
Dua bulan setelah kejadian itu, kondisi luka Wiya telah pulih sempurna. Selain rutin ke dokter kulit, Wiya juga melakukan terapi trauma healing. Bagaimanapun juga ingatan tentang kecelakaan itu sedikit banyak mempengaruhi fikirannya. Namun kini dia sudah sembuh, kondisinya sudah benar-benar baik.
Karena sibuk dengan jadwal pengobatan, mereka belum menyempatkan diri untuk menemui dokter Anne. Itu juga karena Wiya sudah tidak lagi memikirkan untuk bisa secepatnya hamil. Kehidupan benar-benar terasa sangat ringan dan berjalan apa adanya.
Tidak ada lagi stress dan tumpukan masalah di kepala yang membuat hormonnya naik turun, itu juga berimbas dengan periode bulanannya yang semakin teratur. Sehingga tidak ada lagi drama telat datang bulan yang berakhir harapan palsu.
Sisa alat test kehamilan di laci meja sudut itu juga tak pernah lagi dia gunakan. Dan yang paling penting adalah, hubungannya dengan Zayn semakin harmonis. Kadang mereka bersikap layaknya partner bisnis, kadang sebagai teman yang manis, tapi mungkin lebih sering sebagai pasangan dimabuk asmara dengan sentuhan manja nan romantis.
Nikki sudah menikah satu pekan setelah mereka pulang dari pulau. Dan hari ini dokter mengkonfirmasi kehamilannya yang sudah masuk usia 6 minggu. Seluruh anggota keluarga tentu sangat bahagia, gembira luar biasa dengan berita kehamilan Nikki. Terutama mama Wulan.
Sebagai seroang kakak, Zayn tentu juga sangat bahagia atas kehamilan adiknya. Tapi ada sisi yang melemahkan hatinya. Yaitu ketakutan tentang perasaan istrinya. Zayn khawatir Wiya berkecil hati, atau iri dengan kehamilan Nikki yang terbilang sangat cepat. Apalagi Mama Wulan kadang tidak sadar memuji Nikki dan Bian terlalu berlebihan di hadapan Wiya.
Tapi yang Zayn takutkan ternyata sama sekali tak terjadi. Wiya sama tulus dan bahagianya seperti Zayn saat tau Nikki hamil. Setidaknya, dia tidak lagi memikirkan perasaan mama Wulan yang selama ini sangat menunggu kehamilannya. Dengan hamilnya Nikki, itu akan mengalihkan perhatian Ibu mertuanya itu.
"Selama ya Dek, sebentar lagi kamu akan menjadi mama," ucap Wiya girang. "Sini peluk dulu," merentangkan tangannya. "Inget ya, kamu udah mau punya anak. Jadi kamu udah gak bisa bersikap seperti anak-anak lagi," ujarnya.
"Aaaa...makasih kak. Beruntung banget aku punya kakak seperti kak Wiya ini. Aku doain kak Zayn dan kak Wiya juga segera diberi kepercayaan untuk memilikinya," doa Nikki setulus hati. Nikki memang tidak hanya berbasa-basi. Dia termasuk orang yang menanti kehamilan Wiya sejak dulu.
"Ssst, nanti aja deh. Kakak mau puas-puasin jalan-jalan dulu," ucap Wiya pelan agar tidak terdengar oleh Mama Wulan.
"Ahaha, iya deh kak, iya. Duh yang mau menikmati bunga sakura di musim semi,"
"Ehehe, Mas Zayn tapi gak bisa lama-lama. Tapi lumayan lah 7 hari disana, kamu mau titip apa nanti?"
"Titip salam aja buat Naruto dan kawan-kawannya kak," jawab Nikki asal.
Siang itu mereka tertawa lepas tanpa beban. Tidak ada rasa iri atau kecil hati sedikitpun yang tampak dari sikap Wiya.
***
Wiya baru saja selesai membuat reservasi sebuah penerbangan. Mereka akan terbang dari Jakarta menuju Tokyo pekan depan. Wiya sudah sangat ahli membuat rencana perjalanan. Dia bahkan sudah memiliki daftar destinasi yang akan mereka kunjungi selama berada di Negara asal doraemon dan Nobita.
Awalnya Wiya hanya mengajak Zayn untuk berkunjung ke Alahan Panjang Sumatera Barat. Karena pemandangan alam disana juga tak kalah mempesona. Tapi karena bertepatan dengan masuknya musim semi, Zayn malah berfikiran untuk mengajak istrinya menyaksikan keindahan bunga-bunga bermekaran di Jepang.
Wiya sangat setuju, dia sudah membayangkan dirinya berada di kamar yang tinggi dan berhadapan langsung dengan landscape kota Tokyo dan dan panorama Tokyo Tower dari ketinggian.
"Ini ya mas," menyodorkan selembar kertas yang sudah penuh terisi coretan.
"Apa ?" mengambil kertas itu dan membacanya sekilas, dari judul besar yang tertera, Zayn sudah tau apa yang istrinya tulis disana. "Kamu tetap gak mau pake jasa travel aja biar lebih mudah?" sambil tetap terus membaca tuisan itu sampai ke bawah.
"Kita kan udah sama-sama pernah ke Jepang dengan agen travel mas, sesekali kita nyobain jalan sendiri biar lebih seru. Nanti kalau udah punya baby gak lagi bisa seperti ini," berujar dengan girangnya.
"Iya...iya deh iya. Ini, kenapa Tokyo dan Kyoto?"
"Karena dua kota ini cukup kontras dalam mewakili Jepang mas, Tokyo kota metropolitan sedangkan Kyoto sangat tradisional. Di Tokyo orang-orang berjalan dengan sangat cepat, sedangkan di Kyoto kehidupannya lebih santai, Nah, kalau di Tokyo isinya gedung-gedung pencagar langit, di Kyoto kan kita bisa lihat lebih banyak kuil dan pegunungan. Uh, kita harus ya mas foto sesi pake kimono. Jadi dengan waktu cuti kamu yang cuma 7 hari, mengunjungi dua kota ini aku rasa kita udah dapat menikmati Jepang dengan cukup lengkap,hehe" jelas Wiya cukup panjang.
"Kamu memikirkan hal se detil itu? Dasar gak mau rugi!" mencubit hidung Wiya.
"Ih mas kok nyengir sih, cek lagi detil lainnya mas! Oh ya, aku beli tiketnya dari Jakarta ke Tokyo Haneda mas,"
__ADS_1
"Loh, biasanya kan Tokyo Narita?"
"Biar lebih hemat waktu, hotel kita di tengah kota. Kamu sih gak mau aku ajak nginap di Ryokan(pemondokan ala Jepang)"
"Kita mau bulan madu Wiya, bukan mau berpetualang! Kamu sama Ninja hatori aja sana kalau mau mendaki gunung lewati lembah,"
"Iya mas,iya. Gitu aja marah sih? Ahahha,"
"Jadi nanti kita pulangnya langsung dari Osaka ke Jakarta?"
"Yap betuuuuul! Mamas ku pinter banget gak nyangka. Ummmmh..." berhamburan kegirangan melingkarkan lengan ke leher suaminya. "Jadi mas, kita bisa 3 hari di Tokyo dan 3 hari di Kyoto, sisanya 1 hari malah bisa keliling Osaka, Kyoto ke Osaka paling 15 menit kok kalau naik Shinkansen. Em, pasti kamu gak setuju deh kalau naik kereta biasa,"
"Gak sekalian kamu naik bis kota aja?"
"Wah, kamu mau mas. Ayo aja sih!"
Zayn langsung melototkan mata ke hadapan Wiya yang membuat Wiya membungkam mulutnya. Kadang jiwa petualang dalam diri istrinya benar-benar sulit dikendalikan. Zayn yang tidak mau repot sebenarnya lebih nyaman dengan agen travel yang bisa menyediakan layanan ekslusive untuk mereka. Tapi perjalanan ini adalah hadiah untuk istrinya, jadi selama draft perjalanan yang Wiya buat isinya tidak terlalu aneh dia akan menyetujuinya.
"Danau Kawaguchiko?" menaikkan sebelah alisnya.
"Ya kan bisa lihat Gunung Fuji mas,"
"Aku gak setuju, ini terlalu luar dari Tokyo," protes Zayn.
"Hem, yaudah gak apa-apa kalau kamu keberatan. Jadi nanti kamu mau kita kemana mas? Masa aku aja sih yang antusias,"
"Aku maunya di kamar aja seharian sama kamu,"
"Ah iya, yasudah. Mumpung belum nyampe Jepang, kita puas-puasin dulu yuk dikamar!" menarik tubuh Wiya ke pelukannya.
"Mas, mau ngapain? Aku kan masih....." cengir Wiya.
"Yassalam, kamu masih lama gak sih haidhnya? Kalo sampe minggu depan, tunda aja ke Jepangnya! Masa bulan madu tapi gak ngapa-ngapain," sungut Zayn dengan wajah sebal. Ini sudah hari ke 5 dia tidak bisa menggoda istrinya.
"Ya *****-***** aja kan bisa," goda Wiya mencuil-cuil lengan suaminya.
"Mending sama bantal kalau cuma *****-***** doang," menutup kepalanya dengan bantal.
"Ahahaha, kok malah kesal sih Mas?" memeluk gemas suaminya dari belakang.
Tak lama kemudian Zayn membalikkan badan dan membalas pelukan istrinya yang membawa mereka ke peraduan hingga pagi menjelang.
***
Pergantian siang dan malam membawa mereka tiba pada hari yang telah dinantikan. Tadi malam Wiya bahkan tidak bisa tidur memandangi koper toska, bantal leher dan perlengkapan lain yang sudah dia siapkan untuk keberangkatan mereka ke negara Sakura.
Seperti anak kecil yang kegirangan saat orang tuanya mengajak liburan. Wiya berguling-guling girang. Entah perasaan apa yang merayap di tubuhnya. Mengingat setelah bulan madu di awal pernikahan, baru kali ini mereka akan bepergian berdua.
Zayn dan Wiya sudah tiba di Jakarata siang tadi. Saat ini mereka beristirahat di hotel yang terdekat dengan bandara karena harus terbang ke Tokyo besok pagi.
__ADS_1
Semua sudah diatur sedemikian rupa. Mereka terbang ke Tokyo Haneda dengan salah satu maskapai yang menyediakanl rute direct flight selama 6 jam agar tidak terlalu lelah karena bila harus transit .
Hari sudah sore ketika mereka sampai di hotel. Rata-rata hotel di Jepang memang tidak terlalu besar apapun jenis layanan kamarnya. Tapi hampir semua penginapan di negera ini sangat terkenal kebersihannya.
Walaupun sudah sangat lelah, Wiya dan Zayn tidak ingin menyia-nyiakan waktu selama berada disana. Mereka langsung mengeksplor daerah Asakusa. Menikmati pemandangan bunga sakura bermekaran di Asukusa Park. Selain itu disana juga banyak terdapat wisata kuliner khas Jepang yang halal.
"Sayang, selesaikan makan mu cepat. Nanti malam kita ke Shibuyya Crossing?" ajak Zayn.
"Hu um, setuju mas!" sorak Wiya usai menenggak habis segelas Matcha.
Setelah mengistirahatkan diri sejenak. Mereka kembali keluar di malam hari hanya untuk menikmati sensasi berjalan di area penyebrangan tersibuk di dunia. Shibuyya Crossing yang amat terkenal dan sering menjadi latar tempat pembuatan film-film Jepang.
Sepasang suami istri berpegangan tangan melintasi Persimpangan tersibuk di dunia ini, dihiasi oleh papan-papan reklame super besar dengan lampu neon berwarna-warni menghiasinya di kala malam. Di persimpangan ini, mereka juga bertemu dengan patung Hachiko yang sangat terkenal itu. Pengalaman tersendiri menyebrangi area Shibuya ini, ramai tapi tetap teratur.
"Duh ini pokoknya tempat paling ngangenin seantero Jepang ya kan mas?" ucap Wiya sambil berputar-putar melihat pemandangan sekitar Shibuya cross dari salah satu sudut Skywalk.
"Iya, norak banget ya kita Wiy. Padahal ini cuma zebra cross doang,Aahahha."
"Pulang yuk mas! Udah malam,"
"Ayo,"
Lelah yang teramat sangat baru terasa saat mereka sudah tiba kembali di Hotel. Wiya sengaja membuka sedikit jendela kamarnya. Karena kelelahan mereka berdua tertidur tanpa obrolan panjang seperti biasanya.
***
Hari kedua, ketiga dan seterusnya. Mereka berdua benar-benar menghabiskan waktu berkualitas berdua dan menikmati setiap perjalanan dan tempat yang mereka kunjungi. Tak lupa mengabadikan momen manis disetiap kedatangan.
"Kenapa kita gak naik pesawat aja sih ke Kyoto?" tanya Zayn saat mereka sedang membeli tiket kereta Shinkansen yang harganya terkenal cukup mahal.
"Yaampun mas, Kapan lagi naik kereta yang bisa berlari hingga 320 km per jam?" jawab Wiya.
Dari Tokyo mereka bertolak ke Kyoto, Wiya mengambil kursi jendela sebelah kanan agar bisa melihat pemandangan gunung fuji yang tak sempat didatangai saat mereka di Tokyo. Langit pagi ini sangat cerah, gunung fuji mulai menampakan dirinya saat mereka berada di shizuoka prefecture. Sekitar 40 menit setelah kereta mulai bergerak dari tokyo.
Wiya menyenderkan kepala di bahu suaminya, tak berhenti mengucap syukur bisa menikmati perjalanan semenyenangkan ini bersama orang yang dia cintai. Zayn juga bisa melihat raut wajah bahagia
Wiya, sesekali merona merah muda seperti wanga bunga sakura.
_________________________________
.
.
.
.
.
__ADS_1
Panduan di atas InsyaAllah ilmiah, dan bisa banget kalian jadiin salah saru referensi kalau mau jalan-jalan ke Jepang. Musim semi taun depan semoga korones udah gak ada dan kita bisa pada liburan ya. Tapi kalau belum bisa ke Jepang, sini main ke kota Author aja di Tanjungpinang tercintahhh....Aahhaha.