
4 bulan kemudian.
Sudah dua hari Wiya terbaring di kamar, tadi malam masih panas tinggi. Siang ini badannya sudah terasa lebih ringan. Mba Win juga tidak masuk sudah dua hari, izin mengurusi pendaftaran sekolah anaknya di Desa. Mungkin sampai pekan depan.
Wiya tidak tahan membiarkan pekerjaan rumah menumpuk karena dia merasa jengah sendiri.
Zayn sudah berangkat kerja dan membuatkannya sarapan. Walau badannya masih terasa sangat berat, dia memaksakan diri turun ke bawah. Wiya langsung menuju dapur. Berinisiatif ingin menjemur kain yang tadi malam di cuci oleh suaminya.
Dia mulai mengambil keranjang untuk memindahkan kain yang terlah dikeringkan dari mesin cuci, kemudian membawa keranjang itu ke halaman samping tempat biasa Mba Win menjemur. Walau suhu badannya sudah tidak terlalu tinggi, tapi kepalanya masih terasa sangat berat dan pusing.
Wiya duduk sebentar memakan roti lapis yang tadi suaminya buatkan, setelah itu dia meminum obat pereda nyeri dan tak lupa vitamin yang rutin dia konsumsi. Lalu dia kembali melanjutkan pekerjaanya.
Wiya mulai mengambil satu persatu pakaian yang akan di jemur, memasukkan ke dalam penggantung pakaian dan mulai menjemurnya. Merunduk, berdiri dan begitu berulang sampai setengah dari keranjang sudah berkurang. Kepalanya terasa semakin berat. Rasanya sedikit lagi dia hampir tumbang.
Perutnya terasa sangat keram, ketika dia merunduk untuk mengambil kembali sehelai pakaian, Wiya kesulitan untuk kembali berdiri. Bagian perut bawahnya terasa seperti diikat dengan tali
"Awwww....Ya Allah sakit banget," keluhnya seorang diri. Wiya segera masuk ke dalam berpapahkan tembok dan apa saja yang bisa dipegang untuk membantunya berjalan. Dia meraih ponsel untuk segera menghubungi Ibu.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari depan. Wiya terdiam sejenak.
Tumben banget ada tamu jam segini? Apa Mba Win udah pulang ya?
Wiya tertatih berjalan membukakan pintu. Sedikit lega, setidaknya ada orang yang akan menemaninya dirumah saat dia sedang tidak enak badan. Alangkah terkejutnya Wiya setelah melihat siapa orang yang ada di balik pintunya. Wiya terpekik kencang dan langsung berhamburan memeluk perempuan yang ada di hadapannya.
"Mitty? Demiiiiit...."teriaknya sambil memeluk Mitty dan menangis.
"Wiya....." balas Mitty yang suaranya jauh lebih melengking. "Hiks, hiks, gue kangen banget ya Allah Wiy, lo apa kabar sih? Kok pucat amat?"
"Vinny mana? Abang mana? Kok lo sendiri?" tanya Wiya tanpa menjawab pertanyaan Mitty. "Ayo masuk dulu!" menarik tangan Mitty dan mempersilahkannya duduk.
"Vinny sama daddynya dirumah, gue sengaja kesini sendiri. Tadinya mau jemput lo buat kerumah Ibu sama-sama," ucap Mitty.
"Bentar gue siap-siap dan izin mas Zayn dulu,"
"Eh tapi gak usah deh! Biar gue balik aja nanti ajakin Ibu, abang sama Vinny kesini. Lo pucat banget Wiy. Lagi sakit emang?" menempelkan telapak tangannya ke kening Wiya.
"Udah dua hari gak enak badan Mitt, tadi gue jemur kain. Perut bawah gue sakit banget. Keram, susah mau gerak," keluh Wiya. "Emba lagi cuti,"
"Uhh keciyan bunda Wiya. Yaudah sini, mommy Mitty bantuin,"
"Nah gitu kek, yaudah sana tolong selesein jemur kainnya di belakang. Gue rebahan dulu disini, " mengambil bantal sofa sebagai alas kepalanya.
"Ya di kamar aja kali istirahatnya, gue sekalian bersih-bersih juga, berantakan banget rumah lo udah,"
"Hah? beneran lo? Kok gue jadi enak, huaaamzzz...Dabest sista ever lo emang Mitt,Yaudah gue naik nih? Nanti kalo udah selesai lo gedor aja pintu kamar gue," titah Wiya. "Asli kepala gue pusing banget Mitt, gak tahan,"
"Huh, baru juga gue datang malah nggantiin si Emba gue disini. Yaudah sana naik dulu istirahat," ucap Mitty.
Tak lama setelah Wiya masuk ke dalam kamarnya. Ketukan pintu kembali terdengar dari arah ruang TV.
"Nah, itu dia udah dateng!" Mitty menjentikkan tangannya.
Ternyata Mitty memanggil jasa home servie untuk membersihkan seluruh bagian rumah Wiya. Mitty hanya menjemur pakaian yang tinggal sedikit.
Satu jam kemudian semua sudah tampak kembali rapi,wangi dan bersih. Makanan yang dia pesan dari Omelate food pun sudah tiba diantar oleh petugas delivery .
Mitty memesan sup iga sapi, karedok dan ikan goreng sambal matah. Tak lupa Maccheese dan Bobba drink kesukaan Wiya. Sebelum dihidangkan, Mitty menghangatkan sedikit makanan itu dan aroma yang keluar membuat perutnya malah terasa lapar.
Mitty menaiki tangga menuju kamar Wiya. Ingin mengajak Wiya makan siang bersama. Dia mengetuk pintu kamar Wiya tapi tak ada jawaban.
Ketiduran?
Mitty mencoba membuka ganggang pintu yang ternyata sengaja tak dikunci oleh Wiya. Mitty masuk dan melihat Wiya memang sedang tertidur sambil memegang perutnya.
Tak sampai hati membangunkan sahabatnya ini, Mitty malah menarik selimut untuk menutup tubuh Wiya lebih tinggi lagi. Saat Mitty menyentuh kulit Wiya memang badannya terasa panas sekali. Mitty segera mengambil termo gun di dalam kotak P3k yang ada dikamar dan mengecek suhu tubuh Wiya yang ternyata memang cukup tinggi.
"Ya Allah dia demam," gumam Mitty. "Wiy...Wiya...bangun, makan dulu yuk. Abis itu gue anterin lo ke dokter Wiy. Demam lo tinggi lagi ni," ucap Mitty pelan.
__ADS_1
Wiya menggeliat membuka matanya. Perutnya masih terasa sakit sekali. Dia mencoba duduk di sisi ranjang tapi tidak bisa. Badannya kembali tumbang, pandangannya berpendar. Sangat berat sekali.
"Yaampun yaudah...yaudah... tunggu sini aja, biar gue ambilin,"
Mitty kembali membawa makan siang untuk Wiya dan membantu Wiya menghabisi makanannya. Wiya makan dengan begitu lahap memakan nasi sop iga hangat yang Mitty bawakan.
"Udah lama banget gak makan sop iga sapi dari outlet Mitt, makasih ya," ucap Wiya.
"Lo sakit apa sih? Udah ke dokter?"
"Belum Mitt, rencanya besok sore sekalian mau ke dokter Anne. Saban hari mau promil gak jadi-jadi gue tuh. Malah sampe gue udah lupa, dokter Anne yang nelpon nanyain kondisi gue. Jadi kita udah bikin jadwal besok sore sekalian," jawab Wiya sambil menandaskan sisa nasi di piringya.
Tiba-tiba seperti ada pusaran angin di dalam usus yang mengaduk-aduk semua makanan yang baru saja masuk. Wiya segera menutup mulutnya dan setengah berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya yang naik ketenggorokan.
"Hueeeek....hueeeek...hueeek...."
Semua makanan yang sudah susah payah dia telan berhamburan keluar tidak berhenti, sampai yang tersisa hanya lendir berwarna kekuningan. Namun mualnya belum juga hilang.
Mitty menmbaluri punggung dan leher belakang Wiya dengan minyak angin. Kemudian dia memapah tubuh Wiya untuk kembali ke tempat tidur dan berbaring.
"Huuh...huhh...Huhh..." suara Wiya membuang nafasnya karena kelelahan saat muntah. "Magh gue kambuh lagi kayanya nih Mitt," keluh Wiya.
"Tapi feeling gue kok curiganya lo itu ....?"
"Apa Mit? Hamil? Aahahaaha, gue udah puas Mitt dapat tanda seperti ini bahkan lebih parah dari ini tanda-tandanya. Dan kesemuanya NIHIL. Emang gue biasa kaya gini kok," urai Wiya sambil menghirup aroma minyak angin dari botolnya.
"Kalender periode lo, mana?" tanya Mitty
"Noh di atas meja baca, buat apa? Itu juga udah lama gak gue liat. Gue udah lama juga gak nyatat hari pertama haidh,"
Haidh? Kapan gue terakhir haidh ya? sejak pulang dari Jepang rasanya gue udah gak pernah datang bulan.
"Astaga Wiya, jadi lo gak ingat kapan terakhir haidh?"
"Tanggalnya gue gak inget, tapi setau gue sejak pulang dari Kyoto gue udah gak pernah haidh sampai sekarang. Udah dua bulan," jelas Wiya berterus terang.
"Serius lo? Tespack mana tespack?" desak Mitty bersemangat.
Mitty tetap mengambil alat yang memang tersisa dua. Mitty memeriksa dengan seksama tanggal kadaluwarsa dari alat ini, dan itu masih lama.
"Masih bisa nih Wiy, mending lo coba," perintah Mitty.
"Enggak Mitt, gue bilang engga ya engga. Gue udah enak begini ga ada beban. Jangan lo suruh lagi gue berharap-harap sendiri. Nangis di sudut kamar mandi saat melihat garis merah yang gak kunjung bertambah, itu pedih loh Mitt,"
"Lo gak bakal kecewa kalau ngarepnya cuma sama Allah aja. Udah sekarang lo dengerin gue pokoknya. Lo cobain ini sekarang. Ayo gue bantuk ke kamar mandi."
Mau tidak mau Wiya dengan malas mengikuti instruksi sahabatnya. Wiya membuka kemasan salah satu alat untuk mengambil tabung kecil yang akan diisi urin.
Wiya sangat enggan melakukan ini. Seberapapun lisannya mengatakan dia tak berharap banyak, namun hatinya tetap berdebar setiap kali melakukannya.
Diambilnya satu strip pertama dan mencelupkannya ke dalam wadah urin sebagaimana yang tertera pada petunjuk penggunaan di belakang kemasan. Saat cairan itu mulai menyentuh ujung strip Wiya mulai gundah.
Benda itu dia biarkan tergeletak di atas keramik westafel. Dirinya duduk jongkok dan menutup kedua wajah dengan telapak tangan dan lututnya, tak ingin menduga-duga hasilnya,
Wiya bangun, mengintip sedikit ke arah benda yang tadi ditinggalnya. Wiya mengambil batang itu dan ingin membuangya padahal dia jelas melihat ada dua garis merah melintang sempurna.
"Hah? Ini...ini apa?" Wiya melihatnya sekali lagi dengan tatapan tak percaya. Baru saja akan dia buang benda itu tadi. Ternyata dia tak sadar tentang garis yang sudah ada temannya. "Du...dua? garis dua?" tanyanya seolah bicara pada strip itu.
Wiya mencoba mengambil satu alat test lainnya, kali ini dengan cara meneteskan dua tetes air seni ke bagian kaca bening yang ada pada alat tersebut. Wiya memejamkan mata sambil berucap.
"Bismillah, bimillah, bismillah, bismillah...." berulang kali tak berhenti sampai alat itu menunjukkan hasilnya dan Wiya memberanikan diri membuka mata. "Hah???"
Wiya bersender di sudut seperti biasanya, lututnya sama lemas seperti biasa. Bedanya kali ini disertai mual luar biasa yang semakin menjadi-jadi. Dia kembali memuntahkan apa saja yang masih tersisa dari perutnya.
Huek...huek...huek... Huuuks, uhuuks huks.
Mitty yang mendengarkan suara itu dari luar kamar mandi begitu khawatir takut Wiya pinsan di dalam sana.
__ADS_1
"Wiy...Wiya, buka pintunya biar gue bantu," teriak Mitty
Wiya menjangkau ganggang pintu dan membukanya sambil tak berhenti mengeluarkan isi perutnya ke westafel itu.
Mitty yang kembali membantu Wiya melihat dua alat beda jenis yang tergeletak disana. Matanya terbelalak tak percaya.
"Wiy, Wiya lo udah liat ini?" tanya Mitty. "Ini...dua alat ini garis merahnya ada dua..."
Wiya tidak bisa berkata apa-apa kecuali menangis. Mitty memasukkan kedua alat itu ke dalam plastik bening dan membantu Wiya untuk kembali berbaring. Wiya malah duduk, menekuk lututnya dan menangis sejadi-jadinya.
"Huaaa...huaa, Mitt tadi itu artinya apa? Hiks hiks...Gue...gue masih gak percaya ada garis dua disana. Apa seperti itu wujudnya garis dua yang sering dibilang orang-orang? Hiks...hiks" tangis Wiya
"Iya Wiy...iya...ini dua garis yang udah jelas banget. Gak salah lagi, InsyaAllah lo positif hamil. MasyaAllah," Mitty ikut terharu menjadi orang pertama yang menjadi saksi hal yang sangat dinantikan sahabatnya ini.
"Lo mendiing ke apotek beliin gue beberapa alat lagi biar lebih yakin," pinta Wiya.
"Gak perlu Wiy, sekarang lo mending ganti pakaian, gue anterin lo ke dokter Anne hari ini. Jangan lupa telpon Zayn dulu minta izin,"
"Mitt, tapi gimana ini? Gue gak bisa berhenti nangis, hiks hiks..."
Mitty memeluk tubuh Wiya, mengusap-usap punggung Wiya memberikan pengalihan rasa. Mitty sangat mengerti bagaiman perasaan Wiya saat ini.Ternyata hasil positif ada di alat test yang terakhir.
"Mitt, jangan bilang siapa-siapa dulu ya, sampai bener-bener confirmed gue hamil menurut dokter,"
"Iya, makanya karena perut lo keram. Sekarang kita harus periksakan ke dokter. Kenapa harus nunggu besok? Udah sana telp Mas mu dan minta izin diantar ke dokter sama gue,"
Wiya menarik nafas dalam. Dia memegang dadanya yang cukup berguncang hebat tadi. Hidung minimalis miliknya bersemu merah di pucuknya. Kemudian meminta izin untuk pergi ke dokter bersama Mitty. Tentu saja Zayn tidak keberatan
***
Badan yang tadi terasa lemas, kini berganti tegang dan kaku saat berada di dalam ruang dokter Anne. Mitty yang menerangkan keadaan Wiya pada okter Anne dan menunjukkan hasil test yang baru saja mereka lakukan dirumah.
"Wah, udah jelas ini sih Bu. Hem, berbaring yuk. Kita cek dulu.ukurannya," himbau dokter Anne ramah.
"Ap..apa dokter? ukuran? Apa sudah benar-benar ada bayi di dalam yang bisa di ukur?" tanya Wiya gugup.
"Iya, makannya kita intip dulu sebentar," mulai mengoleskan ultrasonig gel dan meratakannya dengan doppler 4D.
Di layar besar di hadapan Wiya,Mitty dan dokter Anne mulai tampak sebuah gambaran yang Wiya pun tidak mengerti apa yang ada di monitor itu.
"MasyaAllah. Kapan terakhir Ibu Wiya mens? tanya dokter Anne.
"Ha, sa...saya gak ingat dokter. Tapi itu udah lama lah sebelum saya berangkat je Jepang kemarin," jawab Wiya.
"Wah pantas saja, Ibu Wiya tidak sadar anda sedang hamil. Dan skarang kehamilan ibu sudah memasuki usia 16 minggu, selamat Bu Wiya," ucap dokter Anne tulus, "
Wiya tidak bisa berakata apa-apa. Dirinya hanya diam tercengang mendengar penturusan dokter Anne dengan seksama.
"Sekarang kita dengarkan detak jantungnya ya," ucap dokter Anne lagi.
Doppler mulai di jalankan ke arah yang diperkirakan tempat dimana jantung kecil itu berdetak. Benar saja, sejurus kemudian terdengar sebuah detakan dan di monitor digambarkan seperti frekuensi gelombang bunyi.
"Itu...itu..itu bunyi apa dokter?"
"Itu detak jantung janin bu, MasyaAllah saya turut bahagia atas hadirnya kehidupan baru di sini Bu.Sekarang ada dua jantung yang berdetak di dalam tubuh Ibu Wiya. Selamat sekali lagi bu. Dua atau tiga hari di akhir minggu ke 16 ini biasanya mulai akan terasa tendangan kecil dari dalam,"
Ekspresi Wiya belum berubah. Dia belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan dokter Anne. Mitty tersenyum penuh haru mengusap-usap lengan sahabatnya.
"Dokter, periksalah sekali lagi. Apa dokter yakin itu..itu adalah janin? Maksud saya, apa itu bukan penyakit? ya semcam miom? kista atau...atau penyakit lainnya. Dokter tidak sedang menghibur saya kan?" ucap Wiya tenang dan masih tanpa ekspresi.
"Amit-amit Wiy, ngomong apa sih lo?" Mitty memukul pelan lengan tangan Wiya.
"Ahahah, untuk apa saya melakukan itu Bu? Sebentar saya saya jelaskan lebih rinci lagi nanti Ibu Wiya bisa lihat sendiri,"
Dokter Anne menjelaskan titik-titik bagian tubuh, ukuran kepala janin, ukuran keseluruhan dan perkembangan janin di usia 16 minggu sambil menunjukkan foto 4 dimensi yang ada di layar bersar dengan cursornya. Kemudian kembali menyalakan audio untuk memperdengarkan detak jantung janin.
Hati Wiya terasa panas dan basah, tanpa dia sadari air mata terjun bebas begitu saja di pipinya. Hampir dua tahun dilalui dengan rasa penasaran, penuh harapan dan berakhir kekecewaan tatkala setiap bulan drama telat datang bulan tak pernah berakhir bahagia.
__ADS_1
Hari ini, saat Wiya tak lagi pernah membahas keinginannya untuk memiliki bayi, kecuali pada Tuhannya sendiri, saat dia tak peduli dengan komentar orang kanan dan kiri, disaat Wiya selalu menganggap cibiran dan sindiran adalah doa untuknya setiap hari. Di titik kepasrahan itu ternyata 'tanda' dari yang dicinta hadir, tidak dia sadari.
***