
Sepuluh menit kemudian. Disaat situasi dalam rumah keluarga Davis sudah sedikit lebih tenang. Disaat emosi kedua pemuda yang masih satu keluarga itu perlahan mulai mereda.
Di sebuah ruang keluarga yang berada di lantai dasar rumah mewah itu. Lima orang beda generasi nampak duduk di tiga buah sofa berbeda di sana dalam posisi yang saling berjauhan.
Di sisi sofa sebelah kanan, ada Louis yang nampak didampingi oleh Martha. Sedangkan di sebelah kiri, ada Betrand yang nampak duduk berdampingan dengan sang kekasih. Sedangkan Steve sebagai penengah, kini terlihat duduk di tengah-tengah diantara kedua belah pihak.
Laki-laki dengan beberapa rambut yang mulai memutih itu kemudian menoleh ke arah Louis dan Betrand secara bergantian. Dilihatnya di sana, Betrand, sang putra, nampak menatap lurus ke arah Louis dengan sorot mata yang masih menyiratkan kekesalan. Sedangkan lengannya sejak tadi tak lepas dipegangi oleh sang kekasih yang setia mendampingi di sampingnya.
Sementara Louis, laki-laki itu nampak menunduk sambil sesekali mengompres luka di ujung bibirnya menggunakan sebuah kain yang tadi Martha berikan. Wanita paruh baya berpenampilan anggun itu juga masih setia mendampingi dan menemani Louis.
Steve menghela nafas panjang. Ia kemudian menatap lurus ke depan.
"Baik. Begini, pagi ini Om mendapatkan sebuah kabar yang cukup mengejutkan. Seseorang menghubungi Om. Dia mengatakan, bahwa dini hari tadi sebuah tempat hiburan malam baru saja digrebek oleh polisi. Dalam penggerebekan itu, ditemukan beberapa wanita penghibur, serta beberapa obat obatan terlarang yang diduga akan ditransaksikan di tempat itu. Beberapa orang kemudian ditahan. Dan satu diantaranya, adalah adik kamu. Luke..." ucap Steve menjelaskan pada Louis.
Laki laki itu diam tak menjawab. Ia nampak memejamkan matanya sembari terus menunduk. Untuk yang kesekian kalinya ia dibuat pusing dengan ulah kembarannya itu. Setelah berkali kali menghamili wanita kemudian kabur dan lari dari tanggung jawab, sekarang laki-laki itu ditangkap polisi karena tempat usaha yang didirikannya sendiri.
Louis kembali mengucap istighfar. Ia benar benar sudah pusing dengan ulah adik kandungnya itu.
__ADS_1
"Sekarang Luke sudah ditahan. Om juga belum tahu pasti bagaimana keadaan dia sekarang," tambah Steve. "Dan sampai detik ini, Om juga masih merahasiakan hal ini dari Kakek kalian. Om harap dia jangan sampai tahu mengenai hal ini."
Louis tak menjawab. Betrand juga diam menatap ke arah sang sepupu yang kini terlihat kalut.
"Louis, Om nggak tahu, bagaimana ini bisa terjadi, dan apa yang sebenarnya terjadi antara kamu, Luke, Betrand, serta perempuan yang beberapa kali Betrand sebut tadi. Menurut Om, sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas itu. Sekarang yang terpenting adalah, kita cari jalan keluarnya. Jangan sampai kasus ini di endus publik dan media. Itu akan sangat berpengaruh untuk nama baik keluarga kita. Om nggak mau nama besar keluarga Davis yang sudah dibangun dengan sangat baik sejak lama tercoreng hanya karena ulah adik kamu," ucap Steve.
Louis masih belum menjawab sepatah katapun.
"Om sedang berusaha mengatasi semuanya. Tugas kalian semua disini hanya cukup diam dan jangan membuat keributan yang nantinya akan di dengar oleh Kakek kalian. Om sudah menghubungi pengacara keluarga kita. Om akan minta bantuan agar Luke bisa secepatnya dikeluarkan dari tempat itu sebelum Kakek dan publik tahu mengena.............."
"Jangan!" ucap Louis memotong ucapan Steve. Membuat semua orang yang berada di sana pun menoleh ke arah pria yang berucap dengan kepala menunduk dan pandangan mata lurus ke depan itu.
Louis menoleh ke arah Om nya itu. "Biarkan dia tetap disana!" ucap pria tampan itu membuat semua yang berada disana pun terkejut karenanya.
Betrand menggelengkan kepalanya samar dengan mimik wajah tak suka seolah tak habis pikir dengan ucapan sang sepupu.
"Louis, apa yang kamu pikirkan? Kamu nggak mikirin nasib keluarga ini?" tanya Steve.
__ADS_1
"Om nggak mikirin saya?!" jawab Louis tegas membalik ucapan Steve.
"Kalian sibuk dengan nama baik dan apalah itu, tapi kalian pernah mikir nggak, gimana beratnya pundak saya memikul beban yang terus menerus dilimpahkan pada saya?!"
"Om tau nggak udah berapa banyak kesalahan Luke yang saya tanggung? Om tau nggak udah seberapa hancurnya nama saya di depan para perempuan yang menjadi korban dari kebejat*n keponakan Om itu?! Semua saya yang tanggung, Om! Semua ulah dia, saya yang tanggung. Dan sekarang nama baik keluarga ini, juga harus saya yang menanggung?! Capek!!" ucap Louis muak. Ia sudah terlalu lelah dengan segala beban yang dilimpahkan kepadanya.
"Biarkan dia di dalam sana. Biar dia belajar! Biar dia mikir! Biar dia bisa merenung. Sesekali dia juga perlu bertanggung jawab atas perbuatan yang dia lakuin sendiri. Jangan dengan dalih nama baik keluarga lalu dia bisa bebas melakukan apa aja tanpa memberikan pertanggungjawaban! Kapan dia akan belajar kalau semua kesalahannya selalu ditutup-tutupi?!" ucap Louis menolak keras usulan Steve.
"Louis, kamu jangan egois..." ucap Steve terpotong.
"Siapa yang egois?!! Saya hanya berusaha mendidik saudara saya yang sudah terlanjur salah jalan. Sekaligus untuk sekali ini aja, biarkan dia merasakan apa itu arti dari tanggung jawab dan hukum tabur tuai!" ucap Louis masih keukeuh dengan pendiriannya.
Steve menghela nafas panjang.
"Tolong, untuk yang satu ini, biarkan saya dan Luke menyelesaikan masalah ini sendiri. Saya memang tidak pernah punya niat untuk menjerumuskan adik saya sendiri ke dalam penjara, tapi ketika dia sudah berada di sana, ya sudah. Biarkan itu menjadi pembelajaran untuk dia. Saya juga punya rasa lelah. Saya juga punya rasa muak. Saya juga manusia biasa yang punya batas kesabaran, sama seperti kalian! Saya lelah dengan semua beban di pundaknya saya. Saya lelah dengan semua tanggung jawab yang tidak seharusnya jadi kewajiban saya. Saya juga butuh ketenangan. Saya butuh istirahat. Saya butuh untuk dimengerti dan didengar, bukan hanya selalu dituntut untuk mengerti dan mendengar!" ucap Louis dengan dada naik turun menahan sesak. Laki laki itu kemudian bangkit. Membuat semua mendongak menatap pergerakan pria tampan itu.
"Kamu mau kemana, Nak?" tanya Martha khawatir.
__ADS_1
Louis tak menoleh. "Saya akan ke kantor polisi menemui Luke!" ucap Louis yang kemudian bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Ia berjalan dengan kepala terangkat tanpa memperdulikan Steve dan Martha yang terus memanggil manggil namanya.
...----------------...