
Paginya Wiya terbangun lebih dulu melihat posisi Zayn yang masih sama. Kupu-kupu itu bertebangan lagi dalam bilik-bilik hatinya yang masih kosong. Menggelitik dan membuatnya geli sekali. Perlahan dia melepaskan lengan kekar yang melingkar itu, dan sontak membuat Zayn terbangun. Wiya mengambil kesimpulan Zayn adalah orang yang sangat sensitif. Termasuk laki-laki yang punya jiwa siaga yang tinggi. Sejak semalam bersamanya, bahkan ketika Wiya hanya resah di atas tempat tidurnya sendiri, Zayn sadar dan terbangun dari tidurnya.
Pagi telah menyapa mereka, matahari belum naik terlalu tinggi, tapi pagi ini dengan berat hati Zayn harus pergi. Mulanya dia meminta supir untuk mengantarkan kebutuhannya kerumah sakit. Tapi Wiya menyarankan agar sebaiknya Zayn kembali dulu kerumah.
“Oke, sekarang aku pulang dulu. Kamu harus telpon aku kalau ada apa-apa. Okay Wiya? Ibu dan ayah akan langsung kesini, mungkin sekitar jam 9 sudah akan tiba." Mengambil kemejanya dan memakai kembali menutupi badannya tanpa melihat ke arah Wiya.
Wiya yang diajak bicara termenung melihat adegan di depannya. Halusinasinya merasa ingin sekali membantu Zayn memasangkan kancing-kancing kemeja itu.
“Kamu istirahat ya, jangan main hp terus!” Mengancing lengan kemeja sebelah kiri dan mengambil kunci mobil diatas nakas.
“Hey, Qawiya kamu mikirin apa” Usiknya pada lamunan gadis itu.
“Ha, iya iya iya Zayn. Kamu, hati-hati”
Zayn menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Wiya.
“Hari ini ada pertemuan penting. Aku akan usahakan semua selesai sebelum makan siang dan bisa kesini”
Wiya mengangguk patuh melihat Zayn berlalu meninggalkan ruangan itu sampai menghilang dibalik pintu. Tak ingin lagi menebak-nebak apa yang sedang terjadi, Wiya kini ingin menikmati apa yang ada dihadapannya. Toh ini sama sekali bukan drama yang dia buat. Semua terjadi dengan alami. Tak ada yang bisa menyalahkan perasaan yang makin menjadi-jadi ini. Apa bersikap egois dibenarkan dalam kasus ini? Dia mengangguk, menjawab pertanyaannya sendiri.
***
__ADS_1
Sesuai dengan yang Zayn ucapkan. Ibu dan ayah datang tepat pukul 9 pagi. Rasa rindu yang sudah membuncah ditambah kondisi yang sedang sakit membuat Wiya menangis saat memeluk Ibunya, seolah mereka baru bertemu setelah puluhan tahun lamanya . Kemudian memeluk ayahnya bergantian.
Wiya menjelaskan dari awal kejadian kepada Ibunya dan saling bertukar cerita. Ibu membantu Wiya membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Kini wajahnya tampak lebih segar walau masih dengan outfit hijau pasien rumah sakit. Rambutnya dikuncir satu keatas dan dia memoles sedikit lipbalm setelah mengaplikasikan compact powder dengan kuas untuk covering wajah pucatnya.
Wiya memesan nasi rendang dari aplikasi, dia tampak berselera melihat makanan itu terlebih ada ayah yang menyuapkan makan siang untuknya. Mereka makan bersama dengan lahapnya. Ayah juga ikut makan sambil menyuapi anak gadisnya. Hingga terdengar suara ketukan pintu, Ibu beranjak membukakan dan tersenyum senang saat melihat siapa yang datang.
“Nak Zayn? Mari masuk nak”
Wiya yang sedang mengunyah buru-buru menelan rendangnya dan segera meraih minuman di gelasnya. Hatinya senang sekali mendengar Ibu menyebut nama Zayn. Zayn menyelesaikan urusan secepatnya dan sudah kembali. Wiya merapikan rambutnya yang terkuncir dengan jari.
Saat Wiya yang sudah cukup percaya diri itu memutar arah pandangnya, hatinya kembali hancur untuk kesekian kali, bahkan lebih hancur dari remahan rendang yang dia telan tadi, saat melihat Zayn yang tidak masuk sendiri. lagi-lagi dia bersama gadis cantik yang semakin cantik bila dibanding wajahnya yang pucat pasi.
Wiya kesal setengah mati. Dia merutuk perasaan egoisnya tadi. Kenapa dia hanya berani egois saat Zayn sendiri, saat ada Brigitta disebelahnya Wiya selalu menyalahkan dirinya. Pedih. Tak usah ditanya lagi.
Bagaimana bisa, laki-laki yang satu malam rela tidak pulang menemaninya dan memberi kenyamanan tadi malam. Semua tampak begitu tulus dan berlebihan jika hanya sebagai teman , menenangkan dan sudah pasti menimbulkan harapan. Bagaimana bisa siang ini saat dia berjanji akan kembali, dia kembali, benar-benar kembali untuk menghancurkan harapan yang dia tinggalkan sebentar tadi.
Potongan puzzle hati yang sudah separuh Wiya susun tadi kembali bertebaran. Wiya sudah diambang batas sabar dan sadarnya. Sepanjang Zayn dan Brigitta disana, Wiya hanya berpura-pura memejamkan mata dibalik selimutnya.
Ibu keheranan, pasalnya tadi Wiya baik-baik saja dan sangat ceria. Ibu Ria jadi sedikit khawatir dengan perubahan anaknya yang hanya sepersekian detik. Sedangkan ayah mencairkan suasana dan mengerti perasaan anaknya saat ini. Sedangkan Zayn sama polosnya dengan Brigitta mengira Wiya sungguh sedang pusing dan beristirahat sehingga mereka tidak berlama-lama disana.
“Kenapa buru-buru sekali Nak Zayn?“ Tanya ayah saat mengantar Zayn kedepan pintu.
__ADS_1
“Iya Pak, saya masih ada urusan penting. Ohya pak, maaf saya lupa. Kenalkan, ini teman saya. Brigitta." Brigitta menundukkan kepalanya
“Iya Pak, perusahaan saya dekat sini, saya sengaja mampir untuk menjenguk Wiya. Kebetulan bertemu Zayn di parkiran tadi. Tapi Wiya ternyata sedang istirahat. sampaikan salam saya padanya pak. Mungkin lain kali saya akan kesini lagi.” Ucapnya sopan dan manis.
Mereka berdua berlalu dan berpisah saat Brigitta dijemput oleh Azmi dan Zayn mengendarai mobilnya sendiri. mereka melanjutkan urusan dan tujuannya masing-masing karena tadi mereka memang hanya tak sengaja bertemu di halaman parkir.
-----------------------
WAAAH, FINALLY BISA UPDATE LAGI. ALHAMDULILLAH SETELAH SEKIAN BANYAK DRAMA DI DUNIA NYATA. MAAF YA CUMA BISA UP 3 EPS AJA
READER : YAELAH, SATU JUGA GAPAPA THOR. SIAPA JUGA YANG NUNGGUIN
AUTHOR : YAHHH. POTEK HATI AKU.
READER : YA SIAPA SURUH JADI AUTHOR KE PD AN.
AUTHOR : GAPAPA DEH YANG PENTING CERITANYA CEPAT SELESAI, HAHAHAH
Thanks buat yang sudah berkenan mampir dan baca. Apalagi sampe nungguin.wkwk. Aku hanya bisa update sesempatnya, terlebih saat corona effect yang mengharuskan hasben bekerja dirumah benar-benar membuat ku tak bisa ngerjain apa-apa dirumah. hikmahnya, NIKMATI KEBERSAMAAN.
__ADS_1
Stay Safe buat semuanya dimanapun berada, sambil terus berdoa badai segera berlalu dan kita melewatinya dengan senantiasa sehat dan selalu dibawah lindunganNya.