
Hari semakin larut, rumah duka semakin tampak sepi, hanya tersisa para pekerja, penjaga rumah dan beberapa kerabat dekat keluarga yang masih tinggal. Ibu Wulan pun sudah ditangani dokter dan beristirahat di kamarnya yang sejak tadi ditemani Brigitta dan disusul Vhieya juga Nikki yang hari ini memilih tidur bersama mama mereka. Entah mereka akan tidur atau menangis bersama sepanjang malam.
Wiya pun ada di kamar itu untuk pamit kepada Bu Wulan karena dia harus pulang. Tadi siang saat Ibu, ayah dan abangnya datang untuk bertakziah dia sudah menyampaikan bahwa kemungkinan akan berada dirumah duka hingga malam.
Meski hatinya sedikit bertanya-tanya saat melihat interaksi Brigitta yang begitu luwes dirumah ini, Sekarang dia mengesampingkan perasaannya manakala melihat kedekatan Brigitta dengan Bu Wulan yang tidak biasa. Ditemani Zayn, dia masuk ke kamar itu mendapati Bu Wulan yang sedang berbaring.
“Bu, Saya pamit pulang dulu ya. Mungkin besok sore sepulang kerja saya akan kesini lagi. Ibu istirahat ya.” Pamit Wiya dengan duduk berlutut menyesuaikan dengan tinggi tempat tidur. Dia mengambil tangan lemah perempuan itu dan mengusap-usap dengan lembut.
“Terimakasih banyak Wiya. Kamu seharusnya tidak perlu repot seperti ini. Zayn kamu harus antarkan Wiya pulang, ini sudah malam.” Perintah Bu Wulan kepada anak nya.
“Iya Ma, Zayn akan mengantarkan Wiya pulang” Zayn mengiyakan “Bii, kamu sebaiknya menginap disini saja bersama mama, Nikki dan Vhieya. Jika ada kabar tentang paman Setiawan kamu akan sulit jika hanya dirumah sendirian. Kalau kamu disini, ada banyak orang yang bisa mengantarkan mu kerumah sakit kapan pun.” Zayn tidak spesifik menawarkan dirinya.
Brigitta mengangguk dengan patuh. Namun hati Wiya semakin tak karuan dengan interaksi itu. dia semakin merasa asing berada ditengah-tengah mereka.
“Tidak usah Pak, saya pulang sendiri saja, sudah biasa naik taksi online” Tolaknya halus.
“Gak boleh! Wiya, apa kata orang tua kamu nanti kalau kamu pulang naik taksi sendiri selarut ini. biarkan Zayn mengantar mu pulang” Pujuk Bu Wulan. Akhirnya Wiya pasrah mengikuti perintah itu.
***
Perjalanan menuju rumah Wiya dari kediaman Zayn tidaklah jauh, hanya berjarak 6km. Mobil yang Zayn kendarai berjalan dengan kecepatan sedang membelah jalan kota Tanjungpinang yang sudah tampak sepi. Lampu hias di sepanjang trotoar berkelap kelip memberi cahaya, anak-anak jalanan masih ada yang melintas satu dua orang.
Warung-warung pecel lele kaki lima juga masih buka menyumbang sedikit keramaian. Karena dua orang di dalam mobil itu hanya terdiam sepanjang jalan.
Mobil Zayn berhenti tepat di depan pintu pagar rumah Wiya yang sengaja tak dikunci. Wiya menatap Zayn sebentar sebelum melepaskan seatbeltnya. Dia melihat tatapan kosong itu dan turut merasa hampa.
“Zayn, aku turun ya.“ Pamitnya pelan.
Zayn mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya yang menatap nanar kedepan. Wiya menunda langkahnya karena khawatir melihat keadaan bossnya ini.
“Zayn…ka-kamu kenapa? Em maksud aku, kalau kamu sedih dan pengen nangis ya nangis aja. Jangan di sembunyikan”
Zayn reflek menghadap ke arah Wiya.
__ADS_1
“Apa aku boleh?“
“Boleh apa? menangis? Kenapa gak boleh. Aku tau kamu menahan semuanya agar mereka kuat. Tapi kamu juga harus melepaskan segala beban yang kamu rasakan. Agar bisa lebih kuat."
Mendengar kalimat itu Zayn langsung menghentikan pandangan matanya ke bola mata hitam gadis dihadapannya. Disaat semua orang larut dalam duka masing-masing, Zayn harus menjadi penetralisir pilu yang hadir, menjadi pelindung mama dan kedua adiknya. Zayn menahan diri sekuat tenaga agar terlihat kuat di hadapan mereka. Tapi gadis ini mengerti sebak yang Zayn rasakan di dalam dadanya dan siap berbagi. Air mata Zayn jatuh satu-satu di hadapan Wiya. Wiya terkesiap, malam ini dia benar-benar menyaksikan laki-laki ini menangis.
Tangisan yang sendu tiba-tiba berubah menjadi raungan. Air mata itu kini tak terbendung lagi, banjir, bukanlagi menganak sungai. Pertahanan Zayn roboh di hadapan Wiya. Dia reflek menutup wajah sembabnya di pangkuan gadis itu. Meluahkan tangis sejadi-jadinya.
Wiya merasa iba sekali melihat pemandangan di depannya. Ekspresi kepedihan yang diluapkan Zayn di hadapannya. Yang sudah ditahannya sejak tadi. Meski sedikitpun tidak mengurangi ketampanannya, namun wajah klimis itu terlihat sangat kacau. Dengan nafas tersengal-sengal dia menangis sejadi-jadinya dipangkuan Wiya.
“Aku gak siap Wiy, aku belum percaya semua ini. kenapa Wiy, kenapa secepat ini papa ninggalin kami semua. Mama, aku dan adik adik ku” tangis bercampur isakan-isakan cairan yang sudah merembes dari hidung.
Wiya membiarkan Zayn menumpahkan segala yang dia sembunyikan di hadapan orang lain dan juga membiarkan roknya basah karena air mata dan air yang keluar dari hidung itu. Hanya Tuhan dan Wiya saja yang menyaksikan kerapuhan Zayn saat ini.
Ya Allah begini amat ya wajah laki-laki kalau lagi nangis!
Dalam keadaan terburuk bahkan wajahmu tetap menarik.
Wiya diam namun memperhatikan Zayn dalam. Cukup lama Zayn berkata-kata sendiri. Setelah dirasa cukup lega dia menarik kembali wajahnya dan menggenggam erat tangan Wiya.
“Lihat ini rok mu basah! Maafin aku ya“ Berkata tanpa melepaskan tangan Wiya.
Maaf sih maaf, tangan ku dong lepasin.
“Udah enakan?“ Tanya Wiya sambil menarik tangan sebelahnya yang dari tadi dikuasai Zayn.
Zayn mengangguk sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Kini dia kembali memegang setir.
“Syukurlah! Kamu harus kuat. Kamu harus menguatkan banyak orang! Aku cuma bisa bicara sih, gak tau kalau aku yang merasakannya nanti, tapi ketika kita kehilangan orang yang kita sayang, sedih boleh. Berlarut jangan! Toh kita juga nanti akan pergi. Mungkin masih lama, atau sebentar lagi. Gak ada yang tau! Kematian seharusnya
memberi kita ruang untuk semakin memperbaiki diri” Sekarang dia sudah membuka seatbeltnya dan akan segera membuka pintu mobil.
Zayn lagi-lagi dengan cepat menahan pergelangan tangan Wiya. Wiya menatap tangannya yang kembali menahan semua tubuhnya untuk tidak beranjak dulu.
__ADS_1
“Terimakasih Wiya. Entah kenapa aku tadi reflek menangis begitu saja di dekatmu”
“Kenapa seneng banget sih megangin tanganku, gak tau orang deg-degan apa” Ucap Wiya pelan, pelan sekali.
“Eh, apa? kamu bilang apa?” Semakin mendekatkan posisi duduknya.
“Kamu dengernya apa?“
“Kamu deg-deg an?“ Tebak Zayn.
“Itu, em, aku haus nanti mau minum es degan ! iya iya es degan. Seger” Elak Wiya gugup.
“Malam-malam begini mana ada kang es degan. Ayo aku temanin kamu cari!”
“Yaelah gofud aja kali, udah ah gak pulang-pulang nih aku nanti.”
Wiya keluar dari mobil dan ternyata Zayn juga ikut keluar dari pintu disebelahnya.
“Eeeeh ehh ehh, kamu mau kemana?" Tanya Wiya heran.
“Ngantarin kamu lah, sekalian pamit sama ayah dan Ibu"
“Ng,nggak nggak usah. Emmm mereka udah pada tidur. Sana kamu pulang aja. Hati-hati!” Wiya mendorong dorong tubuh Zayn memaksanya masuk ke dalam dan menutup pintu mobil itu. Zayn menurunkan kaca jendelanya dan mengernyitkan kening.
“Yasudah kamu masuk sana. Nanti kalau sudah di dalam baru aku pergi.”
“Hm, iya iya terserah. Byeee!” Melambaikan tangannya dan tersenyum.
Zayn benar-benar menunggu Wiya melangkah masuk ke dalam rumah itu, gadis itu sesekali malah melihat ke belakang dan memberi senyum senyum kecil. Lalu Zayn menyalakan mesin mobil kemudian pergi saat bayangan Wiya pun sudah tak tampak disana. Walau hatinya getir namun saat ini kekuatannya telah terkumpul kembali. Hanya dengan meluahkannya di hadapan Wiya dia bisa kembali berfikir menyusun langkah-langkah selanjutnya untuk keluarganya, sepeninggalan ayahnya kini.
Di tengah perjalanan menuju pulang dia mendapat panggilan dari Brigitta yang meminta menyusulnya kerumah sakit, karena ternyata dokter menginformasikan Tuan Setiawan tidak bisa diselamatkan dan telah menghembuskan nafas terakhir.
---------------------------------------------------
__ADS_1
TERIMAKASIH EVERYONE.