
Zayn melangkah perlahan menyusuri koridor jalan menuju area rumah sakit. Andai bisa ingin sekali rasanya dia masuk melalui pintu IGD, karena bukan cuma Wiya, hatinya juga butuh penanganan gawat darurat saat ini. Zayn tau bagaimana kerasnya pendirian Wiya, Apa yang dia ucapkan hari ini adalah apa yang sudah dia pertimbangkan sedemikian rupa.
Zayn telah meminta Wiya pergi, Wiya telah berusaha menahan langkahnya, tapi Zayn memaksa Wiya agar beranjak dari hadapannya. Dan disinilah Zayn sekarang, termangu berjalan menyesali keputusannya setelah mengintai Wiya dari kejauhan sampai Wiya masuk ke dalam taksi dengan aman.
Saat tadi Bian memegang pergelangan tangan gadisnya, matanya begitu panas dan ingin sekali membuat perhitungan saat itu juga, tapi dia memilih menggenggam bara api itu sendirian agar tidak semakin memperkeruh suasana. Umpatan Wiya yang terakhir tadi terulang-ulang di pendengarannya. Pukulan tas Wiya di dadanya juga sakitnya terasa menembus tulang dada. Pengecut! Tentu saja dia memang pantas mendapatkan itu semua.
Satu tahun dia meminta Wiya bertahan, Wiya menemani dan memberi semangat dengan sangat manis. Hari ini saat kekasih hatinya itu masih mampu bertahan Zayn melepaskannya begitu saja. Kehilangan Wiya, sungguh bukanlah yang dia inginkan, tapi kesehatan dan keselamatan sang Mama juga tak bisa dipertaruhkan.
Zayn membuka pintu kamar pasien tempat Mama Wulan dirawat. Ada dokter dan beberapa perawat sedang melakukan pemeriksaan, dan...dan.. dan berbicara dengan Mama Wulan? Zayn terperanjat dan menghampiri tempat tidur Mama Wulan dengan penuh semangat.
"Mama, Mama udah bangun? Dokter, Mama saya sudah bangun?" Zayn mengusap telapak tangan Mama Wulan dan menempelkan di pipinya.
"Alhamdulillah, tadi kami mendengar suara bel emergency yang di tekan dari kamar ini sehingga kami segera kesini dan ternyata Ibu Wulan yang melakukannya." Jelas dokter.
"Lalu, Bibi saya? Tadi ada Bibi saya yang menjaga Mama disini."
"Kalau yang ada maksud perempuan dengan jubah hitam dan kacamata, ketika kami menuju kesini dia sedang menuju lift setengah berlari, perawat sempat membantunya karena jatuh tersandung pot bunga besar tadi."
Zayn mengernyitkan keningnya. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan perempuan itu.
"Baiklah dokter abaikan saja dia, Bagaimana kondisi Mama saya?" Zayn membelai rambut tangan Mama Wulan. Sementara hatinya saat ini sangat lega melihat mamanya tersenyum kembali, bahkan selang O2 sudah tidak lagi terpasang di hidungnya.
"Sebenarnya kondisi Ibu Wulan baik-baik saja, bahkan sangat baik pak. Dari laporan ahli gizinya Bu Wulan menjalani dietnya dengan baik. Hasil pemeriksaan gula darah tiga kali terakhir juga sangat baik. Semuanya stabil. Tekanan darahnya juga normal. Tadi adik anda sempat memberikan obat yang mereka dapatkan di kamar saat Ibu anda tak sadarkan diri. Itu adalah obat tidur dengan dosis tinggi yang membuat kita tidur lebih lama sekitar 6-12 jam. Beruntung Bu Wulan segera sadar." Terang dokter panjang lebar.
"Jadi itu hanya efek obat tidur dokter? Apa ada resikonya dokt?"
"Merujuk pada semua hasil pemeriksaan, saya rasa memang demikian adanya. Ibu Wulan tidak sadarkan diri hanya karena dibawah pengaruh obat tidur. Mungkin akan sedikit pusing dan masih lemah karena hilangnya koordinasi otot, tapi ini bukan hal yang serius. Mengingat selama ini Bu Wulan tidak pernah mengkonsumsi obat ini atau obat penenang lainnya"
__ADS_1
Jadi dari mana datangnya obat itu?
Selama ini Zayn tau benar segala tentang pengobatan Mama Wulan termasuk nama-nama obat dan fungsinya. Mamanya tidak pernah mengkonsumsi obat tidur atau obat penenang apapun selama ini. Fikiran buruknya hanya merujuk pada satu nama, TITIN.
"Kalau sudah benar-benar sehat dan segar, besok atau lusa juga sudah boleh pulang. Nanti perawat akan mengantarkan vitamin yang sudah saya resepkan. Saya permisi dulu Pak. Selamat beristirahat Bu Wulan"
"Terimakasih banyak Dokt"
Zayn mengantarkan dokter sampai ke depan pintu dan menutup kembali pintu ruangannya. Kemudian Zayn menghampiri Mama Wulan dan memeluk Sang Mama. Zayn memberi kabar ini kepada Nikki dan Vhieya. Zayn juga menghubungi tim keamanan dirumahnya agar tidak mengizinkan Titin masuk ke dalam rumah sampai Zayn pulang. Jika dia mengantuk, izinkan dia tidur di pos security. Karena Mama Wulan mengatakan saat melihat dirinya terbangun tadi Titin sangat terkejut, ketakutan dan segera keluar seperti sedang melarikan diri. Mama Wulan belum menceritakan semua detil kejadian sebenarnya.
"Ma, mama lapar? Zayn suapkan ya?" Zayn mengambil peralatan makan Mama Wulan yang sudah disediakan ahli gizi. Mama Wulan mengangguk, tersenyum lebar dan membuka mulutnya. Padahal dia hanya tertidur 5 jam, tapi perutnya terasa sangat lapar.
"Zayn" Mama Wulan mengusap rambut anaknya. Zayn menoleh hangat ke arah sang Mama. "Wiya? Kamu dan Wiya?
Zayn terkesiap mendengar pertanyaan mamanya, dokter tadi mengatakan mamanya sehat. Zayn begitu takut membahas hal ini jika akan membuat mamanya benar-benar shock dan menjadi buruk.
"Mama, Maafin Zayn" Hanya itu yang bisa dia ucapkan.
"Foto-foto itu?"
"Foto-foto ini?" Mama Wulan mengambil foto dalam amplop coklat yang masih berada di bawah selimutnya. Zayn begitu gugup sekarang. Dia tak ingin melihat mata Mama Wulan.
"Maafkan jika pilihan Zayn mengecewakan mama. Dan maafkan Zayn selama ini menyembunyikannya dari mama. Itu semua karena Zayn takut mama tidak bisa menerima pilihan Zayn dan kata Bi Titin, hal ini yang membuat mama sampai sakit dan tak sadarkan diri tadi." Zayn memeluk kaki Mama Wulan.
"Bibi Tres bilang begitu?"
Zayn mengangguk mengiyakan.
"Jadi sekarang dimana Wiya?"
__ADS_1
Kenapa mama jadi menanyakan Wiya?
"Wiya udah pulang ma, tadi kami sudah sampai di depan rumah. Zayn akan membawa Wiya bertemu mama dan meminta restu. Tapi Nikki menelpon memberi tau kondisi mama sehingga kami segera kesini dan sekarang Wiya sudah pergi Ma, Zayn sudah memintanya pulang. Kami sudah tidak ada apa-apa lagi, Ma. Kami sepakat mengakhiri semuanya malam ini" Sesal Zayn tak berkesudah dalam hati saat menjelaskan kalimat panjang ini.
"Kamu membiarkan dia pulang sendirian malam-malam begini Zayn?" Intonasi Mama Wulan sedikit tinggi.
"I,iya ma. Zayn terpaksa ma, Zayn fikir agar mama tidak terkejut dan marah dengannya jika dia ada disini saat mama sudah sadar. Dia gadis yang baik ma, Zayn yang salah. Zayn yang bertanggung jawab atas semua ini. Maafkan Zayn ma." Zayn masih menyembunyikan wajahnya di atas selimut tebal yang menyelimuti kaki Mama Wulan.
"Zayn!" Bentak Mama Wulan yang membuat Zayn terkesiap dan seketika mengangkat wajahnya. Wajah Mama Wulan yang lemah lembut tadi sekarang tampak mengerikan.
"Kenapa kamu tiba-tiba menjadi bodoh sekali?" Mama Wulan memukul pipi Zayn pelan ke kiri dan ke kanan. Zayn mengernyit mencoba membaca maksud dari ucapan Mamanya.
"Mama tidak habis fikir kamu ternyata masih sangat labil, Zayn!. Kamu sudah pernah gagal mengejar Brigitta. Malam ini kamu malah membiarkan Wiya pergi begitu saja hanya karena mendengar ucapan predator yang seharusnya sudah lama punah dari muka bumi ini!"
"Predator?" Zayn semakin tak mengerti.
"Iya Titin dinosaurus itu telah berhasil mengarang cerita fiktif dan kamu dengan bodohnya menikmati semua cerita karangan dia" Mama Wulan membuang muka, kecewa. "Mama tidak mau tau, kamu harus mengejar Wiya kembali. Malam ini juga, Zayn!" Ucap Mama Wulan penuh ketegasan dan penekanan.
"Besok ya ma, sekarang sudah malam" Tawar Zayn tanpa menanyakan terlebih dahulu apa maksud dari permintaan mamanya. Karena sudah menjadi kebiasaanya sejak dulu, keinginan sang mama adalah perintah bagi dirinya, sehingga dia memang tidak banyak bertanya saat mamanya menginginkan apalagi memerintahkan sesuatu.
"Oke, besok pagi! Mama mau pulang kerumah. Dan mama ingin bertemu Wiya dirumah kita"
"Mama, apa mama akan memarahinya? Jika Iya, marahi Zayn saja ma, Zayn yang salah. Wiya gadis baik ma. Gadis terbaik yang pernah Zayn temui dan yang Zayn inginkan di muka bumi ini. Zayn yang memintanya pergi karena takut mama tidak menyetujui pilihan Zayn"
"Kamu terlalu banyak bicara Zayn. Memang kamulah yang akan mama marahi, bukan Qawiya. Zayn, mama tidak habis fikir kenapa anak mama sangat payah sekali hanya urusan begini"
Dan masih panjang lagi untaian kalimat omelan dari Mama Wulan. Energi Mama Wulan seketika terisi dan tampak sangat bersemangat memarahi keputusan yang Zayn ambil.
Zayn mencoba mengurutkan kejadian demi kejadian. Jika yang Titin katakan tadi benar, bukankah seharusnya sekarang Mama Wulan senang dan tenang karena Zayn melepas Wiya demi kesehatan mama. Tapi kenyataannya, dia malah di marahi habis-habisan bahkan sang Mama kembali membuat drama ancaman-ancaman jika Zayn tak berhasil meminta maaf dan membawa Wiya menemuinya.
__ADS_1
Dan celakanya lagi, waktunya hanya sampai besok lagi. Mana mungkin hati Wiya yang sudah potek tadi bisa tersambung secepat malam menyambut dini hari. Fikiran-fikiran yang berkeliling kabut di kepalanya rasanya sudah hampir meledak. Hanya dalam waktu beberapa jam begitu banyak kejadian pelik yang sudah dia lalui. Meraung-raung menyesali pun saat ini tak ada gunanya. Andai tadi dia tidak dikuasai kepanikan dan mau menunggu Mama bangun pasti keadaannya tak akan semenegangkan ini. Zayn mengusap pasrah seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Maafkan aku yang bodoh ini, Wiya. Kamu benar. Harusnya kita menunggu penjelasan dari mama. Mama tidak meminta mu pergi sayang, sekarang mama mengancam keselamatan ku jika tidak berhasil meminta maaf pada mu. Aku harus Apa Wiya? Maafkan aku. Dan Andai nanti Titin yang terbukti ada di balik semua ini, lihatlah! aku sendiri yang akan mengembalikan dia ke zaman pra sejarah. Tak akan ku biarkan dia ada disini, walau hanya dalam wujud fosil.