
Tiba-tiba tangannya geli merasakan jari-jari yang bergerak pelan, Zayn menyudahi bacaan dan memastikan yang tadi dia rasakan adalah jemari Wiya yang membalas genggamannya.
"Mas... " panggil Wiya lirih sambil membuka matanya. "Mas, aku belum shalat isya," ucapnya dalam keadaan setengah sadar menyesuaikan cahaya yang mampu ditangkap pupilnya.
"Wiya...sayang? udah tidurnya? kamu udah bangun? sungguh kamu udah bangun, coba panggil mas lagi!" ucap Zayn penuh haru dan kesyukuran.
"Mas," mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangun."Sakit mas, perih..." ringisnya.
"Sayang tunggu sebentar, aku panggilkan dokter. Sebentar ya, kamu jangan banyak bergerak dulu," Zayn mengusap lembut dan mengecup pucuk kepala istrinya lalu memasukkan rambut yang sedikit keluar dari celah jilbab Wiya.
Tak lama kemudian, dokter jaga masuk dan memeriksa kondisi Wiya. Memberikan sedikit terapi dengan mencoba menggerak-gerakan bagian tubuh tertentu.
"Alhamdulilah, tidak ada yang serius pak. Luka gores di wajah Ibu Wiya juga tinggal menunggu sembuh," ujar dokter.
Dokter jaga berlalu dari ruangan Wiya. Zayn membantu Wiya untuk dapat duduk bersandar pada besi tempat tidur. Kemudian dia menatap lekat manik hitam pekat milik istrinya tercinta. Wajah Wiya masih pucat, Zayn ikut merasa perih melihat luka-luka yang masih basah di pipi istrinya.
Entah sejak detik ke berapa, Zayn tenggelam dalam hangatnya tatapan yang sangat dia rindukan.Tak peduli berapa banyak luka yang mencederai fisik Wiya, di mata Zayn kecantikan istrinya tetap yang paling sempurna.
Wiya pula memilih menetap di bawah teduhnya sinar yang memancar dari mata yang memandangnya penuh kerinduan. Dia belum sepenuhnya mengembalikan potongan ingatan. Seketika perihnya terasa kebas, saat nafas hangat Zayn berhembus semakin dekat.
"Aku kangen," lirih Zayn mencuri satu kecupan di bibir istrinya yang pucat. Tak ayal mulut Zayn terkena tempias air mata yang mengalir dari pipi Wiya. Tapi dia sama sekali tidak melepaskan bibir lembab itu.
"Mas, maaf...maafin aku. Foto itu,, eumhh..."
Zayn segera membungkam mulut Wiya dengan ******* lembut seolah tak mengizinkan istrinya bicara apapun juga.
"Biarkan aku selesaikan dulu, sayang!" ucapnya melanjutkan apa yang ingin dia lakukan. Dia malah semakin terhanyut, dengan hati-hati Zayn memegang leher belakang Wiya agar istrinya tak bisa menghindar, sesekal lidahnya dimainkan menuntut istrinya untuk memberi balasan.
"Mashh..." lenguh Wiya tertahan. Jika dibiarkan suaminya akan segera lupa ingatan bahwa mereka sekarang berada di ruang perawatan puskesmas desa yang sempit. Jangankan kedap suara, gorden jendela saja tidak ada.
"Aduh mas sakit," ringis Wiya berpura-pura. Berhasil, dia berhasil menghentikan aksi suaminya.
"Astaga, sayang. Maaf...maaf Wiy, mana yang sakit sayang?" sibuk mencari bagian mana yang dia pegang terlalu keras. Dia sempat mengusap dengan jari bibir istrinya yang basah karena ulahnya.
"Huuum," sungut Wiya. Suaminya sangat tidak masuk akal kalau terkait hal itu. "Aku mau shalat isya mas, sebentar lagi subuh nanti aku ketinggalan," pintanya.
"Ah iya aku sampai lupa, ayo aku bantu kamu bertayamum!"
Zayn dengan sabar membantu Wiya bersuci untuk melaksanakan shalat isya dan menyuapinya makan. Setelah itu mereka sama-sama shalat subuh dan sama-sama beristirahat menghabiskan sedikit gelap yang masih mengendap.
***
Semua wajah relawan tampak tegang mendengar istruksi tegas dari Ditya. Program tetap berjalan sebagaimana mestinya. Mereka yang berangkat hari ini akan tetap berangkat melaksanakan tugas yang sudah disepakati.
__ADS_1
"Kecuali Vela!" tegasnya. "Windy, kamu gantikan Vela hari ini," ucpanya lagi.
"Aku? Kenapa aku? Kamu gak bisa ganti jadwal seenak mu begitu!" protes Vela.
Ditya tidak menjawabnya. Pandangannya pun tidak ingin menoleh ke arah Vela. Dadanya sangat bergemuruh dan ingin segera menuntut penjelasan dari Vela.
"Oke, sekian briefing pagi kita. Selain Vela, semuanya boleh langsung bertugas setelah doa penutup."
Satu persatu anggota beranjak keluar meninggalkan camp, bersiap-siap untuk kembali bertugas. Sesuai instruksi Ditya, Vela masih ditempatnya memasang wajah kesal atas keputusan ketua komunitas itu.
"Saya tidak suka berbasa-basi! Kalau kamu tidak bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan berat hati kamu saya keluarkan dan komunitas ini!" ucap Ditya tanpa sedikit pun memandang wajah Vela.
"Apa maksud kamu dokter Ditya?"
"Kamu ada dibalik semua kejadian ini!"
"Kejadian apa? Kecelakaan Wiya?"
"Aku sudah bilang jangan berbasa-basi!" ucap Ditya sedikit tinggi. Kali ini dia memaksa wajahnya menatap tajam ke arah mata Vela.
"Kejadian yang dialami Wiya murni kecelakaan, apa kamu fikir aku yang mensabotase kapal itu sehingga karam?"
"Cih! Kamu bersembunyi di balik badai yang menerjang kapal malam itu. Jelaskan tentang ponsel Wiya yang kau temukan di kamar,"
"Aku tidak ingin mencampuri urusan pribadi kalian, tapi keselamatan seluruh relawan adalah tanggung jawab ku sebagai ketua tim ini,"
"Kamu hanya memperhatikan Wiya, dokter Ditya!" teriak Vela yang membuat Ditya mengernyitkan kening kebingungan. "Hanya Wiya yang kamu perhatikan bukan aku! Aku hanya tampak sebagai serangga pengganggu di mata kalian!" ucapnya dengan penuh emosi.
"Kamu mengatakan ini urusan pribadi ku? kamu mengira aku melakukan ini untuk menyingkirkan Wiya dengan merencanakan kesalah pahaman ini? Lalu apa bedanya dengan mu? Kamu mengikuti Wiya kemanapun, kamu disisi Wiya dalam setiap kesempatan, kamu menjaganya dengan begitu baik, kamu takut aku menyentuhnya walau seujung kuku? Benar begitu kan?"
"Tapi kamu lupa, justru caramu menjaganya adalah bom waktu yang akan menghanguskan kalian berdua!" ucapnya lagi dengan sangat berani.
Ditya terkejut dengan penuturan Vela. Selama ini dia selalu berusaha berada di dekat Wiya bukan semata-mata ingin dekat dengan Wiya dalam artian lain. Tak ada yang terlalu istimewa.
"Berhenti bicara yang sia-sia!" bentak Ditya meraih tangan Vela yang akan keluar dari ruangan. "Aku berada di dekat Wiya, bukan semata-mata karena aku ingin selalu bersamanya. Hey apa kau gila? Dia bersuami!"
"Lalu kenapa kalau dia bersuami? Kamu menaruh hati padanya kan?"
"Cukup Vela! Jaga mulut mu," teriak Ditya yang berhasil membungkam mulut Vela. Baru kali ini dia melihat Ditya yang lembut dalam keadaan emosi.
"Berada di dekat Wiya adalah caraku menjaga mu!"
"Omong kosong!" jawab Vela.
__ADS_1
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Sejak kamu tau Wiya akan ikut bersama kita, sejak itu aku bisa melihat ketidak sukaan mu terhadap Wiya, walau aku tau apa masalahnya, aku tidak ingin membahasnya disini karena itu tidak pantas untuk di ungkap. Aku masih percaya, kamu Vela yang ku kenal dulu. Bukan Vela yang..." Ditya menggantung kalimatnya.
"Vela yang murahan? iya? Vela yang merebut suami orang?" sambung Vela.
"Ravela Gisha, Diam!!" bentak Ditya."Aku sendiri malu untuk mengucapkan itu, bagaimana kamu bisa bangga?"
"Aku memastikan Wiya aman dalam pengawasan ku, aku sudah memperingatkan mu. Sekali lagi ku katakan, aku berada di dekat Wiya untuk menjaga mu. Menjaga dari tindakan yang merusak nama baik mu. Aku ingin menjaga dari niat mu yang akan merusak hidup mu, kenapa kamu dari dulu tak pernah mau mendengarkan ku? Aku menjaga mu dari kelemahan mu sendiri!" terang Ditya panjang lebar berharap Vela dapat mencerna kalimatnya dengan fikiran jernih.
"Kamu pasti bertanya, kenapa aku tidak berada di dekat mu saja? Aku tau kamu tangguh, kamu Vela yang kuat. Kamu handal dan tangkas. Kamu terlatih! Lagipula kamu selalu bilang kan tidak butuh laki-laki seperti ku untuk hidup mu?" ungkap Ditya lagi.
"Aku tidak tau!"
"Ya, sekarang aku juga tidak tau apa yang terjadi pada mu, kamu bukan Vela ku!"
"Apa? Vela siapa? Vela mu?"
"Lupakan saja, aku sudah menjaga mu dengan cara ku. Kamu bukan hanya menghancurkan harapan ku, tapi juga membuat kekacauan dan atas yang kau lakukan, Wiya hampir kehilangan nyawanya," ucap Ditya menyandarkan tangannya pada kusen jendela. Hatinya lebih kacau dari muatan kapal yang bertebaran di lautan.
"Sekarang aku berlepas dari mu, Pak Zayn yang lebih berhak memberi mu hukuman!" ucapnya getir dan malu.
"Ditya," Vela memelas mendekati Ditya dan memegang lengan Ditya mengharap pengasihan. "Aku tidak akan lari, aku akan menghadapi semuanya. Walau Wiya meminta suaminya menenggelamkan ku ke lautan,"
"Iya dan suaminya akan memastikan ada hiu menunggu mu dibawah!"
"Tidak masalah! Asal kau mau memaafkan ku,"
"Cih, apa pentingnya maaf dari ku? Sekarang kamu bersiap menghadapi Pak Zayn dan keluaraganya. Aku tidak ingin terlibat lebih jauh."
Kemudian Ditya pergi meninggalkan Vela yang begitu terkejut dengan ucapan Ditya. Selama ini dia mengabaikan Ditya karena mengharapkan Zayn. Sekali lagi dia merasa sudah diperbudak oleh ambisi dan keinginan hatinya sendiri. Apakah ada gunanya mengungkapnkan penyesalan?
.
.
.
.
.
.
Minta tolong dong reader jawab pertanyaaan di atas, wkwkw. Yang jawabannya paling gak masuk akal author jodohin ama Pak Taufik, eh ama bang Soleh maksudnya. Wkwkwk
__ADS_1