Utuh

Utuh
MENCARI JEJAK MU


__ADS_3

Wiya hanya membawa beberapa barang yang dia perlukan, karena sekarang pengurusan visa belajarnya belum selesai, jadi dia masih akan pulang pekan depan. Ibu, Ayah bang Ridwan apalagi Mitty awalnya tidak setuju dengan keputusan Wiya, tapi setelah Wiya menejelaskan semuanya, pihak keluarga akhirnya mengerti dan mendoakan keputusan yang Wiya ambil adalah langkah baru yang terbaik untuknya.


Sebenarnya masalah hidupnya bukanlah suatu hal yang rumit, banyak yang lebih patah hati dari ini. Tapi bagaimanapun kecilnya, luka harus tetap diobati agar tidak infeksi. Wiya memilih cara ini untuk merawat lukanya.


Sebelum bertolak ke Malaysia, Wiya memastikan semua kontak dirinya yang tersambung dengan Zayn dan keluarganya harus terputus, bahkan dia meminta bantuan Bian untuk mencari ahli IT yang bisa menghilangkan jejaknya. Keluarga Wiya pun diminta untuk tidak memberikan informasi apa-apa tentang Wiya.


Pagi ini Wiya tidak mengizinkan satu anggota keluargapun ikut mengantarnya ke pelabuhan. Dia meminta bantuan Bian, Bian dengan senang hati mengantar mantan atasannya itu. Bahkan dia menawarkan mengantar Wiya sampai ke Malaysia tapi Wiya tidak mengizinkannya.


"Terimakasih banyak Bian" Ucap Wiya menurunkan pegangan koper toska kesayangannya, saat mereka berada di ambang pintu kapal.


"Apa kamu yakin akan berangkat sendirian ? Aku bisa beli tiket sekarang kalau kamu mengizinkan" Ucap Bian


"Sekalian aja kamu berenang ikutin aku dari belakang"


"Gak masalah, asal sampe sana kamu kerokin"


Dan mau aku nikahin. 


"Hahahaha. Gak waras kamu ya"


Tuuuuuut...Tuuuut...Tuuut ,


Bunyi sirine kapal yang membuat semua penumpang yang masih diambang pintu bergegas masuk ke dalam. Sebentar lagi kapal akal berlayar meninggalkan dermaga.


"Oke, Bye ! " Wiya melangkah masuk ke dalam kapal.


Bian hanya menjawab dengan lambaian tangan. Walau bagaimanapun juga, sudah satu tahun dirinya mengasisteni Wiya, selain perasaan kehilangan, dia juga merasa ditinggalkan.


Walau lelaki selalu melihat wanita dari fisikinya saat pejumpaan pertama, namun pada akhirnya wanita yang pintar akan tetap jadi kriteria utama. Dan kedua hal itu ada dalam diri Wiya. Bian beruntung Wiya tidak memutus akses dengan dirinya.


Walau mungkin mereka tak akan sering berkomunikasi seperti biasa, setidaknya Bian bisa melepas rindu dengan melihat kegiatan Wiya dari sosial medianya. Bian bertekad suatu saat dia akan nekat mengunjungi Wiya ke Negara Petronas itu.


***


Di kediaman Zayn, sejak pulang dari perusahaan semalam dan menjelaskan semuanya pada mama Wulan. Zayn mendiamkan diri di kamar. Dia tidak keluar kecuali makan dan mengingatkan mama untuk minum obat, lalu setelah itu kembali ke kamarnya. Walau kecewa , Mama Wulan sebenarnya ikut terluka. Mama Wulan merasa sikap Zayn sedikit banyaknya adalah karena dirinya yang tak pernah membiarkan Zayn mengikuti kata hati sejak dia kecil.


Zayn hanya perlu mengutus satu anak buahnya untuk menyelesaikan masalah Titin dan Titin sudah di tahan pihak kepolisian atas tuduhan pemalsuan dokumen.


Mama Wulan sudah semakin sehat, Fisiknya mulai kembali segar apalagi sejak tidak mendengar kalimat-kalimat negatif lagi dari Titin. Khawatir dengan kondisi Zayn dia menuju ke kamar anaknya dan  mengetuk pintu kamar Zayn yang berada di lantai atas.

__ADS_1


Tok...Tok..Tok


" Zayn, Udah tidur?"


"Mama ? Masuk aja ma, gak di kunci."


Mama Wulan langsung masuk dan mendapati anaknya yang ternyata sedang menggambar sebuah design vektor wajah, tapi baru menyelesaikan bagian mata, gambar digital mata dengan bulu lentiknya serta bola mata  berwarna hitam, sengaja diberi dua titik bayangan putih yang menimbulkan efek sendu dan terlihat bersedih.


Kemudian di sebelah vektor itu ada sebuah gambar latar abstrak yang hanya Zayn dan Tuhan yang mengerti apa maksud gambar yang tak lebih bagus dari coretan tangan anak pra sekolah.


"Antarkan mama ke rumah Wiya!" Ucap Mama sungguh-sungguh


"Mama...." Keluh Zayn. Saat ini rasanya lebih baik menghargai keputusan Wiya.


"Mama hanya ingin bicara dengan orang tuanya." Mengusap-usap pundak Zayn.


"Buat apa Ma, Zayn rasa kita harus hargai keputusan Wiya Ma. Mama tau kan Wiya itu gimana?"


"Kita coba dulu, Wiya belum bicara sama mama. Paling tidak dia benar-benar memaafkan kamu Zayn, ayolah!" Pujuk Mama Wulan.


"Nanti aja ya Ma, Biarin dia adem dulu sebentar."


"Kalau ternyata udah adem dan dia keburu pergi gimana?"


"Loh, kamu bilang dia mau ngelanjutin S3 kan? Emang di Tanjungpinang ada Universitas yang bisa S3?"


Zayn seketika menoleh ke arah Mama Wulan yang berdiri di belakangnya. Dia sama sekali tidak berfikiran sampai kesana.


Di Tanjungpinang belum ada universitas yang membuka studi sampai S3. Itu artinya Wiya akan meninggalkan kota ini. Jalannya untuk kembali pada Wiya berarti akan lebih jauh lagi.


"Mama kenapa gak dari semalam ngingatinnya? Yaudah mama tunggu bawah, Zayn ganti baju dulu."


Mama Wulan hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil berlalu.


***


Keluarga Wiya menyambut Zayn dan Mama Wulan dengan ramah. Kendati tahu perihal patah hati anak gadisnya, tapi kedua orang tuanya sama sekali tidak ingin ikut campur urusan hati mereka. Dan pula Wiya tidak pernah menceritakan hal-hal negatif tentang Zayn apalagi tentang keluarganya.


Mitty menyuguhkan teh hangat dan beberapa camilan. Kemudian dirinya ikut duduk di sebelah suaminya. Zayn tak seperti biasanya, dia lebih banyak diam dan hanya menjawab seperlunya.

__ADS_1


Hanya saja matanya selalu melirik ke arah ruang tengah seperti sedang berharap seseorang keluar dari sana, ada perasaan rindu luar biasa yang membuatnya kian resah.


Cukup lama dua keluarga itu berbasa-basi,tapi yang ditunggu tak kunjung menampakkan diri. Akhirnya Mama Wulan bertanya terus terang.


"Oh ya, Nak Wiya lagi gak ada dirumah ya?" Tanya Mama Wulan.


Dari tadi kek,Ma ,- Zayn


"Loh, Ibu Wulan dan Nak Zayn belum tau ya ? Wiya kan sudah berangkat tadi pagi"


Jeddar !!! 


Entah hati siapa yang merasa seperti tersambar petir. Yang pasti hanya Zayn sendiri sejak tadi merasakan kesepian yang tak seperti biasanya .


"Be,berangkat? Kemana Ya Pak?"  Tanya Zayn dengan nada takut.


"Loh, Bapak kira Wiya sudah bilang."


"Dia hanya bilang mau lanjut kuliah, tapi tidak bilang dimana" Kesedihan semakin tampak jelas di wajah Zayn


"Wiya mengajukan beasiswa di salah satu universitas di Malaysia Zayn" Jelas Bang Ridwan.


"Di Malaysia? Universitas apa Bang?"


"Maaf Zayn, kita sekeluarga dilarang memberi tau siapapun tentang informasi pendidikan dia selama disana. Kita semua juga gak ngerti kenapa dia bilang begitu. Tapi dia bilang hanya tak ingin orang lain tau dan bisa lebih fokus kuliahnya sehingga bisa cepat selesai" Jelas Ridwan panjang lebar.


"Tapi kan...."


Mama Wulan segera menahan kalimat Zayn dengan mengusap-usap pundaknya, cukup mengerti apa yang Ridwan sampaikan.


"Tidak apa-apa, Wiya butuh privasi. Apa yang sudah terjadi diantara mereka semoga bisa dijadikan pelajaran dan ada hikmahnya. Yang paling penting mereka sudah saling memaafkan dan kita semua tetap menjalin hubungan baik" Ucap Mama Wulan dengan begitu bijaksana.


"Benar Bu Wulan. Toh jodoh udah di atur sama yang di Atas, Gak ada yang tau kan?" Timpal Ibu Ria sekedarnya.


Mama Wulan meminum tegukan terakhir tehnya sebelum mereka pamit dari kediaman keluarga Wiya.


***


Bukan hanya merasa kehilangan atau tinggalkan, kini dirinya benar-benar merasa dicampakkan. Se benci itu Wiya padanya sehingga tak satupun jejak ditinggalkan . Bersih tak terdeteksi. Zayn mendobrak lemari kayu jati ukir yang ada di kamarnya hingga tangannya terluka. Anehnya dia sama sekali tidak merasa kesakitan.

__ADS_1


Malam itu dia sama sekali tak bisa memejamkan mata, Zayn menjaring seluruh nama Universitas di Malaysia yang menyediakan studi S3, Namun dia tidak menemukan nama Wiya dimana-mana. Jelas saja, Wiya baru lulus seleksi tahap pertama, dia belum resmi diterima sebagai mahasiswa di kampus manapun.


Inikah akhir dari cerita cintanya ?


__ADS_2