Utuh

Utuh
SEASON II : EPS 18


__ADS_3

Wiya mengatur nafasnya. Sabar...Sabar...dia harus sabar. Dia mencoba menerka-nerka sendiri motif dari kalimat Vela barusan. Kenapa pembahasan mereka bisa sampai ke topik menyakitkan ini.


"Iya, Pak Zayn Dwika Haris!" ungkapnya getir.


"Ya, tidak salah lagi. Itu nama suami ku. Tapi, kenapa kamu menyukainya?"


"Oh, ayolah! kamu pasti tau bukan cuma aku yang menyukai Pak Zayn,"


"Ya..iya aku tau, tapi aku kecewa karena kamu yang berani mengungkapkannya pada ku,"


"Setidaknya aku tidak berbuat curang, aku mengungkapkannya pada mu secara langsung. Aku tidak menusuk mu dari belakang. Aku tidak menjahati mu," Vela mulai mengeluarkan kalimat pembenaran yang sudah dia rancang sebelumnya.


"Sejauh mana hubungan mu dengan suami ku?" ucap Wiya dengan nada sedikit tinggi. Sedikit lagi dia hampir tersulut emosi.


"Sudah aku bilang, aku tidak mencurangi mu Wiya. Aku di mata suami mu hanya sebatas pekerja. Tidak pernah lebih. Aku tidak tau sejak kapan perasaan ini ada. Aku tau ini tidak bisa dibenarkan, tapi aku mengatakan kebenaran. Aku menaruh hati pada Pak Zayn, suami mu," urai Vela meluahkan yang dia rasakan.


Sedikitnya ada sebuah kelegaan di hati Wiya. Dugaanya salah, suaminya masih lagi setia padanya. Vela mengatakan Zayn tak pernah menganggapnya. Hati Wiya kembali melunak.


"Kenapa tidak kamu sampaikan saja sendiri padanya? kalian bertemu hampir setiap hari,"


"Menyampaikan perasaan ku? Melihat ku saja Pak Zayn tidak mau. Untuk itu lah aku menemui mu."


"Hey, lalu kau harap aku bisa melakukan apa?"


"Melakukan apa yang seharusnya dimengerti oleh sesama perempuan,"


"Berbagi suami maksud mu? Maaf Vela, sini aku sampaikan pada mu," Wiya berpindah duduk di sebelah Vela dan memegang bahu Vela mengalirkan keberanian dari dalam dirinya. Walau hatinya terasa sedang di remas-remas dari kaliamat Vela, setidaknya masih ada kebaikan yang bisa diingat dari diri gadis malang ini.


"Walau aku punya banyak kekurangan, aku akan selalu menutupi kekurangan ku dan menjalankan tugas ku dengan baik. Untuk kau tau, suami ku tidak sesempurna itu. Hanya aku yang mengetahui kekurangannya. Andai ku sampaikan pada mu, kamu mungkin bahkan tidak mau lagi bekerja di perusahaannya. Walau agama kita memperbolehkan hal ini bahkan mengganjarkan syurga untuk seorang istri yang ridha, tapi suami ku tau, aku tidak punya cinta sebesar itu. Aku tidak ingin, tidak pernah ingin melepas suami ku," ungkap Wiya sambil menatap mata Vela.


"Nona Ravela Gisha, Jangan pernah lagi berfikir untuk mengambil milik ku, atau milik siapapun. Lihat dirimu, kau terlalu tinggi untuk melakukan hal serendah ini,"


kalimat cukup panjang yang bisa menghujam ke relung kecil di dalam hati Vela. Apalagi Wiya berbicara sambil menatap matanya. Tatapan yang sangat menghargai dan tidak mengucilkan sama sekali. Bukan tatapan marah apalagi benci. Vela sampai malu untuk membalas tatapan itu. Dia menyesali bagaimana bisa berfikir untuk bersaing dengan wanita setegar ini.


Tak ada yang bisa Vela lakukan selain menangis. Dia menyesal pernah berfikir untuk menumpang kebahagiaan Wiya. Melihat air mata itu, Wiya mengulurkan selembar tisu kepada Vela.

__ADS_1


"Sudah, jangan menangis. Kamu tidak pantas merebut kebahagiaan orang lain. Karna kamu adalah sumber kebahagiaan bagi banyak orang. Lihatlah, kamu sangat berguna untuk orang banyak Vela. Kamu cantik, hampir tidak ku temukan cela dari luar. Apa yang kau cari dari suami ku? Tidak kah di perusahaan kalian banyak pria tampan yang perjaka?" Wiya bertanya sambil tersenyum mencairkan suasana. Dia tau Vela tidak sejahat itu.


"Aku ingin menikah dengan orang yang bisa membimbing ku untuk hidup lebih baik, pemuda yang taat," ucap Vela.


"Mencari laki-laki soleh maksudmu?"


"Semoga," lirih Vela.


"Kau akan segera mendapatkannya!"


Wiya memeluk Vela dan meyakinkan pada gadis itu untuk melupakan perasaan yang ada untuk suaminya.


"Maafkan aku Wiya,"


"Aku memaafkan mu. Kamu terlalu cantik untuk jadi madu ku," Seloroh Wiya sambil mengusap air mata yang masih ada di pipi Vela.


"Demi Tuhan maafkanlah aku, aku akan pergi dari hidup kalian jika kau mau,"


"Itu tidak perlu, aku percaya pada mu. Terlebih pada suami ku. Setelah ini bekerjalah dengan baik. Aku tidak akan memberitahukan hal ini pada pimpinan mu, tapi ingatlah kalau kau mengingkari janji mu itu sama saja kau memilih untuk merendahkan dirimu sendiri,"


"Waktu istirahat ku sudah habis, aku harus segera kembali ke kantor," Vela mengusap wajahnya dan membenarkan rambutnya yang berantakan.


Wiya ikut berdiri ingin mengantarkan Vela. Tiba-tiba Zayn datang dari arah ruang keluarga dan mengejutkan mereka berdua, terutama Vela.


"Ehm, iya kamu benar Nona Vela, supir kantor sudah menunggu mu di depan," ucap Zayn sambil berjalan merangkul pinggang Wiya dengan manisnya.


"Tadi saya kesini dengan taxi pak," Vela terkejut dan berharap Zayn tidak melihat air wajahnya yang sembab.


"Kamu harus kembali ke kantor kan?" tanya Zayn retoris.


Wiya curiga, Zayn pasti sudah sejak tadi mendengar seluruh percakapannya dengan Vela.


"Iya Vela, sebaiknya kamu balik ke kantor sama sopir aja. Lumayan kan hemat,"


"Baik kalau begitu saya permisi dulu, selamat siang."

__ADS_1


Vela menghampiri mobil Zayn yang biasa dikendarai oleh Pak Taufik, supir perusahaan mereka. Seperti biasa Vela memang seringkali duduk disebelah Pak Taufik karena Pak Taufik orang yang cukup asik untuk diajak berbincang sepanjang perjalanan.


Tapi ada yang berbeda, biasanya Pak Taufik dengan sigap membukakan pintu untuk Vela. Vela menunggu beberapa menit tapi Pak Taufik tidak juga turun untuk membukakan pintu itu. Bahkan kaca mobilnya masih tertutup. Walau sedikit aneh, Vela membuka sendiri pintu mobil itu dan langsung duduk di sebelah bangku pengemudi.


"Astaga! kamu siapa? Eh, aku tidak salah mobil kan?" Vela terkejut melihat supir disebelahnya. Dia mengira salah masuk mobil, tapi tidak mungkin karna itu satu-satunya mobil yang ada di depan rumah Zayn. Dan itu memang benar mobil milik Bossnya.


Vela mencoba membuka kembali pintu itu namun sudah terkunci.


"Buka, turunin aku. Kamu jangan macam-macam ya, aku bisa teriak disini!" ancam Vela. Walau tidak ada raut menyeramkan dari lelaki disebelahnya, namun Vela benar-benar ketakutan.


"Maaf... maaf Nona, sabar...sabar.. saya bisa jelasin!"


"Siapa kamu? dimana Pak Taufik?"


"Na...nama saya Soleh Nona, Solehudin adiknya Pak Taufik. Tadi Pak Zayn nelpon katanya pak Zayn, temen istrinya lagi nyari laki-laki Soleh, gitu. Nama saya Soleh Nona, Nona lagi mencari saya? Ada apa kalau saya boleh tau?" ucap lelaki bernama Soleh itu dengan polosnya.


"Iya, tapi kan gak musti Solehudin juga namanya, Huaaa. Antarin gue sampe simpang depan. Mending gue cari taksi aja dari sana!" Vela menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


Tamat udah gue, Pak Zayn pasti mendengarkan pembicaraan gue tadi. Dan solehudin ini pasti utusan dia. Huaaa...


"Tidak Nona, saya akan mengantarkan Nona sampai tujuan, Nona akan aman bersama soleh," ucapnya penuh percaya diri.


Sementara dari balik jendela, sepasang suami istri mendengarkan perdebatan dari dalam mobil. Zayn tersenyum usil penuh kemenangan.


"Mas kamu tega!"


"Tidak sayang, solehudin beneran soleh loh, gak buruk deh pokoknya,"


"Beneran mas?"


"Iya, nih liat aja fotonya!"


***


Anggap aja ini foto Babang supir Soleh gantengnya ya 😅 Kalau Mba Vela gak mau dianter ama Bang Soleh. Dek eNKa Mau dibawa kemana aja. Supirin aku Bang Solehudin.

__ADS_1



__ADS_2