Utuh

Utuh
SEASON II : EPS 20


__ADS_3

Mba Wiwin masih berjalan maju dan mundur di depan pintu kamar Wiya, dia begitu takut terjadi apa-apa dengan Nona mudanya. 10 menit kemudian, terdengar suara mobil Zayn di halaman. Mba Wiwin begitu lega melihat Zayn datang dengan ekspresi tidak karuan.


"Apa yang terjadi Mba?" tanya Zayn saat melihat Mba Wiwin masih berada di depan pintu kamar mereka.


Dengan terbata Mba Wiwin mencoba menjelaskan sekilas kejadian sejak Wiya pulang dari luar. Beruntung Zayn membawa kunci kamar cadangan. Tanpa menunggu lebih lama dia langsung membuka kamarnya perlahan. Mba Wiwin meminta izin untuk menunggu dibawah karena dia tidak tenang kalau harus pulang saat itu juga. Zayn mengizinkannya.


Zayn melempar tasnya ke sembarang arah manakala dia melihat Wiya dengan wajah yang begitu pucat tidak sadarkan diri, duduk menekuk lutut sedangkan kedua tangan memegangi bagian perut dan menutup diri dengan selimut tebal. Tapi wajahnya tidak tampak seperti orang yang sedang pinsan.


Lelaki itu memeluk tubuh istrinya sambil berusaha untuk tetap tenang dan mengangkat tubuh lemah itu ke atas ranjang. Sesaat mata Wiya terbuka dan menangkap bayangan wajah suaminya.


"Mas," panggilnya pelan.


Zayn terkejut dengan apa yang dia dengar. Ternyata istrinya tidak pinsan, hanya ketiduran. Tapi apa sebabnya dia berteriak hingga ketiduran? Apa mungkin hanya tentang nyeri datang bulan?


"Sayang? Kamu udah bangun?"


"Kamu kok udah pulang? Perut ku sakit banget tadi mas, aku gak tahan," rengek Wiya.


"Bagian mana yang masih sakit sayang?"


Zayn mulai mengusap-usap pundak Wiya dengan lembut sambil sebelah tangan memeluk Wiya erat dari belakang. Wiya memutar balikkan badannya kini menghadap Zayn dan memeluk suaminya sambil sesegukan. Betapa hormon menstruasi bisa mengubahnya menjadi sangat penuh drama.


Zayn ingin sekali menanyakan apa yang sedang terjadi, tapi dia takut membuat istrinya kembali sakit atau histeris. Jadi dia memilih diam dan akan menanyakannya nanti. Setidaknya sekarang Wiya sudah berada dipelukannya.


Merasa nyaman dalam pelukan suaminya, tak terasa Witya kembali tertidur. Zayn perlahan melepaskan pelukan dan menyelimuti Wiya. Dia turun mencari sesuatu yang bisa dijadikannya sebuah clue tentang keadaan istrinya.


Yang pertama kali Zayn perhatikan adalah sudut meja belajar. Biasanya Wiya akan terpengaruh setelah membaca sesuatu. Dia melihat sebuah majalah bersampul ungu dan segera mengambilnya.

__ADS_1


"Ini kan majalah langganan mama, oh jadi ini yang tadi Wiya beli di toko buku? Karena ini? ah tapi plastik majalah ini bahkan belum terbuka, Wiya belum membacanya." Tukas Zayn pada hatinya sendiri.


Ponsel, tadi Wiya tertidur memegang ponselnya. Zayn mengambil benda itu dan memeriksa panggilan terakhir disana. Matanya mengernyit tatkala mendapati kontak mama yang melakukan panggilan masuk pada Wiya. Zayn membuat panggiln balik ke nomor mama, tapi tidak dapat dihubungi karena ternyata Mama Wulan sedang menghubungi dirinya.


"Wa'alaikumsalam, Zayn kamu dimana? nanti pulang kerja bisa mampir kerumah Mama gak? ambil majalah," ucap mama dengan antusias.


"Majalah ma?"


Kemudian mama Wulan menjelaskan tentang majalah itu dan tentang Mama yang menyarankan Wiya untuk membaca majalah yang isinya adalah tips seputar kesuburan dari Brigitta. Zayn mengelus dadanya, kini dia tau kenapa tadi istrinya memangis dan kata Mba Win sampai berteriak kencang dari kamar.


"Wiya sekarang lagi tidur ma, dan majalah itu tadi Wiya udah beli kok. Kebetulan ada di toko buku,"


"Oh gitu, ah yasudah baguslah nak. Salam mama untuk Wiya ya,"


Zayn mengakhiri panggilan itu dan kembali ke kamar. Wiya masih tertidur. Zayn berinisiatif mengemasi beberapa kebutuhan Wiya dan memasukkannya ke dalam tas. Dia membuat pendaftaran ke poliklinik spesialis kandungan di rumah sakit. Kemudian Zayn menghubungi Pak Taufik untuk segera menjemputnya.


"Mba Win, aku bawa Wiya ke rumah sakit dulu ya. Mba tolong jagain rumah sebentar sampai kami balik, bisa?"


"Iya..iya tuan, bisa. Mba Win disini aja. Moga Non Wiya gak apa-apa ya tuan," ucap Mba Win tulus.


"InsyaAllah Wiya ga apa-apa Mba, makasih do'anya"


Mba Win mengantarkan sampai ke depan pintu dan menutup pintu rumah saat Zayn dan Wiya sudah masuk ke dalam mobil.


Zayn membaringkan kepala Wiya di atas pahanya saat berada di dalam mobil. Tapi Wiya seketika tersadar dan membuka matanya.


"Mas," ucapnya saat sudah sepenuhnya sadar dan duduk.

__ADS_1


"Eh, kamu bangun? curang banget sih bangunnya pas udah sampai di mobil? Hm?" canda Zayn sambil mencubit ujung hidung istrinya.


"Maaf mas, berat ya? eheheh. Salah kamu gak bangunin dulu. Kita mau kemana mas?"


"Kita ke dokter sekarang,"


"Tapi aku belum bikin janji mas,"


"Gak masalah, kita langsung kesana aja. Tadi aku udah daftar,"


"Oooo.." Wiya membulatkan mulutnya. "Mas, tadi mama..."


"Suruh kamu baca majalah itu? Nanti aku akan bicara sama mama, yang penting sekarang kamu ke dokter dulu,"


"Bukan mas, bukan itu maksud ku. Aku tau, maksud mama bukan seperti itu. Kamu gak perlu bicara apa-apa sama mama mas. Tadi mungkin karna aku lagi gak stabil aja, maafin aku ya," Sesal Wiya.


Zayn hanya tersenyum. Istrinya tak perlu tau apa yang akan dia sampaikan pada mamanya nanti. Yang paling penting saat ini adalah memeriksakan kondisi Wiya dan membuat istrinya kembali pada mood semula.


"Apa masih sakit?"


"Udah ga sesakit tadi mas,"


Mobil melaju menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Wiya hanya berdiam diri menatap ke arah jalanan. Baliho-baliho raksasa yang memasang berbagai macam iklan dilihatnya satu persatu yang sebagian besar designnya adalah karya para designer grafis dari IQ Media, termasuk suaminya sendiri.


Setibanya dirumah sakit, mereka langsung menuju ruangan besar poliklinik dokter kandungan. beruntung Nomor antrian mereka tepat dipanggil setelah mereka tiba. Karena jika harus duduk di ruang tunggu, Wiya pasti akan kembali merasa tidak nyaman karna dikelilingi para Ibu yang membicarakan seputar kehamilan mereka masing-masing.


***

__ADS_1


Kalau komenya banyak ako up hari ini juga eps 21 nya. 🐹


__ADS_2