Utuh

Utuh
SEASON II : EPS 3


__ADS_3

Usai menikmati makan siang romantis versi mereka berdua, Wiya tidak langsung kembali ke perusahan. Karena suaminya meminta untuk ditemani bekerja dan mereka akan pulang bersama nanti.


Rencananya, malam ini mereka akan menginap di rumah orang tua Wiya, karena tidak sampai satu pekan lagi Ridwan,Mitty dan Vinyy akan berangkat meninggalkan Kota Tanjungpinang. Ridwan baru saja mendapat surat mutasi untuk dipindah dinaskan ke Kabupaten Natuna, salah satu gugusan pulau yang ada di Kepulauan Riau.


Wiya sangat sedih, terlebih harus jauh dari Vinny. Gadis kecil itu benar-benar menjadi obat dikala sepi,sedih dan lelah menghampiri. Meski masih satu provinsi, jarak dari Tanjungpinang ke Natuna tidaklah dekat. 90 menit jalur udara bahkan bisa menghabiskan waktu dua hari jika ditempuh dengan kapal PELNI. Singapura dan Malaysia bahkan lebih dekat secara geografis.


Kepulauan paling utara di Selat Karimata ini punya pesona dan eksotisme tersendiri, yang membuatnya dipantau ketat karena banyak pihak asing yang kapan saja dengan senang hati merebut Natuna dari NKRI.


Mitty sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di sana, namun sebagai seorang istri yang baik dari seorang Abdi Negara, dia siap mendampingi suaminya kemana saja. Dan di pulau inilah tempat dia tinggal nanti, meninggalkan Tanjungpinang untuk sementara waktu.


"Wiy, lusa kita kerumah mama dulu ya, soalnya kan mama ada jadwal pemeriksaan malamnya. Abis itu besoknya kerumah Ibu lagi sampai Bang Ridwan berangkat."


"Iya mas, gak masalah!"


Wiya duduk di sofa menyelesaikan beberapa pekerjaan dari macbooknya, Risma sekretarisnya, juga merupakan orang yang sangat kompeten dan bisa diandalkan.


Pekerjaan Wiya bisa dikatakan lebih banyak dari pekerjaan suaminya, karena selain mengurus ZA, Wiya juga memegang langsung beberapa project besar kegiatan sosial.


Wiya sangat serius mengamati beberapa proposal pengajuan yang menggambarkan langsung kehidupan anak-anak di pulau-pulau terpencil yang hampir tak tersentuh 'keadilan sosial'. Kemudian dia membaca notulen rapatnya tadi pagi yang Risma kirimkan.


"Mas," menghampiri belakang kursi kerja suaminya dan memijat-mijat kecil. "Sabtu malam nanti, ada undangan kegiatan amal dan pelelangan karya sastra di Gedung Aisyah Sulaiman, ZA adalah donatur sekaligus sponsor platinum, jadi aku diminta hadir langsung memebri sambutan mewakili perusahaan," pijitan di pundak Zayn semakin dalam, membuat suaminya itu merenggangkan urat lehernya ke kiri dan ke kanan karena keenakan."Aku, izin lagi ya mas?" pintanya.


Selama mereka menikah, Wiya sama sekali tidak mengurangi aktivitasnya. Walaupun suaminya tak pernah melarang, namun dia tetap merasa sungkan, terlebih jika harus menghadiri acara di malam hari. Wiya tetap memerlukan trik kecil untuk membuat suaminya mengizinkannya beraktivitas dengan ridho dan ikhlas.


"Kamu donasi berapa banyak sih memangnya?" Menepuk-nepuk bagian lain yang masih terasa pegal. "Sebelah sini masih pegal sayang." Seperti sedang memanfaatkan keadaan.


"Bukan aku mas, tapi perusahaan!" Menambah pijatan di bagian yang suaminya tunjukkan.


"Iya emang perusahaan itu punya siapa?"


"Punya masyarakat luas mas."


Padahal sudah jelas perusahaan Wiya bukanlah sebuah yayasan amal, tapi Wiya selalu menjelaskan pada siapa saja yang bekerja disana, bahwa orientasi bisnisnya bukan lagi sebuah keuntungan semata, tapi juga berhubungan dengan kepentingan hidup banyak orang. Itulah mengapa logo ZA selalu terpampang disetiap baliho kegiatan amal.


"Jadi nanti acara intinya dikemas semacam 'theater anak pulau' gitu mas, nah target marketnya para pengusaha yang ada di kota kita, makannya mereka mengundang hampir semua pelaku usaha disini." Jelasnya dengan sangat antusias.


Kalau tidak salah, tadi pagi Vela menyampaikan undangan kegiatan amal.


"Sepertinya aku juga dapat undangan kegiatan amal, apa mungkin itu kegiatan yang sama?"


"Ha? Beneran mas? Sebentar ya!" melepaskan pijitan dan berjalan menuju pintu.


"Eh...eh...eh, mau ke mana sih?"


"Sebentar mas, mau ke Vela dulu, nanyain undangannya." Wiya tentu sangat senang jika punya satu kegiatan yang sama dengan suaminya.


"Tidak usah!" Tukas Zayn, Ia menekan tombol nomor 2 dari intercom di atas mejanya. Tidak sampai sepuluh detik Vela sudah masuk ke dalam dengan sebuah undangan di tangannya.


"Nona Vela, berikan undangan itu pada ku!" Pinta Wiya yang langsung mengambil undangan itu dari tangan Vela dengan tak sabar. "Wah, iya sayang. Ini benar undangan dari tim relawan Putera Bangsa. Wah asik!" Serunya.


"Apa bapak akan mengkonfirmasi kehadiran IQ Media pak? jika iya saya akan segera menghubungi teman saya, eh maksud saya menghubungi tim humas pihak Putera Bangsa." Ucap Vela manis dan sopan.


"Iya!"


"Apa saya perlu mendampingi Bapak?"

__ADS_1


"Tidak."


"Baik pak, saya permisi" Vela menundukan sedikit kepalanya dan tersenyum ke arah Istri sang direktur yang sejak tadi memperhatikannya berbicara. "Bu..." Kembali menundukkan kepalanya.


"Em, Nona Vela tunggu!" Panggil Wiya menghentikan langkah Vela.


"Em, maaf saya cuma mau tanya, emm, berapa usia mu?"


"Saya, 32 tahun Bu." Jawab Vela dengan senang hati.


Wah ternyata usianya 3 tahun lebih tua dari ku


"Kamu terlihat jauh lebih muda dari usia mu ya, hehehe. Yasudah, aku hanya ingin tanya itu saja,sorry ya!"


"Ibu bisa aja, saya permisi ya Bu." Pamitnya.


Kemudian Vela keluar meninggalkan ruangan itu dan kembali menutup rapat pintu, meninggalkan Wiya dan Zayn di dalam sana.


"Mas, ternyata Vela lebih tua dari ku ya, hahha. Apa dia sudah berkeluarga?" Tanya Wiya pada Zayn yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Mana aku tau." Sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan istrinya.


"Anaknya manis, tapi cekatan juga ya kayaknya mas?"


"Kamu kenapa jadi bahas Vela sih? mending sini lanjut pijitan tadi!"


Entah kenapa Wiya melihat Vela seperti dia melihat Mitty. Manis dan komunikatif. Kesan akrab langsung bisa terbaca dan intonasi dan ekspresi wajahnya, tidak kaku dan baku seperti Risma sekretarisnya.


***


Malam itu Wiya dan Zayn bermalam di kediaman orang tua Wiya, menikmati hari-hari terakhir bersama keponakannya tercinta. Saat Vinny sudah tertidur usai dibacakan buku cerita, Wiya mengendap-endap keluar dari kamar yang sudah mirip istana boneka itu dan berpas-pasan dengan Mitty yang baru saja akan bergabung bersama mereka.


"Oh, akhirnya tidur juga tuan puteri, dari pagi sampe sore menolak tidur siang karena Ibu ngasi tau Lo mau kesini hari ini."


"Hiks, disana nanti dia pasti kesepian deh Mitt," ucapnya dilema. Vinny sudah seperti anak kandungnya sendiri.


"Iya, jangankan dia, gue juga gak akan mudah adaptasi Wiya, tapi mau gimana lagi?"


"Disana nanti kalian bikin aja satu lagi, Vinny biar tinggal disini sama Ibu sama gue."


"Punya anak gak semudah bikinnya Wiya!"


"Bikinnya susah Mitt, gue gak jadi-jadi. Huaaaa!!"


"Curhat bu?"


"Gimana Mitt gimana? Kasi tau dong tipsnya, apa gue kurang panas gitu? atau apa Mitt? apa?"


"Astaga, udah kuliah tinggi-tinggi, belajar sampe pusing kemana-mana tapi pertanyaannya masih aja begitu, Qawiya...ahahaha"


"Kok lo malah ngetawain gue sih, bukannya ngasih saran!"


"Kurang panas gimana sih maksud lo? Nih ya, walau kalian mainnya di samping kompor gas dua tungku pun, kalau belum waktunya ya tetap aja belum Wiy, lagian lo baru berapa bulan nikah sih? Masih disuruh nikmati waktu-waktu berduaan yang nanti kalau udah punya anak pasti gak akan bisa pacar-pacaran lagi."


Wiya sesaat terdiam, Mitty bilang menikmati waktu berudaan? Usai dari bulan madu, bisa dikatakan mereka hanya bertemu saat malam hari. Wiya menunaikan kewajibannya sebagai istri dengan sisa tenaga yang ada, begitu setiap harinya.

__ADS_1


***


Keesoksn harinya, Wiya dan Zayn pulang lebih siang karena malam harinya harus menemani jadwal kontrol Mama Wulan. Wiya dengan berat hati meninggalkan pekerjaan yang sedang banyak-banyaknya. Bagaimanapun dia tidak ingin alfa mendampingi Zayn saat berkunjung ke rumah orang tuanya.


Saat mobil Zayn masuk ke halaman, tampak sebuah mobil mewah yang sudah terparkir disana. Wiya dan Zayn saling beradu pandang dan serentak mengangkat kedua bahu mereka, sama-sama bertanya "Siapa yang datang?"


Saat mereka baru akan turun, tampak Mama Wulan sudah berdiri di depan pintu dengan seorang balita tampan di gendongannya, tampak pula disebelahnya Brigitta dengan kehamilannya yang sudah tampak membesar, namun dirinya masih terlihat sangat cantik dan mempesona, malah semakin bersinar.


Mama Wulan tampak sangat akrab dan bahagia saat para balita laki-laki itu menciumi tangan dan pipinya. Bahkan Mama Wulan seperti tak rela melepaskan anak lelaki yang ada di gendongannya.


Wiya dan Zayn turun dari mobil dan menyapa hangat Ilham dan Brigitta. Brigitta memang sering mengunjungi mama Wulan sesuai janjinya, dia akan tetap menganggap dan menjaga Mama Wulan sebagai orang tuanya.


"Hey, ada tamu rupanya," sapa Wiya hangat namun seperti menyiratkan satu perasaan aneh di dalam dirinya. "Kita baru aja sampai, kalian udah mau pulang?" ucapnya berbasa-basi. "Mama..." Memeluk Ibu mertuanya.


"Sayang, kalian udah sampai. Nak Ilham sama Bii baru aja mau pulang." Mama Wulan mengusap hangat kepala anak dan menantunya.


"Hehehe. Iya nih kita udah dari tadi. Cuma mau liat keadaan mama dan ngingatin jadwal kontrolnya nanti malam," ucap Brigitta sambil mengambil Keanu, putera bungsu mereka dari gendongan mama Wulan dan menyerahkannya pada Ilham. "Kean juga udah ngantuk karena gak bobo siang. Kak Revi, Mas Vano ayo salim dulu sama Aunty Wiya dan Uncle Zayn!" perintahnya pada kedua anak-anaknya.


"Iya Zayn, kita pamit duluan ya." Ucap Ilham.


"Padahal kita masih mau ngobrol banyak, tapi gak masalah lain kali aja. Ngomong-ngomong ini kamu udah mau lahiran Bii?" tanya Zayn saat melihat perut Brigitta. Sekali lagi Wiya merasa tak enak hati. Entah karena apa.


"Iya nih udah 38 minggu, kita udah dapat jadwal operasinya. Doain ya!" Ilham mengusap-usap kecil perut istrinya.


"Iya...iya pasti," Mama Wulan menyahut sambil memegangi perut Brigitta. "Pokoknya ingat pesan mama ya Bii, jangan terlalu capek, relax pokoknya kurangi aktivitas." Ucapnya tulus seperti seorang Ibu yang sedang menasehati anaknya.


Tak seorangpun menyadari eksrpesi Wiya yang mulai berubah disana.


"Iya...iya ma, Bii ingat. Yasudah, kami pamit dulu ya semuanya. Assalamualaikum."


"Ehh, ehh, tunggu Oma mau kiss Keanu satu kali lagi dong," Mama Wulan mencium pipi mungil Keanu. "Revi, Vano sering-sering dong main ke rumah Oma ajakin papa kalian, Oma kan sepi kalau kalian pulang. Yasudah hati-hati ya, Wa'alaikumsalam."


"Aku pulang ya Wiy," pamit Ilham pelan saat melihat Wiya, Mungkin hanya Ilham yang dapat menangkap ekspresi Wiya yang hampir tak terbaca oleh siapapun juga. Bagaimanapun Ilham pernah menjadi orang yang sangat dekat dan mengerti riak wajah sahabatnya.


"Ah, iya..iya..Bye, hati-hati ya." Melambaikan tangannya seolah sedang girang.


Mereka menatap kepergian keluarga kecil Ilham sampai mobil yang dikendarai hilang dari pandangan.


"Duh, mama seneng banget deh hari ini kalian pada datang kesini, Wiya ayo naik ke atas ganti baju dan ajak suami mu istirahat dulu, mama minta Bi Sari buatkan kue untuk kita ngeteh sore nanti, sambil nungguin Nikki dan Vhieya pulang."


"Iya ma, kita ke atas dulu ya." Pamit Zayn.


"Iya...iya...sudah sana naiklah."


Wiya dan Zayn naik ke kamar mereka di lantai dua. Saling membersihkan diri dan sejenak beristirahat siang. Menikmati hal yang sudah sangat jarang terjadi.


"Sayang kamu mau ngapain? Aku belum selesai haidh." Wiya memperingati suaminya yang mulai tak tenang jika mereka hanya 'baring-baring saja'.


___________________________________


Happy Ied Mubaraq Everyone,


Taqabalallahu minna Waminkum.


THR Poinnya dong buat Author ^_^

__ADS_1


PLIS JANGAN LUPA TAP LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN YA SWEETY


BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT NGELANJUTIN KARYA INI ^_^


__ADS_2