Utuh

Utuh
SEASON II : EPS 12


__ADS_3

Di rumah, Wiya baru selesai mandi dan mengambil pakaiannya di lemari. Suaminya sudah di perjalanan pulang, dia harus sudah bersedia menyambut dengan penampilan terbaik. Wiya memilih Home dress berwarna biru muda untuk dikenakan.


Padahal baju itu termasuk baju yang nyaman dan sering Wiya gunakan dirumah. Zayn juga suka melihat Wiya mengenakan pakaian itu. Tapi kenapa hari ini menggunakannya terasa sangat tidak nyaman. Bagian lengan atasnya terasa sesak sehingga tidak nyaman untuk bergerak.


“Duh, kok gak enak sih?”


Wiya tetap memaksakan kain itu masuk melalui lengannya, tapi tetap saja terasa kencang di bagian-bagian tertentu. Wiya menatap pantulan tubuhnya di cermin, khususnya di bagian pangkal lengan.


“Ha? Apa ini?” memegang bagian yang sedikit padat dan menonjol. “Duh, kalau dibiarin begini lama-lama bisa bergelambir ini, hiks.”


Wiya membuka pakaian itu dan kembali mengenakan jubah mandinya. Wiya hampir frustasi, ternyata beberapa baju rumahannya bernasib sama seperti home dress biru tadi. Akhirnya Wiya mengenakan baju yang belum pernah dipakainya.


Wiya langsung menuju body scale yang ada di samping pintu kamar mandi. Wiya naik dan sebentar memejamkan matanya menunggu angka digital itu berhenti. Kemudian dia membuka perlahan matanya dengan begitu dramatis.


“Tuh kan bener. Baru satu bulan dirumahkan udah naik dua kilo, yaampun! Kalau begini terus, tahun depan bisa-bisa masuk kriteria sapi kurban nih gue.” gumamnya seorang diri saat kembali bercermin. Wiya memalingkan wajah ke kiri dan ke kanan untuk memastikan kondisi terkini kedua pipinya.


“Gak chubby kan? Enggak kan?” entah dia sedang bertanya pada siapa.


Wiya bergegas merapikan pakaian dan rambutnya saat terdengar suara deru mobil dari bawah. Dia mengintip sedikit dari jendela kamarnya. Benar itu mobil Zayn, suaminya. Wiya memang terbiasa menunggu suaminya di dalam kamar karena suaminya tidak mengizinkannya menunggu di depan pintu dengan keadaan tidak berhijab.


Pak Taufik sudah pergi dengan membawa mobil itu, Zayn sudah masuk ke dalam dan langsung naik ke atas menuju kamar mereka. Setelah mengganti pakaian dan membersihkan diri, mereka segera menuju ruang makan.


“Kamu gak makan?” tanya Zayn saat melihat istrinya hanya mengambil satu piring.


“Ha, engga. Aku nanti makan buah aja,” jawab Wiya ketus.


“Oh gitu? Tumben. Bosan ya makan masakan rumah? Mau aku belikan sesuatu?”


“Engga mas, buah di kulkas masih banyak.”


“Hem. oke,” jawab Zayn singkat dan mulai menyuapi masakan yang dibuat istrinya dengan lahap.


“Kok oke sih? Kamu setuju kalau aku Cuma makan buah?” protes Wiya.


Suapan Zayn tiba-tiba terhenti, dia sudah tau kelanjutannya kalau istrinya mulai bersikap tidak jelas begini. Anehnya, walau sudah sering menghadapi mood perempuan yang mudah berubah, Zayn masih belum menemukan formula yang tepat untuk memberikan jawaban yang meredam suasana hatinya.


Duh, ini tanggal berapa? Udah mau PMS ya dia?


“Ha? Maksudnya sayang? Kan tadi kamu yang bilang mau makan buah aja,” dengan nada paling rendah.


“Iya, tapi kamu setuju kan?”


Oke, berarti dia pengennya aku gak setuju. Berarti tinggal bilang gak setuju kan?


“Emm, sebenarnya enggak sih. Aku maunya kamu makan nasi dong sayang biar kenyang. Ayo sini sayang, kita makan sama-sama, aku suapin ya. Aa…aa…aa” mengulurkan satu suapan untuk Wiya.


“Apaan sih mas, kan aku udah bilang tadi gak mau! Kamu aja sana makan yang banyak, aku udah cape-cape masak,” menepis pelan tangan suaminya.


“Yaudah, aku makan dulu ya sayang. Ini enak banget sayang. Sumpah gak boong. Istri mas udah cantik, pinter masak pula,”

__ADS_1


Semoga mempan! Senyum dong, ayo mana dong senyum GRnya.


“Mas,”


Duh, pasal baru lagi nih kayaknya.


“Eum, emm.. iya sayang,” sambil mengunyah makanan.


“Yaudah, mas makan dulu deh, nanti aja kita ngobrolnya.”


Yes ! mungkin agak dilama-lamain aja kali ya makannya biar dia lupa mau nanya apa.


“Buruan mas makannya, jangan lama-lama!”


Astaga Qawiya!!!!


____________________________________________________


Setelah selesai makan, Zayn langsung membawa bekas makannya ke sink dan langsung mencucinya. Wiya mengeringkan dan meletakkan kembali piring dan gelas itu ke tempatnya. Kemudian mereka menghabiskan waktu di ruang TV.


Wiya mendudukan diri di sofa Panjang yang lembut, tak lupa meraih remote TV. Zayn berbaring di paha istrinya yang empuk dan meraih tangan Wiya untuk diletakkan di pipinya. Kemudian dia sibuk membalas pesan-pesan yang masuk dari akun hijaunya.


Zayn membiarkan Wiya menonton TV tanpa mengajaknya bicara, dengan begitu dia harap istirnya bisa melupakan pertanyaan yang tadi ingin dia ajukan. Zayn sudah tau itu pertanyaan retorika yang sebenarnya Wiya sudah tau jawabannya.  Tiba-tiba Wiya mematikan saluran televisi dihadapan mereka.


Jreng…jeng…drama dimulai. Stay cool,Zayn!


“Lho, kok dimatiin sayang?”


“Oh, iyasih gak ada yang bagus juga programmnya,” ucapnya tanpa berani menatap mata Wiya.


“Mas, aku mau nanya!”


Nah kan! Apa gue bilang.


“Oh jadi ya nanya nya, hehe. Iya sayang ku, mau nanya apa?” menengadah pandangan ke atas menatap wajah istrinya sambil mengelus lembut pipi Wiya.


“Mas, jawab jujur ya!”


Gak janji sayang, semoga aku bisa jawab ya.


“Iya sayang, kapan aku pernah bohongin kamu?”


“Mas, aku gendutan ya sekarang”


Pertanyaan apa ini, Tuhan? Dan dia pengen aku jawab apa sekarang? Bantu hamba mu ini,Tuhan.


“Ha? Enggak kok. Kata siapa? Gendut dari mananya? Enggak sayang. Menurut aku kamu masih sama seperti kemarin!”


“Bohong kamu mas, tuh kan mas bohongin aku!”

__ADS_1


Zayn ingat sebuah artikel yang pernah menyarankan untuk menjawab pertanyaan istri dengan jujur, karena sebenarnya saat mengajukan pertanyaan, mereka sudah punya kunci jawaban. Jadi bisa dibilang para istri bertanya untuk menguji tingkat kejujuran suaminya.


Dan itulah jawaban Zayn dari hati yang terdalam. Di matanya, istrinya selalu sempurna. Dan dia sama sekali tidak melihat perubahan bentuk tubuh Wiya. Lagipula total kenaikan berat badan Wiya hanya 2kg. Tentu tidak terlihat dengan kasat mata. Namun bagaimanapun, angka timbangan yang bergerak ke kanan memang acap kali menjadi konten sensitif bagi banyak perempuan.


“Tunggu…tunggu, sebenarnya ada apa? Kamu mau aku jawab gimana?” Zayn duduk menyilang kaki menghadap istrinya.


“Kamu kenapa gak jujur aja sih? Orang baju-baju ku pada sempit semua. Dan pas aku coba timbang ternyata emang udah naik dua kilo gram mas, gak gendut gimana coba?”


“Ah, itu mungkin bajunya aja yang udah mengkerut kainnya sayang. Kamu salah pilih bahan deh. Itu pasti kain yang mudah menyusut.”


“Mana ada serat kain yang mengalami penyusutan mas, ada juga badan manusianya yang melar!”


“At…atau timbangan di kamar kali yang rusak, nah iya deh. Aku yakin timbangannya rusak sayang! Maafin aku sayang, aku belinya yang merk biasa itu, nanti kita ganti yang agak mahal ya!”


“Masa sih mas? Aku udah pake timbangan manual yang ada di dapur juga, sama kok angkanya,”


“Pake timbangan laundry,coba!”


Wiya mencubit kecil lengan suaminya yang keras.


“Awwws, yaampun sakit Wiy,” mengusap lengan putihnya yang sudah bertanda merah.


“Aku serius ya mas,” ketus Wiya.


“Sayang denger sini,” menangkup pipi Wiya dengan kedua telapak tangan. “Dua kilo itu bukan lonjakan kenaikan sayang, itu siklus yang normal. Jangan khawatir. Daging dua kilo aja itu kalau di dendeng paling Cuma bisa buat sarapan doang, itu kalau gak dicampur kentang ya!” seloroh Zayn.


“Mas!!!” Pekik Wiya manja memajukan bibirnya.


“Ehehe, itu artinya, kamu sama sekali tidak terlihat chubby, atau apalah itu istilahnya yang sulit aku sebutkan!”


“Gendut mas!”


“Sssst,” mengarahkan jari telunjuk ke mulut Wiya. “Tidak sayang tidak, sekali lagi aku bilang, kamu sama sekali tidak berwujud seperti itu, oke? Nih ya, walau kamu begitu sekalipun, bagi aku itu tetap bentuk terbaik dan tercantik di muka bumi ini. Kamu tetap yang terlangsing di mata ku, sayang!” Ucap Zayn dengan sangat berlebihan.


“Gak usah lebay mas, duduk diem dirumah bikin lemak juga betah di badan ku. Aku mau mulai olahraga!”


“Nah…!” Zayn menjentikkan jarinya di depan wajah Wiya. “Emang aku pulang cepat rencananya mau ngajak kamu sepedaan nanti sore sayang, pasti seru deh. Kamu mau kan?”


Wajah Wiya memerah mendengar ajakan suaminya. Entah hormon apa yang sejak tadi bekerja, yang jelas setiap kalimat yang keluar dari bibir suaminya terdengar seperti sebuah intimidasi yang berhubungan dengan perubahan bentuk tubuhnya.


“Tuh kan ! Kamu dari kemarin emang udah sadar kalau aku tuh gendutan, makannya hari ini kamu pulang cepat mau ngajakin aku sepedaan kan? Secara gak langsung kamu emang nyuruh aku olahraga kan? Huaaa, tega kamu mas.” Raung Wiya tidak jelas.


Zayn terkejut melihat reaksi istrinya. Bagaimana fikrian Wiya bisa mengkorelasikan hal itu sedemikian rupa? Zayn menggenggam kedua tangan Wiya dan mengarahkan ke lehernya.


“Kenapa kamu mas?” tanya Wiya heran.


“Habisi diriku sekarang juga sayang, cekik sekalian!”


“Apaan sih mas,” menarik tangannya dan memukul paha Zayn. “Hiks, hiks!”

__ADS_1


Akhirnya Zayn merengkuh tubuh istrinya yang memang terasa sedikit hangat. Terlambat dipeluk sedikit saja, mungkin Zayn yang akan demam karena tingkah Wiya. Sepintar apapun seorang wanita, setinggi apapun pendidikannya, mereka tetaplah makhluk manja yang lebih sering mengandalkan hati daripada logika.


__ADS_2