(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
100


__ADS_3

Sementara itu di sebuah kamar rawat inap yang berada di kota itu. Anisa yang kondisinya berangsur mulai pulih pasca melahirkan beberapa hari lalu itu nampak keluar dari kamar mandi ruangan tersebut. Ia baru selesai membersihkan diri. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Neneknya sedang ke kantin bersama Tami untuk mencari makan siang yang tertunda, Bik Susi juga masih bekerja, sedangkan Elang sejak kemarin belum datang ke rumah sakit. Entahlah, kemana perginya pria itu. Ia selalu sibuk sendiri.


Sore ini ia hanya ditemani Louis. Laki laki yang kini tengah diterpa banyak sekali masalah dalam keluarganya. Ia kini berada di ruangan Anisa setelah Om dan Tantenya pulang dari menjenguk Betrand di apartemen. Louis memang harus pandai pandai mengatur waktu. Dua orang yang paling ia sayang di dunia ini kini tengah di rawat di dalam satu gedung yang sama. Membuatnya harus bolak balik menjaga Anisa dan Tuan James secara bergantian.


Anisa yang sudah segar nampak mendekati pria kesayangannya itu. Dilihatnya Louis nampak melamun di atas sofa panjang di sana, memangku baby Gerhana yang nampak terlelap dalam pangkuan sang calon ayah.


Anisa menghela nafas panjang. Louis pasti sangat lelah entak itu mental, pikiran, maupun badannya. Badai buatan Luke seolah tak henti henti menerpa dirinya dan keluarganya. Membuat Louis lagi lagi harus menanggung beban yang dibuat oleh kembarannya sendiri itu.


Anisa mendekat. Diraihnya bayi mungil itu dari tangan Louis, membuat pria itupun terperanjat dibuatnya. Anisa mendudukkan tubuhnya di samping Louis. Ia menoleh ke arah sang lelaki.


"Mikirin apa?" tanya Anisa.


Louis diam. Ia kemudian tersenyum. Tangan kekarnya tergerak membelai beberapa helai rambut panjang wanita itu dan menyingkapkannya ke belakang telinga.


"Enggak," ucap Louis.


"Ada masalah sama Kakek?" tanya Anisa.

__ADS_1


Louis diam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.


"Masalahnya bukan di Kakek, tapi di dalam keluargaku sendiri, Nis. Aku pusing. Pusiing banget..." ucap Louis mengeluh.


Anisa tersenyum. "Aku bisa bantu apa?" tanyanya menawarkan diri untuk membantu.


Louis diam lagi. Tangannya tergerak lagi membelai rambut sang calon istri. "Kamu cukup tersenyum menyambutku di setiap kedatanganku. Selebihnya, cukup doa kan aku, dan kita, agar bisa secepatnya menjadi satu tanpa ada lagi masalah ke depannya. Kita tinggal butuh restu dari Kakek. Setelah itu, semua akan berjalan dengan lancar. Ya, kan?" tanyanya.


Anisa tersenyum lalu mengangguk. Louis merengkuh pinggang ramping itu agar lebih mendekat ke arahnya. Laki laki itu lantas menyandarkan kepalanya di pundak Anisa. Satu tangannya tergerak mengusap usap kening sang calon anak. Gambaran bakal Keluarga bahagia terlihat jelas disana.


...****************...


Seorang pria yang kebetulan ikut serta membawa kedua korban menuju rumah sakit itu kemudian mengeluarkan sebuah ponsel yang kebetulan terjatuh di samping salah satu korban. Sebuah ponsel mahal berwarna hitam dengan wallpaper seorang pria yang nampak bertelanjang dada, namun sayang, ponsel itu dalam kondisi terkunci, tak bisa dibuka.



Pria itu diam. Ia menatap gambar di ponsel itu dengan seksama. Seorang warga lain yang juga ikut mengantar korban pun mendekat.

__ADS_1


"Kenapa diam aja? Ayo, kabari keluarganya!" ucap pria dengan sebagian rambut memutih itu.


Laki laki pemegang ponsel itu diam. "Eh, coba lu liat, deh. Ini kayaknya hp nya korban yang cowok. Lu liat..! Kayak nggak asing mukanya. Kaya pernah lihat nggak lu? Dari tadi gue perhatiin mukanya korban. Kayak pernah lihat, gue. Kayak nggak asing!" ucap pria yang memegang ponsel Luke itu. Ia menyodorkan ponsel itu temannya tersebut seolah meminta sang teman untuk ikut memperhatikan wajah dalam ponsel itu. Keduanya pun diam, memperhatikan wajah Luke dalam ponsel itu dengan seksama. Tiba tiba...


"Astaga! Ini sih pengusaha ganteng itu! Orang kaya!Dari keluarga...siapa ya? Lupa gue. Pokoknya dia orang kaya!" ucap salah seorang laki laki itu.


"Lu serius?" tanya kawannya.


"Serius!!"


"Jadi, siapa yang bisa kita hubungi buat ngasih tahu kalau orang ini masuk rumah sakit?" tanya salah seorang pria itu lagi.


"Gue tahu dimana kantornya. Gue pernah ngantar makanan waktu gue masih kerja di resto dulu!"


"Ya udah, kalau gitu kita kesana sekarang!"


Pria pria itu kemudian bergerak. Mereka bergegas pergi meninggalkan tempat itu untuk menuju perusahaan Davis Corp. Jujur, mereka tidak begitu mengenal kedua korban kecelakaan itu. Tapi yang jelas, salah satu dari mereka meyakini bahwa laki laki yang kini tak sadarkan diri di ruang IGD itu adalah pemilik perusahaan besar Davis Corp. Mereka tak tahu harus menghubungi siapa. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke perusahaan Davis Corp untuk mengabari pihak keluarga.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2