
Belum ada satu pekan Wiya pergi, tapi suaminya sudah merasakan seperti satu tahun ditinggal istri. Kalau diizinkan, ingin rasanya berkata jujur bahwa dia tidak pernah rela membiarkan Wiya bepergian sendiri.
Kendati sedang berkejaran dengan rutinitas, setiap pulang kerumah rasanya seperti kehidupan tertunda untuk sementara waktu. Ingin sekali Zayn membayar pinalti kontrak kerja ini agar proyek bisa ditinggalkan dan dia menyusul Wiya kesana. Tapi Istrinya yang amat profesional itu pasti tidak akan setuju dan mungkin malah akan marah besar.
Sejak Mitty pindah ke Natuna, Zayn bisa melihat diri Wiya yang sangat kesepian. Selama ini dia tidak memiliki teman sedekat Mitty. Dan keponakan tercinta yang bisa menjadi pengobat lara, juga sudah ikut dengan orangtuanya. Semakin kesepianlah Wiya.
Zayn memang tidak pernah mengutarakan keingianan untuk segera memiliki keturunan. Tapi suami mana yang tak ingin istri yang amat dicintainya hamil? mengandung buah cinta gabungan dari kromosom mereka berdua. Membayangkan makhluk kecil yang akan hidup dan bertumbuh dalam rahim.
Menjalani hari-hari sebagai calon ayah yang akan menyambut pewaris kehidupan, jelmaan dari gen-gen terbaik yang berhasil dia buahi. Membayangkan tangan kecil yang akan mengenggam, atau tubuh mungil yang akan dia gendong di pangkuan. Apakah ada manusia bumi yang tidak menginginkan kebahagiaan ini?
Tentu tidak. Tapi bukankah semua itu tak pantas dipertanyakan? tak ada yang berhak mendikte Tuhan tentang kapan Dia akan meniupkan ruh untuk keberadaan segumpal daging dalam rahim. Siapa yang berani mendebat Pencipta yang Maha tau jawaban atas anugrah yang cepat dan terlambat? Tidak ada, semua murni hak prerogatifNya.
Itulah yang membuat Zayn tidak pernah menyinggung masalah ini di hadapan istrinya, selama dia yakin bahwa dirinya akan mampu menghamili Wiya, dia tidak pernah takut. Bisa saja mereka mengalami kemungkinan paling terburuk walau sama sekali tak pernah memintanya. Tapi Zayn tidak sampai berfikir akan mengurangi kadar kasih,sayang dan cintanya kepada wanita yang sudah berhasil menguji kesetiaanya.
Terhadap Ilma Qawiya, wanita yang paling mengerti dirinya melebihi dirinya sendiri. Zayn sudah berjanji akan selalu berusaha menjadi yang terbaik dan memenuhi semua kebutuhan Wiya, lahir dan batin.
Untuk itulah saat dokter mengatakan salah satu faktor yang mendukung program hamil secara alami adalah perasaan tenang, senang dan bebas dari beban. Minimal bisa melakukan hal-hal yang Wiya senangi. Disitulah masalahnya, Zayn tidak pernah benar-benar mengerti apa yang istrinya ingini.
Sehingga sepulang dari rumah sakit beberapa pekan yang lalu. Wiya yang biasanya jarang melakukan hal-hal untuknya sendiri, kemarin terlihat sedang sibuk dengan video dan gambar yang dia dapat dari *flashdisk *milik dokter Ditya. Baru kali itu Zayn melihat Wiya asik dengan dunianya sendiri.
Zayn juga tak sengaja mendengar pembicaraanya dengan Vela beberapa waktu yang lalu. Wiya bisa tertawa, bereksresi takjub dengan begitu lepasnya Juga tentang keinginannya untuk pergi namun terhalang izin dari suami. Dari sana Zayn merasa telah mengekang hal yang paling istrinya butuhkan saat itu. Liburan. Cara orang berlibur tentu berbeda-beda.
Zayn semakin frustasi, manakala Wiya memberitaukan bahwa dia sedang berada di dusun yang terpencil dan tidak ada jaringan sehingga dia tak bisa tau kabar terakhir istrinya.
***
Hari ini dia pulang kerja lebih awal. Pukul lima sore Zayn sudah berada di rumah. Sebenarnya mama Wulan menyarankannya untuk menginap dirumah mama saja, tapi Zayn memilih untuk tetap dirumah, setidaknya masih bisa mencium aroma tubuh istrinya di pakaian, selimut dan tempat tidur mereka.
Tapi hari ini sedikit berbeda, karena dia sejak tadi malam Wiya tidak bisa dihubungi. Kalau sesuai jadwal baru besok siang Wiya akan kembali ke Desa dan mereka bisa berkomunikasi kembali.
Tanpa mengganti pakaian kerjanya, Zayn memilih untuk menghempaskan diri di atas ranjang besar yang hanya untuknya sendiri sementara ini. Zayn membuka ponselnya berharap ada pesan atau panggilan tak terjawab dari Wiya.
"Duh sayang, aku udah kangen banget. Bingung harus ngapain. Masa aku harus berfantasi sih Wiy? Ayo dong aktif!" kicaunya seorang diri sambil mencari kontak atas nama istrinya.
*Tuuuut....tuuut.... *
Pada layar ponsel itu tertera keterangan "*berdering" *yang artinya panggilan itu terhubung ke ponsel Wiya. Zayn seketika terduduk tak percaya. Mulutnya tersenyum lebar dan tidak sabar menunggu istri tercinta menjawab panggilan itu. Tapi sampai di nada sambung terakhir, tidak ada jawaban disana. Zayn melakukannya beberapa kali.
__ADS_1
"Giliran udah nyambung, tapi gak dijawab!" rutuknya kesal. "Kamu ngapain aja sih? gak kangen apa?" ungkapnya lagi.
Zayn membuka tab daftar postiingan yang kontaknya tersimpan di ponsel. Benar dugaanya, Wiya membagikan sesuatu disana. Sekilas tampak seperti gambar. Zayn mencoba membuka untuk melihat apa yang Wiya bagikan.
Tak ubahnya kepiting yang direbus dengan air mendidih, wajah Zayn memerah panas, rahangnya mengeras, dia mencoba mengetuk-ngetuk kembali layar dengan ibu jari untuk melihat postingan berikutnya. Semakin bertambahlah kemarahannya melihat yang Wiya bagikan disana.
Zayn kembali membuat panggilan, tapi masih sama tidak ada jawaban. Kemudian dia mengirimi beberapa pesan singkat interogasi dan meminta penjelasan atas semua yang dia lihat.
Hatinya panas sekali, tapi dia tetap tak ingin dikuasai amarah. Dia pernah kehilangan Wiya bertahun-tahun hanya karena salah mengambil keputusan. Dan itu dengan masalah yang tak jauh berbeda. Kesalah pahaman. Zayn tak ingin mengulang hal itu, dia mencoba meredam sendiri gejolak panas dingin yang sedang dirasakan.
Pesan itu berbalas. Seketika Zayn mengernyitkan kening, membaca kalimat dalam pesan yang sangat asing dan dia yakin ada yang sedang mencoba bermain-main denganya.
***
Di pulau C
Setelah observasi dan beberapa kegiatan perkenalan selesai. Rombongan yang tadi pagi berhasil masuk ke pulau C melalui jalur laut kini kembali ke Dusun dengan perasaan lega dan bahagia. Air surut pukul lima sore, untungnya mereka sudah mengantongi izin dan diperbolehkan pulang lewat pelabuhan.
Sesampainya di Dusun yang pertama kali Wiya cari adalah ponselnya. Benda kecil itu memang tidak menyimpan rahasia apapun, hanya dia gunakan untuk menghubungi Zayn dan keluarganya. Dia juga ingin segera memindahkan foto dan video dari kamera Ditya ke memori ponselnya. Tapi hampir setiap sudut kamar Wiya mencarinya, benda kecil itu tidak ditemukan.
Wiya melangkah menemui Ditya di ruangannya, meminta bantuan dokter tampan itu untuk ikut mencari.
"Memang saya bawa kok HPnya, gak mungkin saya lupa, tapi saya bener-bener gak ingat terakhir saya letakin dimana,"
"Kalau memang sudah cari tapi gak ketemu, saya coba cari di camp desa aja ya," Mengambil jaket di belakang pintu dan mengenakannya.
"Saya ikut ya, kita sekalian pulang aja ke desa,"
"Udah hampir magrib Wiy, besok pagi baru ada pompong kesana. Aku minta tolong pemuda disini mengantarku dengan sampan kecil mereka, tidak ada pelampung," Ditya mencoba memberikan pengertian.
Wiya bergedik juga. Sampan adalah sebutan untuk perahu kecil yang terbuat dari papan, bentuknya seperti kano. Sampan juga digerakkan dengan tenaga ciau atau dayung.
"Apa tidak merepotkan?" tanyanya sungkan.
"Akan merepotkan kalau kamu ikut ke desa sekarang dan ketakutan di atas sampan nanti, Ahahah. Oh ya, kabarnya bidan Rina akan pulang malam ini juga bersama pasien yang kemarin, jadi kamu udah gak kesepian,"
"Oh gitu? Syukurlah," jawab Wiya seadanya, karena fikirannya masih mengkhawatirkan keberadaan ponsel itu.
__ADS_1
"Kamu masuk lah! Aku pergi dulu," Ditya menunggu Wiya kembali ke gedung puskesmas.
***
Hati Wiya tak karuan. Rasanya akan lebih baik kalau ponsel itu benar-benar hilangi ditelan bumi. Karena kalau ponsel itu ditemukan seseorang, atau ada seseroang yang sengaja berniat jahat terhadapnya, tentu hal itu yang dia fikirkan sekarang.
Wiya menunggu Ditya sembari membunuh kekhawatiran, membuka gambar dan video yang dia tangkap dari kamera adiknya dokter Ivan itu. Dia tersenyum, potret kebesamaan Wiya dengan para penduduk terutama anak-anak di pulau C membuat rasa bahagia di dalam dirinya membuncah apa adanya.
Kekhawatirannya semakin menjadi-jadi, manakala Ditya datang dengan kabar bahwa ponselnya ditemukan di dalam kamar camp. Wiya yakin benar dia membawa ponsel itu ke Dusun, berarti memang benar ada seseorang yang entah dengan maksud apa mengambil ponselnya.
Wiya tak ingin berburuk sangka, namun sebuah nama yang langsung terlintas di benak Wiya hanya satu orang, Vela.
"Gimana kamu bisa masuk ke kamar camp wanita? emh, maksud saya, disana kan ada Windy,Nina dan Vela," tanya Wiya dengan nada curiga.
"Aku hanya datang dan menanyakan apa mereka melihat ponsel mu yang tertinggal? Dan Vela langsung mengambilnya dari dalam kamar mu, dan kata Vela ada di atas tumpukan baju milik mu.Benar kan yang aku bilang? HP mu memang ketinggalan," cerocos Ditya panjang lebar.
Wiya merasa enggan dan tidak ada gunanya menjawab kalimat Ditya. Karena dia tak ingin Ditya ikut-ikutan mencurigai Vela. Bagaimanapun Wiya juga tak punya bukti apa-apa. Jadi yang sebaiknya dia lakukan memang segera mengambil ponsel itu dari tangan Ditya dan memeriksanya.
Ditya berlalu kembali ke tempat tinggalnya. Wiya masuk ke dalam dan lagi-lagi mengisi daya selagi ada kesempatan. Wiya memeriksa semua yang perlu diperiksa, sehingga tampaklah pesan teratas di aplikasi hijau miliknya. Itu dari Zayn suaminya,
Seketikanya Wiya merasa hatinya tak ubah sebuah beling yang sengaja dilepaskan dari atas tempat cucian piring, hancur, remuk redam tak terselamatkan setelah melihat pesan yang suaminya kirimkan.
Pemeriksaan tetap dia lanjutkan sendiri, setelah membaca pesan yang tertinggal dari suaminya, Wiya membuka pembaharuan statusnya. Pantas saja Zayn berkata demikian, karena gambar yang dibagikan disana adalah potongan gambarnya yang acap berpose di sebelah Ditya.
Gambar saat diperjalanan, di dalam kapal, ketika briefing, ketika berada di tebing dan yang paling berpotensi memunculkan prasangka adalah potret Wiya dengan Ditya berdua di bangku puskesmas tadi malam. Disana yang tampak hanya mereka berdua, padahal faktanya Wiya duduk lebih dekat dengan Vela malam itu.
Bergetar seluruh tubuhnya, apa yang suaminya fikirkan sekarang? Mau tidak mau kenangan pahit itu terulang. Saat Zayn lebih mempercayai barang bukti daripada kekasihnya sendiri. Wiya menggeleng-gelengkan kepala, tak ingin menginat rentetan kejadian itu lagi.
Kondisi seperti ini sangat melemahkan Wiya. Seberapapun ujian rumah tangga yang datang menghampiri mereka, selalu terlewati karena mereka membangun komunikasi yang baik. Semua masalah tak pernah dibiarkan berlarut walau satu malam. Mereka tak pernah tertidur dengan perasaan yang belum selesai.
Tapi bagaimana sekarang? Wiya takut sekali Zayn salah paham dan mengambil kesimpulan sendiri. Wiya takut terlambat memberikan penjelasan.
"Dokter, dokter...!" panggil Wiya menggedor kamar Ditya sampapi Ditya keluar. "Dokter saya harus pulang malam ini juga,"
***
Wah, sepertinya molor ini tamatnya. Huaaaa,
__ADS_1
Makasih banyak ya teman-teman. Makasih pokoknya. Maklumi ya typo yang masih gak sopan.