ku se santai ini ???? siapa kamu sekarang, Qawiya???


"Kamu ? Gadis ini ?"


"Tak semua pertanyaan harus dijawab saat ini juga. Saya permisi Pak Zayn. Selamat melanjutkan aktivitas anda"

__ADS_1


Wiya membawa Vinny ke gendongannya dan melambung-lambungkan Vinny ke udara. Gadis kecil berusia 3 tahun itu tertawa membuka lebar-lebar mulutnya.


__ADS_2