Utuh

Utuh
SEASON II : EPS 2


__ADS_3

Wiya menunggu tibanya hari berganti. Tidurnya sangat resah, berganti-ganti posisi namun tak juga berhasil terlelap dengan baik.


Kadang tertidur sebentar dan bermimpi yang tak jelas, lalu terbangun kembali. Begitu seterusnya hingga menjelang dini hari.


Akhirnya dia memutuskan untuk bangun saat waktu menunjukam pukul 03.30 pagi. Ia segera menuju sudut baca dan membuka laci dibawahnya. Mengambil tiga buah alat tes kehamilan dengan jenis yang berbeda dan membawanya ke kamar mandi.


Dengan perasaan berdebar, usai mengisi urine container, Wiya membawanya menuju wastafel. Pertama dia mencelupkan satu alat berbentuk strip, sesuai anjuran penggunaan.


satu detik, dua detik, tiga detik dan seterusnya. Wiya menutup matanya menunggu beberapa detik alat itu bekerja.


Sekiranya dirasa sudah cukup lama, Wiya membuka matanya memeriksa garis merah pada alat itu. Hanya ada satu garis merah melintang disana. Wiya mengambil senter dan memberikam tambahan cahaya agar tampak lebih jelas. Namun memang hanya satu, tidak ada garis susulan.


"Hufff" Dia membuang nafas beratnya.


Kemudian Ia melakukan hal yang sama pada dua alat test berikutnya. Alat test digital yang harganya lebih mahal, sambil berharap alat itu akan menunjukkan hasil yang bebeda.


Tanpa menunggu lama seperti alat test pertama tadi, kedua alat itu langsung menunjukkan hasilnya. Pada kotak persegi kecil di tengah-tengah, tampaklah satu garis merah, ya hanya satu garis berwarna merah.


Ada sedikit kekecewaan lewat di hatinya. Wiya memgambil alat itu dan mengguncang-guncangnya, barangkali masih ada kemungkinan lain. Namun semua yang ditampilkan memang kenyataan yang seharusnya Wiya terima. Belum ada kadar HcG dalam tubuhnya. Wiya belum diizinkan mengandung buah cinta mereka bulan ini, sama seperti bulan-bulan sebelumnya.


Seketika ekspresinya berubah semakin keruh. Wiya membuang semua alat itu ke tempat sampah dengan kasar. Dia mencuci tangan dan wajahnya lalu kembali ke tempat tidur.


Namun Wiya tidak kembali tidur. Dia duduk bersandar di atas ranjang, kedua kakinya ditekuk dengan tangan dan termenung. Perasaan kecewa, takut, dan yang lainnya bermunculan di kepala.


Saat sedikit terjaga, tangan Zayn meraba-raba sisi ranjang sebelahnya seperti mencari keberadaan istrinya, seketika dia membuka matanya karena tak mendapati apa yang dicari, ternyata istrinya sedang duduk termenung dengan ekspresi yang tak terbaca.


"Wiya..." Zayn langsung duduk memposisikan diri disamping istrinya. "Sayang, kamu kenapa? Abis mimpi buruk ya?" meraih kepala Wiya untuk masuk ke pelukannya.


"Kenyataan yang buruk Mas, bukan mimpi," Wiya hanya diam tak membalas pelukan suaminya. "Aku gak hamil mas, tespacknya negatif semua." Tukasnya.


"Astagfirullah, jadi itu? sayang, belum hamil itu bukan kenyataan yang buruk. Kamu gak boleh ngomong gitu," Zayn semakin mengencangkan pelukannya. "Kita bahkan baru menikah beberapa bulan Wiy, jangan pernah bicara seperti itu lagi."


"Nanti kita ke dokter ya?"


"Iya kita ke dokter, tapi buat memeriksakan kesehatan mu, bukan untuk program kan? Aku mau semua terjadi secara natural saja."


Sungguh luluh hati Wiya mendengar penuturan suaminya. Dia takut Zayn tak sabar dan ingin segera memiliki anak darinya. Ada ketakutan dirinya akan sulit hamil mengingat usianya hampir memasuki kelapa tiga. Namun suaminya ternyata mau bersabar dan malah menenangkan dirinya.


"Tapi temen-temen ku banyak yang langsung hamil mas."


"Kalimat mu terdengar seperti sedang meragukan keperkasaan ku."


"Astagfirullah! Engga mas, engga!"


"Makannya jangan pernah ngomong gitu lagi. Lebih baik sekarang kita wudhu,terus shalat malam. Minta sama yang berhak nentuin kapan kamu bisa hamil." Zayn keluar dari selimutnya.


"Mas," Wiya menahan pergelangan tangan suaminya. Zayn menoleh seketika. "Abis shalat nanti, kita....itu....emm, anu..."


Zayn menautkan alisnya.


"Bicaralah dengan jelas!"


"Hamili aku!" Wiya menutup wajahnya dengan bantal. Zayn menyeringai penuh kemenangan.


"Ayo shalat dulu, kita bisa melakukannya kapanpun, harus dengan suasana yang menyenangkan."


Zayn tau istrinya berani mengatakan hal itu karena memang ingin segera hamil. Zayn sama sekali tak ingin melakukannya karena tekanan atau tuntutan apapun.


"Tapi aku maunya sekarang!" Rengek Wiya.


"Sayang, kita bisa melakukannya..."


"Kamu gak ngerti banget ya Mas, aku maunya sekarang bukan nanti!" Wiya menaikkan intonasi suaranya.

__ADS_1


"Qawiya!" Zayn menyadarkan Wiya dengan memanggil tegas namanya.


"Maaf Mas." Wiya menundukkan pandangannya lesu dan segera turun menyusul Zayn untuk berwudhu.


Zayn merangkul kembali tubuh sang istri. Wiya salah kalau mengatakan Zayn tak mengerti dirinya. Zayn sangat memahami suasana hatinya saat ini. Zayn sangat menginginkan istrinya segera bisa hamil, namun dia tak ingin hal itu malah menjadi beban untuk Wiya. Kehamilan adalah anugrah yang indah, tapi jika belum diberi kepercayaan, hal itu juga tak akan mengurangi kadar perasaan cinta kepada wanita yang kini berada dipelukannya.


"Iya kita lakukan setelah shalat, tergantung kemampuan kamu godain aku aja nanti."


Wiya mencubit kecil perut suaminya. Dia sebenarnya malu sekali, lagipula sekarang bukan lagi masa subur. Melakukannya pun tak akan berpengaruh banyak. Tapi tidak ada salahnya mencoba terus-terusan.


***


Sepasang suami istri tadi kembali ke peraduan mereka, di tempat tidur, Wiya mulai berusaha melakukan hal-hal yang dirasa akan 'membangunkan' suaminya.


Sebenarnya Wiya tak perlu bersusah payah, karena hanya dengan mengendus aroma rambut Wiya yang basah saja bisa membuat suaminya "terjaga" apalagi di pagi hari.


Wiya melakukannya dengan baik, Suaminya kini sudah benar-benar takluk dan tak bisa menahan diri lebih lama. Dirinya pun merasakan gejolak hasrat yang sama.


"Mas, sebentar ya," Wiya melepaskan pagutan yang sudah terlanjur panas. Zayn menatapnya dengan tatapan kecewa "Sebentar aja sayang."


"Emh, kenapa?" Tanya Zaym dengan nafas yang sudah semakin berat.


"Aku mau ke kamar mandi sebentar."


Wiya menuju kamar mandi cukup lama, dan keluar lagi dengan ekspresi sedikit ketakutan menuju suaminya yang menatapnya dengan tak sabar.


"Maaf mas, itu, emm.. aku,datang bulan."


Seketika Zayn memalingkan pandangannya dan menutup kasar kepalanya dengan bantal dan selimut. Sepertinya dia harus menahan kesakitan, atau bersolo karir menuju pelepasan.


Wiya segera menghamburkan diri memeluk suaminya dari belakang.


"Mas, sayang. Ya Maafin aku mas, aku...aku, mana aku tau dia mau datang sekarang,"


"Mashhh, ayo aku bantuin selesaikan secara manual."


Wiya tak tega karena mengerti suaminya akan merasakan sakit dan uring-uringan bila dibiarkan tetap seperti itu.


Tanpa banyak berkata-kata, Zayn langsung membalikkan tubuhnya dan menguasai istrinya, ternyata dengan cara manual sajapun Wiya mampu menyelesaikan kewajibannya.


"I love you." Zayn mengecup lembut puncak kepala istrinya dan tertidur kembali menjelang subuh.


***


Paginya mereka bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan masing-masing. Wiya biasanya berangkat lebih pagi dengan mobilnya sendiri. Sedangkan Zayn berangkat dengan sopir. Entah sudah berapa kali Zayn memaksa akan mencarikan sopir wanita untuk Wiya, tapi Wiya menolaknya dengan berbagai macam alasan pula.


"Sayang, bekal makan siang mu jangan lupa lagi ya. Aku pergi dulu mas," mencium tangan suaminya, dan Zayn membalas dengan mencium kening Wiya. "Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." Ucap Zayn membalas lambaian tangan istrinya dan melihat mobil itu melaju meninggalkan halaman rumah mereka.


***


Di perusahaan Wiya, dia memimpin dengan baik. Semakin hari semakin banyak pengguna software keuangan yang mereka gagas.


Keuntungan dari hasil usahanya sebagian besar Wiya salurkan untuk kegiatan sosial, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan anak-anak di daerah perbatasan Kepulauan Riau.


Seperti sekarang, Wiya sedang mempelajari rundown acara sosial, dimana icon Zahira Akuntansi akan menjadi sponsor utamanya.


Dia segera meminta Risma, sekretarisnya untuk mempersiapkan rapat bersama Divisi Humas.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering, sebuah pesan masuk dari Zayn. Suaminya itu memintanya untuk menemani makan siang di IQ media siang ini.


"Risma, rapatnya majukan pagi ini ya. Agenda lain yang harusnya pagi digeser ke sore aja. Karena aku harus ke kantor suami ku sebelum makan siang nanti" Wiya menghubungi Risma melalui intercomnya.

__ADS_1


"Baik bu!"


***


Sesuai janjinya, Wiya tiba di perusahaan suaminya 15 menit sebelum jam makan siang. di bagian gedung paling atas tampak plang besar dengan huruf timbul bertuliskan IQ Media.


IQ untuk Ilma Qawiya, how sweet you are,Mas.


Ini kedua kalinya Wiya datang ke gedung ini. Dia tak ingin terlalu sering mengganggu suaminya bekerja, dan pula Wiya juga tak kalah sibuknya. Wiya menolak diantarkan ke ruangan suaminya, dia hanya minta ditunjukkan karena sedikit lupa, dan naik sendiri sampai ke ruangan Direktur Utama.


Karena tidak melihat sekretaris atau siapapun di depan, Wiya langsung masuk keruangan suaminya.


"Sayang, kamu sendirian?" Zayn berdiri menghampiri Wiya "Kamu gak diantar sama Vela? Ayo duduk sini" Zayn mengajak istrinya duduk di sofa.


"Vela?"


"Iya, Ravela sekretarisku"


"Ohhh, Sekretaris mu perempuan?"


"Kenapa sayang? dulu juga sekretaris ku perempuan"


"Tapi aku kenal baik dengan Bu Rifa"


"Astaga, kamu cemburu? Ahaha. Sebentar ya aku kenalkan dia pada mu."


Zayn menghubungi Vella dan memintanya masuk.


"Kamu kemana saja, istri saya masuk sendirian kesini"


Ravela Gisha, wanita muda yang manis dan anggun, dan sangat pantas menjadi sekretaris direktur utama. Perawakannya tinggi, kulitnya putih bersih. Mengenakan seragam berwarna merah hati, dengan sepatu hitam bertumit tinggi dan stocking dengan warna kulit, entah kenapa gadis ini terlihat seksi.


"Maafkan saya pak, saya dari belakang," suaranya juga lembut sekali. "Maafkan saya bu"


"Tidak apa-apa," ucap Wiya yang malah sungkan karena sempat berprasangka bukan-bukan.


"Kenalkan, ini istri saya. Sayang, ini Ravela sekretaris yang kemarin lulus seleksi dari program rekruitmen Tim HRD" Zayn menjelaskan bahwa Vella bukan pilihan pribadinya.


"Selamat siang Ibu Wiya. Sekali lagi mohon maaf atas kesalahan saya tadi, apa Ibu dan Bapak mau dibawakan sesuatu?"


"Tidak usah Nona Vela, silahkan nikmati istirahat mu, saya akan menemani suami saya makan siang disini" Ucap Wiya.


"Baik, saya permisi." Vela menutup kembali pintu ruangan itu.


Wiya mempersiapkan makan siang untuk suaminya di atas meja sofa seperti yang biasa dilakukannya dulu.


"Sekarang udah tenang? kalau belum, besok aku minta HRD carikan sekretaris laki-laki." Goda Zayn lagi.


"Apaan sih Mas, iya maaf mas maaf. Nona Vela itu sepertinya lebih muda dari ku deh mas."


"Mana aku tau."


"Anaknya manis, sepertinya menyenangkan. Kalau kamu nanti ada sekretaris baru, dia biar kerja di tempat ku aja mas, Ehehehhe."


"Ada-ada aja kamu, ayo suapin aku, udah laper nih"


Wiya dengan manis menyuapi suaminya dan dirinya sendiri, hingga makanan itu habis tak bersisa.


***


Kok dikit banget Thor?


Seperti halnya kalian, aku juga sedang dalam persiapan beres-beres menyambut lebaran. Tetap semangat ya di hari-hari terakhirnya meski lebaran tetep #DirumahAja

__ADS_1


ini udah 1600 an kata loh, lumayan kannn...


__ADS_2